NovelToon NovelToon
Warisan Terakhir Sekte Surgawi

Warisan Terakhir Sekte Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fandi Pradana

“Satu benua? Jangankan satu benua… seluruh isi bumi akan kuhadapi jika adikku tersakiti.”

Di dunia murim yang terbelah antara ortodoks dan unorthodoks, kekuatan menentukan segalanya—dan belas kasihan hampir tidak pernah ada.

Fang Yi dan Fang Yu hanyalah dua saudara yatim piatu yang lahir tanpa nama besar, tanpa perlindungan, dan tanpa tempat untuk pulang. Dunia sejak awal sudah menolak keberadaan mereka. Bahkan sebelum mereka memahami arti benar dan salah, keduanya telah dicap sebagai benih kejahatan karena bayang-bayang masa lalu keluarga mereka yang misterius.
Bagi dunia murim, mereka adalah ancaman yang harus dimusnahkan.
Namun bagi Fang Yi, hanya ada satu hal yang penting—melindungi adiknya.

Selama mereka bersama, hinaan, pengkhianatan, dan bahaya hanyalah rintangan yang harus dilewati. Tetapi ketika sekte-sekte besar mulai memburu mereka, rahasia lama keluarga mereka perlahan bangkit dari kegelapan.

Rahasia yang cukup untuk mengguncang seluruh benua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pembantaian Ming dan Fang Jin (1)

“Mungkin ini adalah tempat yang tepat, Ming,” ucap Fang Jin sambil berjongkok di dalam gua yang dingin dan lembap.

“Ya, wilayah ini belum pernah terjamah manusia. Mungkin ini tempat terbaik bagi kita berdua untuk menyegel buku itu,” balas Ming sambil mengamati dinding gua yang dipenuhi stalaktit tajam.

Mereka telah menempuh perjalanan beribu-ribu kilometer, menjauh dari pusat wilayah Barat hingga mencapai perbatasan terpencil yang nyaris tak tersentuh peradaban. Tempat itu sunyi, hanya terdengar tetesan air dari langit-langit gua dan hembusan angin dari celah batu.

Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.

“Hei, itu mereka berdua! Ayo cepat kejar mereka!”

Teriakan seseorang memecah kesunyian.

Tak lama kemudian, seorang pendekar muncul di mulut gua, disusul oleh puluhan lainnya dari berbagai sekte. Mereka datang berbondong-bondong, mata mereka dipenuhi ambisi dan keserakahan untuk memiliki buku yang dibawa Fang Jin.

Fang Jin dan Ming saling bertukar pandangan.

“Serahkan bagian ini padaku,” ujar Ming dengan tenang. “Kamu cepatlah pergi ke ujung gua dan lakukan Formasi Awan Hitam pada buku itu.”

Formasi Awan Hitam adalah formasi ciptaan Fang Jin sendiri—sebuah formasi ilahi yang mampu membentuk penghalang tak tertembus oleh makhluk apa pun. Bahkan jika orang yang merapalnya telah mati, formasi itu akan tetap aktif dan menjaga apa pun yang disegel di dalamnya.

Namun sekuat apa pun sebuah formasi, ia tetap tak mampu melawan waktu. Seiring berlalunya waktu, puluhan hingga ratusan tahun, kekuatannya perlahan akan memudar dengan sendirinya.

Tanpa ragu, Fang Jin segera berlari menuju ujung terdalam gua. Sementara itu, Ming melangkah maju, menghadang para pendekar yang datang dari berbagai arah.

Kekuatan Ming yang telah dikenal sebagai seorang Martial Sovereign jelas bukan sesuatu yang bisa diremehkan oleh pendekar yang mengejar mereka.

Clang.

Benturan pertama terjadi begitu cepat.

Suara pedang beradu menggema di dalam gua. Beberapa pendekar terpental hanya dengan satu ayunan sederhana dari Ming.

“Ugh… kalau terus begini, kita akan kehilangan Fang Jin, Sang Kilat Barat!” seru seorang pendekar tua yang telah mencapai tingkat keenam, wajahnya pucat menahan tekanan.

