NovelToon NovelToon
Memories Of Verovska

Memories Of Verovska

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Four Forme

Cassie datang ke Verovska dengan satu tujuan, menyelesaikan kuliahnya dan pulang.
Sederhana. Seharusnya.
Namun negara itu tidak ramah pada orang asing.
Dinginnya menusuk tulang,
orang-orangnya menjaga jarak,
dan kesepian menjadi hal yang harus ia telan setiap hari.
Cassie belajar bertahan sendiri.
sampai ia bertemu Liam.
Pria yang tidak hanya mengubah hidupnya,
tapi juga menyeretnya ke dalam dunia yang tidak pernah ia pahami.
Dan sejak saat itu, Verovska tidak lagi sekadar tempat asing.
Ia berubah menjadi sesuatu yang… tidak bisa ia tinggalkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four Forme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Belum Selesai

Liam tidak menunggu jawaban. Ia mengangkat tubuh Cassie yang lemas dari lantai dan memindahkannya ke tepi tempat tidur dengan sangat hati-hati, seolah gadis itu terbuat dari kaca yang bisa pecah kapan saja.

​Ia kemudian beranjak mengambil kotak P3K di kamar mandi, gerakannya cepat namun penuh kendali. Saat kembali, Liam berlutut di antara kedua kaki Cassie. Cahaya lampu nakas yang temaram menyinari wajah mereka berdua.

​Liam mengambil kapas yang sudah dibasahi cairan antiseptik. "Ini akan sedikit perih, tahan ya," bisiknya lembut, matanya menatap Cassie dengan penuh penyesalan.

​Saat kapas itu menyentuh sudut bibir Cassie yang pecah, gadis itu tersentak kecil dan meringis. Liam segera menarik tangannya, lalu meniup luka itu dengan sangat pelan sebelum melanjutkan lagi. Setiap sentuhannya sangat ringan, jauh dari sosok Liam yang biasanya kasar dan dominan.

​"Liam... tanganmu," bisik Cassie parau, matanya tertuju pada buku-buku jari Liam yang hancur dan berdarah karena menghajar Ethan.

"Obati dulu tanganmu. Dan wajahmu... itu pasti sakit sekali."

​Liam menggelengkan kepala tanpa sedikit pun mengalihkan fokusnya dari pipi Cassie yang memar.

"Ini tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang kau rasakan, Cassie. Biarkan aku menyelesaikan ini."

​Ia mengambil salep memar dan mengoleskannya ke pipi Cassie yang mulai membiru akibat tamparan Ethan. Setiap kali jarinya bersentuhan dengan kulit Cassie, Liam merasa dadanya sesak. Ia teringat bagaimana ia mendiamkan Cassie di mobil tadi, padahal gadis ini sedang berjuang melawan trauma yang luar biasa.

​"Kau tahu..." Liam bicara tanpa mendongak, suaranya terdengar serak. "Jino benar. Aku benar-benar pria paling bodoh di dunia karena lebih mementingkan egoku daripada memelukmu tadi. Maafkan aku karena membuatmu merasa harus menanggung ini sendirian."

​Cassie menatap Liam. Ia meraih tangan Liam yang sedang memegang kapas, menghentikan gerakan pria itu.

​"Aku yang minta maaf, Liam. Aku janji tidak akan pernah meragukanmu lagi. Aku hanya... aku sangat takut kau tidak kembali," isak Cassie.

​Liam meletakkan kapasnya, lalu menangkup wajah Cassie dengan kedua tangannya yang kasar namun terasa sangat menenangkan. Ia mencium kening Cassie lama sekali, menyalurkan seluruh rasa bersalah dan cintanya di sana.

"Sekarang, aku akan mengganti pakaianmu dengan yang lebih nyaman, lalu kita tidur. Aku tidak akan pergi ke mana pun. Aku akan di sini, menjagamu sampai pagi."

​Liam benar-benar mengabaikan luka di wajahnya sendiri yang berdenyut, juga rasa sakit di rusuknya akibat pukulan petugas polisi. Baginya, satu-satunya hal yang perlu disembuhkan malam ini hanyalah Cassie.

***

Pagi menyapa dengan suasana yang jauh lebih tenang, meski sisa-sisa ketegangan semalam masih terasa kental di udara. Liam turun dari tangga dengan langkah yang sangat berhati-hati, nyaris tanpa suara.

