Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, sang kaisar kehilangan segalanya—takhta, kekuasaan, bahkan nyawanya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Neraka Merah di Bak Kayu Lapuk
Malam turun menyelimuti Kota Ironforge seperti selimut tebal yang kotor. Di Distrik Selatan yang kumuh, lampu-lampu jalan jarang menyala. Hanya lentera-lentera merah samar dari rumah bordil dan kedai arak murahan yang memberikan penerangan, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari di gang sempit.
Yang Chen berjalan menjauhi jalan utama. Dia mencari tempat yang spesifik: Murah, tertutup, dan tidak banyak bertanya.
Dia menemukan sebuah bangunan kayu dua lantai yang miring ke kiri, seolah-olah fondasinya sudah menyerah menahan beban dosa penghuninya. Papan nama di depannya sudah luntur, hanya terbaca samar: "Penginapan Tikus... (hilang)".
Baunya apek, campuran jamur kayu dan arak tumpah.
Yang Chen mendorong pintu masuk. Engselnya berkarat, mengeluarkan jeritan logam yang menyakitkan telinga.
Di balik meja resepsionis yang penuh goresan pisau, seorang pria tua dengan satu mata buta sedang menghitung koin tembaga. Dia mendongak, menatap sosok berjubah hitam yang masuk.
"Kamar?" suara pria tua itu serak, seperti gesekan batu kali.
"Satu malam," jawab Yang Chen singkat. Suaranya disamarkan menjadi berat. "Aku butuh ketenangan. Dan..."
Yang Chen meletakkan sekeping perak di meja.
"...aku butuh air panas. Banyak air panas. Dan sebuah bak mandi kayu yang cukup besar untuk merendam tubuh orang dewasa."
Pria tua itu menyeringai, menampakkan gigi kuningnya. Permintaan air panas dan bak besar biasanya berarti tamu itu ingin membersihkan diri setelah melakukan kejahatan, atau ingin 'bersenang-senang' dengan pelacur. Dia tidak peduli.
"Kamar nomor 4 di lantai dua, paling ujung. Air panas akan diantar sepuluh menit lagi. Bak mandinya sudah ada di sana, tapi mungkin agak bocor sedikit."
Pria tua itu melemparkan kunci besi besar yang dingin ke arah Yang Chen.
Yang Chen menangkap kunci itu, mengangguk sekali, lalu naik ke lantai dua. Tangga kayu itu berderit di setiap langkahnya, kriet... kriet..., seolah memperingatkan bahwa tempat ini bisa runtuh kapan saja.
Kamar nomor 4 adalah kotak sempit berukuran 3x3 meter. Dindingnya dari papan tipis yang penuh celah. Ada satu tempat tidur jerami dengan selimut yang meragukan kebersihannya, sebuah meja kecil berkaki tiga, dan di sudut ruangan, sebuah tong kayu besar setinggi pinggang yang dilingkari besi berkarat.
Yang Chen menutup pintu dan menguncinya. Dia juga menyeret meja kecil itu untuk mengganjal pintu—kebiasaan paranoia dari kehidupan lampau.
Dia tidak duduk. Dia berjalan ke tong kayu itu, memeriksanya.
"Kotor," komentarnya. Ada lumut kering di dasar tong.
Tapi ini wadah, dan wadah adalah yang dia butuhkan.
Sepuluh menit kemudian, terdengar ketukan kasar di pintu.
"Air panas!"
Yang Chen membuka pintu sedikit. Dua orang pelayan berotot membawa ember-ember besar berisi air yang mengepulkan uap panas. Mereka menuangkan air itu ke dalam tong kayu.
Sruaaash!
Air mendidih mengisi tong itu hingga tiga perempat penuh. Uap panas memenuhi ruangan sempit itu, membuat udara menjadi lembap dan sesak.
"Cukup," kata Yang Chen. Dia memberikan 5 keping tembaga sebagai tip agar mereka pergi cepat.
Setelah pintu terkunci kembali, Yang Chen berdiri di depan tong yang mengepul itu. Dia mengeluarkan bungkusan bahan obat yang dia beli dari Paviliun Seribu Herbal.
Saatnya meracik.
Dia tidak punya tungku alkimia untuk mengekstrak esensi secara halus. Dia harus menggunakan metode kasar: Pelarutan Langsung.
Pertama, dia mengambil Bubuk Belerang Merah. Dia membuka bungkusannya dan menaburkan bubuk merah menyala itu ke dalam air panas.
Hiss...
