Tujuh tahun Sheilla mencintai Ardhito dalam diam, sejak masa SMA yang polos hingga dewasa. Namun di tahun kedelapan, takdir justru memberinya luka. Akibat jebakan salah sasaran di sebuah kamar hotel yang dirancang teman-teman Ardhito, keduanya terpaksa menikah demi menutupi skandal.
Pernikahan yang Sheilla dambakan berubah menjadi neraka. Ardhito yang merasa dijebak melampiaskan amarahnya melalui pengabaian dingin dan kekerasan fisik (KDRT). Di tengah sisa-sisa cintanya yang hancur, Sheilla harus memilih: terus bertahan sebagai martir cinta yang tak terbalas, atau mengumpulkan keberanian untuk pergi dan menyembuhkan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocolate_coffee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Warna Sage Green dan Perasaan yang Nggak Lagi "Abu-Abu"
Pagi ini, udara di kota kecil ini rasanya kayak lagi ngajak baikan. Wangi tanah abis hujan semalem bercampur sama aroma kopi tubruk yang baru diseduh Sheilla. Dia berdiri di halaman samping, masih pakai celana training dan kaos kegedean, tangannya megang kuas yang udah belepotan cat warna sage green.
"Kayaknya bener kata Adrian, warna ini bikin adem," gumamnya sambil ngelihat dinding kayu rumah barunya yang mulai berubah warna.
Dulu, jangankan milih warna cat, milih warna gorden aja Sheilla harus nunggu "approval" yang ujung-ujungnya cuma dibilang, "Terserah, yang penting jangan norak." Sekarang? Kalaupun dia mau ngecat rumahnya jadi warna pink stabilo pun, nggak bakal ada yang marah. Tapi sage green ini emang pas. Kayak hidupnya sekarang: tenang, nggak mencolok, tapi enak dilihat.
Tok tok tok.
Suara pagar bambunya diketuk pelan. Sheilla nggak perlu nengok buat tahu siapa yang dateng. Aroma parfum citrus yang seger itu udah jadi "alarm" favoritnya.
"Pagi, Nyonya Bos. Wah, udah tancap gas aja nih?"
Adrian muncul sambil nenteng bungkusan bubur ayam dan dua gelas teh obeng. Dia tampil santai pakai celana pendek cargo dan kaos hitam. Rambutnya agak berantakan, tipe messy hair yang beneran karena baru bangun, bukan hasil salon.
Bubur Ayam dan Spasi yang Makin Tipis
"Sarapan dulu, Sheil. Entar kuasnya malah kamu makan karena laper," canda Adrian sambil naruh makanan di meja kayu kecil bawah pohon mangga.
Sheilla naruh kuasnya, terus nyamperin Adrian. Dia nyoba ngelap keringat di jidat pakai punggung tangan, tapi malah bikin ada coretan cat hijau di pipinya.
Adrian ketawa kecil. "Sini bentar."
Tanpa nunggu jawaban, Adrian ngambil tisu dari kantongnya, terus pelan-pelan ngusap noda cat di pipi Sheilla. Jarak mereka deket banget. Sheilla bisa denger detak jantungnya sendiri yang tiba-tiba main perkusi. Dia bisa ngelihat kerutan halus di sudut mata Adrian pas cowok itu senyum.
Nggak ada rasa takut. Nggak ada keinginan buat mundur. Sheilla cuma ngerasa... nyaman. Kayak akhirnya nemu potongan puzzle yang selama ini ilang di kolong lemari.
"Nah, bersih. Lain kali jangan dandan pakai cat tembok ya, Sheil," bisik Adrian. Matanya natap Sheilla dalem, seolah lagi baca buku yang paling dia suka.
Sheilla berdehem, berusaha ngerapiin perasaannya yang agak berantakan. "Makasih, Yan. Yuk, sarapan."
Sambil makan bubur, obrolan mereka ngalir gitu aja. Mulai dari bahas Maya yang makin pinter merangkai bunga hand bouquet, sampai rencana Adrian buat ngajak anak-anak yayasan bikin mural di tembok belakang sekolah.
"Yan," panggil Sheilla di sela kunyahannya.
"Ya?"
"Makasih ya udah sabar. Aku tahu aku sering banget narik ulur perasaan kita. Kadang aku maju tiga langkah, terus besoknya mundur lima langkah karena tiba-tiba inget hal yang nggak enak."
Adrian naruh sendoknya. Dia genggam tangan Sheilla yang masih ada bekas catnya. "Sheil, aku ini guru. Aku biasa ngadepin murid yang butuh waktu lama buat paham satu pelajaran. Apalagi kamu, yang lagi belajar soal 'percaya' lagi. Aku nggak kemana-mana. Aku bukan Ardhito yang bakal marah kalau kamu nggak sesuai ekspektasi. Aku cuma Adrian, yang seneng kalau bisa liat kamu senyum tiap pagi."
--
Lagi asyik-asyiknya momen manis itu, HP Sheilla getar. Ada notifikasi dari grup WhatsApp alumni SMA-nya. Biasanya dia cuekin, tapi kali ini ada yang kirim foto lama. Foto masa SMA mereka.
