NovelToon NovelToon
Jatuh Cintanya Seorang Pendosa

Jatuh Cintanya Seorang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta Terlarang
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Di balik dinding suci sebuah pondok pesantren, tersembunyi seorang buronan. Reyshaka El Zhafran atau Shaka—tak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir di tempat yang paling ia hindari. Demi lolos dari kejaran polisi, pengedar narkoba itu nekat bersembunyi di pesantren milik Ustadz Haidar, seorang ulama yang dikenal bijak dan disegani.

Awalnya, Shaka hanya ingin selamat. Namun hari demi hari, ketenangan, nasihat, dan ketulusan Ustadz Haidar perlahan meruntuhkan tembok keras di hatinya. Untuk pertama kalinya, Shaka mulai mengenal arti penyesalan dan harapan untuk berubah. Semua menjadi semakin rumit saat ia bertemu Hanindya Daisha Ayu—putri sang ustadz yang berhati lembut dan shalihah. Tanpa disadari, perasaan itu tumbuh diam-diam, menyiksa shaka dalam keheningan.

Tapi bagaimana mungkin seorang mantan pengedar narkoba seperti dirinya pantas mencintai perempuan sebersih Hanindya?
Terlebih, Hanindya telah dijodohkan dengan Ustadz Ilyas—lelaki yang jauh lebih layak dibanding dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Mata Shaka kembali memanas. Entah kenapa kalimat yang diucapkan oleh ustadz Haidar terasa begitu besar baginya, karena selama ini ia merasa hidupnya sudah berakhir. Namun sekarang untuk pertama kalinya ia merasa mungkin hidupnya belum benar-benar selesai.

Keheningan kembali menyelimuti mushola.

Beberapa saat kemudian Ustadz Haidar perlahan berdiri lalu ia mengulurkan tangannya ke arah Shaka.

“Ayo nak.”

Shaka menatap tangan itu selama beberapa detik sebelum akhirnya menerimanya perlahan. Ustadz Haidar membantu pemuda itu berdiri. Kaki Shaka terasa sedikit lemas setelah semua tangisan dan emosi yang keluar malam itu, mamun entah kenapa dadanya terasa sedikit lebih ringan meski dirinya merasa lelah dan perasaannya yang masih kacau. Ustadz Haidar kemudian menggulung pelan sajadah yang tadi dipakai lalu menoleh pada Shaka.

“Malam sudah larut.” Shaka menatap ke luar jendela mushola. Langit malam masih gelap. Suasana pondok pesantren begitu sunyi, hanya diisi suara angin malam dan dedaunan yang bergerak pelan. "Kamu harus istirahat.” ujar ustadz Haidar yang membuat Shaka langsung terlihat canggung.

“Iya ustadz tapi saya akan tidur dimana malam ini?”

“Kamu akan tidur di sini malam ini dan seterusnya.” ucap Ustadz Haidar dengan lembut dan membuat Shaka terdiam.

Ustadz Haidar lalu mulai berjalan keluar mushola dan memberi isyarat agar Shaka mengikutinya. Shaka menurut. Mereka berjalan pelan melewati halaman pondok pesantren yang sunyi. Lampu-lampu kecil di sepanjang jalan menyala redup. Udara malam terasa dingin menyentuh kulit. Shaka berjalan beberapa langkah di belakang Ustadz Haidar.

Matanya memperhatikan sekitar pondok pesantren dengan diam. Pondok pesantren itu terasa begitu berbeda dari dunia yang biasa ia tempati.

Tenang dan damai. Tidak ada suara makian yang biasa Shaka dengar dari rekan rekannya apalagi transaksi haram. Dan entah kenapa semua itu terasa asing sekaligus menenangkan baginya. Beberapa menit kemudian mereka sampai di sebuah bangunan asrama sederhana. Ustadz Haidar membuka salah satu pintu kamar. Ruangan itu tidak besar namun bersih dan rapi, ada beberapa kasur tipis yang digelar di lantai, lemari kayu sederhana di sudut ruangan dan aroma khas sabun serta buku-buku lama yang memenuhi udara.

“Kamar ini masih kosong.” Ustadz Haidar menoleh pada Shaka. “Mulai malam ini kamu bisa tidur di sini.”

