Lyodra, bunga desa Wonosobo menanam tanaman herbal langka khas dataran tinggi. Namun, warga desa yang mayoritas petani tembakau tidak menyukainya. Karena tanaman tersebut memiliki manfaat yang membuat orang berpikir negatif. Afrodisiak pada akarnya. Padahal di dunia tehnologi modern, tanaman herbal ini dapat dimanfaatkan sebagai obat anti kanker dan anti bakteri yang berdaya jual tinggi.
Kemarahan warga makin menjadi-jadi setelah mendapati Lyodra bersama pria asing di lumbung desa. Warga menuduh mereka berbuat mesum.
Kesalah pahaman membuat kepala desa terpaksa meminta pria asing itu untuk menikahi Lyodra. Agar tidak mencoreng nama baik Lyodra. Namun, sebuah rahasia malah terkuak.
Rahasia apakah itu? Apakah rahasia itu akan mempengaruhi kisah cinta Lyodra ke depannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss DK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketua Tim Games
Lyodra turun dari mobil pick up Mang Carry. Langkahnya gesit langsung menghambur ke arah Edward. Senyum manis menghiasi wajah yang cantik, halus bagai giok.
Kaos putih dipadu celana jeans biru belel, dengan gaya rambut ponytail tinggi diikat pita biru tua, membuat Edward makin terjerat pesona bunga desa. Penampilan Lyodra pagi ini sesejuk embun pagi hari.
"Kita berangkat sekarang, Kak!" ajak Lyodra sambil memperbaiki letak tas ranselnya yang agak melorot.
Edward tersenyum kecil dan mengetuk halus kepala Lyodra dengan jarinya. "Mobil jemputan belum datang."
Lyodra mengerutkan alisnya. Raut wajahnya terlihat kecewa. "Kakak malu naik bak belakang mobil pick up?"
Edward menggelengkan kepala. "Bak belakang mobil bukan untuk mengangkut penumpang, Lily. Berbahaya dan juga melanggar peraturan lalu lintas."
Lyodra mengerucutkan mulutnya. "Tapi mobil Mang Carry adalah transportasi tercepat untuk pergi ke kota, Kak. Kalau tidak naik mobil Mang Carry, lalu kita mau naik apa ke kota?"
Edward mengusap kepala Lyodra dengan lembut. "Sabar ya. Kita tunggu mobil jemputan berikutnya, Lily."
Lyodra terpaksa mengangguk patuh. Walaupun dia tak mengerti dengan maksud Edward. Mobil jemputan berikutnya? Mobil siapa?
Mang Carry yang ada di balik kemudi tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Dia tak habis pikir melihat kedekatan Lyodra pada pria rupawan super jangkung itu. Bersikap manja dan polos. Perasaan mereka baru saja ketemu kemarin, tetapi kenapa sudah sedekat itu.
"Apakah karena mereka adalah saudara kembar, mereka jadi lebih cepat akrab?" Mang Carry melongok keluar jendela berniat memanggil Lyodra.
Tapi belum juga mulut Mang Carry berucap, dari kaca spion, Mang Carry melihat sebuah mobil sedan warna hitam yang mulai melambat. Dan akhirnya berhenti tepat di belang mobil pick upnya.
Pintu mobil sedan hitam itu terbuka, seorang pria berpakaian rapi turun dari sana. Sedikit membungkuk hormat pada pria rupawan, lalu membuka pintu belakang dan mempersilahkan pria rupawan dan Lyodra untuk segera masuk ke mobilnya.
"Itu mobil jemputannya, Kak?" tanya Lyodra tak percaya akan naik mobil semewah itu.
Edward tersenyum dan mengangguk kecil. "Ucapkan terima kasih pada supir pick up lalu kita segera pergi ke kota, keburu siang."
"Baik, Kak." Lyodra segera berjalan ke arah Mang Carry yang terngaga lebar.
"Mang Carry, terimakasih untuk tumpangannya kemari. Lyodra dan Kak Edward akan ke kota naik mobil itu. Sekali lagi, terima kasih ya, Mang." Lyodra melambaikan tangannya ke arah Mang Carry.
Mang Carry masih belum mengatupkan bibirnya yang menganga, sampai terdengar bunyi klakson mengagetkannya. Mobil sedan itu seperti berpamitan dengan mobil Mang Carry sebelum melaju kencang meninggalkannya.
"Putra kedua tuan tanah kaya mah jangan dilawan," ucap Mang Carry segera menyusul mobil sedan hitam.
Di dalam kabin mobil yang mewah itu, Lyodra duduk dengan nyaman. AC mobil yang dingin, jok mobilnya empuk, membuat Lyodra makin lama makin mengantuk dan akhirnya tertidur. Kepalanya perlahan melorot ke bawah dan tanpa diperintah langsung bersandar akrab ke bahu Edward.
