Xavier, king Mafia yang tak terkalahkan, ditangkap musuh dan terkena tembakan di dada hingga pingsan. Ketika sadar, dia terkejut melihat dirinya mengenakan hanfu kuno megah dan duduk di singgasana tinggi di lingkungan asing.
Dia menyadari dirinya seharusnya sudah mati, namun doanya terkabul dalam bentuk reinkarnasi. Kini dia berada di tubuh pemimpin sekte iblis yang dingin dan bijaksana, dengan perpaduan unik antara kekerasan masa lalunya sebagai Mafia dan kebijaksanaan baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUBBLEBUNY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mata Sang Kaisar Melihat Segalanya
Suasana hangat dan penuh canda tawa di ruangan itu perlahan-lahan berubah kembali menjadi serius dan penuh strategi. Wajah Ye Chen yang tadi sempat tersenyum malu dan terlihat lembut kini kembali datar, dingin, dan tak terbaca. Matanya yang tajam memancarkan kilatan cemerlang yang seolah mampu menembus segala kepalsuan dan melihat kebenaran yang tersembunyi di balik bayang-bayang.
"Ayah, ada hal yang sangat penting dan mendesak yang ingin aku bahas segera sebelum pertemuan besar dengan para tetua nanti" Ucap Ye Chen dengan suara berat dan rendah, namun setiap katanya terdengar jelas dan menekan.
"Masalah ini sangat krusial dan tidak bisa ditunda lagi. Kita harus menyatukan pikiran dan strategi sebelum berhadapan dengan mereka semua." Lanjut Ye Chen dengan suara berat dan rendah, namun setiap katanya terdengar jelas dan menekan, memancarkan keseriusan yang membuat udara di sekitarnya terasa mendesak.
Tianhong mengernyitkan dahinya yang lebat dan kuat, sepasang matanya yang tajam menyipit sedikit saat menangkap perubahan drastis yang terjadi pada putranya. Ia bisa merasakan dengan sangat jelas bahwa suasana hati Ye Chen telah berubah total dari yang tadi hangat dan lembut, kini berubah menjadi dingin, tegas, dan penuh tekanan. Tanpa perlu berkata banyak, Tianhong pun segera menegakkan tubuhnya dengan gagah dan kokoh. Seluruh auranya yang tadi terasa damai dan bijaksana kini berubah seketika menjadi sangat serius, tajam, dan penuh kewaspadaan tingkat tinggi, siap mendengarkan dan menghadapi segala kemungkinan besar yang akan dibicarakan.
"Ada apa, Chen'er? Apakah ada ancaman besar yang datang mengintai? Atau ada masalah yang terjadi di Sekte Langit?" Tanyanya cepat dan tegas, matanya berkilat tajam penuh kewaspadaan dan kesiapan menghadapi bahaya apa pun.
"Ya, Ayah. Atau lebih tepatnya... ada ancaman yang menyamar menjadi teman," Jawab Ye Chen dengan nada yang sedingin es.
"Belakangan ini, kabar menyebar luas bahwa Sekte Hua Shan dan beberapa sekte besar lainnya di wilayah timur sedang giat sekali mencari dukungan. Mereka mengajak berbagai pihak untuk membentuk sebuah aliansi besar yang mereka namakan 'Persekutuan Keadilan Semesta'. Mereka mengaku ingin menjaga keseimbangan dunia persilatan dan menolak adanya kekuatan yang terlalu dominan yang bisa mengancam kedamaian." Ucap Ye Chen dengan nada dingin dan penuh selidik, matanya memancarkan kecerdasan tajam yang mampu melihat kepalsuan di balik kata-kata manis itu.
