NovelToon NovelToon
Sistem Warisan Kedua

Sistem Warisan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Seorang pria sukses yang meninggal karena pengkhianatan bisnis bereinkarnasi menjadi anak sulung dari keluarga miskin yang hampir bangkrut. Ia mendapatkan Sistem Warisan Kedua yang memberinya misi untuk menyelamatkan keluarganya dari kehancuran ekonomi dan ancaman mafia tanah. Dengan pengalaman hidup sebelumnya dan bantuan sistem, ia bertekad mengubah takdir keluarganya menjadi keluarga terpandang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Investor Misterius

Siang itu ruko mereka lebih ramai dari biasanya. Pesanan proyek sudah selesai dikirim sejak pagi, dan pegawai sedang membereskan sisa bahan untuk persiapan besok. Arga duduk di meja kecil dekat kasir, menatap laporan keuangan mingguan yang baru saja ia rangkum. Angka-angka di buku catatan itu terlihat rapi. Stabil. Tidak melonjak terlalu tinggi, tetapi juga tidak menunjukkan tanda bahaya.

Belum sempat ia menyelesaikan perhitungannya, suara mobil berhenti terdengar di depan ruko. Bukan suara sepeda motor atau pick up proyek seperti biasanya. Suara itu lebih halus. Lebih mahal.

Arga mendongak.

Seorang pria turun dari mobil hitam mengilap. Setelan kemeja putihnya licin tanpa lipatan, celana panjang gelapnya terjatuh sempurna mengikuti garis tubuhnya. Rambutnya disisir rapi ke belakang. Wajahnya bersih dan tenang, tetapi ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuat Arga waspada.

Pria itu melangkah masuk dengan langkah mantap.

“Selamat siang,” katanya dengan suara halus dan terkontrol. “Apakah ini usaha katering milik keluarga Arga?”

Arga berdiri. “Betul. Ada yang bisa kami bantu, Pak?”

Pria itu tersenyum tipis. “Perkenalkan. Nama saya Bima Santosa.”

Nama itu terdengar biasa saja. Namun cara ia mengucapkannya seperti sebuah kartu nama yang tidak perlu dijelaskan lagi nilainya.

Ayah Arga keluar dari ruang belakang. “Silakan duduk, Pak Bima.”

Bima duduk tanpa ragu, menyilangkan kaki dengan santai. Matanya menyapu ruangan. Ia memperhatikan dapur produksi yang kini lebih tertata, papan jadwal pengiriman di dinding, serta rak bahan baku yang disusun rapi.

“Usaha yang menarik,” ucapnya pelan. “Saya sudah beberapa kali mendengar nama kalian dari rekan-rekan proyek.”

Arga merasakan getaran halus di dalam pikirannya.

Panel sistem muncul tiba-tiba.

[Peringatan Risiko Tinggi]

[Sumber: Investor eksternal]

[Probabilitas kehilangan kendali usaha: 75%]

Warna merah di sudut panel membuat jantung Arga berdetak sedikit lebih cepat. Sistem jarang memberikan peringatan setegas itu.

Bima melanjutkan, “Saya tidak suka berputar-putar. Saya datang dengan penawaran.”

Ia mengeluarkan map tipis dari tas kulitnya dan meletakkannya di atas meja.

“Usaha kalian punya potensi besar. Pasarnya jelas. Produksi stabil. Reputasi mulai terbentuk. Tapi kalian masih kecil.”

Kalimat terakhir itu diucapkan dengan nada ringan, seolah hanya fakta sederhana.

Ayah Arga tersenyum sopan. “Kami memang masih belajar, Pak.”

“Belajar itu bagus,” jawab Bima. “Namun dalam bisnis, momentum tidak datang dua kali.”

Ia membuka map tersebut dan memperlihatkan beberapa lembar proposal. Ada desain logo baru yang terlihat lebih modern. Rencana pembukaan cabang di dua kecamatan terdekat. Simulasi peningkatan kapasitas produksi.

“Modal besar,” katanya singkat. “Perluasan cabang dalam enam bulan. Branding profesional. Kita daftarkan merek secara resmi. Kita masuk ke pasar perusahaan besar.”

