NovelToon NovelToon
Nero Vano

Nero Vano

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Crazy Rich/Konglomerat / Teen
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

Di buang ke Desa Kenangan, tempat Oma-nya menghabiskan sisa umur. Nero Vano Christian malah tidak sengaja bertemu dengan seorang gadis manis bernama Ainun Salsabila Adiakara. Gadis yang awalnya hanya sekedar mengusik hati.. Lalu menjadi alasan untuk Nero mulai mengenal Tuhan.

Ikuti kisahnya~

Happy Reading ><

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 23: PANGGILAN DARI NEGERI PARA WALI

Sesuai janji, NERO POV udah tutup di chap-22!!

------

AUTHOR ON:

Jam dinding antik di kamar Oma Thalia berdetak pelan, seolah menghitung mundur sisa-sisa keheningan malam. Jarum pendek menunjuk angka tiga. Di luar, desa itu tidur lelap, hanya ditemani desau angin yang menyapu pepohonan kelapa.

Muhammad Nero Vane Akbar baru saja melipat sajadahnya. Keningnya masih basah oleh bekas sujud terakhir dalam salat Witir. Ia duduk bersila, membiarkan ketenangan malam meresap ke dalam pori-porinya. Jemarinya yang panjang dan kasar lincah memutar butiran tasbih kayu zaitun—hadiah terakhir dari Ustadz Davi.

"Subhanallah... Alhamdulillah... Laa ilaha illallah..."

Lantunan dzikir itu mengalir pelan, menyatu dengan detak jantungnya. Hening. Sunyi desa seolah ikut menjadi makmum dalam kekhusyukan Nero.

Tiba-tiba, di tengah keheningan yang pekat itu, sebuah bisikan muncul. Bukan suara telinga yang menangkapnya, melainkan getaran halus yang sangat jernih, bergema langsung di pusat jiwa, menembus lapisan kesadaran terdalamnya.

"Yaman..."

Hanya satu kata. Singkat, padat, namun terasa seperti perintah mutlak dari Sang Pencipta.

Nero tersentak. Kelopak matanya terbuka lebar, menatap kosong ke arah dinding kamarnya yang remang. Dadanya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena getaran spiritual yang mengguncang fondasi hatinya. Ia teringat Ustadz Davi yang lulusan Yaman. Ia teringat sejarah negeri itu sebagai gudangnya ilmu dan para wali. Ia teringat kisah-kisah tentang Tarim, tentang debu yang konon bisa menyembuhkan hati yang sakit, tentang langit yang selalu rendah dengan rahmat.

Detik itu juga, sebuah kesadaran menghantam Nero bagai petir di siang bolong. Jika ia ingin benar-benar menyandang nama "Muhammad" di depan namanya, jika ia ingin menjadi hamba yang utuh, ia tidak bisa lagi puas dengan ilmu seadanya di desa ini. Ia harus membenamkan diri. Ia harus menyelam ke samudra ilmu yang paling dalam, tempat di mana ego manusia hancur lebur sebelum dibentuk kembali oleh cahaya Ilahi.

"Ainun..." gumamnya pelan, nama itu keluar disertai rasa sesak yang menusuk dada.

Pergi ke Yaman berarti melakukan pengorbanan terbesar dalam hidup mudanya. Itu berarti ia harus mengubur bayang-bayang Ainun untuk sementara waktu. Tidak ada lagi menunggu kabar dari Kairo. Tidak ada lagi mimpi-mimpi romantis tentang pertemuan di bandara atau surat-surat panjang. Selama beberapa tahun ke depan, dunianya hanyalah kitab-kitab kuning, sujud-sujud panjang di atas pasir panas, dan pengabdian total.

Ia harus membakar sisa-sisa egonya yang terakhir: keinginan impulsif untuk segera memiliki, untuk segera menikah, untuk segera bahagia duniawi. Ia harus rela hatinya berada di titik nadir, hampa dari cinta manusia, agar bisa diisi penuh oleh cinta Tuhan.

Nero menatap langit-langit kamarnya yang mulai diterangi bias fajar kebiruan. Keputusannya sudah bulat. Beratnya terasa seperti memanggul mesin motor sendirian menanjak bukit curam, namun ia tahu, inilah satu-satunya jalan pulang bagi jiwanya. Ini adalah hijrah total.

.

.

.

Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti desa, memberikan kesan dingin yang menusuk tulang. Di depan gerbang rumah Oma, sebuah mobil Rolls-Royce hitam legam sudah menunggu dengan mesin yang menderu halus. Kendaraan mewah itu kontras dengan kesederhanaan suasana perpisahan yang akan terjadi.

Tidak ada perayaan. Tidak ada spanduk selamat jalan. Tidak ada sorak-sorai teman-teman sekolah. Hanya ada empat orang yang berdiri tegak menanti kepergian Nero: Pak Malik, Oma Thalia, Mas Ikdam dan Ustadz Davi.

Nero melangkah mendekati mereka. Dengan takzim, ia mencium tangan Oma Thalia, lalu Pak Malik. Air mata Oma sudah mengalir deras, namun ia menahan isak tangisnya.

Nero mencium tangan Pak Malik dan Oma dengan takzim. "Oma, Pak Malik... Nero pamit. Mohon doanya agar Nero tidak pulang sebelum menjadi manusia yang bermanfaat."

"Jaga dirimu, Mas Nero. Di Yaman, jadilah seperti air yang tenang namun menghidupkan," pesan Pak Malik lembut.

Ikdam menepuk bahu Nero kuat-kuat, mencoba menyembunyikan emosi di balik senyumnya yang lebar. "Bagus, Bro! Semangat ya belajar di sana. Jangan lupa bawa oleh-oleh ilmu, bukan cuma kurma!" canda Ikdam, meski matanya berkaca-kaca.

"Semoga berhasil, Mas Nero. Kami tunggu kabar baikmu." Ustadz Davi.

1
한스Hans
semangat ya ☕
Thinker Bell ><: yetts, thanks😄👍
total 1 replies
Jeje Bobo
Nama neneknya keren pasti funky bebs
Thinker Bell ><: kan mantan sosialita kota, yang sengaja tinggal di kampung buat ngabisin sisa umur. biasa orang kaya.... 😄
total 1 replies
Jeje Bobo
Turun kasta 🫠 sedihnya untuk cm di novel yh say
Thinker Bell ><: nanti juga balik lagi kok ke kota/Shhh/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!