"Hmph, aku tahu hal itu. Mereka itu adalah kelompok munafik paling ulung di dunia ini. Mereka menyebut diri mereka penjaga keadilan dan kesucian, tapi sebenarnya hati mereka dipenuhi oleh rasa iri, dengki, dan ketakutan. Mereka hanya takut melihat kekuatan kita terus tumbuh tanpa bisa mereka kendalikan. Mereka ingin membentuk aliansi... tapi menurutmu, Chen'er, apa niat sebenarnya di balik semua drama manis itu?" Ucap Tianhong dengan nada merendahkan dan penuh kebencian, matanya memancarkan tatapan tajam yang mampu menembus kepalsuan musuh-musuhnya.
"Itulah masalahnya, Ayah," Ucap Ye Chen sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada, matanya memancarkan kecerdasan yang luar biasa tajam dan jauh melampaui usianya.
"Secara tampilan luar dan ucapan manis mereka, mereka terlihat sangat antusias ingin berdamai dan bekerja sama. Mereka mengirim surat-surat resmi, mereka mengirim utusan-utusan yang sopan, dan mereka berjanji memberikan banyak keuntungan bagi kita. Tapi... instingku yang tajam dan informasi intel yang kudapat dari jaringanku mengatakan hal yang sebaliknya." Ucap Ye Chen dengan nada dingin dan penuh perhitungan, matanya memancarkan keyakinan mutlak akan analisisnya yang tak pernah salah.
Ye Chen menatap tajam lurus ke depan, tepat ke arah dinding batu yang tebal dan kokoh di hadapannya. Tatapan matanya begitu dalam dan tajam, seolah-olah memiliki kekuatan magis yang mampu menembus ratusan lapis batu keras itu dengan mudahnya. Pandangannya melesat jauh melewati batas ruangan, melintasi pegunungan dan lembah, seolah ia bisa melihat dengan mata kepala sendiri apa yang terjadi ribuan li jauhnya, tepat ke arah wilayah timur, tepat di tengah-tengah sarang musuh-musuhnya yang sedang bersekongkol. Tidak ada satu pun gerakan kecil yang bisa luput dari pengawasan mata sang Kaisar.
"Aku curiga mereka tidak pernah berniat sungguh-sungguh untuk bersekutu dengan kita secara tulus. Aliansi itu hanyalah topeng, sebuah kedok semata untuk menutupi niat jahat mereka." Ucap Ye Chen dengan nada dingin dan tegas, suaranya memancarkan kepastian yang tak tergoyahkan akan kebenaran yang ia lihat.
"Maksudmu...?" Ucap Tianhong menunggu penjelasan lebih rinci, matanya menyipit penuh selidik.
"Mereka ingin menggunakan aliansi ini untuk dua tujuan utama yang sangat berbahaya," Jelas Ye Chen dengan nada dingin dan tegas, memecah ilusi satu per satu dengan kata-katanya yang tajam.
"Pertama, mereka ingin memantau pergerakan kita dari dalam. Mereka ingin tahu seberapa kuat kita sebenarnya, di mana letak kekuatan kita tersimpan, siapa saja orang kepercayaan kita, dan apa rencana besar kita ke depan. Mereka ingin menjadi mata-mata yang terselubung dengan kedok sebagai teman dan sekutu. Dan yang kedua... dan ini yang paling berbahaya dan licik..." Ucap Ye Chen dengan suara rendah dan mencekam, memecah satu per satu rencana busuk musuh dengan ketajaman analisis yang menakutkan.
"Mereka ingin memperlambat laju perkembangan kita. Mereka ingin membuat kita merasa aman, merasa nyaman, dan lengah, sementara di saat yang sama mereka diam-diam mengumpulkan kekuatan, memperkuat benteng, dan melatih pasukan mereka dengan giat. Mereka menunggu waktu yang paling tepat untuk menyerang kita dari belakang, tepat saat kita paling tidak siap dan lengah. Mereka ingin memakan kita perlahan-lahan, menggerogoti kekuatan kita tanpa perlu mengangkat senjata secara terbuka di awal permainan." Ucap Ye Chen dengan nada dingin dan mematikan, menggambarkan niat jahat musuh dengan detail yang menakutkan.