Shaka berdiri di ambang pintu sambil menatap ruangan itu cukup lama. Entah kenapa matanya kembali terasa panas. Sudah lama sekali ia tidak punya tempat untuk benar-benar beristirahat. Biasanya ia tidur berpindah-pindah untuk menghindari penangkapan polisi. Kadang di kontrakan sempit, kadang di tempat kumuh, atau bahkan tidur dengan rasa takut kalau polisi atau musuh datang tiba-tiba. Namun malam ini ada seseorang yang memberinya tempat tinggal tanpa meminta apa-apa darinya dan itu membuat Shaka menunduk pelan.

“Terima kasih, ustadz...” ujar Shaka dengan suaranya yang lirih dan membuat Ustadz Haidar tersenyum kecil.

“Beristirahatlah.” Lalu sebelum pergi, ustadz Haidar kembali berkata, “Nanti sebelum subuh biasanya santri-santri sudah bangun.” Shaka mendengarkan. “Kamu ikut sholat subuh berjamaah bersama mereka.” Shaka sedikit menegang namun perlahan ia mengangguk. Ustadz Haidar melanjutkan, “Setelah itu ada kajian pagi. Kamu ikut saja, tidak perlu takut.”

Shaka kembali mengangguk pelan meski di dalam hatinya masih ada rasa canggung. Ustadz Haidar menatapnya sebentar sebelum akhirnya berkata lembut,

“Selamat beristirahat, nak.” Lalu ia perlahan meninggalkan kamar itu. Meninggalkan Shaka sendirian di dalam ruangan kecil yang sunyi.

Sementara itu, setelah meninggalkan kamar asrama tempat Shaka beristirahat, Ustadz Haidar berjalan pelan menuju rumahnya yang berada tidak jauh dari area utama pesantren.

Langkahnya tenang namun pikirannya masih dipenuhi bayangan pemuda tadi. Sorot mata penuh luka, tatapan matanya yang kosong karena menyimpan terlalu banyak rasa sakit dan air mata penyesalan Shaka yang akhirnya runtuh setelah bertahun-tahun ditahan. Ustadz Haidar menghela napas panjang. Tidak mudah menyelamatkan seseorang yang sudah terlalu lama tenggelam dalam kegelapan. Tapi entah kenapa hatinya mengatakan bahwa pemuda itu masih bisa diselamatkan. Masih ada bagian kecil dalam dirinya yang ingin berubah dan malam ini, Ustadz Haidar melihatnya dengan jelas.

Langkah ustadz Haidar akhirnya sampai di depan rumah sederhana bercat putih yang berada di samping taman kecil pesantren.

Lampu teras rumahnya masih menyala dan itu membuat Ustadz Haidar sedikit mengernyit.

Biasanya di jam seperti ini lampu rumahnya sudah gelap. Pelan pelan ia membuka pintu rumah. Baru saja melangkah masuk, ustadz Haidar dikejutkan oleh kehadiran seseorang.

“Abi?”

Suara lembut itu membuat Ustadz Haidar menoleh.

Di ruang tengah, seorang perempuan paruh baya berdiri sambil menatapnya dengan wajah penuh khawatir. Itu Ummi Hafizah, istrinya. Perempuan itu mengenakan gamis longgar berwarna cokelat muda dengan jilbab sederhana yang menutupi rambutnya yang rapi. Wajahnya terlihat lelah, namun sorot matanya penuh kelembutan. Melihat istrinya masih terjaga selarut ini, membuat Ustadz Haidar sedikit terkejut.

“Ummi belum tidur?” tanya ustadz Haidar pelan dan membuat Ummi Hafizah menghela napas kecil lalu berjalan mendekat.

“Abi dari mana saja?” tanyanya khawatir. “Ummi tunggu dari tadi.”

Ustadz Haidar terdiam sesaat.

“Abi ada sedikit urusan, makanya baru pulang.”

“Urusan apa sampai pulang selarut ini?” Nada suara Ummi Hafizah terdengar lembut, tapi jelas dipenuhi rasa cemas. Apalagi beberapa jam terakhir suasana di luar memang sempat gaduh karena suara beberapa polisi yang terdengar sampai seluruh area pesantren dan

Itu membuat hatinya tidak tenang. “Ummi sempat dengar ada polisi di sekitar pesantren,” lanjut ummi Hafizah pelan. “Apa terjadi sesuatu abi?”

Ustadz Haidar menatap istrinya beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas panjang.

“Masuk dulu ummi, Abi akan ceritakan semuanya di dalam.”

