Empat tahun Kevin Haris menjadi suami yang sah. Namun tidak pernah sekalipun mendapat giliran sebagai pria yang dipilih.
Ia menikah demi taruhan, lalu bertahan demi cinta. Sayangnya, istrinya hanya menjadikannya rumah, bukan tujuan. Di balik satu pintu tertutup, Kevin akhirnya paham. Kesetiaan yang terlalu lama ditunggu hanya akan menghabiskan harga diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Kelopak mata Iren perlahan terbuka. Pandangannya berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya ruangan, sementara ingatannya bergerak lambat menyusun kembali kejadian sebelum ia kehilangan kesadaran. Kepalanya terasa berat dan tubuhnya masih lemah, tetapi satu nama langsung terlintas di benaknya dan terucap hampir tanpa sadar.
“Kevin…”
Vano yang sejak tadi duduk menjaga di samping ranjang mendengar dengan jelas nama itu. Sejak Iren pingsan hingga akhirnya sadar, ia menunggu dengan harapan yang tak pernah ia ucapkan, namun yang pertama keluar dari bibir perempuan itu tetap nama suaminya. Ia menarik napas pelan, menenangkan diri, lalu mendekat dengan senyum yang dipaksakan.
“Iren, kamu sudah sadar? Aku benar-benar khawatir denganmu.”
Iren sedikit terkejut saat menyadari keberadaan Vano di ruangan itu. Ia menoleh dan mencoba duduk lebih tegak meskipun tubuhnya belum sepenuhnya pulih.
“Vano… kamu yang menjagaku?” tanyanya pelan, kemudian matanya bergerak mencari sosok lain yang tak ia temukan. “Lalu Kevin di mana?”
Ekspresi Vano sempat berubah sekilas sebelum kembali tenang. Dengan nada yang terdengar wajar, ia menjawab, “Jangan memikirkan suamimu sekarang. Setelah dokter menanganimu tadi, dia langsung pergi.”
Iren mengerutkan kening. Ia hampir tidak percaya. Selama ini, seburuk apa pun hubungan mereka, Kevin tidak pernah meninggalkannya dalam kondisi seperti ini. Bahkan sebelum kesadarannya benar-benar hilang, ia merasa ada seseorang yang menahan tubuhnya agar tidak terjatuh, dan dalam ingatannya itu adalah Kevin.
“Van, kamu tidak sedang berbohong, kan?” suaranya melemah tetapi penuh keyakinan. “Aku ingat tadi ada yang menolongku…”
Vano menatapnya lurus. “Aku yang membawamu ke IGD dan memastikan kamu segera ditangani dokter. Mungkin kamu masih setengah sadar, jadi ingatanmu tercampur.”
Iren terdiam. Ingatannya memang tidak utuh, tetapi perasaan bahwa Kevin berada di sana terasa begitu nyata.
“Jadi benar-benar bukan Kevin?” ulangnya pelan.
“Iren, sudah jangan dipikirkan lagi. Sekarang ada aku. Percayalah, aku akan menjagamu. Soal Kevin… mungkin dia masih punya urusan dengan wanita itu.”
Kalimat terakhir itu membuat dada Iren terasa sesak. Rasa penasaran yang sejak tadi ia tahan justru semakin membesar. Seluruh kota tahu hanya dirinya yang selama ini mampu membuat Kevin menunduk dan memujanya, tetapi kini seorang wanita lain berdiri di sisi pria itu, dan ia bahkan tidak tahu siapa sebenarnya perempuan tersebut.
Rasa nyeri menjalar di dadanya, napasnya terasa berat seolah ada sesuatu yang menghimpit.
Vano yang melihat perubahan di wajahnya hendak melanjutkan, “Jadi sebaiknya kamu—”
“Cukup, Van.” Iren memotong tegas. Tanpa berpikir panjang ia menarik jarum infus di tangannya. Cairan merah langsung merembes keluar, tetapi ia tidak menghiraukannya.
“Iren, apa kamu sudah gila? Kamu harus dirawat dulu. Dokter bilang kondisimu masih lemah,” ujar Vano, berusaha menahannya.
“Vano, aku harus menemui Kevin,” jawab Iren dengan napas yang masih tersengal namun penuh tekad. “Ini bukan hanya soal rumah tangga kami. Ini juga menyangkut perusahaan. Aku tidak mungkin diam saja.”
Baru saja ia hendak melangkah turun dari ranjang, pintu kamar perlahan terbuka. Fatwa masuk dengan wajah yang sulit ditebak, lalu berhenti beberapa langkah dari mereka.
“Untuk apa kamu mencarinya?” katanya tenang. “Hari ini ada surat dari pengadilan. Minggu depan akan ada sidang mediasi perceraian kalian.”
“Apa?” Iren menoleh cepat.
Fatwa menyerahkan amplop itu. Dengan tangan yang masih gemetar, Iren meraihnya dan segera membuka isinya. Matanya menelusuri setiap baris tulisan hingga berhenti pada satu bagian yang membuat napasnya tercekat. Di sana tertera tanda tangannya, jelas dan tidak terbantahkan, sebagai persetujuan atas gugatan perceraian tersebut.
“Ka… kapan aku menandatangani surat ini?” gumamnya pelan, seolah bertanya pada dirinya sendiri.
“Iren,” ujar Fatwa dengan nada yang terdengar puas, “Ibu pikir kamu akan terus mempertahankan lelaki tak berguna itu. Tapi ternyata kamu juga memilih menceraikannya. Untung saja kemarin Ibu sudah mengusir dia dari rumah tanpa membawa apa-apa.”
Ucapan itu membuat wajah Iren memucat. Ia menatap ibunya dengan mata yang mulai memerah.
“Bu… kenapa semuanya jadi seperti ini?” suaranya bergetar, dipenuhi penyesalan yang tak sempat ia sadari sebelumnya. “Kenapa, Bu?”
Surat itu terlepas dari genggamannya. Ia terduduk lemas di tepi ranjang, pikirannya berputar cepat mengingat kejadian beberapa waktu terakhir. Tanda tangan itu memang miliknya, tetapi ia tidak pernah merasa benar-benar menyetujui semuanya berakhir seperti ini.
“Habis sudah…” bisiknya lirih.
Fatwa dan Vano yang melihat kondisinya segera mendekat.
“Iren, bukankah ini yang terbaik?” kata Fatwa, mencoba meyakinkan. “Kamu bisa memulai lagi. Kamu juga bisa bersama Vano seperti dulu.”
Vano memanfaatkan momen itu untuk ikut berbicara, suaranya dibuat selembut mungkin. “Iren, aku akan menerimamu apa adanya. Kita bisa kembali seperti dulu, seperti sebelum semua ini terjadi.”
Namun Iren tidak langsung menjawab. Ia menatap kosong ke depan, seolah memikirkan kemungkinan terburuk jika Kevin mengambil semuanya. Namun, satu hal yang masih menjadi pertanyaan terbesarnya adalah bagaimana Kevin bisa melangkah sejauh ini. Apa mungkin wanita itu yang membantunya? Tapi siapa wanita itu?