NovelToon NovelToon
Sistem Petani: Mengubah Sampah Menjadi Cairan Dewa

Sistem Petani: Mengubah Sampah Menjadi Cairan Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Harem / Bertani
Popularitas:16.5k
Nilai: 5
Nama Author: R.A Wibowo

Aris adalah definisi pecundang di mata dunia. Dipecat dari pekerjaan kasarnya, dikhianati oleh kekasih yang paling ia cintai, dan dihina oleh teman-teman sekolahnya saat reuni karena hanya mengendarai motor butut.

Satu-satunya harta yang ia miliki hanyalah sebidang tanah warisan kakeknya di pinggiran kota.

Namun, harapan Aris hancur saat ia kembali. Tanah yang ia impikan menjadi tempat tinggal yang tenang, telah berubah menjadi gunung sampah ilegal—sebuah "borok" kota yang dikuasai mafia dan oknum korup.

Di titik terendah hidupnya, sebuah suara dingin bergema di kepalanya:

[Ding! Sistem Petani Sultan Diaktifkan!]

[Misi Pemula : bersihkan 10 KG sampah]

[Hadiah : alat penyulingan esensi Cairan dewa]

[Mulai Proses Penyulingan... Menghasilkan: Cairan Dewa Tingkat 1!]

Satu tetes cairan itu mampu mengubah tanah beracun menjadi Lahan Surgawi.

. Satu tetes lagi mampu membuat tanaman mati tumbuh kembali dengan khasiat luar biasa, dengan cairan ini dia menjadi petani sultan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8--Hasil panen pertama

WAKTU tujuh hari itu berjalan lebih cepat daripada yang dia kira da seperti prediksi dari sistem tanaman berupa sayuran sawi, wortel, tomat, dan masih banyak lagi. Itu cepat sekali. Semenjak hari itu belum ada pergerakan lagi dari bos malik, mungkin dia menunggu waktu menyerang yang tepat atau begitu tahu bahwa satu warga kini berani melawan dia perlu strategi lain.

Namun Aris juga malah bersyukur dengan itu. Kalau keadaan tetap tenang seperti ini, dia punya cukup waktu untuk memanen hasil pertamanya tanpa gangguan.

Lagian dia juga perlu menyusun rencana untuk melaporkan ulang, dia butuh koneksi yang bisa dipercaya. Masalahnya di negeri konoha begini, sangat sulit mencari sosok berseragam yang mau menolong rakyat kecil kaya dia, kebanyak terima uang suap dan sogokan dari anak pejabat kaya malik.

“Yasudah lah, kurasa gue juga bakal segera ketemu solusinya.”

Pagi itu, embun masih menggantung di ujung daun ketika Aris berdiri di tengah ladang barunya. Hamparan sayur yang dulunya hanya tanah penuh sampah kini berubah hijau segar sejauh mata memandang.  sawi terlihat gemuk, cabai mulai bermunculan dengan warna merah mengkilap, bahkan tomat yang baru seminggu sudah terlihat jauh lebih sehat dibanding tanaman milik petani biasa.

Aris jongkok perlahan, memetik satu daun sawi lalu mengamatinya di bawah sinar matahari pagi.

“Ini sempurna...” gumamnya pelan.

Daunnya nyaris tanpa cacat. Warnanya hijau pekat alami, batangnya tebal, dan aromanya segar sekali. Bahkan Aris yang tidak terlalu paham pertanian tahu kualitas seperti ini jelas beda kelas.

[Ding!]

[Analisis Tanaman Aktif]

[Sawi Organik Premium]

[Kualitas: Grade A+]

[Kandungan nutrisi meningkat 240% dari rata-rata pasar berkat cairan dari tetesan dewa]

[Estimasi harga jual meningkat drastis jika dipasarkan ke restoran premium atau supermarket kota.]

Mata Aris sedikit membesar. “Restoran premium?” jadi gitu, dengan kualitas ginian dia perlu cari koneksi dengan para orang hotel. 

 semua sayuran yang tumbuh segar seperti ini kalau dijual harganya mahal, jangan jual sembarangan terutama di pasaran, yang ada rugi dia.

