"Dia mencintaiku untuk sebuah taruhan. Aku menghancurkannya untuk sebuah keadilan."
Kirana percaya bahwa Arka Mahendra adalah pelabuhan terakhirnya. Di pelukan pria itu, ia merasa aman, hingga sebuah malam di pesta megah mengoyak dunianya. Di balik tawa mahal dan denting gelas sampanye, Kirana mendengar kenyataan pahit, cintanya hanyalah sebuah objek taruhan, dan harga dirinya hanyalah alat untuk memenangkan kontrak bisnis keluarga Mahendra.
Dikhianati, dipermalukan, dan dibuang hingga ke titik nol tak membuat Kirana menyerah. Ia menghilang, mengubur gadis naif yang penuh cinta, dan terlahir kembali sebagai wanita sedingin es yang haus akan pembalasan.
Tiga tahun kemudian, ia kembali. Bukan untuk memohon maaf, tapi untuk mengambil setiap keping kekayaan, kehormatan, dan kewarasan pria yang telah menghancurkannya.
Selamat datang di Cerita Kirana, di mana cinta adalah racun dan pengkhianatan adalah senjatanya.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Langit Jakarta malam itu berwarna ungu pekat, seolah sedang menahan napas sebelum badai besar melanda. Di ballroom Grand Hyatt, kemewahan terasa mencekik. Arka dan Kirana tidak lagi bersembunyi. Pesta ini bukan perayaan, ini adalah umpan bagi penembak jitu yang mengincar mereka.
Tema Masquerade adalah ironi yang sempurna. Bagi Kirana, sepanjang hidupnya ia merasa semua orang selalu mengenakan topeng untuk bertahan hidup.
Ia menatap pantulannya di cermin ruang ganti. Gaun couture merah menyala itu membalut tubuhnya layaknya kulit kedua, dengan belahan tinggi yang memamerkan kaki jenjangnya. Topeng perak menutupi separuh wajah, menyisakan bibir merah gelap yang terkatup tegas.
Pintu terbuka. Arka masuk dengan tuksedo hitam. Topeng kulit di wajahnya membuatnya tampak seperti ksatria kegelapan yang siap berperang.
"Kau berbahaya malam ini, Ratu," bisik Arka, melingkarkan tangan di pinggang Kirana hingga punggung wanita itu menempel di dadanya.
Kirana menatap bayangan mereka. Merah dan hitam. "Apa kau yakin rencana gila ini akan berhasil?"
Arka mencium bahu Kirana yang terbuka, sebuah sentuhan yang mengirimkan gelombang listrik ke sarafnya. "Musuh kita haus perhatian. Kita akan memberi mereka pertunjukan yang tidak akan mereka lupakan."
Arka memutar tubuh Kirana, menatapnya lurus. "Jangan lepas liontin itu. Dan jangan pernah berada lebih dari sepuluh langkah dariku."
Suara biola dramatis menyambut mereka saat melangkah ke ballroom. Ratusan tamu bertopeng berputar dalam mozaik warna yang membingungkan. Kirana bisa merasakan puluhan pasang mata mengintai di balik lubang topeng.
Arka menariknya ke lantai dansa. Mereka berdansa mengikuti irama Waltz yang cepat. Gerakan Arka dominan, posesif, seolah ingin menunjukkan pada dunia siapa pemilik wanita di pelukannya.
"Kau merasakannya?" bisik Kirana. "Seseorang di balkon barat tidak berhenti menatap."
"Jangan menoleh," perintah Arka pelan. Tangannya merayap di punggung terbuka Kirana, menekannya agar merapat. "Nikmati saja. Biarkan mereka melihat kita tidak peduli."
Ketegangan di antara mereka memuncak. Di tengah putaran yang intim, napas mereka beradu.
"Jika kacau, lari ke lift kanan panggung. Dion ada di sana," bisik Arka, sebelum mencuri ciuman kilat, janji setia yang tersembunyi di balik topeng.