Ming mendengus pelan.

“Menurutmu julukan Sang Kilat Barat dan Pedang Murim milik kami, kami dapatkan secara cuma-cuma?” ucapnya dengan nada penuh amarah. “Beraninya kalian menghadang penguasa wilayah Barat, bersamaan denganku—pemimpin Aliansi Murim yang berdiri di sini.”

Aura yang keluar dari tubuhnya membuat udara di sekitar terasa berat.

“Jika kalian tidak ingin kehilangan kepala di tempat ini, cepat pergi selagi aku masih berbaik hati,” sambung Ming.

Wajahnya tetap tenang. Napasnya stabil. Tak setitik pun keringat terlihat di dahinya, seolah puluhan pendekar di hadapannya bukanlah ancaman berarti.

Para pendekar yang telah dikuasai keserakahan itu tidak lagi mampu berpikir jernih. Keinginan untuk menguasai dunia dengan teknik tersebut telah membutakan hati mereka. Ancaman Ming sama sekali tidak menggoyahkan tekad mereka.

“Kau mungkin pemimpin Aliansi Murim,” ujar salah satu dari mereka dengan nada menantang, “tapi jumlah tetaplah jumlah.”

Ming menatap mereka dengan dingin.

“Kalau begitu, majulah,” balasnya tenang. “Dan mulai hari ini kau akan merasakan bagaimana rasanya makanan dari neraka.”

Clang! Clang! Clang!

Benturan pedang menggema keras di dalam gua. Percikan api beterbangan setiap kali bilah baja saling beradu. Serangan demi serangan datang tanpa henti, semakin intens dan semakin brutal.

Sementara itu, Fang Jin yang hampir mencapai ujung terdalam gua segera duduk bersila. Tanpa membuang waktu, ia mulai merapal Formasi Awan Hitam. Dengan ujung jarinya, ia melukai telapak tangannya sendiri dan meneteskan darah ke atas buku tersebut.

Setetes darah itu bukan sekadar pengorbanan.

Ia menanamkan penanda garis keturunan—agar kitab itu suatu hari dapat mengenali penerus sejatinya, keturunannya di masa depan.

Aura gelap mulai membentuk lingkaran di sekelilingnya, garis-garis formasi perlahan terukir di dinding dan lantai gua.

Di bagian depan gua, pertarungan semakin memanas.

“Rasakan serangan Tapak Surga dariku ini! HYAAAH!”

Sebuah telapak tangan raksasa yang terbentuk dari Qi menghantam ke arah Ming.

Namun dengan satu gerakan sederhana, Ming mengayunkan pedangnya. Serangan mematikan itu terbelah menjadi dua dan menghilang sebelum sempat menyentuhnya.

Sebagai seorang Martial Sovereign, ia jelas tidak akan kesulitan menghadapi teknik tingkat enam seperti itu.

Ming menyipitkan matanya.

“Bukankah itu teknik milik Sekte Telapak Tinju Teratai?” ujarnya dingin. “Bersyukurlah bahwa aku—Ming, mengetahui teknik milik sektemu.”

Tatapannya berubah tajam.

“Setelah semua urusan di sini selesai, aku sendiri yang akan menghanguskan seluruh sektemu bersama Fang Jin.”

Ming berkata seperti itu seolah tak ada yang akan berani bertindak selama dirinya dan Fang Jin masih hidup.

Amarah mulai menguasai dirinya, namun kesadarannya tetap utuh. Setiap gerakan masih terukur dengan tenang. Setiap langkah tetap teratur dan berirama.

Satu per satu teknik dari sekte-sekte luar wilayah Barat diperhatikannya dengan saksama. Ia menghafal pola serangan, aliran Qi, dan celah tersembunyi di balik tiap jurus.

Begitu semua ini berakhir…

Sekte-sekte itu mungkin hanya akan tersisa sebagai catatan dalam sejarah.

Ming yang telah selesai menghafal seluruh teknik beserta nama-nama sekte yang terlibat, perlahan mengubah ekspresinya. Tatapannya yang semula dingin kini menjadi benar-benar serius.