Mendengar analisis yang begitu tajam dan detail itu, wajah Tianhong yang tadi masih tampak tenang seketika berubah menjadi sangat gelap dan suram bagaikan langit sebelum badai dahsyat datang. Seluruh auranya meledak keluar, memancarkan kemarahan yang begitu pekat dan menekan hingga udara di sekitarnya terasa berat dan sulit bernapas. Kepalan tangannya yang besar dan kuat mengerat dengan sangat kuat, begitu kencang hingga buku-buku jarinya memutih pucat dan urat-urat biru menonjol keluar di kulitnya. Sendi-sendi tulang tangannya berbunyi nyaring, suara yang menunjukkan betapa besar amarah yang sedang ditahan agar tidak meledak saat itu juga. Ia benar-benar murka melihat betapa rendahnya dan busuknya niat musuh-musuh mereka.
"Sialan!!! Dasar sampah-sampah munafik tak berguna!!!" Bentak Tianhong dengan suara gemuruh yang menekan, menahan amarah yang meledak-ledak.
"Berani sekali mereka mempermainkan Kaisar Kegelapan dan seluruh Sekte Tianmo seolah-olah kita ini anak kecil yang polos dan mudah dibohongi! Mereka pikir dengan senyum manis dan janji palsu mereka, kita akan langsung menelan mentah-mentah omong kosong itu?!" Ucap Tianhong dengan suara gemuruh yang penuh dengan amarah dan penghinaan, matanya memancarkan kilatan bahaya yang siap melahap siapa saja yang berani menentangnya.
"Jadi mereka pikir kita ini bodoh? Mereka pikir kita tidak bisa melihat niat busuk yang begitu mencolok di balik senyum manis mereka?!" Ucap Tianhong dengan nada penuh kemarahan dan penghinaan, suaranya bergema keras menunjukkan betapa terkejutnya ia dengan kebodohan dan keberanian musuh-musuhnya itu.
"Mereka meremehkan kita, Ayah. Mereka mengira kekuatan kita hanya sebatas otot, amarah, dan kekuatan fisik saja. Mereka mengira kita adalah orang-orang kasar yang tidak punya otak dan strategi," Ucap Ye Chen dengan senyum miring yang penuh arti dan sedikit kesombongan yang wajar.
"Mereka tidak tahu... bahwa di balik kekuatan fisik yang ganas dan menakutkan ini, ada otak yang mampu menghitung setiap langkah musuh hingga ke titik terkecil. Mereka bermain catur, tapi mereka tidak sadar bahwa aku sudah melihat seluruh langkah mereka beberapa putaran ke depan." Ucap Ye Chen dengan senyum miring yang penuh percaya diri dan wibawa mutlak, menunjukkan bahwa dia adalah satu-satunya pengatur takdir di medan pertempuran ini.
"Jadi... apa rencamu, Chen'er? Apakah kita akan langsung menghancurkan mereka sekarang juga? Mengirim pasukan gelap dan membasmi mereka sampai ke akar-akarnya? Atau kita biarkan mereka bermain drama kepalsuan ini sebentar lagi agar semakin banyak bukti yang kita dapat?" Tanya Tianhong, matanya berkilat penuh pertanyaan dan antisipasi.
"Tidak, Ayah. Kita tidak akan memutuskan hubungan secara kasar dan terburu-buru. Jika kita menolak secara terbuka, itu akan membuat mereka bersembunyi lebih dalam dan menjadi sulit ditangkap atau diawasi." Ucap Ye Chen dengan tenang namun penuh perhitungan, memilih strategi yang paling cerdas dan mematikan.