Ia belum sempat mengganti kemejanya yang berantakan, dan memar di wajahnya kini terlihat semakin jelas di bawah cahaya matahari pagi.

​Di ruang tengah, Jino dan Marco sudah berdiri menunggu. Jino yang biasanya sibuk dengan ponsel atau celotehan konyolnya, kali ini tampak serius dengan beberapa dokumen di tangannya.

​"Sst," Liam memberikan kode dengan telunjuk di depan bibir begitu melihat Jino hendak membuka mulut. Ia menunjuk ke arah lantai atas.

"Dia baru saja tertidur pulas satu jam yang lalu. Jangan ada yang membuat suara sekecil apa pun."

​Jino mengangguk mengerti, menurunkan volume suaranya hingga nyaris berbisik. "Bagaimana keadaannya?"

​"Hancur, tapi dia kuat," jawab Liam pendek sambil menuangkan kopi hitam ke gelasnya dengan tangan yang masih gemetar halus.

"Apa kabar dari kantor pusat?"

​Marco maju selangkah, suaranya berat dan rendah. "Pembersihan internal sudah dimulai. Atasan Ethan tidak punya pilihan selain membuangnya untuk menyelamatkan muka kepolisian. Tapi ada satu kendala, Liam."

​Jino menyerahkan map yang dipegangnya. "Kepolisian pusat meminta pernyataan resmi. Mereka butuh Cassie untuk datang ke kantor hari ini sebagai saksi kunci sekaligus korban atas tindakan penganiayaan dan penyalahgunaan wewenang yang dilakukan Ethan. Tanpa keterangannya, kasus ini bisa goyah di pengadilan."

​Wajah Liam yang tadinya mulai tenang, seketika berubah menjadi sangat dingin. Ia bahkan tidak sudi melirik map yang disodorkan Jino.

​"Tidak," jawab Liam tegas, suaranya penuh penekanan yang tidak bisa diganggu gugat.

​"Tapi Bos, ini prosedur formal agar Ethan membusuk di penjara seumur hidup—"

​"Aku bilang tidak, Jino!" potong Liam, matanya menyala. "Kau lihat sendiri apa yang terjadi semalam? Dia dipaksa melepas pakaiannya, dia ditampar, dia diancam dengan nyawaku. Kau ingin aku membawanya ke ruangan penuh polisi, menyuruhnya duduk di kursi saksi, dan menceritakan kembali setiap detik penghinaan itu? Kau ingin dia mengingat bagaimana bajingan itu menyentuhnya?"

​Liam mencengkeram pinggiran meja dapur hingga buku jarinya memutih.

"Aku tidak akan membiarkan Cassie melewati neraka itu untuk kedua kalinya hanya demi selembar kertas pernyataan. Aku tidak peduli soal prosedur. Cari cara lain. Gunakan koneksimu, gunakan uangku, atau gunakan ancaman. Tapi Cassie tidak akan menginjakkan kaki di kantor polisi mana pun hari ini."

​Marco dan Jino saling pandang. Mereka tahu kalau Liam sudah berada di mode ini, tidak ada yang bisa mengubah keputusannya.

​"Kami bisa mencoba melobi agar pemeriksaan dilakukan di rumah secara tertutup, atau lewat pengacara," Marco memberi saran lebih masuk akal.

​"Tetap saja dia harus bicara, Marco! Dia butuh ketenangan, bukan interogasi!" Liam memijat pelipisnya yang berdenyut.

"Biarkan dia bangun tanpa rasa takut hari ini. Itu prioritasku. Urusan Ethan... jika hukum tidak bisa menghukumnya tanpa suara Cassie, maka biar tanganku sendiri yang menyelesaikannya nanti."

Keheningan jatuh setelah kalimat itu.

Jino menghela napas pelan, sementara Marco tetap berdiri dengan ekspresi datar, tapi matanya mengamati Liam dengan lebih tajam dari biasanya.

Jino akhirnya menutup map di tangannya. “Baik,” katanya pelan. “Kami cari jalan lain.”

Marco mengangguk singkat. “Aku akan hubungi pengacara. Kalau bisa, pernyataan tertulis tanpa kehadiran langsung. Minimal dia tidak perlu datang ke kantor polisi.”

