Di balik kemewahan mansion Omerly, Zerya Clarissa Omerly hidup dalam dunia yang tak pernah memberinya hangat. Prestasi dihitung sebagai kewajiban, senyum dihargai sebagai topeng, dan setiap kata bisa menjadi kesalahan.
Hingga suatu malam di sebuah kafe, Zerya bertemu seorang pria yang bertolak belakang dengan dunianya—Javian Arka Talandra, CEO yang dingin namun misterius. Satu pertemuan itu membuat Javian merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan di rumahnya yang hangat: rasa ingin tahu… dan rasa ingin melindungi.
Saat kedua keluarga bertemu dalam pertemuan bisnis, topeng Zerya mulai retak. Perlahan, Javian menyadari bahwa di balik penampilan sempurna, ada rahasia dan luka yang selama ini tersembunyi. Kini, di tengah intrik keluarga, ambisi, dan ekspektasi yang menekan, Zerya harus menemukan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri—atau terus tersesat di bayangan rumahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Kejujuran di Tengah Badai
Aula besar di The Royal Institution dipenuhi jurnalis internasional, analis pasar, dan para investor dari berbagai negara. Kilatan kamera menyambar hampir tanpa jeda, sementara lampu sorot dari panggung membuat ruangan terasa lebih panas dari biasanya. Di dinding-dinding aula yang bersejarah itu, layar LED besar menampilkan logo elegan proyek CSR Talandra—simbol ambisi baru perusahaan yang selama ini dikenal dingin dan pragmatis.
Di barisan paling depan, Julian Vane duduk dengan sikap santai. Satu kaki disilangkan di atas yang lain, segelas air mineral di tangannya, dan senyum tipis yang nyaris tidak terlihat. Ia tampak seperti penonton yang sekadar menikmati pertunjukan—padahal dialah yang diam-diam menulis naskah kekacauan di balik layar.
Beberapa meter dari panggung, Javian berdiri dengan tenang. Tangannya berada di saku jasnya, wajahnya datar seperti batu. Namun matanya tidak pernah lepas dari satu sosok yang sedang berjalan menuju podium.
Zerya.
Langkahnya stabil meski sorot lampu terasa menyilaukan. Gaun formalnya sederhana namun elegan, menciptakan kontras dengan atmosfer penuh tekanan di ruangan itu.
Di belakangnya, layar proyektor menyala.
Logo proyek CSR Talandra perlahan berganti menjadi gambar desa pesisir yang sedang direhabilitasi.
Zerya berhenti di depan mikrofon.
Tidak ada teleprompter.
Tidak ada catatan.
Ia mengangkat pandangannya ke arah ruangan yang dipenuhi wajah-wajah skeptis.
“Selama dua puluh tahun,” ucapnya perlahan, suaranya jernih dan stabil, “saya hidup di bawah bayang-bayang Omerly Group.”
Ruangan langsung sunyi.
Beberapa jurnalis berhenti mengetik.
“Dua hari lalu,” lanjutnya, “dokumen tentang praktik suap masa lalu ayah saya beredar di antara Anda.”
Gumaman kecil terdengar dari beberapa sudut ruangan.
Zerya tidak berhenti.
“Saya tidak berada di sini untuk menyangkal dokumen itu.”
Beberapa kepala langsung terangkat.
Julian Vane yang tadinya santai kini menajamkan pandangannya.
“Dokumen itu benar.”
Kalimat itu jatuh seperti batu di tengah danau.
Riak keheningan menyebar di seluruh aula.
Tatapan Zerya menyapu ruangan sebelum akhirnya berhenti sejenak pada Julian.
“Dan justru dokumen itulah alasan proyek ini ada.”
Layar di belakangnya berganti menampilkan data pembangunan desa pesisir, grafik rehabilitasi ekonomi lokal, dan laporan dana pribadi yang ia keluarkan.
“Ini bukan proyek untuk mengejar keuntungan,” lanjutnya. “Ini adalah upaya saya—upaya pribadi saya—untuk membersihkan lumpur yang ditinggalkan oleh nama keluarga saya.”
Di barisan belakang, beberapa investor mulai saling berbisik.
Zerya melanjutkan dengan tenang, menjelaskan bagaimana ia menggunakan dana pribadinya untuk memperbaiki infrastruktur desa pesisir bahkan ketika dewan direksi Omerly menolak rencana itu.
