Setelah kepergian Ayahnya, hidup Keysa begitu menyedihkan. Di mana perlakuan Ibu dan Adiknya yang semakin menjadi-jadi, bahkan mereka sampai menjual Keysa ke salah satu klub untuk dilelang.
Saat pelelangan, seorang pria menawar Keysa dengan harga dua miliar dan membuat Keysa menjadi milik pria itu. Keysa pikir hidupnya akan hancur setelah dibeli pria asing itu, namun justru sebaliknya. Keysa diperlakukan dengan penuh kasih sayang dan pria itu tidak membiarkan siapapun menyakiti Keysa, pria itu memanjakan Keysa hingga membuat banyak orang merasa iri dengan hidup Keysa.
Bagaimana kelanjutannya? Siapa pria yang membeli Keysa? Apa alasan pria itu membeli Keysa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Hanya Milikmu
Sesampainya di kamar, Lucas merebahkan Keysa di atas ranjang dengan sangat hati-hati, lalu ikut berbaring di sampingnya dan menarik selimut tebal untuk membungkus mereka berdua dari dinginnya AC yang menusuk.
"Tidurlah, aku nggak akan pergi," ucap Lucas dan memeluk erat sang istri.
"Lucas," panggil Keysa.
"Ada apa?" tanya Lucas.
"Tidak jadi," ucap Keysa.
Lucas menatap Keysa dengan bertanya-tanya, ia merasa Keysa tengah menyembunyikan sesuatu darinya hingga tiba-tiba ia teringat tentang foto yang sempat Keysa lihat dari rak bawah disamping kasur.
"Huh, kalau seperti ini terus, aku nggak bisa merahasiakannya lagi," ucap Lucas.
"Maksudnya?" tanya Keysa.
"Apa kamu kepikiran tentang foto yang kamu lihat di rak samping kasur?" tanya Lucas.
"A-aku nggak... aku nggak maksa kamu buat ceritain itu ke aku," ucap Keysa.
"Itu foto orangtuaku, mereka meninggal karena kecelakaan," ucap Lucas.
Hening sejenak menyelimuti kamar itu, Keysa menahan napas dan tidak menyangka Lucas akan mengatakan tentang keluarganya.
"Kecelakaan itu... bukan sekadar kecelakaan biasa," lanjut Lucas, suaranya kini terdengar hampa, seolah ia sedang mendongengkan tragedi milik orang lain.
"Itu sabotase, rem mobil ayahku dipotong oleh pesaing bisnisnya yang saat itu merasa terdesak. Mereka meninggal di tempat, sementara aku... aku hanya bisa melihat mobil itu meledak dari kejauhan karena saat itu aku baru saja turun untuk membeli minuman," ucap Lucas.
Keysa merasakan jantungnya mencelos, ia bisa membayangkan betapa hancurnya perasaan Lucas saat itu, pantas saja pria ini tumbuh menjadi sosok yang begitu dingin dan tidak kenal ampun dalam bisnis.
"Lalu... foto itu? Kenapa wajah ibumu dicoret?" tanya Keysa dengan nada yang sangat hati-hati.
Lucas memejamkan matanya, rahangnya kembali mengeras. "Karena bagiku, dialah yang paling bersalah. Saat itu aku baru pulang dari kuliah di luar negeri, jadi aku nggak tahu apa permasalahan yang terjadi antara mereka. Hingga setelah pemakaman mereka, selingkuhan Ibu datang dan mengatakan jika Ibu dan pria itu sudah punya anak, anaknya laki-laki, aku bahkan tidak ingat siapa namanya," ucap Lucas.
Suasana kamar yang tadinya hangat mendadak mencekam oleh pengakuan Lucas, Keysa terpaku dan tangannya yang tadi mengusap lengan Lucas kini berhenti bergerak. Ia bisa merasakan napas Lucas yang menderu pendek, tanda bahwa luka lama itu sedang menganga kembali.
"Ibu tidak hanya mengkhianati Ayah, tapi dia mengkhianati seluruh keluarga demi pria yang ternyata adalah dalang di balik sabotase mobil itu. Pria itu ingin menyingkirkan Ayah untuk menguasai harta milik Ayah, tapi dia tidak tahu kalau Ibu ada didalam mobil," ucap Lucas.
Keysa memberanikan diri untuk memeluk Lucas lebih erat dan menyandarkan kepalanya di dada pria itu, "Jadi itu sebabnya kamu mencoret wajahnya," balas Keysa.
"Aku benci fakta bahwa aku memiliki darahnya, aku mencoret wajahnya agar aku tidak perlu melihat kemiripan mataku dengan matanya di foto itu. Setiap kali aku melihat wajahnya, aku merasa hina, aku merasa jelek dan aku ingin mencongkel kedua mataku," ucap Lucas.
