NovelToon NovelToon
Dosa Di Balik Jas Putih: Mempelai Terbuang Dan Skandal Malam Terlarang

Dosa Di Balik Jas Putih: Mempelai Terbuang Dan Skandal Malam Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Romansa Fantasi
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Briella hanyalah "sampah" di kediaman megah keluarganya—anak haram yang lahir dari perselingkuhan ibunya. Saat ia nyaris tewas disiksa oleh saudari tirinya, Prilly, sebuah pelarian berdarah membawanya ke pelukan pria asing di sebuah hotel remang-remang. Satu malam panas mengubah segalanya. Pria itu adalah Geovani, dokter bedah jenius berdarah dingin yang ternyata merupakan tunangan Prilly. Kini, Briella kembali bukan sebagai korban, melainkan sebagai wanita yang membawa benih sang dokter. Di bawah bayang-bayang balas dendam, Briella memulai permainan berbahaya: Merebut pria milik musuhnya, meski ia harus mempertaruhkan nyawa di atas meja operasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rasa Cemburu Sang Iblis

​Cahaya lampu temaram di perpustakaan pribadi Geovani menyinari deretan buku tua yang berjajar rapi. Briella duduk di salah satu sofa beludru, jemarinya perlahan membelai sampul sebuah buku usang yang ia temukan di sudut rak paling bawah. Itu adalah satu-satunya benda yang ia bawa dari asramanya sebelum Geovani merenggut kebebasannya, sebuah buku sastra klasik yang sangat ia cintai.

​Senyum tipis tersungging di bibir Briella saat ia membaca catatan kecil di pinggir halaman. Catatan itu ditulis oleh seorang pria dari masa lalunya, seorang teman lama yang pernah berbagi mimpi dengannya di kampus. Untuk sejenak, ia melupakan rasa sesak di dadanya dan kontrak hitam yang baru saja ia tandatangani di ruang kerja tadi sore.

​"Ternyata kau masih bisa tersenyum hanya karena sebuah benda mati yang sudah berdebu itu," suara dingin Geovani memecah kesunyian ruangan.

​Briella tersentak dan refleks menutup buku itu, menyembunyikannya di balik bantal sofa. Ia menoleh dan mendapati Geovani berdiri di ambang pintu, masih mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Aroma maskulin yang tajam bercampur dengan sedikit bau tembakau mulai menginvasi indra penciumannya.

​"Ini bukan urusanmu. Aku hanya sedang membaca untuk menenangkan pikiranku sebelum memenuhi kewajibanku malam ini," sahut Briella dengan nada yang berusaha ia buat sedatar mungkin.

​Geovani melangkah mendekat, matanya yang tajam tertuju pada bantal sofa yang digunakan Briella untuk menyembunyikan sesuatu. Ia menarik paksa buku itu dan membukanya dengan kasar, matanya menyipit saat melihat tulisan tangan pria di halaman depan. Guratan cemburu yang gelap mulai terlihat di wajahnya yang biasanya kaku seperti marmer.

​"Siapa pria ini? Siapa yang berani memberikan catatan picisan seperti ini kepada milikku?" tanya Geovani dengan suara bariton yang bergetar karena amarah yang tertahan.

​"Dia hanya teman masa laluku. Tidak ada hubungannya dengan penelitianmu atau kontrak konyol ini!" balas Briella sambil mencoba merebut kembali buku itu dari tangan Geovani.

​Geovani justru menjauhkan buku itu dan berjalan menuju perapian yang menyala di sudut perpustakaan. Tanpa ragu, ia melemparkan buku usang tersebut ke dalam lidah api yang sedang menari. Briella memekik kaget, ia berlari mendekati perapian, namun tangan kokoh Geovani segera mencengkeram pinggangnya dengan kuat.

​"Jangan! Itu satu-satunya kenangan yang tersisa dari kehidupanku yang normal!" teriak Briella sambil memukul dada Geovani dengan tangan gemetar.

​"Kehidupan normalmu sudah mati sejak kau menginjakkan kaki di mansion ini, Briella. Tidak boleh ada pria lain, bahkan dalam bentuk tulisan sekalipun, yang memenuhi pikiranmu," desis Geovani tepat di depan wajahnya.

​Briella menatap nanar ke arah perapian, melihat kertas-kertas buku itu perlahan menghitam dan berubah menjadi abu. Air mata kemarahan mulai menggenang di pelupuk matanya, membuat hatinya terasa seperti dicabik-cabik. Pria di depannya bukan hanya mengurung raganya, tetapi juga mencoba menghapus seluruh identitas masa lalunya.

​"Kau benar-benar iblis yang egois! Kau menghancurkan segalanya karena rasa cemburumu yang tidak masuk akal!" isak Briella dengan suara serak.

​"Sebut aku apa pun yang kau mau. Tapi ingatlah kontrak yang sudah kau tandatangani dengan tanganmu sendiri," Geovani menarik Briella lebih rapat, menghimpit tubuh gadis itu ke dinding rak buku.