Setiap kalimatnya jelas.
Setiap datanya tajam.
Dan untuk pertama kalinya, narasi yang selama ini dikendalikan media mulai bergeser.
“Reputasi saya mungkin kotor,” pungkas Zerya akhirnya. “Karena nama keluarga saya.”
Ia berhenti sejenak.
“Tapi saya berdiri di sini hari ini untuk memastikan bahwa masa depan proyek ini bersih.”
Ia menatap para investor satu per satu.
“Pilihan ada di tangan Anda. Menilai saya dari masa lalu ayah saya… atau dari apa yang saya lakukan hari ini.”
Sejenak tidak ada suara.
Lalu tepuk tangan terdengar dari barisan depan.
Investor Jerman yang sebelumnya meragukan proyek itu berdiri lebih dulu, bertepuk tangan dengan mantap.
Satu demi satu orang lain ikut berdiri.
Dalam hitungan detik, aula dipenuhi tepuk tangan.
Sebuah kemenangan retorika.
Namun kemenangan itu hanya bertahan beberapa menit.
Saat jamuan koktail dimulai, layar raksasa di aula tiba-tiba berubah.
Logo proyek CSR menghilang.
Digantikan oleh siaran breaking news dari stasiun televisi ekonomi terbesar di London.
“SKANDAL OMERLY–TALANDRA: ALDRIC OMERLY TERLIBAT INSIDER TRADING.”
Suara penyiar memenuhi ruangan.
Sebuah rekaman video muncul di layar—kamera tersembunyi menampilkan Aldric Omerly sedang berbicara dengan seorang mitra bisnisnya.
“Zerya adalah alat yang sempurna,” suara Aldric terdengar jelas. “Dia punya akses ke data proyek Talandra.”
Ruangan langsung meledak.
Investor mulai berdiri.
Jurnalis mengangkat kamera.
Beberapa orang berlari ke arah panggung.
Julian Vane berdiri perlahan, senyumnya kembali muncul.
Ia berjalan mendekati Javian.
“Sepertinya ‘aset’ Anda lebih bermasalah dari yang kita kira,” ujarnya santai. “Bukan hanya masa lalu keluarga. Sekarang dia juga bagian dari permainan ayahnya.”
Ia menatap Javian dengan penuh kepuasan.
“Apakah Anda masih akan mempercayainya?”
Javian menoleh perlahan.
Tatapannya dingin seperti es.
Ia menunjuk ke arah investor yang masih berdiskusi kagum setelah pidato Zerya.
“Reputasi Zerya baru saja dibersihkan di mata mereka,” katanya tenang. “Dan skandal ayahnya?”
Ia menatap layar berita sebentar.
“Itu hanya membuktikan betapa kerasnya dia mencoba keluar dari lingkungan itu.”
Javian mendekat sedikit.
“Saya tidak sedang membakar uang saya, Julian.”
Nada suaranya rendah.
“Saya sedang membersihkannya.”
Tanpa menunggu jawaban, Javian berjalan menuju Zerya.
Zerya berdiri kaku di dekat panggung, wajahnya pucat saat melihat rekaman di layar.
Javian berhenti di depannya, berdiri sedikit di depan tubuhnya—menghalangi kamera para jurnalis yang mulai mendekat.
“Ini tidak benar,” bisik Zerya, suaranya hampir tak terdengar. “Saya tidak pernah tahu Aldric melakukan insider trading.”
Matanya berkaca-kaca.
Javian menatapnya lurus.
Di tengah kekacauan aula, hanya tatapan mereka yang terasa nyata.
“Saya tahu,” jawabnya singkat.
Bagi Zerya, dua kata itu cukup untuk membuat napasnya kembali stabil.
Namun Javian belum selesai.
“Tapi sekarang,” lanjutnya dengan nada kembali dingin dan strategis, “kita tidak lagi melawan Julian Vane.”
Ia melirik layar yang masih menampilkan wajah Aldric.
“Kita melawan Aldric Omerly.”
Hiruk-pikuk aula semakin kacau.
“Dan mulai detik ini,” kata Javian pelan, “permainan ini bukan lagi soal reputasi.”
Tatapannya mengeras.
“Ini soal bertahan hidup.”