Saking kayanya, keluarga Suhartanto merasa jenuh dengan kehidupan mereka yang bergelimpangan harta. Akhirnya mereka memutuskan untuk pindah ke desa, mencari suasana baru tanpa fasilitas mewah apa pun.
Akankah mereka mampu bertahan hidup di desa yang semuanya serba terbatas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18 PGS
Ketiganya masuk dan duduk di sofa. "Ma, maksud Ibu-ibu siapa? memangnya di kampung ini ada pendatang ya?" tanya Rosa.
"Ada, mereka baru sebulanan ini pindah dari kota," sahut Mama Ningsih.
"Wah, kalau pendatang dari kota memang biasanya seperti itu Ma, Mama harus hati-hati jaga Papa," ucap Rosa.
"Apaan sih Rosa, Papa kamu itu tidak akan tergoda oleh wanita mana pun," sahut Mama Ningsih.
Ariel terdiam, dia tidak mau gegabah dan memilih masuk ke dalam kamarnya untuk istirahat. Sore ini Wita dan Sherina hendak ke warung untuk membeli sesuatu. Ternyata di warung ada Ida dan beberapa ibu-ibu yang sedang berbelanja juga.
Melihat Wita dan Sherina datang, ibu-ibu langsung berbisik-bisik dengan tatapan sinis. "Sore ibu-ibu, kalian sedang belanja juga ya?" sapa Mommy Wita dengan ramah.
"Ibu-ibu, hati-hati jaga suami kita baik-baik takutnya tergoda oleh wanita kota," celetuk Ibu Ida dengan sinisnya.
"Memangnya orang kota mau sama suami-suami kita yang dekil dan kerja di perkebunan?" tanya salah satu Ibu-ibu.
"Ya, namanya juga sudah bangkrut makanya pindah ke kampung dan asal kalian tahu, suami kita yang dekil pun akan dia ambil asalkan bisa memberikan dia uang," sahut Bu Ida sembari mendelikan matanya ke arah Wita dan juga Sherina.
Sherina terlihat emosi. "Maksud Ibu-ibu apa ngomong kaya gitu?" geram Sherina.
"Sher, sudah," tahan Mommy Wita.
"Idih, kenapa kalian kesindir? jangan-jangan kalian memang kaya gitu?" sinis Bu Ida.
"Bagaimana tidak tersindir, kalian ngomong seperti itu pada saat kita datang mana lirikan kalian ke kita semua. Orang bodoh pun akan tahu jika sindiran itu untuk kita!" bentak Sherina.
"Sayang, sudah Nak." Wita berusaha menahan putrinya.
"Kalian itu warga baru di sini, jadi jangan macam-macam sama kami," geram Ibu Ida.
"Memangnya Ibu pikir kita bakalan takut? meskipun kita warga baru, tapi tidak seharusnya juga kita diam saja difitnah seperti ini!" Sherina semakin emosi.
"Fitnah kamu bilang? semenjak kalian pindah ke sini, suami kita jadi sering nongkrong di pos kamling depan rumah kalian, padahal sebelumnya tidak pernah seperti itu bahkan suaminya Bu Minah sampai mimpiin Bu Wita," sahut Ibu Ida.
"Lah, itu 'kan suami kalian ngapain kalian nyalahin Mommy aku?"
"Dasar anak kota tidak tahu sopan santun, berani membentak-bentak orang tua." Kini giliran Bu Minah yang memarahi Sherina.
"Saya sudah sopan ya, tapi kalian yang bicara sembarangan!" bentak Sherina.
"Sudah Nak, ayo kita pulang!" ajak Mommy Wita.
"Sebentar Mom, Ibu-ibu penggosip kaya mereka harus dikasih pelajaran supaya tidak sembarangan memfitnah orang tanpa bukti," sahut Sherina semakin emosi.
Pada saat Wita kewalahan menahan tubuh Sherina, ia melihat Nining, Badru, dan Mail lewat. "Hai, kalian tolongin Tante!" teriak Mommy Wita.
"Hah, kenapa tuh?" seru Badru.
Ketiganya pun langsung berlari menghampiri. "Nining, kamu gadis baik-baik lebih baik jangan bergaul dengan dia nanti kamu terbawa jelek oleh dia," seru Ibu Ida dengan nada tinggi.
"Sudah cukup! Dari tadi saya diam ya, tapi Ibu-ibu semakin ke sini semakin tidak terkendali. Jika suami kalian tidak mau nongkrong di pos kamling lagi, ikat saja mereka di rumah 'kan beres jangan menebar fitnah. Ayo, Nak kita pulang," ajak Mommy Wita.
