Araya Lin dipaksa menjadi pengantin
pengganti bagi kakak tirinya. la dinikahkan dengan Arkanza Aditama, seorang CEO miliarder yang dirumorkan kejam, dingin, dan cacat akibat sebuah kecelakaan tragis. Keluarga Araya tertawa, mengira mereka telah membuang anak tak berguna ke dalam 'neraka'.
Namun, di malam pertama pernikahan mereka, Araya terkejut saat melihat pria jangkung dengan tatapan setajam elang berdiri sempurna di hadapannya-tidak cacat sedikit pun. Di sisi lain, Arkanza mengira ia hanya menikahi gadis udik yang bisa ia kendalikan. la tidak tahu bahwa istri kecilnya yang terlihat lugu ini adalah "Z", seorang peretas jenius misterius yang selama ini dicari-cari oleh perusahaannya sendiri.
Ketika dua pembohong ulung terjebak dalam satu atap, akankah pernikahan kontrak ini berakhir dengan pertumpahan darah, atau justru memicu romansa yang tak terhentikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27: Undangan Sang Iblis
Alunan musik klasik dari grand piano di sudut aula terasa kontras dengan ketegangan yang membeku di antara Arkanza, Araya, dan pria bertopeng gagak perak itu.
Sebelum Araya sempat menyentuh amplop hitam tersebut, tangan Arkanza yang terbalut sarung tangan sutra sudah lebih dulu merebutnya. Ia membuka segel lilin merah itu dengan ibu jarinya, menarik keluar sebuah kartu akses berbahan titanium dan secarik kertas bertuliskan satu kalimat singkat:
..."Kehancuran atau Kekuasaan. Pilihan ada di lantai 5."...
Arkanza menatap pria bertopeng itu dengan tatapan mengintimidasi, aura membunuhnya menguar tajam. "Tunjukkan jalannya."
"Arkanza, ini jelas jebakan," bisik Araya melalui saluran komunikasi earpiece-nya saat mereka mulai berjalan mengikuti pria itu, menjauhi keramaian pesta.
"Aku tahu," balas Arkanza tanpa menggerakkan bibirnya terlalu banyak. Tangan kirinya merangkul pinggang Araya semakin erat, sementara tangan kanannya menggenggam tongkat naga hitamnya—yang sebenarnya menyimpan pedang tipis berlapis titanium di dalamnya. "Tapi satu-satunya cara untuk membunuh ular berbisa adalah dengan memotong kepalanya langsung di sarangnya."
Mereka memasuki lift kaca privat yang langsung meluncur ke lantai atas. Sepanjang jalan, Araya mengaktifkan alat peretas mikro di balik gaunnya. Matanya yang tajam memindai setiap sudut.
"Sistem keamanan di lantai 5 terpisah dari jaringan utama," bisik Araya pelan, jarinya mengetuk pola ritmis di lengan Arkanza sebagai kode. "Ada pemindai termal dan setidaknya enam penjaga bersenjata berat di balik pintu masuk."
Lift berdenting terbuka. Mereka disambut oleh lorong panjang berlapis marmer hitam. Di ujung lorong, sepasang pintu ganda dari kayu ek tebal terbuka secara otomatis, memperlihatkan sebuah ruangan perpustakaan megah yang disulap menjadi ruang kendali berteknologi tinggi.
Di tengah ruangan, duduk di atas kursi kebesaran, adalah seorang pria paruh baya dengan rambut keperakan yang disisir rapi ke belakang. Ia sedang menyesap wine merah, menatap layar monitor besar yang menampilkan kode enkripsi Project Phoenix yang terkunci.
"Selamat datang di Zurich, Tuan dan Nyonya Aditama," ucap pria itu. Aksen Rusianya terdengar kental. "Namaku Victor Volkov. Pemimpin Vanguard Consortium."
"Katakan hargamu, Volkov. Aku tidak punya waktu untuk basa-basi dengan lintah darat," potong Arkanza dingin.
Volkov tertawa pelan, tawanya menggema di ruangan luas itu. "Ah, Arkanza Aditama. CEO muda yang arogan. Sama persis seperti kakekmu, Bramantyo. Sayangnya, uangmu tidak berlaku di sini."
Volkov menekan sebuah tombol di mejanya. Sebuah tabung kaca silinder muncul dari lantai, menampilkan sebuah hard drive hitam tempat Paman Araya menyalin sebagian data Project Phoenix.
"Data ini tidak berguna tanpa kunci biometrik kalian berdua," lanjut Volkov, matanya kini menatap Araya dengan lapar. "Aku menginginkan sidik jari dan pemindaian retina kalian. Sebagai gantinya, aku akan membiarkan kalian keluar dari kastil ini hidup-hidup."
"Dan jika kami menolak?" tantang Araya, melangkah maju dari perlindungan lengan Arkanza.
"Jika kalian menolak..." Volkov menjentikkan jarinya.
Seketika, dinding kaca di belakang Volkov berubah transparan, memperlihatkan pemandangan yang membuat darah Araya berdesir. Di sebuah ruangan terpisah di seberang menara, Leon—tangan kanan Arkanza yang paling tangguh—tampak terikat di kursi dengan sebuah bom waktu terpasang di dadanya. Waktu hitung mundur menunjukkan angka 05:00.
"Pasukanku menyergapnya di jalur evakuasi," seringai Volkov. "Lima menit. Buka kuncinya, atau saksikan anjing setiamu hancur berkeping-keping."
Arkanza mengeras. Rahangnya berkedut menahan amarah yang siap meledak. Namun, Araya justru tersenyum. Sebuah senyuman miring yang begitu dingin dan meremehkan, persis seperti saat ia meretas sistem pertahanan menteri korup di Jakarta.
"Kau membuat kesalahan besar, Volkov," ucap Araya tenang. Tangannya perlahan merogoh saku tersembunyi di balik mantel bulu putihnya.
"Kesalahan apa, Gadis Kecil?" ejek Volkov.
"Kau meremehkan anjing setia Arkanza, dan kau lupa..." Araya mengeluarkan belati keramik putihnya, memutarnya dengan lihai di sela-sela jari. "...bahwa kau baru saja mengundang Z masuk ke dalam ruang kendali utamamu."
Dengan gerakan kilat, Araya menancapkan alat peretas mikronya ke terminal di dekat pintu masuk. Layar di ruangan itu seketika berkedip merah.