Selina Saraswati, dokter muda baru lulus, tiba-tiba dijodohkan dengan Raden Adipati Wijaya — pria tampan yang terkenal sebagai pengangguran abadi dan kerap ditolak banyak perempuan.
Semua orang bertanya-tanya mengapa Selina harus dijodohkan dengannya. Namun kejutan terbesar terjadi saat akad: Raden Adipati menyerahkan mahar lima miliar rupiah.
Dari mana pria pengangguran itu mendapatkan uang sebanyak itu?
Siapa sebenarnya Raden Adipati Wijaya — lelaki misterius yang tampak biasa, tapi menyimpan rahasia besar di balik senyum santainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengambil hati suami
Adipati kembali mengambil ponselnya. Alisnya sedikit berkerut saat melihat notifikasi Instagram yang masih terbuka.
Ia menghela napas pelan.
“Gara-gara pesan ini kamu jadi berubah, ya?”
Selina langsung menggeleng.
“Bukan, Mas.”
Adipati melangkah mendekat.
“Jangan bohong sama Mas.”
Tangannya terangkat, memegang dagu Selina dengan lembut, memaksanya menatap lurus ke matanya. Tatapan Adipati dalam, tenang, tapi tegas.
“Mas bisa lihat dari mata kamu.”
Selina menahan napas.
“Aku cuma kaget, Mas.”
Adipati tak berkata apa-apa. Ia mendekat, bibirnya menyentuh bibir Selina ciuman semakin dalam. Selina menikmati setiap sentuhan Adipati, jantungnya berdegup tak beraturan.
Beberapa detik kemudian Selina refleks mendorong pelan dada Adipati.
“Mas…”
Adipati langsung menjauh.
“Maaf.”
Nada suaranya menyesal.
“Mas kebablasan.”
Ia mengusap wajahnya sendiri, lalu menatap Selina lagi, kini dengan senyum tipis yang menenangkan.
“Jangan kamu pikirin omongan orang.”
Suaranya rendah.
“Yang jalanin pernikahan ini aku sama kamu, bukan mereka.”
Ia menunduk sedikit, berbisik di dekat telinga Selina.
“Wajar aja kalau suami kamu ini banyak yang naksir.”
Selina mendengus kecil.
“PD banget kamu, Mas.”
Adipati terkekeh.
“Tapi emang ganteng, kan?”
Selina tak menjawab, hanya memalingkan wajah sambil menahan senyum.
Adipati melangkah ke pintu.
“Mas ke luar sebentar.”
Pintu tertutup.
Selina terduduk di ranjang, dadanya masih naik turun.
PD banget… tapi emang ganteng sih, batinnya.
Aku nggak boleh kehilangan dia.
Bukan cuma soal perasaan… koasku, hidupku… tanpa Mas Adipati aku nggak tahu harus gimana.
Ketukan terdengar di pintu.
“Tok… tok…”
“Masuk, Bu.”
Sri menyembulkan kepala.
“Sel, katanya kamu mau diajakin makan di luar sama Adipati?”
“Iya, Bu.”
Sri tersenyum lebar.
“Nah, dandan yang cantik. Kamu itu harus bisa ambil hati suami kamu.”
Selina mendengus.
“Ibu jangan nakut-nakutin aku.”
Sri duduk di tepi ranjang.
“Ini bukan nakut-nakutin. Ibu denger gosip, banyak yang nungguin duda Adipati.”
Selina terkejut.
“Duda?”
“Iya.” Sri terkekeh.
“Bahkan ada yang rela jadi istri kedua."
Selina menghela napas.
“Pasti karena mahar kemarin, ya, Bu.”
Sri mengangguk mantap.
“Lima miliar sama satu set berlian, Sel. Siapa yang nggak tergiur?”
Ia berdiri sambil tersenyum penuh arti.
“Pakai perhiasan itu nanti pas makan malam. Biar suami kamu makin sayang… dan mungkin kamu nanti bisa di beliin lagi.”
Selina menggeleng sambil tersenyum kecil.
“Ibu tuh, ada-ada aja.”
Tapi jauh di dalam hatinya, Selina tahu satu hal—
ia tak ingin kehilangan Adipati, dengan alasan apa pun.
Sri keluar dari kamar, menutup pintu pelan. Selina berdiri di depan lemari, menatap isinya dengan wajah serius.
“Aku harus tampil cantik,” gumamnya sambil menarik napas.
“Aku nggak mau kalah saing.”
Satu per satu baju dikeluarkan dari lemarinya. Dress, blus, rok—semua menumpuk di atas ranjang. Selina mondar-mandir, memegang satu baju lalu meletakkannya lagi.
“Yang ini terlalu sederhana…”
“Yang ini pernah kupakai pas kondangan sepupu.”
“Ini juga sudah pernah Mas lihat.”
Ia mengacak rambut frustrasi.
“Kenapa sih bajuku kelihatan biasa semua?”
Pintu kamar terbuka. Adipati masuk sambil melongok ke arah ranjang yang kini penuh pakaian.
Ia mengangkat alis.
“Kamu lagi ngapain, Lin?”
Selina menoleh cepat.
“Nyari baju, Mas.”
Adipati melangkah masuk.
“Nyari baju atau pindahan?”
Selina mendesah.
“Aku nggak punya baju,Mas.”
Adipati menatap tumpukan itu.
“Sebanyak ini kamu bilang nggak punya?”
Selina memeluk satu dress
.
“Ini baju lama semua, Mas. Udah pernah kupakai semua.”
Adipati menyilangkan tangan.
“Terus kenapa?”
“Aku malu,” Selina jujur.
“Nanti kalau makan bareng temen kamu… aku kelihatan biasa.”
Adipati terdiam sebentar, lalu tersenyum kecil.
“Tunggu ya.”
Selina mengernyit.
“Tunggu apaan?”
Adipati mengambil ponselnya.
“Mas telepon orang butik.”
Selina langsung panik.
“Mas!”
Ia mendekat cepat.
“Butik itu mahal.”
Adipati menatapnya tenang.
“Gak ada yang lebih mahal daripada istri Mas.”
Selina terdiam. Pipinya langsung memerah.
“Mas tapi kemahalan..." gumamnya pelan.
Adipati tersenyum, lalu menepuk kepala Selina ringan.
“Kamu beresin dulu bajunya.”
“Mas mau kerja sebentar. Nanti kalau orang butiknya datang kamu temuin.”
Ia berjalan ke pintu.
“Nanti sore bajunya sampai.”
Selina membelalak.
“Beneran?”
Adipati menoleh sambil tersenyum tipis.
“Istri Mas harus tampil paling cantik.”
Pintu tertutup.
Selina berdiri kaku beberapa detik, lalu menatap pantulan dirinya di cermin.
Senyum kecil perlahan muncul.
“Gawat…” bisiknya.
“Kayaknya aku mulai jatuh beneran.”
Ia memeluk baju di tangannya, jantungnya berdebar lebih cepat dari sebelumnya.