Di foto itu, ada Ardhito yang lagi megang piala basket, dan di pojokan, ada Sheilla yang lagi natap Ardhito dengan tatapan "pemuja rahasia".
Sheilla diem sebentar. Rasa nyesek itu sempet mampir, tapi cuma lewat kayak angkot yang nggak ada penumpangnya. Dia nggak lagi ngerasa pengen nangis. Dia cuma ngerasa kasihan sama "Sheilla kecil" di foto itu.
"Ada apa?" tanya Adrian, peka banget sama perubahan muka Sheilla.
Sheilla nunjukin foto itu ke Adrian. "Lihat deh. Aku dulu sebucin itu ya? Padahal di situ Ardhito bahkan nggak tahu namaku."
Adrian ngelihat foto itu, terus dia ngelihat Sheilla yang sekarang. "Dulu kamu emang cantik, Sheil. Tapi sekarang kamu jauh lebih bersinar. Di foto itu, matamu cuma fokus ke satu orang yang salah. Sekarang, matamu udah bisa ngelihat seluruh dunia."
Sheilla senyum. Dia langsung delete foto itu dari galerinya. Bukan karena benci, tapi karena emang udah nggak butuh. Memori itu udah dia "arsipkan" di gudang paling belakang.
--
Siangnya, mereka ke yayasan. Sheilla bawa sisa cat sage green-nya buat bantuin Adrian dan anak-anak yayasan. Suasananya rame banget. Suara tawa anak-anak yang tadinya trauma, sekarang kedengeran riuh rendah.
Maya juga ada di sana, bantuin nggambar pola bunga di tembok. "Ciee, Mbak Sheil sama Pak Guru bajunya senada nih," goda Maya pas liat Sheilla dan Adrian sama-sama belepotan cat.
Sheilla cuma ketawa, sementara Adrian pura-pura sibuk campur warna padahal kupingnya merah.
Pas lagi asyik ngecat bagian bawah tembok, Adrian nggak sengaja numpahin air ke celana Sheilla.
"Eh, sori Sheil! Aduh, ceroboh banget sih aku," Adrian panik, langsung ngambil kain buat ngeringin celana Sheilla.
Pas tangan Adrian nyentuh kakinya, Sheilla nggak tegang. Dulu, kalau Ardhito numpahin sesuatu ke dia, Ardhito bakal maki-maki karena Sheilla "nggak becus jaga jarak". Tapi Adrian? Dia malah panik sendiri karena takut Sheilla nggak nyaman.
"Nggak apa-apa, Yan. Cuma air, bukan air keras," canda Sheilla sambil megang tangan Adrian supaya cowok itu berhenti panik.
Adrian narik napas lega. Dia natap Sheilla, terus tiba-tiba dia ngomong pelan banget, cuma bisa didenger mereka berdua di tengah keramaian itu.
"Aku sayang kamu, Sheil. Bukan sebagai 'penyelamat' kamu, tapi karena kamu itu kamu. Yang kuat, yang pinter merangkai bunga, dan yang suka banget kopi susu gula aren."
Sheilla mematung. Ini bukan pengakuan pertama yang dia denger dalam hidupnya, tapi ini yang pertama yang rasanya bener-bener "sampai" ke hati tanpa ada embel-embel tuntutan.
Sheilla nggak jawab pakai kata-kata puitis. Dia cuma ngerapiin kerah kemeja Adrian yang agak miring, terus bisik balik, "Jangan telat lagi ya kalau mau nganter bubur ayam. Karena aku mulai suka nungguin kamu dateng tiap pagi."
Itu jawaban terbaik yang bisa Sheilla kasih. Dan buat Adrian, itu udah lebih dari cukup buat bikin dia ngerasa kayak menangin lotre triliunan rupiah.
--
Sore hari pas matahari mulai turun, muralnya udah jadi. Tembok yang tadinya kusam, sekarang penuh warna bunga-bunga dan matahari. Anak-anak yayasan kelihatan bangga banget sama hasil karya mereka.
Sheilla berdiri di pojok halaman, ngelihatin hasil kerja keras mereka. Adrian nyamperin, merangkul bahunya pelan. Kali ini, Sheilla nggak kaku. Dia nyenderin kepalanya di bahu Adrian.
"Ternyata hidup emang soal siapa yang nemenin kita ngecat tembok ya, Yan?" gumam Sheilla.
"Maksudnya?"
"Dulu, hidupku cuma soal gimana caranya nggak bikin tembok di sekelilingku retak. Sekarang, hidupku soal gimana caranya nambahin warna di tembok itu bareng kamu."
Adrian ngecup puncak kepala Sheilla lembut. "Dan kita bakal punya banyak warna lagi kedepannya, Sheil. Janji."
Malam itu, pas Sheilla pulang ke rumahnya yang sekarang udah separuh berwarna sage green, dia ngerasa rumah itu bener-bener "bernyawa". Dia sadar kalau penantiannya yang dulu emang pahit, tapi itu semua cuma cara Tuhan buat bilang kalau dia pantes dapet yang jauh lebih manis.
To Be Continue...
-- Hallo terimakasih sudah selalu memberikan support kepada Author, Sehat selalu untuk kalian semua ya. Dukung selalu Author setiap harinya, dan jangan lupa komen selalu agar author makin semangat buat uploadnya hihi --