"Rencanaku sederhana. Kita akan membiarkan mereka berpikir bahwa tipu daya muslihat mereka berhasil. Kita akan berpura-pura tertipu, berpura-pura menerima tawaran itu dengan tangan terbuka dan senang hati. Tapi di dalam hati dan tindakan kita... kita akan meningkatkan kewaspadaan ke tingkat maksimum. Kita akan membalikkan seluruh situasi." Ucap Ye Chen dengan nada dingin dan penuh strategi, matanya berkilat cerdik seolah sedang menyusun jaring mematikan bagi para musuhnya.
"Mereka ingin masuk menjadi mata-mata? Baiklah... biarkan mereka masuk! Tapi mereka tidak sadar bahwa mereka akan masuk ke dalam jaring laba-laba yang sudah kita pasang rapat-rapat dan tak terlihat. Kita akan membiarkan mereka merasa bangga dan merasa menang sepenuhnya, sampai mereka lengah dan terlena... dan saat itulah! Tepat saat mereka paling tidak menyangka dan merasa paling aman... kita akan menjepit mereka dengan kuat hingga mereka tidak bisa bergerak sama sekali! Hancur lebur tak bersisa!" Ucap Ye Chen dengan suara rendah namun penuh dengan ancaman mematikan, matanya memancarkan kilatan kejam yang siap melenyapkan siapa saja yang berani menentangnya.
"Bagus! Strategi yang brilian dan sangat kejam! Sempurna!" Ucap Tianhong tertawa kecil penuh kekaguman dan rasa puas.
"Biarkan mereka merayakan kemenangan palsu mereka di atas awan, sementara kenyataannya kita lah yang sebenarnya sedang memegang leher mereka dari balik bayang-bayang, siap mencekik mereka kapan saja kita mau!" Ucap Tianhong dengan suara tegas dan penuh kekuasaan, matanya berkilat ganas membayangkan nasib menyedihkan yang menanti para musuh munafik itu.
"Baiklah. Nanti sore, saat rapat para tetua dimulai, aku akan menyampaikan analisis dan fakta ini kepada mereka semua secara gamblang. Aku ingin setiap orang di sini sadar dan tahu betapa nyata dan bahayanya ancaman yang mengintai dari balik kedok teman kita ini. Kita akan segera memperkuat pertahanan, mempercepat jadwal latihan tempur, dan mempersiapkan segalanya dengan sempurna untuk skenario terburuk yang mungkin terjadi kapan saja." Ucap Tianhong dengan suara tegas dan penuh wibawa, siap memimpin persiapan menghadapi badai besar yang akan datang.
"Benar sekali, Ayah. Dan ada satu hal lagi yang sangat penting dan tidak boleh terlupakan yang harus kulakukan dalam rapat nanti." Ucap Ye Chen dengan suara tegas dan penuh wibawa, matanya memancarkan tekad bulat untuk sebuah keputusan besar.
"Apa itu, Chen'er?" Tanya Tianhong dengan cepat dan penuh rasa ingin tahu, matanya menatap tajam menantikan penjelasan mengenai langkah besar lain yang akan diambil sang putra.
"Aku ingin... memperkenalkan Xiao Ling secara resmi kepada seluruh pimpinan dan tetua Sekte Tianmo, aku tidak ingin dia hanya dianggap sebagai tamu biasa, atau sekadar gadis yang aku bawa sembarangan karena suka sama suka. Aku ingin semua orang di sini tahu posisi dan kedudukannya yang sebenarnya, serta betapa berharganya dia bagi kita" Ucap Ye Chen dengan tegas dan penuh wibawa yang tidak bisa diganggu gugat.