Ia tidak lagi berniat menahan diri lagi.

Dengan satu gerakan utama, ia memutuskan untuk mengakhiri semuanya sekaligus.

“Aku adalah Yin,” ucapnya pelan, namun suaranya menggema di dalam gua. “Yin tanpa Yang adalah ketidakseimbangan. Maka biarkan aku menjadi Yin… di dalam harmoni yang tidak lengkap.”

Aura bercahaya dan ringan menyelimuti sekelilingnya.

Dan dalam sekejap mata—

Boommm!

Sebuah pedang raksasa terbentuk di langit-langit gua, ukurannya sebesar gunung. Energinya begitu padat hingga membuat udara bergetar hebat. Pedang itu kemudian meluncur turun dari atas, menembus para pendekar yang menghalangi Ming.

Tubuh mereka lenyap seketika, tidak meninggalkan darah, tidak pula meninggalkan jejak kehancuran yang berlebihan.

Anehnya, gunung yang tertembus oleh manifestasi pedang itu tidak terbelah. Tidak ada retakan besar, tidak ada runtuhan batu dagi goa. Ming tetap mempertahankan bentuk gua dan gunung tersebut dengan presisi sempurna, seolah tidak pernah terjadi apa-apa di tempat itu.

Ming berdiri di tengah kehampaan, napasnya tetap stabil. Serangan barusan baginya hanyalah satu gerakan yang terkontrol sepenuhnya.

Tanpa menoleh ke belakang lagi, ia berbalik arah dan segera menyusul Fang Jin ke bagian terdalam gua.

Singkatnya, mereka berhasil menyegel buku itu di dalam gua tersebut. Setelah formasi selesai diaktifkan, keduanya bekerja sama menghapus seluruh jejak yang dapat mengarah pada keberadaan kitab itu.

Fang Jin, dengan satu tebasan pedang yang tampak biasa, menghantam bagian atas mulut gua. Batu-batu besar runtuh dan menutup jalan masuk sepenuhnya, menyamarkannya seolah hanya dinding gunung biasa tanpa rahasia di dalamnya.

Namun urusan mereka belum selesai.

Sekte-sekte yang terlibat dalam pengejaran itu harus ditundukkan.

Ming dan Fang Jin pun memutuskan untuk berpencar. Ming bergerak ke arah utara menuju tiga sekte yang terlibat, sementara Fang Jin menuju wilayah selatan untuk menyelesaikan dua sekte sisanya.

Tak butuh waktu lama bagi Ming untuk tiba di wilayah utara.

Ia memulai dengan Sekte Tapak Surga.

Tanpa banyak kata, pembantaian pun dimulai. Para pendekar di sekte itu tidak mampu menahan kemarahan dari sosok pemimpin Aliansi Murim. Serangannya bukan lagi sekadar duel, melainkan penghukuman bagi penghianat.

Satu per satu pendekar kuat dihabisi, hingga akhirnya hanya menyisakan Ketua Sekte—dalang di balik pengejaran terhadap Ming dan Fang Jin.

“Ku-kumohon, ampuni aku Ketua Aliansi…” ucapnya gemetar. “Aku hanya terpaksa. Aku diajak oleh Sekte Bambu Kuning dan Sekte Mawar Putih.”

Ming melangkah perlahan mendekatinya.

“Entah apa yang kau pikirkan saat kau menerima ajakan mereka,” balas Ming dengan suara datar. “Namun sejak kau memutuskan untuk menghalangiku dan Fang Jin, saat itulah kematian datang menjemputmu.”

Tak lama kemudian, wilayah itu dipenuhi keheningan.

Setelah membantai ratusan pendekar, Ming menghubungi sekretarisnya menggunakan elang pembawa pesan dan memerintahkan agar seseorang yang cakap segera dikirim untuk mengambil alih sekte yang telah hancur tersebut.

Tanpa menunda waktu, ia melanjutkan perjalanan menuju Sekte Bambu Kuning dan Sekte Mawar Putih.