​Cengkeraman tangan Geovani di bahu Briella terasa jauh lebih kasar dan dominatif dibandingkan biasanya. Ia tidak lagi peduli dengan protokol medis atau kenyamanan sang tawanan yang sedang hamil. Rasa cemburu telah membakar logika sang dokter bedah saraf, mengubahnya menjadi sosok yang jauh lebih brutal dan liar.

​"Kau berjanji akan memuaskan hasratku setiap hari tanpa keluhan, bukan? Maka lakukan sekarang," perintah Geovani sambil menarik paksa gaun sutra yang dikenakan Briella.

​"Lepaskan aku! Kau menyakitiku, Geovani!" rintih Briella saat ia merasakan tekanan yang luar biasa pada lengannya.

​Geovani tidak mengindahkan protes itu, ia justru membungkam bibir Briella dengan ciuman yang terasa seperti serangan. Tidak ada lagi kelembutan seperti saat tarian di bawah bulan beberapa malam yang lalu. Ciuman kali ini penuh dengan tuntutan, rasa kepemilikan, dan kemarahan yang meluap-luap karena keberadaan pria lain di ingatan Briella.

​"Kau hanya milikku. Setiap inci kulitmu, setiap napasmu, dan setiap pikiranmu adalah hak milikku sepenuhnya," bisik Geovani di sela-sela pergulatan mereka di atas meja kayu perpustakaan.

​Malam itu, Geovani mengklaim tubuh Briella dengan cara yang jauh lebih brutal daripada malam-malam sebelumnya. Ia ingin memastikan bahwa Briella tidak akan pernah berani lagi memikirkan orang lain selama ia berada di dalam kekuasaannya. Briella hanya bisa memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam dominasi pria yang sangat ia benci namun juga ia butuhkan.

​Suara napas yang memburu dan denting perabot yang bergeser menjadi melodi yang mencekam di ruangan sunyi itu. Geovani tidak memberikan celah bagi Briella untuk bernapas, ia menuntut setiap bagian dari diri gadis itu seolah-olah sedang menanamkan tanda kekuasaan permanen. Rasa sakit dan kenikmatan yang terpaksa bercampur menjadi satu dalam kesadaran Briella.

​"Katakan padaku, Briella. Siapa pemilikmu?" tanya Geovani sambil menekan leher Briella dengan lembut namun memberikan ancaman yang nyata.

​"Kau ... kau pemilikku," jawab Briella dengan suara yang nyaris hilang, ia terpaksa mengakui kekalahan telaknya malam itu.

​Setelah badai gairah dan amarah itu mereda, Geovani membiarkan Briella berbaring lemas di atas meja perpustakaan yang dingin. Ia merapikan kemejanya dengan ketenangan yang menakutkan, seolah baru saja menyelesaikan sebuah prosedur medis rutin yang tidak melibatkan perasaan. Ia menatap Briella yang masih gemetar dengan pandangan yang tak terbaca.

​"Kembalilah ke kamarmu. Jangan biarkan aku menemukan benda-benda dari masa lalumu lagi di rumah ini," ujar Geovani sambil berjalan keluar dari perpustakaan tanpa menoleh lagi.

​Briella bangun dengan susah payah, ia merapikan gaunnya yang sudah robek di beberapa bagian. Ia berjalan perlahan menuju perapian, menatap tumpukan abu yang dulunya adalah buku kesayangannya. Rasa benci di hatinya kini telah mencapai puncaknya, namun di sisi lain, ia menyadari betapa kuatnya pengaruh yang ia miliki terhadap emosi Geovani.

​"Kau mungkin bisa membakar bukuku, Geovani. Tapi kau tidak akan pernah bisa membakar dendam yang tumbuh di dalam rahimku," gumam Briella sambil mengepalkan tangannya.

​Ketegangan di mansion Upper-Chrome itu kini telah mencapai titik didih yang baru. Rasa cemburu sang iblis telah mengubah dinamika hubungan mereka menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Briella menyadari bahwa ia sedang berjalan di atas tali tipis antara perlindungan dan kehancuran total di tangan pria yang telah mengklaim jiwanya.

​Di luar, badai salju kembali turun, menutupi perbukitan Etheria dengan lapisan putih yang tebal. Namun di dalam rumah mewah itu, api kecemburuan dan amarah masih terus berkobar, siap untuk menghanguskan siapa saja yang mencoba mengganggu kendali absolut sang dokter bedah saraf. Briella melangkah gontai menuju kamarnya, membawa luka baru yang jauh lebih dalam daripada cambukan fisik mana pun.

1
𝐀⃝🥀Weny
secangkir kopi untuk mu thor
𝐀⃝🥀Weny: sama²🤗
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
kutunggu next episodenya thor
𝐀⃝🥀Weny
waah... kebetulan yang sangat bagus😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!