Wita pun segera pergi dari warung itu dan tidak jadi belanja. Sedangkan Nining menarik tubuh Sherina untuk ikut pergi juga dari sana. "Menyebalkan sekali mereka, bisa-bisanya fitnah kita seperti itu," geram Sherina sembari melangkahkan kakinya.
"Sudah Sher, Ibu-ibu itu memang terkenal tukang gosip di kampung ini," ucap Mail menenangkan Sherina.
"Tapi ucapan mereka sudah sangat keterlaluan, aku gak terima Mommy aku digituin," sahut Sherina.
Sesampainya di rumah, Sherina duduk di teras dengan napas memburu. Dia begitu sangat emosi dengan ucapan Ibu-ibu itu. "Lu kenapa Kak? kaya yang emosi gitu?" tanya Syarif.
"Gak apa-apa," sahut Sherina singkat.
Syarif menatap Nining, Badru, dan Mail secara bergantian mencari jawaban tapi ketiganya hanya mengangkat bahu secara bersamaan sebagai jawaban. Sherina masih mencoba menenangkan diri karena dia masih sangat emosi. Sedangkan Wita memilih masuk ke dalam kamarnya dan disusul oleh Tri.
"Mommy kenapa? terus belanjaannya mana? katanya tadi mau ke warung?" tanya Daddy Tri.
"Gak jadi," sahut Mommy Wita singkat.
"Ada apa Mom, cerita sama Daddy?" Tri mengelus pundak sang istri.
Wita bangun dan duduk di hadapan suaminya itu. "Daddy tahu gak, pas Mommy dan Sherina ke warung, Ibu-ibu langsung melabrak kita tanpa bukti," kesal Mommy Wita.
"Melabrak masalah apa?" tanya Daddy Tri kembali.
"Katanya mereka harus jaga suami mereka baik-baik karena takut ada yang merebut. Suami mereka setiap malam suka nongkrong di pos kamling depan rumah kita dan mereka bilang kalau Mommy sudah menggoda suami mereka. Gila banget mereka, ngapain Mommy godain suami mereka orang Mommy sudah punya suami yang lebih segala-galanya dari suami mereka," jelas Mommy Wita dengan wajah yang cemberut.
Tri terkekeh mendengar penjelasan istrinya itu, bukanya marah dia malah merasa lucu. Wajar jika suami-suami Ibu-ibu itu tergoda oleh istrinya karena istrinya memang cantik. Justru yang seharusnya takut itu dia, takut istrinya ada yang godain atau bahkan merebutnya.
"Ya, sudahlah Mom jangan didengarkan ucapan mereka, wajar mereka ketakutan karena Mommy jauh banget dengan Ibu-ibu di sini bahkan istri Juragan Tama yang kaya aja tidak secantik Mommy padahal dia banyak uang," sahut Daddy Tri.
Seketika Wita ingat dengan ucapan Tama, dia tidak boleh bicara masalah Tama yang memintanya untuk menjadi istri ke dua, bisa-bisa Tri akan melakukan hal yang mengerikan dan Wita tidak mau sampai suaminya kenapa-napa. "Pokoknya mulai sekarang Mommy tidak mau pergi ke warung lagi," kesal Mommy Wita.
"Ya, sudah nanti biar Daddy suruh si Herman ngirim bahan-bahan untuk makan kita," sahut Daddy Tri menenangkan istrinya.
Di luar, Syarif sedang makan makanan Jepang yang kemarin dia pesan kepada Kakaknya. "Kamu makan apa itu Syarif?" tanya Badru.
"Ah iya, gua lupa nawarin kalian. Ayo makan sini!" ajak Syarif.
Syarif pun menyerahkan kotak besar dengan berbagai makanan Jepang. "Apa ini? kok aku baru lihat?" tanya Mail.
"Ini makanan khas Jepang, ini sushi, ini onigiri, dan ini sashimi," sahut Syarif menjelaskan.
"Ih, itu ikan mentah ya?" seru Nining meringis.
"Iya, coba deh enak loh," sahut Syarif.
Ketiganya saling pandang satu sama lain, hingga mereka pun memutuskan mencoba makanan itu. Reaksi ketiganya sama, meringis dan tidak suka dengan makanan Jepang. "Ih, gak enak. Enak juga sate Mang Usep," celetuk Badru.
"Huuh, kamu mah aneh-aneh deh," tumpal Nining.
Syarif tertawa melihat reaksi ketiganya, mereka memang belum pernah sama sekali makan makanan Jepang makanya lidah mereka merasa aneh saat memakannya.
kalian harus perlihatkan siapa kalian biar tama dan yg lainnya kicep, kesel sumpah