Ia awalnya hanya berpikir menjual hasil panen ke pasar desa atau tengkulak sekitar kota kecamatan. Tapi kalau sistem  dan hasil tanaman kaya gini, berarti barangnya memang tidak normal.

“Kalau gue jual ke tengkulak kampung, malah dibodohi harga,” pikirnya sambil menyipitkan mata.

Ia masih ingat bagaimana petani desa sering dipermainkan. Cabai dibeli murah, lalu dijual berkali-kali lipat di kota. Petani kerja banting tulang, yang kaya malah para pengepul. Memang anjing.

Aris mengepalkan tangan pelan.

“Enggak. Kali ini gue sendiri yang bakal jual.”

Angin pagi berembus lembut melewati ladang. Di kejauhan beberapa warga desa mulai berdatangan hanya untuk melihat-lihat. Semenjak lahan sampah itu berubah jadi ladang hijau, tempat ini jadi bahan pembicaraan satu desa.

Dan lahan yang begitu jernih itu enak dipandang setelah mereka menyaksikan sampah doang.

`“Buset... baru seminggu kok bisa segede itu sayurnya?”

`“Ini mah bukan pupuk biasa...”

“Jangan-jangan Aris pakai ilmu kota.”

“Boleh jadi walau dia putus kuliah karena kendala biaya, dia masih saja anak kuliahan, pasti pinter.”

Bisik-bisik terdengar di mana-mana.  Aris pura-pura tidak mendengar. Fokusnya sekarang cuma satu: uang.

Ia butuh modal lebih besar sebelum Bos Malik bergerak lagi. Kalau pria itu menyerang, Aris tidak bisa cuma mengandalkan keberanian. Dia butuh kekuatan nyata. Uang, pengaruh, dan orang-orang yang berdiri di pihaknya.

Kemudian untuk itu ladang ini bisa jadi langkah awalan.

Tiba-tiba suara motor terdengar mendekat dari ujung jalan desa.

Brummm—

Sebuah motor matic berhenti tepat di dekat pagar bambu ladang. Sari turun sambil membawa keranjang anyaman besar di tangannya. Rambut kuncir kudanya bergoyang pelan diterpa angin pagi.

Sosok gadis kembang desa itu membuat para pemuda lainnya merasa iri karena mendapatkan buah tangan dari gadis secantik Sari.

“Aku bawain sarapan...” ucapnya agak pelan, meski matanya diam-diam terus memperhatikan Aris yang kini berdiri di tengah ladang dengan tangan penuh tanah.

Untuk sesaat, Sari jadi terdiam sendiri. Pemuda itu benar-benar terlihat berbeda sekarang.  Di bawah sinar matahari pagi, dengan kaos sederhana yang sedikit basah oleh keringat dan wajah serius penuh fokus, Aris terlihat jauh lebih dewasa dibanding bocah kurus yang dulu sering berlarian bersamanya di pematang sawah.

Entah kenapa semenjak dia pulang itu membuat jantungnya merasa berbahaya. “Makasih sari.” Lalu mata dia menatap sari, aha! Muncul sebuah ide. Wak Darmo itu selain orang yang ramah dia terkenal paling tidak orang mampu disini, dari banyaknya orang desa dia orang yang punya mobil angkut.

Kakek dia dulu sering berbisnis sama Wak Darmo, bantuin angkat-angkut barang ladang tani ke Wak Darmo.

“Kenapa natap aku gitu?” Tanya Sari yang salah paham.

"Eh, enggak... bukan gitu," Aris tertawa kecil, berusaha menghilangkan suasana canggung yang sempat membuat Sari salah tingkah. "Aku cuma kepikiran sesuatu. Sar, bapakmu masih punya mobil bak terbuka yang sering dipakai buat angkut hasil tani itu, kan?"

Sari mengerjapkan mata, sedikit lega karena ternyata tatapan tajam Aris bukan karena ada yang salah dengan wajahnya. "Masih, Ris. Tapi ya gitu, kondisinya sudah tua. Belakangan ini jarang dipakai karena bapak bingung mau angkut apa sejak lahan-lahan di sini jadi tempat sampah. Memangnya kenapa?"

