NovelToon NovelToon
CINTA PEWARIS DAN GADIS YATIM PIATU

CINTA PEWARIS DAN GADIS YATIM PIATU

Status: sedang berlangsung
Genre:Rumahhantu / Sistem / Cintapertama / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aulia risti

Elara Wynther, seorang gadis yatim dari pinggiran kota Firenze, tak pernah membayangkan hidupnya akan bersinggungan dengan dunia gemerlap kaum bangsawan. Hidupnya sederhana, penuh luka kehilangan, tapi hatinya tetap bersih.
Di sisi lain, Lucien Kaelmont, pewaris tunggal keluarga Kaelmont yang kaya raya, tumbuh dengan beban besar. Kehidupan mewahnya hanya terlihat indah dari luar, sementara di dalam dia merasa hampa dengan kehidupan yang sudah ditentukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia risti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Arti seni

Sore menjelang malam. Marquis Lucein memilih kembali ke mansion pribadinya dengan berjalan kaki. Dia berjalan menyusuri jalur taman belakang—jalur yang jarang dilewati siapa pun selain dirinya sendiri.

Di tengah keheningan itu, pandangan Lucein tertarik pada sebuah siluet di antara cabang pohon tua.

Seseorang… duduk di atasnya.

Lucien berhenti melangkah. Pria menyipitkan mata, memperhatikan lebih saksama. Gadis itu bersandar pada batang pohon, sebuah buku terbuka di tangannya. Rambutnya terurai pelan tertiup angin.

“Elara,” ucapnya akhirnya, nada suaranya datar namun tegas.

Elara tersentak. Buku di tangannya hampir terlepas.

“T-Tuan Marquis?”

Elara menjadi gugup.

“Maaf, aku tidak bermaksud—Aku… aku akan turun,” ucapnya cepat, merasa posisinya tidak pantas.

Elara menelan ludah, lalu cepat-cepat menuruni batang pohon dengan tergesa-gesa, pada akhirnya karena tidak hati-hati Elara hampir saja terjatuh,

“Aa—!”

Untunglah dalam hitungan detik, Lucein melangkah cepat dan menangkap tubuhnya.

Elara terjatuh tepat di dadanya. Tubuh mereka bertubrukan, cukup keras untuk membuat Lucein mundur setengah langkah.

Untuk sesaat, dunia seolah berhenti.

Wajah mereka berjarak sangat dekat. Mata Elara membelalak, sementara Lucein menatapnya tanpa ekspresi.

“Apakah kau terluka?” tanya Lucein rendah.

Elara menelan ludah.

“Tidak, Tuan.”

Kesadaran menghantamnya. Elara segera menepis perlahan dan menjauh.

“Maafkan aku, Tuan Marquis,” ucapnya cepat sambil menunduk.

“Aku ceroboh.”

Lucein merapikan mantel hitamnya.

“Kau seharusnya lebih berhati-hati.”

“Iya, Tuan.”

Pandangan Lucein tiba-tiba jatuh pada buku di tangan Elara.

“Buku apa itu?” katanya.

Elara terkejut.

“Ini buku tentang seni.”

“Seni?” Lucein mengulang.

“Risalah tentang lukisan dan komposisi warna,” jelas Elara.

“Aku meminjamnya dari perpustakaan lama.”

Lucein mengangguk tipis.

“Minat yang tidak lazim.”

“Aku hanya… menyukainya.” Jawab Elara tanpa ragu.

Sebelum percakapan berlanjut, suara gemuruh terdengar di kejauhan.

Langit yang semula cerah mendadak menggelap.

Tetesan air hujan jatuh satu per satu.

Elara menoleh ke atas.

“Hujan…”

Dalam hitungan detik, hujan turun deras.

“Kau akan basah jika tetap berdiri di sini, Berteduhlah.” ucap Lucein singkat sambil berlari kearah paviliun yang tak jauh dari tempat mereka.

Elara ragu sejenak, lalu mengikutinya.

Mereka berteduh di bawah atap paviliun. Hujan menghantam atap, menciptakan suara riuh yang memutus keheningan.

Elara berdiri sedikit menjauh, memeluk bukunya.

“Mengapa kau suka seni?” tanya Lucien tiba-tiba.

Elara menoleh.

“Ehm...Karena menurutku seni adalah bentuk ekspresi paling jujur. Sebuah cara untuk berbicara tanpa suara.”

Lucein menatap hujan di luar paviliun.

“Berbicara tanpa suara?”

“Perasaan, hal-hal yang tidak selalu bisa diucapkan.” jawab

Mendengar perkataan Elara, entah mengapa membuat Lucein tiba-tiba terdiam beberapa detik,

“Menurutmu..Apakah perasaan pantas menentukan jalan seseorang?” tanyanya.

Elara ragu untuk menjawab tapi ia tetap berkata.

“Mungkin tidak selalu.. Namun hidup tanpa perasaan… bukankah terasa terlalu hampa, tuan?”

Lucein tersenyum tipis—nyaris tak terlihat.

“Pendapat yang berani.”

“Aku mohon maaf jika ucapanku lancang.”

“Tidak. Kau hanya terlalu jujur.” Katanya, entah itu sebuah pujian atau bukan, tapi cukup membuat Elara tersenyum tipis.

Hujan mulai mereda. Lucein melirik Elara berada disampingnya, masih dengan posisi yang sama, memeluk erat bukunya..

“Kau bisa kembali sekarang. Hujannya sudah reda” kata lucien.

"Baik Tuan. Terima kasih, sudah membiarkan aku berteduh disini.”

Elara membungkuk hormat dan melangkah pergi.

Lucein berdiri sendiri di bawah paviliun.

Pandangan pria itu tertuju ke arah jalan setapak tempat Elara menghilang.

Namun hidup tanpa perasaan… bukankah terasa terlalu hampa, tuan?

Lucein mengernyit, tersenyum tipis.

Perasaan.

Kata yang selalu dianggapnya sebagai kelemahan. Sesuatu yang harus dikekang demi kestabilan wilayah, demi garis keturunan Kaelmont, demi nama besar yang diwariskan kepadanya sejak lahir.

Namun untuk pertama kalinya, pertanyaan Elara membuat nya goyah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!