NovelToon NovelToon
Hamil Anak Para Ceo Kaya

Hamil Anak Para Ceo Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / CEO
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Warning ***+

~~~

Mayang Puspita Sari, seorang lulusan SMP dari kampung, pindah ke ibu kota dengan tujuan menyelamatkan adiknya yang sakit keras dan menopang ekonomi keluarga. Setelah berjuang mencari pekerjaan di kota yang keras, ia akhirnya mendapatkan kesempatan sebagai ibu pengganti - pekerjaan yang memberinya hidup berkecukupan dan biaya pengobatan yang cukup untuk adiknya.

Seiring waktu, Mayang malah merasa senang dengan pekerjaannya karena semua keinginannya tercapai dan bayarannya sangat besar, meskipun ia tidak menyadari bahwa pilihan ini akan membawa konsekuensi emosional dan moral yang tidak terduga nanti.


~~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 13

***

Langit Jakarta menggantung rendah, kelabu dan berat, seolah mencerminkan beban yang kini menghimpit pundak Mayang Puspita Sari. Nyonya M, sang penguasa Mega Kuningan yang ditakuti, kini harus menelan pil pahit paling beracun dalam hidupnya. Selama berbulan-bulan, ia telah bertransformasi kembali menjadi budak, namun kali ini tuannya bukanlah pria berkelas dengan parfum mahal, melainkan Baskara pria yang membawa bau kemiskinan, dendam, dan masa lalu yang kasar.

Baskara benar-benar menjalankan rencananya dengan licik. Ia tidak hanya menguasai tubuh dan aset Mayang, tetapi juga mulai meracuni dunianya yang paling sakral: keluarga di kampung.

"Kau sudah dengar suara ibumu pagi ini, Mayang?" tanya Baskara sembari mengoleskan selai pada rotinya di meja makan mewah penthouse Mayang. Ia mengenakan kemeja sutra milik Aris yang ia ambil paksa, namun auranya tetaplah pria jalanan yang buas.

Mayang terdiam, jemarinya yang gemetar menggenggam cangkir porselen berisi teh herbal. Kehamilannya yang ketiga ini terasa jauh lebih berat secara mental. "Apa lagi yang kau lakukan, Baskara?"

"Aku baru saja menelponnya. Mengatakan bahwa persiapan pernikahan kita sudah delapan puluh persen. Ibumu menangis bahagia, Mayang. Dia bilang, dia bersyukur kau akhirnya kembali pada 'pria baik' dari masa kecilmu, bukan terjebak dengan bos-bos kota yang jahat," Baskara tertawa terbahak-bahak, suara tawanya memantul di dinding marmer yang dingin.

"Kau keterlaluan," desis Mayang. "Jangan libatkan ibuku dalam kegilaanmu."

Baskara berdiri, menghampiri Mayang dan mencengkeram rahangnya dengan kasar. "Aku melibatkan siapa pun yang aku mau! Tanpa aku, kau tidak akan pernah ingat siapa dirimu sebenarnya. Kau hanyalah wanita sewaan yang beruntung, Mayang. Dan sekarang, kau akan menjadi istriku di mata dunia, sementara rahimmu sedang mencetak peluru untuk menghancurkan Aris dan Gunawan."

**

Beberapa hari kemudian, Baskara memaksa Mayang untuk pulang ke kampung halaman dalam rangka "lamaran resmi". Mayang harus menanggalkan pakaian desainer dan perhiasan miliaran rupiahnya, menggantinya dengan gamis sederhana agar terlihat seperti gadis baik-baik yang sukses di perantauan.

Di teras rumah ibunya yang kini megah berkat uang Aris dan Gunawan, Mayang harus duduk berdampingan dengan Baskara di depan tetangga dan kerabat.

"Nduk, Mak senang sekali," bisik ibunya sembari mengusap punggung tangan Mayang. "Mak pikir kamu tidak akan pernah menikah karena terlalu sibuk kerja. Baskara bercerita banyak, dia bilang dia yang menjagamu selama di Jakarta."

Mayang menelan ludah yang terasa seperti duri. Ia melihat Baskara tersenyum ramah pada warga desa, membagikan bingkisan mahal seolah-olah itu hasil keringatnya sendiri.

"Iya, Mak. Baskara... sangat menjaga Mayang," jawab Mayang terbata, matanya melirik Baskara yang memberinya tatapan penuh ancaman.

"Kami akan segera menikah setelah bayi ini lahir, Mak," sahut Baskara dengan lantang agar didengar semua orang. "Mayang ingin persalinan normal di Jakarta, privasi penuh. Setelah itu, kami akan membawa Mak dan adik tinggal di kota."

Mayang merasa ingin berteriak. Bayi di rahimnya ini adalah hasil dari pemaksaan dan ancaman, namun ibunya melihatnya sebagai berkah. Penipuan ini jauh lebih menyakitkan daripada saat ia harus menyerahkan bayinya pada Aris. Kali ini, ia mengkhianati kepercayaan satu-satunya orang yang ia cintai.