Mereka kemudian masuk, mengunci pintu rumah dan berjalan ke ruang tengah. Rumah itu terlihat sederhana namun terasa hangat. Ada rak buku di sudut ruangan, beberapa pigura keluarga di dinding, dan aroma teh melati yang masih samar tercium dari meja kecil di dekat sofa. Ummi Hafizah duduk pelan sambil menatap suaminya dengan penuh tanya, sementara Ustadz Haidar terlihat diam beberapa saat, seolah sedang memikirkan bagaimana harus memulai cerita yang terjadi malam itu. Sampai akhirnya beliau berkata,

“Malam ini ada seorang pemuda masuk ke mushola pesantren.”

Ummi Hafizah langsung mengernyit.

“Pemuda?”

Ustadz Haidar mengangguk.

“Dia masuk dalam keadaan panik.” Lalu perlahan, ustadz Haidar mulai menceritakan semuanya.

Tentang polisi yang mengejar pengedar narkoba, tentang seorang pemuda yang tiba-tiba masuk ke mushola dengan napas terengah-engah dan mata penuh ketakutan, tentang pisau yang diarahkan Shaka padanya, tentang ancamannya dan tentang bagaimana akhirnya ia memilih melindungi pemuda itu dari polisi.

Semua diceritakan oleh ustadz Haidar secara perlahan kepada ummi Hafizah. Sementara wajah Ummi Hafizah semakin berubah seiring cerita itu berlanjut terutama saat mendengar satu fakta.

1
Putri_a_s
pake acara sumpah sumpahan lagi/Drowsy/
Yuni Avita
ozy ibarat musuh dalam selimut.
Yuni Avita
moga aja kamu cepat sadar dengan apa yang kamu lakukan, Ozy.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Biar ganteng Shaka 😁
Suhadi Mulyo
jangan bawa nama tuhan dengan mulut kotormu itu Ozy, nggak usah sok suci lho/Panic/
Suhadi Mulyo
tega banget kamu ozy/Smug/
Suhadi Mulyo
punya salah apa Shaka sama kamu Ozy? sampai kamu tega banget fitnah dia /Scowl/
Khumaira Nur Rahma
jahat banget kamu ozy, udah lempar batu sembunyi tangan, sekarang malah fitnah Shaka /Panic/
Suhadi Mulyo
bagus banget, ada cuplikan ayat Al-Qur'an nya juga, jadi tambah ilmu.
Suhadi Mulyo
ustadz Ilyas beruntung bisa dicintai oleh perempuan seperti Hanin😍
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
bagus Shaka harus move on dong.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Selagi mau berubah, Allah selalu dekatkan dgn org yg baik bukan. Good morning aku sempetin baca sebelum kerja💙
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
Jodoh adalah bagian dari takdir Allah, namun ikhtiar menjemputnya tetap menjadi bentuk ketaatan.
Dengan ikhtiar, tawakal dan kesabaran, setiap langkah menuju jodoh bisa menjadi jalan ibadah yang diridhai Allah.
Kondisi dalam hubungan percintaan barangkali tidak akan semulus kelihatannya.
Tentu saja setiap orang akan selalu berharap mendapatkan pasangan yang ia cintai dan mencintai dirinya. Akan tetapi, dalam hidup tentu harus realistis.
Tidak semua yang kita inginkan itu bisa terwujud.
Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui".
Percayakan kepada Allah yang Maha Mengetahui, Allah Sang Pemilik Hati Manusia. Jodohmu sudah diatur oleh-Nya...🤭
sakura
..
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
oh apakah Hanindiya itu anak ustadz Haidar.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Thor harusnya di tulis jga bawahnya surah mana atau hadis doa mana biar tahu para pembaca gitu.
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: bukan doa kak, tapi sholawat.
total 1 replies
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
tanda hati Shaka mulai terenyuh.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
lagi dakwah kaya gini terus di bawahnya ada iklas dramashot mana tokohnya Hb lagi nggak etis banget ih 🤦
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
apakah ustadz Ilyas tau soal ini🤭
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
"Maula ya sholli wasallim daiman abada" adalah adalah sholawat yang termasuk bagian dari Qasidah Burdah.
Sholawat ini diciptakan oleh Imam Bushiri, penyair sekaligus ulama yang tersohor di kalangan umat Muslim.
Kata burdah secara bahasa diartikan sebagai mantel.
Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa burdah berasal dari kata bur’ah yang berarti shifa (kesembuhan).
Sholawat Burdah sendiri merupakan sajak-sajak pujian kepada nabi Muhammad SAW, pesan moral, nilai-nilai spiritual, semangat perjuangan, dan sebagainya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!