Liam tidak menjawab. Ia hanya menatap kopi hitam di tangannya seolah mencari sesuatu di dalam cairan gelap itu.

Dari lantai atas, terdengar bunyi langkah kecil.

Semua kepala langsung menoleh.

Cassie berdiri di ujung tangga, memegang pegangan dengan satu tangan.

Rambutnya masih berantakan, wajahnya pucat, tapi matanya sudah sadar. Ia jelas mendengar bagian terakhir percakapan mereka.

“Kenapa… kalian bicara pelan-pelan?” suaranya serak.

Liam langsung berdiri. Nada kerasnya beberapa menit lalu lenyap seketika.

“Kau harusnya masih tidur,” katanya, berjalan mendekat.

Cassie menggeleng pelan. “Aku dengar… soal kantor polisi.”

Jino dan Marco otomatis mundur sedikit, memberi ruang. Mereka cukup pintar untuk tahu kapan harus tidak ikut campur.

Cassie turun perlahan. Setiap langkah masih hati-hati, tubuhnya belum sepenuhnya pulih. Saat sampai di bawah, matanya berpindah dari Liam ke map di meja, lalu kembali lagi.

“Aku harus datang, ya?” tanyanya pelan.

“Tidak,” jawab Liam cepat, terlalu cepat. “Kau tidak perlu melakukan apa pun.”

“Aku tidak mau kau mengingat semuanya lagi,” lanjut Liam, suaranya lebih rendah sekarang.

“Sudah cukup.”

Cassie menggigit bibirnya pelan. Ia mengerti maksud Liam. Ia benar-benar mengerti. Tapi justru karena itu, dadanya terasa berat.

“Kalau aku tidak bicara… dia bisa lolos, kan?”

Liam tidak menjawab.

Dan itu sudah cukup menjadi jawaban.

Cassie menarik napas dalam-dalam. Kepalanya masih sedikit pusing, tapi pikirannya jauh lebih jernih dibanding semalam.

“Aku takut,” katanya jujur. “Tapi aku juga tidak mau dia bebas.”

Kalimat itu membuat Liam menegang.

Cassie melangkah lebih dekat. Tangannya menyentuh lengan Liam yang masih penuh lebam.

“Aku tidak mau lari dari ini selamanya.”

Liam menatapnya, konflik jelas terlihat di matanya. Sebagian dirinya ingin mengurung Cassie di rumah ini sampai dunia luar berhenti berbahaya. Tapi bagian lain tahu… Cassie bukan orang yang bisa hidup seperti itu.

“Kalau aku pergi,” lanjut Cassie pelan, “aku mau kau di sana.”

Jino menunduk, pura-pura sibuk dengan ponselnya. Marco berbalik ke arah jendela, memberi mereka privasi tanpa benar-benar pergi.

Liam menghembuskan napas panjang. Bahunya turun sedikit, seolah akhirnya menyerah pada kenyataan yang tidak bisa ia kendalikan.

“Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu,” katanya akhirnya. “Satu pertanyaan yang membuatmu tidak nyaman, kita pergi.”

1
Sri
Diihh
Harley
sama2 menurunkan ego 🥲
Harley
nurut2 aja
Ella Elli
Cassie sih lagian batuu, di bilang diem aja di rumah 😭
Malah memperburuk keadaan
Harley
iyuhh
Ella Elli
hmmm Cassie 😒
Harley
masih penasaran sama si ethan ethan itu
Donna
Paling nanti kalo ketemu sama amanda lagi, galau lagi
Donna
Idih amanda muluuu
Ella Elli
Harusnya kalo belum bisa lupain masa lalu, jangan memulai hubungan yang baru dulu.
Kasian Cassie 😭
Donna: Setujuuu
total 1 replies
Harley
lanjutttt
Harley
Seru dan ringan dibaca di waktu luang~
Harley
lanjuttt
Harley
lebih bertanggung jawab cenah wkwk
Harley
aman aman 🤭
Harley
sooo deep 🙂
Ella Elli
Tembak yang bener etdah
Harley
orang Italia lokal jg bilang padaku kalo mafia2 di novel 'it's scam' katanya wkwk
Four Forme: jauh dari bayangan ya haha
total 1 replies
Harley
kerja apaan tuh 👀
Hafiz Baihaqi
wey apa nih 🤣
Four Forme: hehe 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!