Ibunya yang sejak tadi diam mulai terlihat tergoda. “Maksudnya… Bapak mau membantu modal?”

Bima tersenyum lagi. “Bukan membantu. Berinvestasi.”

Arga tetap berdiri tegak, tangannya di belakang punggung. “Berapa besar investasi yang Bapak tawarkan?”

“Cukup untuk membuka dua cabang baru, membeli peralatan industri, dan memperluas jaringan distribusi. Kalian tidak perlu memikirkan modal kerja lagi.”

Ayahnya terlihat mulai tertarik. “Lalu… apa syaratnya?”

Bima menatap langsung ke arah Arga, bukan ke ayahnya.

“Enam puluh persen saham dipegang oleh pihak kami.”

Suasana mendadak sunyi.

Ibunya berkedip pelan. “Enam puluh persen?”

“Kontrol keputusan besar tentu berada di tangan pemegang saham mayoritas,” lanjut Bima tenang. “Namun kalian tetap menjadi wajah usaha ini. Nama keluarga tetap dipakai. Kami hanya mempercepat pertumbuhan.”

Panel sistem kembali berkedip.

[Analisis Risiko Lv.1 aktif]

[Skenario dominasi investor: Tinggi]

[Potensi pengambilalihan total dalam 1 tahun: 62%]

Arga menatap proposal di meja. Ia tidak langsung menolak. Tidak juga menunjukkan reaksi.

“Kenapa kami?” tanyanya pelan.

Bima menyandarkan punggung ke kursi. “Karena kalian punya sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang. Kepercayaan pasar lokal. Saya tidak tertarik membangun dari nol. Lebih efisien bermitra dengan yang sudah berjalan.”

Arga memfokuskan pikirannya.

[Skill Baca Lawan Tingkat Dasar Lv.1 aktif]

[Analisis mikro-ekspresi:

Kepercayaan diri tinggi

Niat dominasi terselubung

Motif non-finansial terdeteksi]

Itu membuat Arga semakin waspada.

Ia menatap wajah Bima lebih dalam. Sorot mata pria itu terlalu tajam untuk sekadar investor biasa. Cara ia berbicara terlalu terukur, seperti seseorang yang terbiasa memegang kendali.

“Bapak punya usaha lain di bidang ini?” tanya Arga.

Bima tersenyum samar. “Beberapa.”

“Apakah salah satunya bekerja sama dengan Darsono?”

Pertanyaan itu membuat suasana berubah. Ayah Arga menoleh cepat ke arah anaknya.

Senyum Bima tidak hilang, tetapi ada jeda sepersekian detik sebelum ia menjawab. “Saya mengenal banyak orang.”

Jawaban itu cukup.

Panel sistem menampilkan data tambahan.

[Koneksi tidak langsung dengan jaringan Darsono 68% kemungkinan]

Arga menarik napas dalam. Semua potongan mulai menyatu. Ini bukan sekadar investasi. Ini cara lain untuk mengambil kendali.

Jika mereka menerima tawaran itu, usaha ini akan tumbuh cepat. Namun kendali akan lepas. Dan jika suatu hari Bima memutuskan untuk mengganti arah, keluarga Arga hanya akan menjadi karyawan dalam usaha yang dulu mereka bangun dari nol.

Ibunya menatap Arga dengan cemas. “Ga, bagaimana menurutmu?”

Arga duduk perlahan, menatap proposal di depannya.

“Pak Bima,” katanya dengan suara tenang, “penawaran Bapak sangat menarik. Dan kami menghargai kepercayaan yang diberikan.”

Bima mengangguk kecil.

“Namun usaha ini bukan hanya soal angka dan pertumbuhan cepat. Ini tentang kemandirian keluarga kami.”

Bima menyilangkan tangan. “Kemandirian tidak selalu berarti menolak bantuan.”

“Benar,” jawab Arga. “Tapi enam puluh persen saham berarti kami bukan lagi pemilik utama.”

“Di dunia bisnis, kepemilikan bukan segalanya. Kendali bisa dibicarakan.”

Arga menatapnya lurus. “Dalam proposal ini, kendali keputusan besar ada di pihak Bapak.”

Bima terdiam sesaat.

