NovelToon NovelToon
Anak Untuk Rayyan

Anak Untuk Rayyan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Nikahmuda / One Night Stand / Hamil di luar nikah / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ifah Latifah

"Gue lahirin anak lo, lo bawa dia pergi sama lo. Sementara gue pulang ke Papa dan pergi jauh dari sini. Kita lupain semua yang terjadi disini. Lo lanjutin hidup lo dan gue lanjutin hidup gue. Itu rencananya,” jelas Alana.

Entah bagaimana Alana bisa terbangun dalam sebuah kamar asing dengan seorang pria di sampingnya. Tapi bukan itu masalahnya.

Masalahnya, video mereka malam itu diputar di momen yang paling Alana tunggu setelah kelulusan yaitu penghargaan dirinya sebagai siswi paling berprestasi.

Cerita ini remake dari tulisanku Dalam Pelukan Dosa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifah Latifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 - Tangisan Malam

Rayyan duduk di meja kerja kecil yang menempel pada dinding. Cahaya layar laptop memantul jelas di wajahnya, membuat bagian bawah matanya terlihat sedikit gelap. Rambutnya sedikit berantakan karena beberapa kali dia mengusapnya saat berkonsentrasi. 

Di layar, desain grafis yang dia kerjakan masih setengah jalan. Warna-warnanya terang kontras dengan kamar yang redup.

Sesekali Rayyan mengetik cepat, lalu berhenti, memiringkan kepala sedikit, menilai hasilnya. Tangannya yang lain menahan dagu, tubuh condong ke depan.

Di ranjang, Alana terbaring miring. Punggungnya menghadap Rayyan. Selimut hanya menutupi sebagian tubuhnya. Napasnya pelan, tidak stabil seperti orang benar-benar tidur. Tangannya yang terlipat di bawah pipi tidak bergerak. Alana hanya rebah, membiarkan tubuhnya terletak di kasur dengan mata terpejam. 

Menjelang tengah malam, Rayyan akhirnya berhenti. Dia menggeser kursi mundur, suara gesekannya halus. Dia mengedip beberapa kali untuk merilekskan mata yang lelah, lalu menutup laptop perlahan. Kedua tangannya terangkat ke atas, meregang.

Rayyan naik ke ranjang tanpa membuat banyak suara. Kasur sedikit turun saat dia duduk, tapi Alana tidak bergerak. 

Rayyan merebahkan diri di samping Alana, menjaga jarak agar tidak mengganggu kenyamanannya.

Rayyan mematikan lampu kamar. Ruangan menjadi remang, menyisakan lampu tidur di nakas di sisi Rayyan.

Rayyan terlentang, menghadap langit-langit gelap. Kakinya sedikit bergerak mencari posisi nyaman, tangan kirinya ditaruh di atas perut. Rayyan memejamkan matanya.

Baru beberapa menit Rayyan memejamkan mata, suara kecil yang basah dan tertahan terdengar dari sebelahnya. Seperti seseorang yang berusaha keras menyembunyikan suara, tapi tetap bocor. 

Rayyan membuka mata perlahan. Fokusnya masih kabur, tapi telinganya jelas menangkap suara itu.

Isak pelan. Putus-putus.

Rayyan menghela napas pelan.

Sejak datang ke apartemen, Alana selalu menangis di jam yang sama. Dari tengah malam sampai menjelang subuh. Dia baru tidur karena ketiduran setelah lelah menangis.

Rayyan memiringkan badan. Punggung Alana terlihat jelas, membungkuk kecil. Bahunya naik-turun cepat. Lengan Alana memeluk dirinya sendiri dengan erat. Suara napas terisaknya terdengar jelas.

“Sampai kapan lo mau nangis tiap malem kayak gini, Na?” tanya Rayyan pelan.

Rayyan bangun, duduk bersandar pada tangan. Tatapannya tertuju pada bahu Alana yang bergetar pelan. 

“Lo bisa cerita ke gue, Na. Gue disini buat dengerin lo.” 

Tidak ada jawaban. Hanya napas Alana yang patah-patah. Tangisnya mengecil, seperti dia sengaja berusaha membuatnya hampir tak terdengar setelah tahu Rayyan sadar.

Rayyan mengulurkan tangan dan menyentuh lengan Alana, niatnya hanya ingin memintanya bangun. Tapi Alana menyingkirkan tangan itu cepat.

Rayyan menahan napas sejenak. Dengan satu tarikan lembut tapi tegas, Rayyan menarik tubuh Alana supaya duduk. Bukan menarik paksa, tapi cukup kuat untuk membuat Alana bangun.

Alana akhirnya duduk di depan Rayyan. Tapi dia mengalihkan pandangan, tidak ingin wajahnya terlihat oleh Rayyan. Rambut yang berantakan menutupi pipinya, tapi Rayyan bisa melihat bercak air mata yang masih basah di kulitnya.