Mata Tianhong berbinar semakin terang dan bersinar penuh arti melihat ketegasan yang terpancar dari wajah putranya. Sebuah senyum tipis namun hangat kembali tersungging di wajahnya yang gagah, namun kali ini senyum itu bukan lagi sekadar senyum seorang pemimpin yang bangga, melainkan senyum seorang ayah yang penuh dengan pemahaman yang sangat mendalam dan ketulusan yang luar biasa. Ia bisa melihat dengan jelas perubahan yang terjadi pada Ye Chen. Di dalam hati Tianhong, ia sadar betul bahwa rasa tanggung jawab dan naluri melindungi yang begitu besar itu bukanlah sesuatu yang muncul begitu saja. Itu adalah tanda mutlak bahwa hati sang Kaisar yang selama ini beku telah mulai meleleh. Xiao Ling... gadis itu telah berhasil menyentuh bagian terdalam dari jiwa putranya, membuat pria yang dingin dan tak tersentuh itu mulai bisa merasakan getaran cinta dan kepedulian yang sejati.
"Oh? Kau serius ingin memperkenalkannya di depan semua tetua? Kau tahu kan, Chen'er... Itu adalah acara yang sangat formal, berat, dan penuh dengan aturan hierarki yang ketat. Bagi standar Sekte Tianmo yang keras, dingin, dan penuh dengan aura membunuh ini... memperkenalkan seorang gadis luar di hadapan para tetua adalah hal yang sangat istimewa dan jarang terjadi." Ucap Tianhong dengan nada penuh arti, matanya menatap putranya seolah ingin membaca lebih dalam niat besar yang tersembunyi di balik keputusan itu.
"Aku tahu itu, karena itulah aku ingin melakukannya. Para tetua di sini adalah orang-orang tua yang keras kepala, kuat, dan sangat bangga dengan darah dan sejarah mereka. Mereka mungkin awalnya akan meremehkan kehadiran seorang gadis dari sekte suci yang terlihat lembut, tenang, dan beraurakan damai seperti dia. Mereka mungkin akan bertanya-tanya dalam hati, Siapa dia? Kenapa dia ada di sini? Apa gunanya dia di tempat yang keras seperti ini?" Potong Ye Chen pelan namun suaranya terdengar sangat mantap dan bulat.
"Dan itu... adalah kesalahpahaman fatal yang harus aku hapus dan benarkan mulai hari ini juga" Lanjut Ye Chen dengan mata yang bersinar tegas dan penuh perlindungan.
"Aku ingin mereka semua tahu bahwa Xiao Ling bukanlah beban, bukanlah hiasan, dan bukanlah orang yang lemah yang perlu dikasihani. Dia adalah mutiara yang sangat berharga. Ilmu penyembuhan, energi suci, dan ketenangan yang dia miliki adalah aset terbesar yang bisa kita miliki untuk menyeimbangkan kekuatan ganas kita. Dan yang paling penting..." Ucap Ye Chen dengan suara tegas dan penuh keyakinan, matanya memancarkan wibawa mutlak yang tak terbantahkan demi membela kehormatan orang yang dia sayangi.
"Aku ingin mereka tahu bahwa dia adalah orang yang sangat dekat denganku. Dia berada di bawah perlindungan mutlak dan penuh dari Kaisar mereka. Siapa pun yang berani menyakitinya, meremehkannya, menghinanya, atau bahkan hanya berani memandangnya dengan mata jahat dan niat buruk... akan dianggap memusuhiku secara langsung, dan hukumannya hanya ada satu... KEMATIAN!" Ucap Ye Chen dengan suara yang sangat berat, dingin, dan memancarkan wibawa mutlak yang menekan, setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah hukum yang tak bisa diganggu gugat.