Air bereaksi. Bubuk belerang itu tidak larut dengan tenang, tapi mendesis pelan, mengubah warna air menjadi kemerahan keruh. Bau belerang yang tajam—seperti bau kawah gunung berapi—langsung menusuk hidung. Ini berfungsi untuk membuka pori-pori kulit secara paksa dengan panas ekstrem.
Kedua, Empedu Ular Tanah. Benda hitam kering itu keras seperti batu. Yang Chen meletakkannya di lantai, lalu menggunakan tumit sepatunya untuk menggerusnya hingga hancur menjadi serpihan kasar.
Dia menaburkan serpihan hitam itu ke dalam air merah.
Air berubah warna lagi menjadi ungu tua yang menjijikkan. Empedu Ular bersifat dingin dan beracun ringan. Fungsinya adalah sebagai anestesi (pemati rasa) lokal untuk saraf permukaan kulit, sekaligus menetralkan panas berlebih dari belerang agar tidak membakar daging hingga matang.
Terakhir, bahan utama: Rumput Tulang Besi.
Tiga batang tanaman ungu tua yang keras seperti kawat.
Yang Chen tidak memasukkannya utuh. Dia mematah-matahkannya dengan tangan. Krek. Krek. Suaranya seperti mematahkan ranting kering. Dia meremas hancuran tanaman itu di telapak tangannya, mencoba mengeluarkan getah keringnya, lalu melemparkannya ke dalam ramuan neraka itu.
Dia mengaduk air itu dengan tangannya sebentar—hanya dua detik, dan kulit tangannya sudah terasa perih bukan main.
Air di dalam tong kini berwarna hitam kemerahan, kental, dan berbau mengerikan. Baunya seperti darah yang dimasak dengan belerang.
"Sup Tulang Besi versi jalanan," gumam Yang Chen sinis. "Di kehidupan dulu, aku bahkan tidak akan membiarkan anjingku mandi di air sekotor ini. Tapi sekarang... ini adalah nektar kehidupan bagiku."
Yang Chen mulai menanggalkan pakaiannya.
Dia melepas jubah hitam barunya, melipatnya rapi di atas tempat tidur (satu-satunya barang bersih yang dia punya). Dia melepas sisa pakaian dalamnya.
Dia berdiri telanjang di ruangan yang remang-remang itu. Cahaya bulan yang masuk dari celah jendela menyinari tubuhnya.
Tubuh itu menyedihkan. Tulang rusuk yang bisa dihitung. Kulit pucat yang tidak sehat. Otot lengan yang lembek. Dan bekas luka memar di dada serta perut yang masih belum hilang sepenuhnya.
"Wadah yang rusak," bisiknya. "Malam ini, kita tambal kebocorannya."
Dia melangkah mendekati tong kayu.
Uap panas yang naik dari permukaan air obat itu saja sudah membuat kulit perutnya terasa perih. Suhu airnya mungkin sekitar 80 derajat Celcius. Bagi manusia biasa, ini melepuh. Bagi Yang Chen, ini adalah batas toleransi.
Dia mengangkat kaki kanannya, melewati bibir tong.
"Masuk."
Dia menurunkan kakinya ke dalam air.
Cesss!
"Hhngg!"
Erangan tertahan lolos dari bibirnya yang terkatup rapat.
Saat kulit kakinya menyentuh air itu, rasanya bukan seperti masuk ke air panas. Rasanya seperti dicelupkan ke dalam asam sulfat pekat. Belerang bereaksi dengan kulit, membakar lapisan epidermis. Rumput Tulang Besi bekerja seperti ribuan jarum mikro yang menusuk masuk ke pori-pori, mencari tulang.
Sakit. Sangat sakit.
Insting tubuhnya berteriak: TARIK KAKIMU! LARI!
Kaki kanannya gemetar hebat, ingin melompat keluar. Tapi Yang Chen menahannya. Dia mencengkeram pinggiran tong kayu itu sampai kayu lapuk itu retak di bawah jarinya.
"Diam," perintahnya pada kakinya sendiri.
Dia memaksakan kaki kirinya naik.
Byurr.
Sekarang kedua kakinya terendam sebatas lutut. Rasa sakit itu menjalar naik dengan cepat, dari telapak kaki ke betis, lalu ke paha. Rasanya seperti ada semut api yang merayap di bawah kulitnya, memakan dagingnya dari dalam.
Keringat dingin sebesar biji jagung langsung membanjiri wajahnya.
Tapi dia belum selesai. Dia harus merendam seluruh tubuhnya.