Edward tersenyum kecil. "Sweet dreams, Lily."
Supir yang melihat dari kaca spion tengah tersenyum dalam hati melihat tuan muda ke dua yang biasanya anti perempuan, tiba-tiba begitu akrab dengan perempuan.
"Apakah Mister Lie menitipkan ponsel untukku?" tanya Edward pada supir yang baru saja meliriknya dari kaca spion.
Supir mengangguk dan segera mengambil sebuah kotak berwarna putih di kursi penumpang. Lalu memberikan kotak itu pada Edward. Edward segera membukanya. Sebuah ponsel warna silver sudah siap Edward pakai.
"Petugas cleaning servis akan datang agak siang, Tuan. Perabot akan dikirim setelah petugas cleaning servis selesai bersih-bersih." Supir menuturkan pesan dari Mister Lie.
Edward mengangguk paham. Jari tangannya segera mendial nomer ponsel kawan baiknya yang tinggal di negeri seberang.
"Kemana saja kau?" terdengar suara pria dari seberang begitu panggilan diangkat. Nadanya terdengar sangat galak penuh emosi.
Edward tersenyum. "Ternyata kau bisa khawatir juga jika aku tidak bisa dihubungi."
"Aku tidak butuh kau kalau program games di sini baik-baik saja, Bego. Semalam program games error dan kami tidak bisa memperbaikinya secepat dirimu. Kami butuh kamu secepatnya back to work. Rambutku hampir botak gara-gara semalam harus memperbaiki bahasa program agar program games berjalan lancar." Suara pria itu terdengar sangat marah pada Edward, ketua tim pembuat games yang sangat disegani karena otaknya yang super jenius.
Edward terkekeh. Bulan ini ia memang mengambil cuti yang agak panjang. Cuti yang selama ini tidak pernah dipakai, ia pakai semua.
Tentu saja tim games-nya kelimpungan gara-gara harus memperbaiki program games sampai subuh. Karena biasanya kepala tim, Edward yang lembur demi kelancaran program.
"Seharusnya kau bersyukur, aku tidak meneleponmu dari alam baka."
"Alam baka? Kau sudah gila. Gurauanmu tidak lucu. Sangat tidak lucu. Lebih baik kau berhati-hati dengan ucapanmu. Aku tidak suka gurauan yang nyrempet-nyrempet dengan maut." Suara pria itu terdengar makin bete.
"Aku tidak bergurau. Kemarin aku baru saja berhasil selamat dari maut." Edward melirik Lyodra yang masuh terlelap. Mengulurkan jemari tangannya untuk menyentuh pipi mulus wajah rupawan itu. Turun dengan lembut hingga menyentuh dagunya yang runcing.
Senyum manis Edward mengembang saat melihat bibir merah muda Lyodra perlahan terbuka lalu mengatup kembali begitu Edward menarik kembali jemari tangannya.
Jika saja Edward tidak sedang berada di mobil bersama supir, mungkin bibir Edward sudah menerkam bibir merah muda itu dengan rakus.
"Edwarddd... Kenapa kau diam saja? Lagi ngapain sih?" Suara panggilan pria di telepon yang begitu cempreng langsung menyadarkan pikiran Edward yang mulai tertutup euforia kabut harum bunga Lily.
"Ups, maaf, maaf. Laptop dan ponselku hanyut terbawa arus sungai. Hari ini aku dalam perjalanan ke kota besar. Aku akan kembali menghubungimu setelah urusanku selesai."
"Urusan apa sih sampai kamu tega meninggalkan pemrograman games dan aku?" tanya pria itu penasaran.
Edward tersenyum geli.
"Biar kutebak. Apakah kau akhirnya berhasil mendapatkan investor yang akan mendanai games baru buatanmu? Investornya cantik dan menggoda? Lalu mengajakmu romantic dinner?" tanya pria itu dengan suara antusias.
"Ngaco. Sejak kapan aku tertarik dengan perempuan cantik hasil operasi plastik? Aku lebih suka yang cantik natural, tahu!" Edward meletakkan jemari tangannya ke atas jemari tangan Lyodra. Menggenggamnya dengan hangat dan lembut.
"Jangan bilang kalau kau ke desa lalu terpikat pesona bunga desa," ucap pria di seberang.
Edward terkekeh. Ternyata kawan baiknya cukup pintar menebak.
"OMG. Di negri singa dikejar-kejar banyak wanita cantik, eh malah pilih bunga desa dari pelosok."
Edward kembali terkekeh. "Selama aku single dan dia single, bukan saudara kembar, bukan satu ayah dan satu ibu, ya tidak masalah lah kalau aku menyukainya."
Pria itu tertawa keras. "Aku jadi penasaran, seperti apa wanita pilihanmu. Secantik dan sehebat apa sampai kepala tim lebih memilihnya daripada program games."