Wajah Tianhong berubah menjadi sangat serius dan penuh penghormatan mendengar tekad putranya yang begitu bulat, tegas, dan tak tergoyahkan. Ia bisa merasakan dengan sangat jelas getaran kekuatan yang memancar dari tubuh Ye Chen, sebuah aura perlindungan yang begitu pekat dan mendalam. Ia sadar betul, bahwa rasa tanggung jawab dan keinginan kuat untuk melindungi yang Ye Chen tunjukkan itu bukanlah sekadar perasaan seorang pemimpin terhadap bawahannya. Itu adalah bukti nyata bahwa di dalam hati sang Kaisar yang dingin dan tak tersentuh itu, telah tumbuh benih cinta yang mulai mekar. Tianhong bisa melihat dengan mata batinnya yang tajam, bahwa selama ini Ye Chen dikenal sebagai sosok yang dingin, tertutup, dan tidak membiarkan siapa pun masuk ke dalam dunianya. Hubungan hati dianggapnya sebagai kelemahan yang bisa melemahkan fokus dan kekuatannya. Tapi sekarang... melihat betapa serius dan berani putranya membela seorang gadis di hadapan seluruh dunia, Tianhong sadar sepenuhnya. Rasa tanggung jawab dan naluri melindungi itu adalah tanda bahwa hati Ye Chen telah berubah. Xiao Ling... gadis itu telah berhasil melakukan hal yang mustahil. Dia berhasil melelehkan es abadi yang membeku di dalam jiwa sang Kaisar, dan berhasil membuat pria yang biasanya kebal terhadap perasaan itu... mulai bisa merasakan getaran cinta dan kepedulian yang tulus. Ye Chen... dia benar-benar sudah menyukainya, dan dia tidak lagi menjadi mesin pembunuh yang dingin, melainkan manusia yang memiliki hati yang hangat.
"Anakku... Ayah bisa melihatnya dengan sangat jelas. Dulu, kau adalah orang yang paling dingin, paling tertutup, dan tidak peduli pada siapa pun selain kekuatan dan tujuanmu. Kau menganggap hubungan hati itu adalah kelemahan, sesuatu yang bisa memperlambat langkahmu." Batin Tianhong berbicara dalam hati, menatap wajah putranya yang tampak tegas namun ada getaran lembut di sana.
''Tapi lihat dirimu sekarang... Kau rela menggunakan seluruh kekuatan dan wibawamu hanya untuk memastikan keselamatan dan kehormatan seorang gadis. Kau bahkan tidak sadar, Chen'er... Tanggung jawab dan rasa ingin melindungimu itu sudah mulai berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam. Kau mulai membuka pintu hatimu yang selama ini terkunci rapat. Xiao Ling... dia berhasil melelehkan es abadi yang membeku di dalam hati sang Kaisar Kegelapan. Dia berhasil membuatmu peduli, membuatmu khawatir, dan membuatmu ingin selalu ada di dekatnya.'' Batin Tianhong dengan suara lembut namun penuh makna yang mendalam, matanya menatap putranya dengan penuh kebanggaan dan kebahagiaan melihat perubahan besar yang terjadi padanya.
''Ayah senang... sungguh sangat senang melihatmu berubah seperti ini. Kau tidak lagi menjadi mesin pembunuh yang dingin, kau menjadi manusia yang utuh dengan hati yang bisa merasakan cinta.'' Batin Tianhong dengan suara bergetar penuh ketulusan, matanya memancarkan kebahagiaan terbesar melihat putranya menemukan kehangatan dalam hidupnya.
"Baiklah, Chen'er. Ayah mengerti sepenuhnya, Kau ingin menunjukkan posisinya agar dia dihormati dan tidak dipandang sebelah mata oleh siapa pun di sarang naga ini. Itu adalah keputusan yang sangat tepat dan bijaksana. Sebagai ayahmu, sebagai pendiri sekte ini, aku akan mendukungmu sepenuhnya tanpa syarat." Ucap Tianhong mengangguk tegas, memberikan dukungan penuh.
"Nanti saat rapat dimulai, kau akan duduk di singgasana utama sebagai pemimpin tertinggi. Aku akan duduk di sampingmu sebagai penasihat dan pendukungmu. Dan kau bisa memanggilnya masuk kapan pun kau mau. Biarkan semua tetua tua keras kepala itu melihat dengan mata kepala sendiri... betapa mulianya sosok yang telah kau bawa ke sini, dan betapa beruntungnya Sekte Tianmo memiliki dia di tengah kita." Ucap Tianhong dengan suara tegas dan penuh wibawa, memberikan dukungan mutlak dan kehormatan tertinggi bagi keputusan putranya.
