Lyodra, bunga desa Wonosobo menanam tanaman herbal langka khas dataran tinggi. Namun, warga desa yang mayoritas petani tembakau tidak menyukainya. Karena tanaman tersebut memiliki manfaat yang membuat orang berpikir negatif. Afrodisiak pada akarnya. Padahal di dunia tehnologi modern, tanaman herbal ini dapat dimanfaatkan sebagai obat anti kanker dan anti bakteri yang berdaya jual tinggi.
Kemarahan warga makin menjadi-jadi setelah mendapati Lyodra bersama pria asing di lumbung desa. Warga menuduh mereka berbuat mesum.
Kesalah pahaman membuat kepala desa terpaksa meminta pria asing itu untuk menikahi Lyodra. Agar tidak mencoreng nama baik Lyodra. Namun, sebuah rahasia malah terkuak.
Rahasia apakah itu? Apakah rahasia itu akan mempengaruhi kisah cinta Lyodra ke depannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss DK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terpergok Nyonya Rumah
Matahari bersinar makin terik, namun pria tampan di dalam ruang kerja Edgar masih terpekur di depan komputer.
Edward mendengus kesal, ia tak bisa konsentrasi bekerja setelah membaca hasil tes DNA Lyodra dan Edgar.
"Bagaimana bisa mereka adalah ayah dan anak?" tanya Edward tak mengerti.
Kepala Edward berdenyut pusing, namun Edward tetap merunut kembali kejadian-kejadian di masa lalu.
"25 tahun yang lalu, Edoardo, kakek Lyodra menikah dengan Aster, ibu Lyodra. Padahal saat itu Aster sedang hamil anak Kak Edgar. Tapi Kak Edgar malah menikah dengan Kak Rose. Hmm ...."
Edward men-shut down komputernya lalu berdiri dan berjalan ke tengah ruang kerja. Lalu kembali lagi ke depan meja kerja. Mondar-mandir sambil terus berpikir.
"Sungguh membingungkan. Kenapa Aster mau menikah dengan Edoardo yang umurnya tiga kali lipat darinya, padahal dia sedang hamil anak Kak Edgar? Apa karena Edoardo adalah tuan tanah kaya raya, pemilik perkebunan yang sangat luas? Hmm .... Sepertinya tidak mungkin. Buktinya setelah melahirkan, Aster malah pulang ke desa dan hidup sederhana," ucap Edward mengingat kembali lika liku hidup Lyodra yang serba kekurangan di desa.
"Atau karena Kak Edgar sudah bertunangan dengan Kak Rose? Dan pertunangan mereka tidak bisa dibatalkan? Jadi, untuk menutup aib Aster dan Edgar, terpaksa Aster menikah dengan Edoardo? Hmm .... Sepertinya alasan ini lebih masuk akal deh," ucap Edward sambil menganggukkan kepala.
"Lalu, lalu aku ini siapa? Aku tidak punya hubungan darah dengan Lyodra, tapi kenapa aku bisa menjadi putra kedua Edoardo?" tanya Edward.
"Kalau Edoardo bukan ayahku, lalu siapa orang tua kandungku? Aku tak punya petunjuk apapun untuk menemukan orang tua kandungku. Hanya Kak Edgar satu-satunya orang yang tahu segalanya," tanya Edward ingin segera menemukan Edgar dan menanyainya sampai semua terkuak jelas.
Tok! Tok! Tok!
Tiba-tiba seseorang mengetuk daun pintu ruang kerja Edgar.
Edward langsung terdiam dan berpikir cepat.
"Jangan-jangan itu Lyodra yang mengetuk pintu. Hmm .... Lebih baik masalah ini dirahasiakan dulu sampai semuanya jelas. Kasihan Lyodra jika dia tahu kalau dia adalah putri Edgar. Bukan putri Edoardo. Dia pasti pusing tujuh keliling ingin mencari tahu kebenarannya," ucap Edward sambil bergerak ke arah pintu.
Membukanya perlahan. Dan melihat sosok gadis cantik pujaannya sedang berdiri di sana. Mengenakan gaun baru pilihan Edward berwarna kuning pucat dengan rambut dikepang dua dan dipita warna senada.
Penampilan Lyodra nampak segar seperti segelas air lemon di siang hari. Padahal kepala Lyodra masih pusing dan perutnya juga masih kurang nyaman gara-gara semalam terlalu banyak minum wine.
Edward tersenyum lembut, mengulurkan jemari tangannya untuk membimbing Lyodra masuk ke dalam ruang kerja Edgar.
"Masih pening dan mual?" tanya Edward lembut.
Lyodra mengangguk sembari menekan pelipisnya dengan jari telunjuk untuk meredakan denyut peningnya.
"Mabuk benar-benar tidak enak. Lain kali, minum air putih aja, biar sehat."
Edward tertawa mendengar ucapan Lyodra. Bunga desa ini sepertinya sudah kapok menyesap wine yang harganya hampir belasan juta itu. Padahal kemarin dia dengan senang hati menghabiskannya hingga tetes terakhir.
"Sudah minum air madu dan makan bubur?" tanya Edward sembari membantu Lyodra duduk di sofa empuk yang ada di samping kanan ruang kerja Edgar.
