Citra tak pernah menduga akan terjerat asmara dengan mantan kakak iparnya, Bima. Bima adalah kakak tiri Bayu, mantan suami Citra.
Rumah tangga Citra dan Bayu hanya bertahan selama dua tahun. Campur tangan Arini, ibu kandung Bayu membuat keharmonisan rumah tangga mereka kandas di tengah jalan.
Akankah Citra menerima Bima dan kembali masuk dalam lingkungan keluarga mantan suaminya dulu? Bagaimana juga reaksi Bayu juga Arini ketika mengetahui Bima menjalin asmara dengan Citra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Warisan Motor
Sepulang dari Bogor, malam harinya Citra berkunjung ke rumah Vera. Dia sudah tak sabar ingin bercerita pada sahabatnya itu soal rencana Bima yang ingin mempersuntingnya.
Kepada Vera, Citra memaparkan semua apa yang dilakukan Bima selama mereka di Bogor terkecuali soal genggaman dan pelukan spontan Bima terhadapnya.
Citra memang sangat nyaman bertukar pikiran dengan Vera, menceritakan apa yang tidak bisa ia ceritakan pada keluarganya.
"Jadi, dia sudah mengenal keluargamu di Bogor? Tanggapan Uwa-mu di sana welcome ke dia?" tanya Vera setelah mendengar cerita Citra.
"Dia pandai memikat hati ibuku dan keluargaku, Ver." Citra membenarkan.
"Tapi, sulit memikat hatimu?" ledek Vera dengan terkekeh.
"Dia masih terikat keluarga dengan Bayu, itu yang aku khawatirkan," sahut Citra.
"Orang tua kamu belum tahu siapa pria itu?"
Citra dan Vera menoleh ke belakangnya, ketika mendengar suara Fian yang baru saja membawa masuk anaknya yang tertidur ke kamar.
"Belum, Yan. Aku takut orang tuaku marah kalau tahu aku dekat dengan Mas Bima padahal aku sendiri tahu kalau Mas Bima itu kakak tiri Bayu." Citra beralasan.
"Kalau dia serius sama kamu, apa pun reaksi ibu dan keluargamu, dia harus siap menghadapinya." Fian berpendapat, bagaimana seharusnya seorang pria sejati bersikap.
"Mas Bima juga ingin mengakui itu kemarin di hadapan ibu dan Uwa Ujang sama Uwa Ninik, Yan. Tapi, aku larang karena aku takut mereka langsung mengusir Mas Bima." Mungkin Citra terlalu berlebihan, tapi dia memang takut reaksi keluarganya akan menyinggung Bima.
"Justru itu ujian yang mesti dia lalui, Cit. Kalau ibu dan Uwa-mu menolak, dia bisa membuktikan kesungguhannya terhadap kamu. Tapi, kalau dia menyerah, artinya dia nggak serius menginginkan kamu." Vera mendukung Citra dan Bima terbuka soal status Bima agar mereka lebih tenang menjalaninya. Dia khawatir keluarga Citra justru tahu dari orang lain dan itu akan mengecewakan keluarga Citra sendiri.
"Coba deh, ajak dia main ke sini, Cit. Atau kita double date aja weekend nanti, biar kita juga bisa kasih masukan." Fian menyarankan mereka berempat berdiskusi agar dia dan Vera lebih mengenal Bima.
"Nah, aku setuju ini. Coba kenalin ke kita, Cit. Jangan sama keluarga kamu aja dekatnya, sama sahabatmu ini juga harus bisa akrab, dong!" Vera setuju dengan saran suaminya untuk bertemu dengan Bima.
"Double date? Aku mesti ajak dia gitu?" Citra mengedikkan bahunya, enggan mengajak Bima pergi malam Minggu, khawatir dianggap dia yang menginginkan berkencan dengan Bima.