Keheningan di kamar itu terasa begitu pekat, hanya detak jantung Lucas yang tidak beraturan yang menjadi melodi di antara mereka. Keysa memejamkan mata dan merasakan kepedihan yang memancar dari tubuh suaminya. ia kini mengerti mengapa Lucas begitu posesif, begitu dingin dan begitu keras.
Dunia telah merampas segalanya darinya dengan cara yang paling kejam, pengkhianatan dari orang yang seharusnya paling ia cintai.
"Lucas, lihat aku," bisik Keysa lembut.
Lucas membuka matanya yang merah dan menatap Keysa dengan tatapan yang hancur, Keysa meraih wajah Lucas dengan kedua tangannya, ibu jarinya mengusap air mata yang nyaris jatuh dari sudut mata pria itu.
"Kamu bukan ibumu, matamu mungkin mirip dengannya. Tapi, aku yakin caramu menatapku, caramu melindungiku, itu berbeda dengan ibumu. Kamu adalah pria yang paling hebat yang aku kenal," ucap Keysa.
"Keysa," panggil Lucas.
"Iya?" tanya Keysa.
"Maaf kalau sikapku terkesan posesif, tapi jujur aku nggak suka apa yang sudah menjadi milikku direbut oleh orang lain termasuk kamu. Karena kamu sudah jadi istriku, maka aku nggak akan biarkan ada yang merebutmu dariku," ucap Lucas.
"Aku hanya milikmu," ucap Keysa.
"Ya, kamu hanya milikku," ucap Lucas dan memeluk erat Keysa.
"Terus, soal anak dari ibu kamu dan selingkuhannya gimana?" tanya Keysa yang tiba-tiba penasaran.
"Tentu saja mereka hidup sengsara, semua harta Ayahku jatuh ke tanganku dan ibu tentu saja tidak punya apapun untuk mereka," jawab Lucas.
"Lucas," panggil Keysa.
"Iya?" tanya Lucas.
"Nggak jadi," ucap Keysa.
"Kenapa hem?" tanya Lucas.
"Nggak jadi, udah tidur aja. Aku ngantuk," ucap Keysa.
Keysa ingin sekali mengatakan tentang latar belakangnya, di mana ia adalah anak dari Ayah Arman dengan wanita lain. Tapi, Keysa belum tahu kebenarannya, ia masih takut jika Donny mengatakan hal itu cuma untuk menakut-nakutinya saja, karena itu Keysa akan segera mencari tahu.
.
Pagi harinya, sinar matahari menembus jendela dan memantul di atas piring porselen putih tempat nasi goreng mentega tersaji, Lucas sendiri sudah tampil rapi dengan kemeja navy yang kancing atasnya sengaja dibuka dan memancarkan aura maskulin yang tenang setelah badai emosional semalam.
Keysa pun duduk di hadapan Lucas, tampak jauh lebih segar dengan gaun katun berwarna putih gading. Meski sesekali ia masih meringis kecil saat menyesuaikan posisi duduknya, mengingatkan pada intensitas gairah Lucas kemarin.
"Lucas," panggil Keysa pelan dan memecah keheningan yang nyaman itu.
Lucas mendongak dari tabletnya dan tatapannya langsung melembut, "Iya?" tanya Lucas.
"Hari ini... aku boleh ikut Bi Lita ke supermarket? Bahan dapur banyak yang habis dan aku ingin memilih beberapa bumbu sendiri, aku bosan hanya di rumah," tanya Keysa dengan nada hati-hati.
Mendengar hal itu, rahang Lucas seketika mengeras lalu ia meletakkan sendoknya perlahan. "Tidak, kamu masih butuh istirahat, Keysa. Kalau butuh apa-apa, biarkan Bi Lita atau Johan yang mencarikan," ucap Lucas.
"Tapi aku sudah merasa jauh lebih baik, aku hanya ke supermarket dekat sini kok nggak jauh," protes Keysa lembut dan meraih tangan Lucas di atas meja.
Lucas menatap Bi Lita yang berdiri tak jauh dari mereka dan menghela napas panjang, ia memijat pangkal hidungnya sebelum akhirnya menatap Keysa dalam-dalam. "Baiklah, kamu boleh pergi. Tapi dengan satu syarat, jangan jauh-jauh dari Bi Lita dan kalau ada apa-apa langsung bilang ke Bi Lita," ucap Lucas.
"Iya!" seru Keysa tersenyum lebar dan membuat binar di matanya kembali muncul.
Lucas berdiri, ia mendekati Keysa dan memberikan ciuman di puncak kepala sang istri. "Aku harus ke kantor, ada beberapa hal yang harus aku urus," ucap Lucas.
"Kamu tenang aja, aku pasti baik-baik aja," ucap Keysa.
"Bi, tolong jaga Keysa ya. Kalau ada apa-apa langsung kabarin aku atau Johan," ucap Lucas.
"Baik, Tuan," jawab Bi Lita.
.
.
.
Bersambung.....
jadi pengen 🤣🤣🤣🤣
Masak ya nunggu sampe Berjam jam gak konfirmasi ke asisten Lucas...