“Gue udah cukup lama biarin lo. Gue pikir lo akan membaik sendiri.” 

 Rayyan menggeleng pelan. “Ternyata gue salah.”

Rayyan meraih kedua tangan Alana. Tangan Alana dingin, jari-jarinya kaku dan lemah, tidak menggenggam balik. Rayyan menggenggamnya lebih erat.

“Sekarang lo cerita. Kenapa? Apa yang lo rasain?”

Alana tetap menunduk. Bibirnya bergetar. Isakan kecil lolos, langsung ditahan lagi.

Rayyan mengusap punggung tangan Alana dengan ibu jarinya, mencoba membuatnya lebih rileks.

“Jangan diem aja, Na. Gue bukan cenayang yang bisa nebak perasaan lo.”

Alana menelan ludah. Dagu dan bahunya bergetar lagi. Tapi tetap tidak ada kata keluar.

Rayyan menghela napas, kali ini lebih panjang. Dia memiringkan kepalanya, mencoba menangkap tatapan Alana yang terus menghindar.

Rayyan melepaskan genggaman tangannya perlahan. Dia menarik napas pendek melalui hidung, kelihatan jelas kesabarannya semakin menipis.

“Lo nggak capek tiap malem nangis terus kayak gini?” Suara Rayyan terdengar semakin tidak sabar, seperti seseorang yang sudah berada di batas antara khawatir dan frustasi.

Alana tidak menjawab. Bibirnya tertutup rapat, rahangnya mengeras. Air mata masih menggantung di bulu matanya. Bahunya sedikit bergetar.

“Sekarang lo malah diem.” 

Rayyan menegakkan tubuh. Pandangannya tertuju penuh pada Alana. “Alana yang gue kenal nggak kayak gini.”

Rayyan mencondongkan tubuh sedikit, mencoba menangkap wajah Alana. “Yang gue tahu, seorang Alana itu kuat, nggak pernah nunduk dan menghindari tatapan orang lain. Lo yang bikin orang lain nunduk. Tapi sekarang? Lo justru sama sekali nggak berani natap mata gue.”

Jeda sejenak. Rayyan tetap mencari tatapan mata Alana.

“Kenapa? Lo malu? Gengsi nunjukin kalau lo selemah ini?”

Alana menoleh perlahan. Matanya yang basah, merah, dan berkaca-kaca, kini menatap Rayyan tajam.

“Tutup mulut lo.” Suaranya serak, tapi tetap mencoba terdengar tegas.

“Gue cuma ngomong fakta,” jawab Rayyan dengan penuh penekanan, meniru kalimat yang biasa Alana katakan.

“Faktanya ternyata lo nggak sekuat itu. Lo lemah. Sepanjang hari lo nggak ngelakuin apapun.”

Alana menatapnya lebih tajam. “Nggak ada yang bisa gue lakuin sekarang,” balas Alana. Suaranya bergetar halus.

“Kenapa? Apa karena sekarang lo bukan lagi pusat dunia? Apa karena sekarang lo bukan lagi putri pemilik yayasan yang diagungkan semua orang? Apa karena sekarang lo nggak hidup di bawah harta kekayaan bokap lo? Makanya lo nggak bisa apa-apa?”

Alana mendongak, napasnya tersengal marah. “Jaga ucapan lo, Ray!”

“Gue cuma ngomong fakta,” jawab Rayyan semakin tajam.

Alana mengepalkan ujung sprei, jemarinya gemetar menahan emosi. “Lo pikir gue kayak gini cuma karena itu? Hidup gue hancur, Rayyan! Gue kehilangan semuanya!”

Air mata Alana kembali turun tanpa mampu ditahan.

“Emang kenapa kalau dunia lo hancur? Yang hancur dunia lo, bukan diri lo.” 

Rayyan mencondongkan tubuh lagi. “Tapi sekarang lo justru hancurin diri lo sendiri.”

Alana menggeleng cepat. Suaranya naik.

“Lo pikir gue mau kayak gini?” 

“Kalau lo nggak mau, ayo bangun!” balas Rayyan cepat.

“Sepanjang hari cuma diem kayak zombie, terus lo nangis sepanjang malem sampai subuh. Apa lo pernah sekali aja lo ngaca? Pernah lihat betapa menyedihkannya lo sekarang?”

Alana langsung pecah. Isaknya keras, bukan lagi yang biasa dia tahan sepanjang malam. Tangannya menutupi separuh wajah, bahunya turun naik.

“Gampang buat lo ngomong gitu. Karena lo nggak ngerasain apa yang gue rasain!”

Napasnya tersendat.