"Hahaha, jangan gengsi-gengsi amat deh, Cit. Nggak apa-apa ajakin dia ketemuan sama kita. Aku yakin malam Minggu nanti dia juga pasti akan ajak kamu keluar, kan?" Vera menyuruh Citra menurunkan gengsi-nya. Semua itu demi kebahagiaan Citra kelak. Jika Bima memang pria yang tepat, akan rugi seandainya Citra mengabaikan Bima.
"Vera benar, Cit. Kamu juga harus punya keberanian untuk menyambut kebahagiaan dan masa depan kamu. Sampai kapan kamu mau sendirian gini terus?" Fian menyemangati Citra agar lebih berani bertindak dan tidak menjadikan kegagalan masa lalunya sebagai penghalang bagi Citra untuk menggapai masa depannya.
Hempasan nafas Citra terdengar keras. Dia seperti sedang dikeroyok pasangan suami istri itu. Vera yang awalnya melarang dirinya berdekatan dengan Bima, kini justru mendukung karena melihat keseriusan pria itu dalam mendekati keluarganya.
"Okelah." Terpaksa Citra menyetujui permintaan kedua sahabatnya untuk double date malam Minggu nanti.
***
Teett
Suara bel pintu rumah Citra berbunyi, sepertinya ada tamu yang berkunjung ke rumah itu di pagi hari ini.
Saat ini waktu menunjukkan pukul 07.15 menit. Ibu Nurul sibuk di dapur sementara Citra dan Ambar sibuk bersiap di kamar masing-masing hendak berangkat ke kantor dan kampus.
"Siapa yang bertamu pagi-pagi gini?" gumam Citra seraya membentuk alis dengan pensil alis berwarna dark brown.
"Mbar, coba lihat siapa itu!" Suara Ibu Nurul dari arah dapur terdengar menyuruh anak bungsunya mengecek siapa yang berkunjung ke rumah mereka.
"Bentar, Bu! Lagi tanggung!" sahut Ambar yang sedang memakai maskara di bulu matanya.
"Lihat dulu, Mbar. Kasian harus nunggu!" Ibu Nurul kembali memberi perintah, karena sang anak tidak segera bertindak.
Citra meletakkan pensil alis yang sudah selesai ia pakai dan berjalan menuju ruangan depan, karena Ambar menunda apa yang diperintahkan oleh ibu mereka.
"Biar Citra saja, Bu!" ucap Citra ketika melihat sang ibu keluar dari dapur.
Ibu Nurul mengubah arah langkahnya menuju kamar Ambar.
"Kamu ini kalau disuruh cepat jalan dong, Mbar! Tuh, lihat! Mbak kamu yang bukain pintu, nanti Mbak-mu marah lagi." Ibu Nurul menegur Ambar yang tidak gerak cepat ketika diperintah.
"Kalau Mbak Citra ngomel-ngomel 'kan nggak aneh, Bu. Udah jadi makanan sehari-hari." Ambar menyahuti dengan menyeringai.
Ibu Nurul menggelengkan kepala mendengar jawaban Ambar dan memilih kembali ke dapur.
Sementara itu di teras rumah, Citra terkejut ketika melihat sosok Bima yang terlihat dalam pandangannya ketika pintu pagar terbuka.
"Mas Bima?"
"Assalamualaikum ..." sapa Bima dengan mengembangkan senyuman di bibirnya.
"Ummm, waalaikumsalam ... Ada apa Mas kemari?" Belum mempersilakan Bima masuk, Citra sudah menod0ng pria itu dengan pertanyaan.
"Saya ingin antar kamu ke kantor." Bima bersikap, tak perduli Citra menyukainya atau tidak.
"Tapi, saya naik motor, Mas." Citra memang terbiasa membawa kendaraan sendiri ketika bekerja, bahkan saat menjadi istri Bayu pun dia selalu ke kantor menggunakan motornya.
"Kalau begitu mulai sekarang kamu saya antar jemput ke kantor! Boleh saya masuk?" tanyanya karena tak juga dipersilakan masuk oleh Citra.