Arga melanjutkan dengan nada tetap sopan, “Kami tidak menutup kemungkinan bekerja sama dengan investor di masa depan. Namun untuk saat ini, kami memilih berkembang dengan ritme kami sendiri.”

Ibunya menggenggam ujung meja, tegang. Ayahnya menahan napas.

Bima menatap Arga lama. Hening memenuhi ruangan beberapa detik yang terasa jauh lebih panjang.

“Anak muda,” katanya akhirnya, suaranya masih halus namun kini lebih dingin, “kamu terlalu percaya diri.”

Arga tidak menjawab.

Bima berdiri perlahan, merapikan kemejanya. “Dunia bisnis tidak selembut dapur rumah. Tanpa perlindungan yang tepat, usaha kecil seperti ini mudah sekali tumbang.”

Arga membalas dengan senyum tipis. “Kami sudah cukup sering diuji, Pak.”

Bima melangkah menuju pintu. Sebelum keluar, ia berhenti dan menoleh.

“Anak kecil sepertimu tidak akan bisa bertahan lama.”

Kalimat itu tidak diucapkan dengan teriakan. Justru dengan nada datar yang membuatnya terdengar lebih nyata.

Lalu ia pergi.

Suara mobilnya menghilang di ujung jalan. Ruangan terasa lebih sunyi dari sebelumnya.

Ibunya duduk perlahan. “Apa kita baru saja menolak kesempatan besar?”

Ayahnya menatap pintu dengan wajah serius. “Atau kita baru saja menghindari jebakan.”

Arga membuka panel sistem sekali lagi.

[Status Keputusan: Mandiri]

[Risiko jangka pendek meningkat 15%]

[Risiko kehilangan kendali: 0%]

Ia menutup mata sejenak.

“Kalau kita terima,” katanya pelan, “dalam satu tahun kita mungkin punya tiga cabang. Tapi kita bukan lagi pengambil keputusan. Dan kalau ada konflik dengan Darsono atau pihak lain, kita tidak tahu di sisi mana investor berdiri.”

Ibunya mengangguk pelan. “Tapi ancaman tadi…”

“Aku tahu,” jawab Arga. “Itu bukan hanya kata-kata.”

Ia menatap ke luar jendela. Langit sore mulai berubah jingga. Jalanan desa terlihat biasa saja, tetapi ia tahu badai sering datang tanpa tanda jelas.

“Ayah,” katanya pelan, “kita harus perkuat legalitas usaha. Daftarkan izin resmi. Buat akta usaha keluarga. Kalau ada tekanan lagi, kita punya perlindungan hukum.”

Ayahnya mengangguk mantap. “Besok kita urus.”

Ibunya menarik napas panjang. “Kamu benar-benar yakin dengan keputusan tadi?”

Arga menatap kedua orang tuanya.

“Usaha ini lahir dari ketakutan kita akan kehilangan rumah. Aku tidak mau kita kehilangan kendali hanya karena tergoda pertumbuhan cepat.”

Panel sistem muncul sekali lagi.

[Integritas Terjaga]

[Reputasi internal meningkat]

[Potensi konflik eksternal: Sedang]

Arga mengepalkan tangan pelan.

Ujian hari ini bukan tentang uang. Bukan tentang ekspansi. Ini tentang siapa yang memegang arah.

Dan untuk pertama kalinya sejak usaha mereka berkembang, ia benar-benar merasakan beratnya posisi sebagai pemimpin.

Di luar sana, Bima Santosa mungkin tidak akan tinggal diam. Koneksi dengan jaringan lama terlalu jelas untuk diabaikan. Penolakan hari ini bisa berubah menjadi tekanan besok.

Namun Arga tahu satu hal.

Lebih baik menghadapi ancaman dari luar dengan kendali penuh, daripada tersenyum di dalam jebakan yang dibungkus emas.

Ia menatap papan nama ruko mereka yang sederhana. Perjalanan ini belum selesai. Dan kini, bukan hanya pasar yang menguji mereka.

Dunia yang lebih besar mulai mengetuk pintu.

1
Dirman Ha
in
Dirman Ha
ih mantap
fauzi ezi
gas tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!