“Gue capek, Rayyan… gue capek. Tiap bangun gue nggak tahu harus ngapain. Dulu semua jelas. Sekarang berantakan. Kosong. Gue benci rasanya.”

Tangannya jatuh ke pangkuan, lemas. “Semua orang pergi. Papa tinggalin gue. Mas Rangga tinggalin gue. Nama baik gue hilang. Masa depan gue hancur.”

Air mata Alana turun semakin deras. “Semua yang gue lakuin selama ini sia-sia. Gue gagal. Gue hancur. Gue takut… gue bener-bener takut. Gue nggak tahu cara hidup kayak gini. Gue nggak tahu harus jadi siapa sekarang.”

Rayyan yang tadi tegang akhirnya menurunkan bahunya pelan. Dia mendekat, menghela napas panjang untuk menurunkan emosinya sendiri.

“Lo nggak bisa selalu kontrol dunia, Na. Ada hal-hal yang emang di luar kendali lo. Tapi satu hal yang bisa lo kontrol… itu diri lo sendiri.”

Alana mengusap wajah dengan gerakan gemetar, tapi air matanya tetap jatuh lagi.

Rayyan menurunkan volume suaranya. “Kalau dunia lo hancur, tapi lo masih tegar… dunia itu bakal balik pelan-pelan.”

“Gue nggak bisa. Gue kira gue sanggup, tapi ternyata enggak. Semua ini berat.”

Rayyan tersenyum lembut. “Alana yang gue tahu itu selalu percaya diri. Selalu berdiri paling kokoh setiap orang lain nyoba nurunin lo. Lo selalu bisa berdiri sampai paling akhir.”

Dia tersenyum tipis, sedikit mengenang. “Lo lupa tiap gue debat sama lo, gue selalu kalah? Lo lupa gimana banyak orang kehabisan kata-kata di depan lo?”

Wajah Alana makin kacau, tapi dia mendengarkan.

“Lo nggak inget lo cewek paling cerdas di sekolah. Bukan cuma di sekolah, di luar juga.”

Rayyan mengangkat bahunya. “Setiap lo ikut lomba, atau apapun itu, lo selalu pulang bawa piala, walaupun nggak selalu juara satu.”

Alana menyela pelan, suaranya serak. “Itu dulu… waktu gue punya segalanya. Sekarang gue udah nggak punya apa-apa.”

Rayyan menggeleng, menatapnya tanpa ragu. “Lo punya diri lo sendiri.”

Alana menatapnya, bingung, sedih, marah, semua bercampur.

Rayyan memegang kedua bahu Alana, menatapnya lekat. “Lo tanya harus jadi siapa sekarang? Lo tetap harus jadi diri lo sendiri.”

Alana terdiam, menatap manik mata Rayyan. Tatapan itu penuh keyakinan.

“Lo pikir lo bisa dapet semua itu cuma karena lo putri pemilik yayasan? Enggak. Lo dapetin semua itu karena kerja keras lo, karena usaha lo. Karena lo selalu berani dan yakin sama diri lo sendiri. Karena lo Alana.”

Rayyan menatap langsung ke matanya.

“Alana Putri Atmadja.”

Tangis Alana pecah. Tubuhnya sedikit membungkuk ke depan, tidak mampu menahan berat emosinya.

Rayyan langsung menarik Alana ke pelukannya. Gerakannya hati-hati. Tangannya mengusap punggung Alana perlahan dengan ritme teratur.

Alana menangis keras di bahunya.

“Lo boleh nangis, boleh banget. Nggak masalah lo nangis. Nggak papa orang lain lihat lo nangis, karena lo manusia. Lo punya hati.”

Alana menggenggam kaos Rayyan, seolah akhirnya menemukan sesuatu untuk pegangan.

“Keluarin aja semua sekarang. Tangis, marah, kecewa, semuanya. Tapi jangan berlarut-larut lagi. Gue nggak mau lihat lo nangis lagi malem-malem.”

Rayyan menatap puncak kepala Alana sambil memeluknya lebih erat.

“Karena Alana yang gue kenal itu perempuan kuat dan tangguh.” 

...----------------...

1
Nadiaaa
kpn up lagi kak
Chillzilla: nanti kak🤗
total 1 replies
Retno Harningsih
up
Nadiaaa
doubel up kk🤭
Chillzilla: yahhh udah aku set satu² kak😁
total 1 replies
Nadiaaa
semangat nulisnya kak 💪 lanjut terus sampe tamat💗
Chillzilla: makasih kak🤗🤗
total 1 replies
Nadiaaa
👍
Nadiaaa
kpn lanjut kak
Chillzilla: nanti sore kakk
total 1 replies
Nadiaaa
suka❤️‍🔥
Nadiaaa
lanjut
Nadiaaa
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!