Lyodra mengangguk. "Buburnya lezat tapi perutku tidak bersahabat. Mual seperti diaduk-aduk. Jadi, aku tidak menghabiskannya."
"Kalau pusing dan mualnya masih parah, minumlah ini." Edward mengeluarkan sebungkus obat anti nyeri sekaligus obat lambung. Mengulurkannya ke dalam genggaman Lyodra.
Lyodra menggelengkan kepala. Dengan nada lembut dan merajuk, Lyodra bertanya, "Bisa bantu memijat kepalaku, Kak?"
Edward tersenyum. Dengan senang hati, Edward langsung melompat dari sofa. Berjalan ke belakang sofa. Berdiri di belakang kepala Lyodra Menggosok-gosokkan kedua tangannya agar jemari tangannya menghangat. Lalu perlahan, membawa kepala Lyodra bersandar ke sandaran sofa yang empuk. Menyentuh pelipis Lyodra. Memijatnya dengan lembut.
Lyodra tersenyum senang saat Edward mulai memijatnya. Mata mereka beradu. Lyodra bisa melihat ujung bibir Edward terangkat membentuk senyuman manis.
"Terima kasih, Kakak."
Perlahan Lyodra memejamkan matanya. Menikmati kenyamanan pijatan lembut yang diberikan jemari tangan Edward.
"Kak Edward, kakak pintar sekali memijat."
Bibir Edward mengulas sebuah senyum getir. "Dulu aku pernah belajar memijat khusus untuk orang koma. Agar aku bisa memijat ayahku. Pijatan untuk orang koma itu sangat baik. Dapat melancarkan peredaran darah, merangsang syarafnya sekaligus memberi relaksasi, kenyamanan."
Lyodra terharu mendengar ucapan Edward. Ia tak menyangka Edward begitu berbakti kepada ayahnya saat beliau masih sakit dan terbaring koma.
Sedangkan Lyodra boro-boro berbakti pada ayahnya, ia bahkan belum pernah bertemu ayahnya sekalipun. Sayangnya, sekarang ayah sudah menutup mata untuk selama-lamanya. Lyodra sudah tak punya kesempatan untuk berbakti pada ayah kandungnya.
Tiba-tiba Lyodra menggenggam jemari tangan Edward agar Edward berhenti memijat pelipis Lyodra.
"Ada apa, Lily? Apakah pijatanku sudah menyakitimu?" tanya Edward kaget.
Lyodra menegakkan tubuhnya. Memutar badannya lalu berlutut di atas sofa. Sekarang posisi tubuhnya berhadapan dengan Edward. Hanya terjeda oleh sandaran sofa.
"Apakah hasil tes DNA sudah datang? Bagaimana hasilnya?" tanya Lyodra dengan cepat. Wajah cantiknya penuh rasa ingin tahu.
Edward menghela nafas dalam-dalam. "Sudah datang."
Lyodra membulatkan matanya, makin penasaran. "Apakah kita saudara kembar?"
Melihat wajah Lyodra yang sangat antusias, membuat Edward langsung menyambar dagu runcing Lyodra. Ia menarik dagu runcing itu ke arahnya. Edward menundukkan kepalanya. Dengan berani dan tanpa ragu lagi langsung menempelkan bibirnya ke bibir merah muda Lyodra. Memanggutnya dengan rakus hingga Lyodra yang kaget langsung memundurkan tubuhnya yang langsing.
Namun, Edward tak ingin melepas keinginan yang sudah dipendamnya sejak beberapa hari lalu. Salah satu lengan tangan Edward yang berotot segera melingkar ke pinggang Lyodra. Menarik tubuh langsing itu untuk makin mendekat. Sementar jemari tangannya yang masih bebas, memeluk tengkuk Lyodra. Mengeratkannya agar bibir mereka tidak berpisah sedikit pun.
Ciuman Edward membuat mata bulat Lyodra melotot sejenak namun detik berikutnya mata bulat Lyodra memancarkan binar kebahagiaan.
Apa yang baru saja dilakukan Edward sudah memberikan jawaban yang jelas. Mereka sudah pasti bukan saudara kembar. Karena Edward tidak akan berani berbuat lebih jauh jika tidak ada bukti nyata yang menyatakan mereka bukan saudara sedarah.
Kriet!
Pintu ruang kerja Edgar terbuka. Seorang wanita terhormat dan anggun masuk ke dalam. Langsung memergoki Edward dan Lyodra yang sedang bermesraan di ruang kerja suaminya.
Rose terbatuk sekali, memberi isyarat pada dua sejoli itu untuk segera mengakhiri kemesraan mereka. Namun, karena suara batuk Rose terlalu pelan, kedua sejoli itu tak mendengarnya dan masih terus membuat iri nyonya rumah.
Rose kembali terbatuk. Kali ini suara batuknya lebih keras dan tajam. Membuat bibir Edward yang sedang menjelajahi area leher Lyodra langsung terhenti.
"Maaf, kami tidak tahu kalau Kak Rose akan kemari." Edward tersenyum lebar. Dia tak nampak malu maupun salah tingkah, walau terpergok sedang bermesraan dengan seorang gadis.
Sementara Lyodra memilih menyembunyikan rasa malunya dengan tak berani menoleh ke arah nyonya rumah.