Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, sang kaisar kehilangan segalanya—takhta, kekuasaan, bahkan nyawanya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tinta Hitam di Atas Kertas Kulit Domba
Fajar menyingsing di Kota Ironforge, membawa cahaya abu-abu yang menyusup malu-malu melalui celah jendela kamar penginapan yang miring itu.
Yang Chen membuka matanya. Tidak ada rasa kantuk yang tersisa. Tidurnya singkat, hanya empat jam, namun kualitasnya setara dengan hibernasi berhari-hari berkat tubuhnya yang baru saja "direset".
Dia bangun dari kasur jerami.
Krak.
Suara sendi tulang belakangnya berbunyi saat dia meregangkan tubuh. Itu bukan bunyi keropos, melainkan bunyi pop yang renyah dan bertenaga, tanda bahwa sendi-sendinya telah terlumasi dengan baik.
Dia mengepal tangannya. Kulit di telapak tangannya terasa lebih kasar, lebih tebal. Dia menekan ibu jarinya ke telapak tangan, merasakan kepadatan otot thenar yang meningkat.
"Masih jauh dari Tubuh Dewa Perang," gumamnya, menganalisis diri sendiri dengan kritis. "Tapi setidaknya, aku bisa mematahkan leher ayam tanpa harus terengah-engah sekarang."
Dia melihat ke sudut ruangan. Tong kayu yang pecah semalam masih di sana, air keruhnya sudah dingin dan berbau amis menyengat. Dia harus segera pergi sebelum pemilik penginapan melihat kerusakan itu dan minta ganti rugi.
Yang Chen membereskan barang-barangnya. Dia mengenakan kembali jubah hitamnya. Kali ini, jubah itu terasa lebih pas di bahunya. Postur tubuhnya yang lebih tegap membuat kain kasar itu jatuh dengan lebih elegan.
Dia keluar dari kamar, menuruni tangga yang berderit, dan melemparkan kunci besi ke meja resepsionis yang kosong (pria tua bermata satu itu sedang mendengkur di kursi belakang).
Yang Chen keluar ke jalanan pagi yang dingin. Kabut tipis masih menyelimuti jalan batu.
Tujuan pertamanya bukan Rumah Lelang. Dia tidak bisa pergi ke sana dengan tangan kosong. Dia butuh amunisi. Dan amunisi bagi seorang Alkemis adalah pena dan kertas.
Dia berjalan menyusuri jalan utama yang mulai ramai oleh pedagang sayur yang menggelar dagangan. Dia mencari toko alat tulis.
Di dunia ini, alat tulis adalah barang mewah. Rakyat jelata tidak bisa membaca, apalagi menulis. Toko alat tulis biasanya terletak di dekat distrik pemerintahan atau akademi.
Setelah berjalan lima belas menit, dia menemukan sebuah toko kecil yang terlihat rapi dan bersih. Papan namanya sederhana: "Toko Kertas Serat Bambu".
Yang Chen masuk.
Baunya berbeda dari pasar luar. Di sini baunya harum kayu cendana dan tinta basah. Tenang. Hening.
Seorang penjaga toko muda yang berkacamata bulat sedang merapikan gulungan kertas di rak. Dia menoleh melihat Yang Chen. Pakaian Yang Chen (jubah hitam lusuh) membuatnya terlihat mencurigakan, tapi aura tenangnya membuat penjaga toko itu tidak langsung mengusirnya.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya penjaga toko itu sopan namun berjarak.
"Aku butuh kertas," kata Yang Chen. Dia berjalan ke rak pajangan.
Dia menyentuh tumpukan kertas berwarna kekuningan.
Kasar.Seratnya terlalu besar. Tinta akan melebar (bleeding) jika ditulis di sini. Ini kertas untuk membungkus tempe, bukan untuk resep rahasia.
Dia beralih ke kertas putih tipis.
Terlalu rapuh.Ini kertas untuk latihan anak-anak. Tidak memiliki bobot. Resep bernilai ribuan emas tidak boleh ditulis di atas tisu.
"Keluarkan stok terbaikmu," kata Yang Chen tanpa menoleh. "Aku butuh Kertas Kulit Domba (Vellum) atau Kertas Sutra Awan."