Tiba-tiba, lampu padam serentak. Musik mati. Satu lampu sorot menyala, menghantam sebuah kotak besar terbungkus kain hitam di panggung. Seorang pria bertopeng badut melangkah masuk. Suaranya dimodifikasi hingga terdengar seperti robot yang dingin.
"Hadiah untuk Sang Serigala dan Sang Ratu."
Kain ditarik. Di dalam kotak kaca, sebuah manekin mengenakan gaun merah yang persis milik Kirana berdiri kaku. Tubuhnya penuh lubang tembakan dengan cairan merah yang masih menetes. Di lehernya, tergantung replika liontin Arka.
Pesta berubah jadi histeria massal. Para tamu berlarian mencari pintu keluar.
"Dion! Amankan dia!" teriak Arka sambil merogoh senjata.
Dalam kegelapan yang kembali melanda, sebuah tangan kasar membekap mulut Kirana. Aroma kloroform menyengat indranya. Kirana meronta, menyikut perut penculiknya, namun tenaga pria itu terlalu terlatih. Ia ditarik paksa ke lorong servis yang gelap.
Arka menerjang kerumunan seperti predator yang kehilangan buruannya. Ia melihat sekilas kain merah gaun Kirana menghilang di balik pintu besi ruang mesin.
Di dalam ruangan yang panas dan bising oleh generator, Kirana berhasil menendang tulang kering penculiknya dengan tumit sepatunya yang tajam. Ia berlari di antara pipa uap yang mendesis.
"Kau tidak bisa lari! Kau kunci data untuk menghancurkan Mahendra!" teriak pria itu sambil melepas topeng badutnya, menampakkan wajah dengan bekas luka bakar di leher.
Sebuah tembakan mengenai pipa uap di samping kepala Kirana. Uap panas menyembur, menutupi pandangan. Sang penculik mendekat dengan pisau lipat taktis yang berkilau.
"Serahkan liontin itu, atau kupotong lehermu di tempat kotor ini."
"Langkah yang salah, Kawan," suara Arka bergema dari balik uap, sedingin es.
Arka muncul seperti iblis yang merangkak dari neraka. Tanpa pistol, ia menggunakan tangan kosong. Perkelahian itu brutal. Arka menghantamkan tubuh pria itu ke pipa besi berkali-kali. Suara tulang retak tenggelam oleh deru mesin.
"Jangan... pernah... menyentuh... milikku!" Arka terus memukul hingga wajah pria itu hancur.
Setelah lawan tak bergerak, Arka berlutut di depan Kirana yang terduduk lemas. Wajah Arka penuh keringat dan noda darah.
"Kau terluka?" tanyanya, suaranya bergetar karena rasa takut yang langka ia tunjukkan.
Kirana menggeleng, air matanya jatuh menembus debu di pipinya. Ia menarik kerah Arka dan menciumnya keras, sebuah ciuman yang penuh syukur dan gairah yang meluap.
"Aku pikir aku akan kehilanganmu," bisik Kirana di sela tangisnya.
Arka membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama. "Tidak akan. Bahkan jika aku harus membakar kota ini untuk menemukanmu."
Arka kemudian memeriksa saku penculik dan menemukan alat komunikasi yang masih aktif. Sebuah suara yang mereka kenal terdengar dari sana.
"Arka... kau hebat. Tapi permainan baru dimulai. Roy hanyalah pion."
Kirana menatap Arka dengan ngeri. "Siapa itu?"
Arka mengeras, rahangnya menonjol. "Suara paman kandungku. Surya Mahendra II. Orang yang seharusnya sudah mati sepuluh tahun lalu."
Musuh mereka bukan lagi orang asing, melainkan darah daging Arka sendiri. Arka berdiri, menyampirkan jas tuksedonya ke bahu Kirana yang kedinginan.
"Pesta selesai, Kirana. Sekarang, kita mulai perburuan yang sesungguhnya."
Di luar, sirene polisi mendekat, namun di dalam dada mereka, api dendam baru saja berkobar lebih panas dari sebelumnya.
...----------------...
Next Episode....