"Oh, silakan ..." Citra memperlebar pintu pagar terbuka dan mempersilakan Bima masuk, sementara matanya mengedar pandangan ke luar rumahnya, khawatir tetangga ada yang melihat kedatangan Bima dan menggunjingkannya nanti.
"Mas nggak usah repot-repot antar jemput saya. Saya sudah terbiasa naik motor kalau ke kantor." Citra menyusul Bima yang mendahuluinya ke dalam rumah, sementara dirinya tadi sibuk tengak-tengok memperhatikan situasi di sekitar rumahnya.
"Saya tidak repot! Apalagi sekarang ini musim hujan, daripada kamu kehujanan, lebih baik kamu ikut saya pakai mobil," balas Bima. Citra seolah lupa jika Bima pantang ditolak.
"Eh, ada Mas Bima." Ambar yang sudah bersiap berangkat ke kampus muncul di ruangan tamu. "Mau jemput Mbak Citra, ya? Sekalian antar aku juga nggak, nih, Mas?" Ambar saja dapat menebak tujuan Bima datang ke rumahnya pasti ingin mengantar Citra ke kantor.
"Kamu pakai ojol saja! Mas Bima nanti telat ke kantor!" Citra melarang adiknya ikut, karena makin merepotkan Bima.
"Ya sudah, aku pakai motor Mbak aja, deh. Mana kuncinya?" Tahu motor kakaknya menganggur karena Citra akan ikut dengan Bima, Ambar meminjam motor sang kakak untuk ia pakai ke kampus.
"Nggak, nggak! Kamu nggak punya SIM!" Dengan tegas Citra melarang.
"Ya sudah, buatin aku SIM dong, Mbak. Biar aku tenang bawa motornya." Ambar malah minta sang kakak membuatkannya Surat Izin Mengemudi.
"Ngapain minta bikin SIM? Motornya aja nggak punya!" Terang saja Citra menolak, karena merasa adiknya tak membutuhkan SIM saat ini, sebab Ambar tidak mempunyai kendaraan sendiri.
"Lho, motornya Mbak Citra sebentar lagi 'kan mau diwaris ke aku. Mbak 'kan sekarang ada supir pribadi, Mas Bima. Iya, kan, Mas!?" celetuk Ambar dengan terkekeh menoleh pada Bima.
Bima tersenyum seraya menganggukkan kepala mendengarkan perdebatan kakak beradik itu. Selama mendampingi keluarga Citra ke Bogor dia sudah terbiasa mendengar Citra dan Ambar saling beradu argumen.
"Nggak usah macam-macam, deh!" Citra mendelik dengan sedikit menghardik.
"Yaelah, cuma minta dua macam aja, bikin SIM sama warisan motor aja dibilang macam-macam!" Ambar meledek dengan menjulurkan lidahnya. "Aku berangkat aja deh! Aku duluan ya Mas Bima." Ambar bersalaman dengan Citra dan Bima bergantian.
"Kamu naik apa ke kampus?" tanya Bima.
"Pakai ojol, Mas. Bentar lagi juga nyampe ojolnya," sahut Ambar.
"Kamu bisa naik motor?" tanya Bima.
"Bisa, dong!"
"Kalau begitu nanti saya suruh kenalan saya untuk bantu kamu urus bikin SIM. Nanti biaya biar saya yang bayar." Apa pun akan dilakukan Bima untuk mengambil hati keluarga Citra dan saat ini ia menemukan jalan untuk semakin disukai oleh keluarga Citra.
"Asyik!!"
"Nggak usah, Mas! Jangan!"
Ambar dan Citra bereaksi berbeda atas rencana Bima membuatkan SIM untuk Ambar.
❤️❤️❤️
woooooy kamu itu udah mantaaan yaah
mantan buang pada tempatnya
tempat nya tong sampah
semoga bima sama citra tdk terpengaruh...
sepicik itu pikiran Arini terhadap Citra?
Ayo Bima lindungi Citra dari niat jahat Arini
kamu emang the best