Kengerian nama Ming terukir jelas di wajah para warga desa di sekitar kedua sekte itu. Dalam waktu singkat, keduanya mengalami nasib serupa—hancur di tangan Ming seorang diri.

Setelah memastikan semuanya berada di bawah pengawasan sekretarisnya, Ming meninggalkan wilayah itu dan berjalan menuju hutan dekat goa yang telah ia sepakati dengan Fang Jin sebagai titik pertemuan.

Sementara itu, Fang Jin baru saja tiba di wilayah selatan. Jarak yang jauh membuat perjalanannya sedikit lebih lama dari Ming.

Tujuan pertamanya adalah Sekte Kuda Besi.

Amarahnya memuncak. Ia tahu Ming pasti telah murka karena penghianatan sekte-sekte yang sebelumnya bersumpah setia pada Aliansi Murim.

Tanpa ragu, Fang Jin mengangkat pedangnya ke udara.

JLAM.

Dengan satu tebasan ke bawah, tanah di wilayah Sekte Kuda Besi terbelah menjadi dua. Retakan sepanjang tiga meter membelah halaman utama, menciptakan jurang yang membuat seluruh sekte gemetar.

Ia berjalan perlahan menuju paviliun utama tempat Ketua Sekte tinggal.

Ribuan pendekar pedang dari Sekte Kuda Besi keluar dan mengepungnya.

“Kau! Siapa kau beraninya mengganggu sekte kami?!” teriak seorang tetua yang baru saja keluar dari pengasingan.

Tetua itu tidak menyadari bahwa sosok yang berdiri di hadapannya—tanpa tekanan aura berlebihan dan dengan ekspresi wajah yang datar—adalah salah satu tokoh yang saat ini berhasil menyatukan wilayah Barat di bawah kekuasaannya.

Fang Jin tak menggubrisnya.

Ia mengayunkan pedangnya secara horizontal.

Dalam sekejap, ratusan pendekar pedang terbelah dan tumbang. Bangunan di sekitarnya ikut runtuh. Bahkan rumah-rumah warga dan beberapa penduduk tak bersalah turut menjadi korban dalam serangan tanpa ampun itu.

Fang Jin tak lagi memedulikan apa pun yang menghalangi jalannya.

Teriakan memenuhi udara disekitar paviliun utama.

Ketua Sekte Kuda Besi yang terkejut mendengar kekacauan itu segera keluar dengan pedang terhunus.

"Rambut putih, matanya hitam pekat. Ia juga mengenakan jubah serba hitam dengan simbol naga terukir pada pedangnya" gumam Ketua Sekte Kuda Besi

“Mu-mungkinkah Anda… Tuan Fang Jin, Sang Kilat Barat?” tanyanya dengan suara bergetar.

Sekali lagi, Fang Jin tak menanggapi.

Ia langsung melemparkan pedangnya ke arah dada kiri Ketua Sekte. Bilah itu menembus tubuhnya dan menghentikannya dengan menancap ditembok paviliun.

Fang Jin melangkah mendekat dengan tatapan mengerikan. Senyum tipis terukir di wajahnya, membuat Ketua Sekte merinding ketakutan.

Dengan satu gerakan, Fang Jin mencabut pedangnya. Ketua Sekte itu langsung jatuh berlutut, darah mengalir deras.

Fang Jin berjongkok, mencengkeram rambutnya dengan keras.

“Anjing yang tidak mengenali pemiliknya sendiri tidak pantas untuk dibesarkan.”

Seketika itu juga, pedangnya bergerak.

Darah memancar ketika leher Ketua Sekte ditebas tanpa ampun.

Fang Jin berdiri kembali dan berbalik arah. Ia berjalan perlahan meninggalkan sekte yang hancur, sementara para warga yang masih selamat hanya bisa menatapnya dengan ketakutan yang mendalam.

1
sutrisno akbar
lanjut thor lg seru
Hasan Basri
ceritanya semakin menarik👍
Rania: Terima kasih, semoga betah😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!