**

Malam harinya, di dalam kamar masa kecilnya yang sudah direnovasi, Baskara mengunci pintu. Suasana berubah kaku dan mencekam.

"Kau bermain peran dengan sangat baik, Nyonya M," puji Baskara sembari melepas kancing kemejanya.

"Hentikan semua ini, Baskara. Aku akan memberimu setengah dari saham Gunawan Logistics, asalkan kau pergi dan jangan pernah temui ibuku lagi," tawar Mayang dengan suara memohon.

"Saham? Aku akan memiliki semuanya, Mayang! Aris sudah mulai terjepit karena data pajak yang kau berikan padaku. Dia mengira Gunawan yang membocorkannya. Mereka sekarang sedang saling serang di bursa saham. Dan kau tahu siapa yang akan memungut puing-puingnya? Anak yang kau kandung ini, atas namaku!"

Baskara mendorong Mayang ke tempat tidur tua itu. "Sekarang, layani calon suamimu. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi pemilik Nyonya M di rumah tempat ia tumbuh besar."

"Jangan... Baskara, aku sedang mual. Kandunganku lemah," rintih Mayang.

"Nghhh... ahhh... diamlah! Kau sudah terbiasa dengan ini, bukan?" Baskara tidak mempedulikan keluhan Mayang. Ia mencengkeram pergelangan tangan Mayang ke atas kepala, mengulang ritual penghinaan itu di tempat yang seharusnya menjadi ruang perlindungan Mayang.

"Ahhh! Hentikan... Baskara... ahh!" rintihan Mayang pecah di keheningan malam desa. Ia merasa sangat kotor. Di balik dinding kamar ini, ibunya mungkin sedang mendoakan kebahagiaannya, tanpa tahu bahwa di dalam sini, putrinya sedang dihancurkan oleh pria yang dianggapnya pahlawan.

"Sebut namaku! Katakan kau milik siapa!" seru Baskara dengan napas memburu.

"Aku... aku milikmu, Baskara... ahhh!" Mayang mendesah dalam tangisan. Setiap sentuhan Baskara terasa seperti api yang membakar sisa-sisa harga dirinya. Namun, di tengah rintihannya, pikiran Mayang mulai bekerja kembali. Ia membiarkan Baskara merasa menang. Ia membiarkan pria itu percaya bahwa ia telah menyerah sepenuhnya.

**

Kembali ke Jakarta, perut Mayang semakin membuncit. Baskara semakin gila dengan kekuasaannya. Ia mulai mencampuri urusan bisnis Mayang, membuat keputusan-keputusan gegabah yang sengaja dirancang Mayang untuk memancing kemarahan Aris dan Gunawan.

"Aris menelponku tadi pagi. Dia mengancam akan membunuhmu jika aku terus menarik modal dari proyek reklamasi," ujar Mayang saat Baskara sedang memeriksa laporan keuangan di kantornya.

"Bagus! Biarkan dia marah. Biarkan dia dan Gunawan saling menghancurkan. Aku sudah menyiapkan dokumen untuk mengambil alih perusahaan mereka saat mereka jatuh bangkrut bulan depan," sahut Baskara dengan mata berkilat rakus.

Mayang menatap Baskara dari kursi sofanya, tangannya mengelus perutnya yang kencang. "Kau sangat cerdas, Baskara. Tapi kau lupa satu hal. Aris dan Gunawan bukan pria yang bisa kau lawan hanya dengan gertakan."

"Aku punya kau, Mayang. Kau adalah perisai sekaligus senjataku."

Mayang tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung racun. "Tentu. Aku adalah perisaimu."

Dalam hatinya, Mayang telah menghubungi Aris dan Gunawan secara terpisah. Ia memberikan mereka sedikit "umpan" tentang siapa Baskara sebenarnya. Ia membiarkan mereka tahu bahwa ada tikus kecil dari masa lalunya yang mencoba mencuri takhta mereka. Mayang sedang mengadu domba tiga monster sekaligus.

Ia akan membiarkan Baskara menikmati perannya sebagai "calon suami" dan "calon ayah" sedikit lebih lama. Ia akan menahan rasa sakit di rahimnya, menahan rasa muak di jiwanya, sampai hari persalinan itu tiba.

"Rintihanku kali ini tidak akan gratis, Baskara," gumam Mayang saat ia sendirian di kamar mandinya yang mewah, menatap pantulan wajahnya yang tampak kuyu namun penuh ambisi. "Persalinan kali ini tidak akan melahirkan pewaris untukmu. Ia akan melahirkan kejatuhan bagi kalian semua."

Mayang Puspita Sari siap untuk babak akhir. Ia akan melahirkan bayi Baskara di depan mata pria itu, namun ia juga akan memastikan bahwa saat tangisan bayi itu pecah, Baskara, Aris, dan Gunawan tidak akan memiliki apa-apa lagi selain debu dari kerajaan mereka yang hancur.

****

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!