Penjaga toko itu terkejut. Dua jenis kertas itu sangat mahal. Selembar Vellum harganya bisa mencapai 5 keping perak.
"Tuan... kertas jenis itu ada di lemari kaca," kata penjaga toko ragu. "Harganya..."
Yang Chen meletakkan sekeping perak di atas etalase kaca.
"Satu lembar Vellum kualitas medium. Satu batang tinta Pinus Hitam. Dan satu kuas bulu serigala biasa."
Mata penjaga toko itu berbinar melihat perak. Keraguannya lenyap seketika. "Ah! Tentu, tentu! Tunggu sebentar."
Dia mengeluarkan selembar kulit domba yang sudah disamak halus, berwarna krem pucat, dan digulung rapi. Dia juga mengambil sebatang tinta padat berbentuk balok kecil dan sebuah kuas sederhana.
"Totalnya 80 tembaga," kata penjaga toko.
Yang Chen mengangguk. Dia mengambil kembalian 20 tembaga dan barang-barangnya.
"Boleh aku meminjam meja tulismu sebentar?" tanya Yang Chen. "Aku perlu menulis surat penting sebelum dikirim."
Penjaga toko itu ragu sejenak, tapi karena Yang Chen sudah membeli barang mahal, dia mengangguk. "Silakan, Tuan. Di pojok sana ada meja untuk pelanggan mencoba kuas."
Yang Chen duduk di meja kecil itu.
Di sinilah pertarungan sebenarnya dimulai.
Dia membuka gulungan kulit domba itu di atas meja. Permukaannya halus, sedikit berminyak, sempurna untuk menahan tinta tanpa menyerapnya terlalu cepat.
Dia mengambil batu asah tinta (inkstone) yang tersedia di meja. Dia menuangkan sedikit air dari teko kecil.
Dia mulai menggosok batang tinta Pinus Hitam itu.
Sreeek... sreeek... sreeek...
Gerakannya pelan, berirama, dan memutar. Dia tidak terburu-buru. Menggosok tinta adalah bentuk meditasi. Dia perlu menenangkan pikirannya, membuang semua gangguan suara pasar, dan fokus sepenuhnya pada memori masa lalunya.
Dia butuh satu resep.
Resep itu harus memenuhi tiga syarat:
1. Bahan-bahannya mudah didapat.(Agar pembeli bisa langsung memproduksinya).
2. Efeknya instan dan nyata.(Agar mudah dibuktikan).
3. Levelnya rendah tapi revolusioner.(Agar tidak memancing kecurigaan bahwa dia adalah monster tua reinkarnasi, tapi cukup untuk dianggap jenius).
Otak Yang Chen, perpustakaan berjalan yang berisi jutaan teknik, membalik halaman-halaman memori.
Pil Dewa Matahari?Tidak, butuh api surgawi. Elixir Keabadian? Jangan gila, dia akan dibunuh sekte besar. Salep Penyambung Tulang Naga? Bahannya terlalu langka.
Pilihannya jatuh pada sesuatu yang pragmatis. Sesuatu yang dibutuhkan oleh setiap kultivator pemula dan prajurit di kota ini.
"Cairan Tempering Kulit Tembaga" (Copper Skin Tempering Liquid).
Ini adalah versi yang disempurnakan dari cairan penguat tubuh standar. Di pasaran saat ini, cairan penguat tubuh biasanya memiliki efisiensi penyerapan 30% dan rasa sakit yang luar biasa (seperti yang dialami Yang Chen semalam).
Resep Yang Chen? Efisiensi 60%, rasa sakit berkurang setengah, dan menggunakan katalis sederhana: Darah Ayam Jantan Hitam sebagai pengganti bahan mahal.
Ini akan mengguncang pasar obat-obatan tingkat rendah.
Tinta sudah pekat dan hitam mengkilap. Baunya tajam menenangkan.
Yang Chen mencelupkan kuas bulu serigalanya. Ujung kuas itu meruncing sempurna setelah basah.
Dia menarik napas, menahan napas di Dantian (walau kosong, kebiasaan itu tetap ada), dan mulai menggores.
Sret.
Goresan pertamanya tegas. Hitam pekat di atas krem pucat.