Aris menepuk tangannya yang kotor untuk merontokkan sisa tanah, lalu melangkah mendekati Sari. "Aku butuh bantuan Wak Darmo. Sayuran ini... kualitasnya terlalu bagus kalau cuma dijual ke pasar kecamatan atau tengkulak. Aku mau coba tembus ke hotel atau supermarket besar di kota. Kalau Wak Darmo mau, aku mau sewa mobilnya sekaligus minta tolong beliau yang bawa."

Sari tampak terkejut. "Ke kota? Ris, kamu serius?”

Kalimat itu langsung membuat beberapa warga yang mendengar menjadi melongo.

“Hotel?!”

“Buset... tinggi amat mimpi si Aris.”

“Sayur desa masuk hotel kota?”

“Gak masuk akal banget sih orang itu juga bekas sampah.”

“Paling tanamannya juga gak begitu subur.”

Beberapa pemuda terdengar menertawakan pelan, merasa Aris terlalu muluk-muluk. Kendati dia sudah jadi pahlawan desa karena menendang pantat dua preman, bukan berarti semua orang jadi hormat ke dia. Seperti kata pepatah, gak mungkin kita bisa membuat semua orang suka kita, pasti ada saja yang julid

Namun Aris tidak peduli.

Justru Sari yang diam-diam menatap Aris dengan mata berbinar. Cowok ini memang selalu begini kalau sudah punya tujuan tatapan matanya selalu penuh keyakinan. Dan itu selalu terlihat keren di mata Sari.

“Tapi Aris. Saingannya berat lho di sana. Belum lagi urusan masukin barang ke hotel itu prosedurnya ribet."

"Itu urusanku, Sari. Yang penting barangnya sampai dulu," Aris menatap hamparan sawi yang berkilau terkena sisa embun. "Aku nggak mau hasil keringat warga yang sudah bantu gotong royong kemarin dihargai murah sama pengepul serakah. Aku pengen Wak Darmo juga kecipratan untung yang layak."

Mendengar nama ayahnya disebut dengan niat baik, mata Sari berbinar. 

"Nanti aku sampaikan ke Bapak. Pasti beliau senang banget. Tapi, Ris... apa ini nggak terlalu cepat? Tanamanmu ini baru seminggu."

" pupuk yang kupakai memang beda kelas, Sar," Aris hampir saja keceplosan. "Sudah, sekarang mana sarapannya? Baunya enak banget, bikin laper."

Sari tersenyum manis, lesung pipitnya terlihat jelas saat ia membuka tutup keranjangnya.

 "Nasi pecel telur ceplok. Masakan ibu khusus buat kamu karena katanya sudah bikin udara desa jadi segar lagi. Juga rasa terima kasih dari kami, makan yang lahap ya!”

1
Mamat Stone
👻🤣👻
Mamat Stone
🤣👻🤣
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
/Casual/💥💥
Mamat Stone
/CoolGuy/💥💥
Mamat Stone
😍
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
👻
Mamat Stone
🤣
Mamat Stone
tetap semangat dan Jaga kesehatan /Good/
Manusia Biasa: amin walau otaknya udah agak eror

terimakasih sudah membaca kak🤣
total 1 replies
Mamat Stone
sehat selalu Thor /Ok/
Hajir Pemburu
di tunggu kelanjutanya thor.
Manusia Biasa: baik tunggu besok ya ka. kemungkinan up 4-5 bab
total 1 replies
ラマSkuy
wah Thor masih banyak typo ya dan kadang ada juga penamaan karakter yang kebalik contohnya di bab ini di akhir
Manusia Biasa: waduh baik tak koreksi kak. garap dua novel sekaligus emang resikonya gini/Sob/🙏
total 1 replies
Mamat Stone
Jagoan Neon /Casual/💥💥
Mamat Stone
Pejantan Tangguh /CoolGuy/💥💥
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
😍
Mamat Stone
sang Dermawan 🤩
Mamat Stone
berbagi itu indah 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!