"Terima kasih, Ayah," Ucap Ye Chen dengan tulus, ia membungkuk sedikit lagi sebagai tanda hormat yang mendalam.
"Kalau begitu, aku akan pergi istirahat sebentar dan mempersiapkan segalanya dengan sempurna. Nanti sore... panggung besar akan dibuka, dan babak baru dalam sejarah kita akan dimulai." Lanjut Ye Chen dengan penuh wibawa dan keyakinan, matanya memancarkan cahaya tekad yang siap mengubah takdir dunia persilatan selamanya.
Di sayap timur istana, di kamar yang sangat megah, bersih, dan nyaman yang telah disiapkan khusus untuknya, Xiao Ling sedang duduk di tepi tempat tidur. Tangannya yang halus meraba kain seprai yang lembut, namun pikirannya melayang jauh. Sejak tadi, hatinya tidak bisa tenang. Bayangan wajah Ye Chen terus muncul di benaknya. Bayangan saat Ye Chen berbicara dengan dingin dan berwibawa di depan Wu Da, bayangan saat Ye Chen berbicara lembut saat menyuruhnya menunggu, dan terutama... bayangan saat Ye Chen masuk menemui ayahnya dengan wajah yang penuh rasa hormat dan kasih sayang. Ia mengingat setiap detik perjalanan mereka menuju tempat ini. Ia ingat bagaimana Ye Chen dengan santai namun sangat protektif membentuk perisai energi agar ia tidak kedinginan atau kepanasan. Ia ingat bagaimana Ye Chen memperkenalkannya sebagai orang penting dan memerintahkan kamar terbaik disiapkan untuknya. Semua tindakan itu, kata-kata itu, dan tatapan mata itu... membuat sesuatu di dalam hati Xiao Ling bergetar hebat.
''Tuan Ye Chen...'' Batin Xiao Ling berbisik lembut, pipinya perlahan memerah hangat.
''Apa ini...?'' Tanyanya pada diri sendiri, jantungnya berdegup kencang tidak beraturan.
''Dulu, aku hanya mengaguminya karena kekuatannya, karena dia telah menyelamatkan nyawaku dan guruku. Aku melihatnya sebagai pahlawan, sebagai pemimpin yang agung dan jauh di atas awan, sosok yang sulit untuk digapai.'' Ucap Xiao Ling dalam hati, matanya memancarkan cahaya lembut yang penuh dengan kekaguman yang telah lama ia simpan.
''Tapi sekarang... rasanya berbeda. Rasanya jauh lebih dalam, jauh lebih hangat, dan membuat dadaku terasa sesak namun manis yang tak terlukiskan.'' Ucapnya lagi, pipinya memerah hangat, jantungnya berdegup kencang menyadari perasaan indah yang mulai mekar di dalam jiwanya.
''Setiap kali dia berada di dekatku, aku merasa seluruh dunia menjadi sangat tenang dan damai. Setiap kali dia bicara, suaranya terdengar seperti musik terindah yang mampu menenangkan seluruh jiwaku. Dan saat dia memandangku dengan mata tajamnya... aku merasa seolah-olah aku adalah satu-satunya orang yang ada di dunia ini.'' Ucap Xiao Ling lembut, matanya berbinar penuh ketulusan dan getaran cinta yang murni.
''Aku menyukainya... Ya Tuhan, aku benar-benar menyukainya dengan sepenuh hati. Bukan hanya sekedar kagum sebagai pemimpin atau penyelamat... tapi perasaan ini adalah cinta seorang wanita kepada seorang pria. Aku... aku mencintai Ye Chen.'' Bisiknya tegas dan yakin, pipinya memerah padam namun sorot matanya memancarkan kepastian mutlak yang tak tergoyahkan.