NovelToon NovelToon
Istri Pengganti

Istri Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Selingkuh / Pengantin Pengganti / Pengganti / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cinta Murni
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Purpledee

Noari Liora, gadis sederhana yang hidup dalam keterbatasan, tiba-tiba ditarik masuk ke dunia mewah keluarga Van Bodden, ketika Riana, sepupu perempuan kaya yang pernah menyakitinya di masa lalu, justru memintanya menjadi istri pengganti untuk suaminya, Landerik.

Di tengah rasa iba, dan desakan keadaan, Noa menerima tawaran itu. Pernikahan yang seharusnya hampa justru menyeretnya ke dalam lingkar emosi yang rumit, cinta, kehilangan, luka dan harapan.

Ketika Riana meninggal karena sakit yang dideritanya, Noa dituduh sebagai penyebabnya dan kehilangan pegangan hidup. Dalam rumah megah yang penuh keheningan, Noa harus belajar menemukan dirinya sendiri di antara dinginnya sikap Landerik, dan kehadiran Louis, lelaki hangat yang tanpa sengaja membuat hatinya goyah.

Akankah Noa bertahan di pernikahan tanpa cinta ini?
Atau justru menemukan dirinya terjebak dalam perasaan yang tidak pernah ia duga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purpledee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18. mencoba untuk terbiasa

Noa terbangun dari tidurnya ketika seseorang mengetuk pintu kamarnya pagi itu. Cahaya matahari pagi Paris menyusup halus melalui tirai tipis kamarnya. “Nona? Bolehkah saya masuk?” suara Matilda terdengar lembut dari balik pintu.

“Iya, masuk saja, Matilda,” jawab Noa sambil merapikan duduknya di tempat tidur. Matilda membuka pintu dengan senyuman hangat seorang ibu, lalu langsung bergerak dengan cekatan. Ia menyalakan pemanas air, lalu membuka lemari besar untuk memilihkan pakaian Noa hari itu, blus putih lembut dan rok sederhana berwarna krem.

“Bangun tidur Anda cepat hari ini,” ucap Matilda sambil menggantung pakaian pilihan di dekat cermin rias. Noa hanya tersenyum kecil, rambutnya masih berantakan. Ia mengusap matanya dan bertanya, “Apa di rumah ini sarapan bersama selalu dilakukan setiap hari?”

“Iya, Nona,” jawab Matilda sambil merapikan meja rias Noa. “Tradisi keluarga Van Bodden. Hari ini hanya Tuan Besar, Tuan Landerik, dan Nona Riana yang akan hadir.” Noa mengangguk, tapi pikirannya terhenti pada seseorang.

“Lalu, adiknya Landerik dan istrinya?” tanya Noa penasaran. Matilda menoleh, tersenyum lembut seolah sudah menduga pertanyaan itu.

“Mereka berdua sebenarnya tidak tinggal di mansion ini secara resmi,” jelasnya. “Mereka punya mansion sendiri di sisi timur kota, dan tinggal bersama ibunya Tuan Leo.”

Noa berkedip.

Ada kata yang membuatnya terpancing. “Ibunya Tuan Leo?” ulangnya, bingung. Matilda memberikan handuk untuk Noa, kemudian mendekati Noa sambil menurunkan suaranya sedikit, seakan ini sudah menjadi rahasia umum di rumah itu.

“Tuan Landerik dan Tuan Leo memiliki ibu yang berbeda, Nona. Mereka saudara tiri.”

Noa terdiam. Potongan informasi itu membuat beberapa hal perlahan masuk akal, Karena perbedaan kepribadian Landerik dan Leo, cara mereka diperlakukan keluarga, hingga kesan jarak halus yang sempat dirasakannya.

Matilda menyambung, lembut namun jelas, “Keluarga Van Bodden, sangat besar dan cukup rumit. Tapi Anda tidak perlu mengkhawatirkan apa pun. Sejak Nona Riana membawa Anda masuk ke rumah ini Anda adalah bagian dari keluarga ini juga.” Noa tersenyum kecil, sedikit kikuk kata keluarga terasa berat baginya, tapi juga hangat.

Matilda lalu menunduk sedikit. “Airnya sudah Siap Nona.”

Noa mengangguk sambil bangkit dari tempat tidur, membiarkan Matilda merawatnya seperti seorang ibu perlahan membuatnya merasa tidak terlalu sendirian di rumah besar itu.

...♡...

Setelah Matilda membantu Noa berpakaian rapi, gadis itu turun ke ruang makan. Langkahnya pelan, sementara aroma kopi dan roti panggang memenuhi udara. Saat Noa masuk, Ayah mertua Tuan Besar Van Bodden, sudah duduk membaca koran, dan Riana tersenyum lembut sambil menyeruput teh hangatnya. Landerik duduk di sebelah ayahnya, dengan jas rapi dan gaya formal khasnya.

Semua menoleh ketika Noa muncul. “Ayah…” bisik Riana ceria. “Noa sudah datang.” Ayah mertua menurunkan korannya. Wajahnya keras, tapi ketika menatap Noa, garis-garis tegas itu melembut.

“Selamat pagi, Noa,” ucapnya hangat. “Duduklah.”

Noa mengangguk canggung dan duduk di samping Riana. Landerik melirik sebentar, kemudian berdeham dan langsung fokus pada piringnya lagi.

Di tengah sarapan berlangsung suasana hening, nyaman, namun terasa canggung, hingga akhirnya Riana meletakkan sendoknya dan berkata santai namun penuh arti. “Noa, hari ini kau harus datang lagi ke Le Serein, ya?”

Noa mengangguk. “Iya,”

Ayah mertua menimpali dengan nada yang sangat tenang tapi terkesan tersembunyi sesuatu, “Bagus. Dan hari ini, Lander yang akan mengantarmu langsung.”

Landerik spontan menoleh cepat pada ayahnya. “Ayah? Bukankah supir—”

“Tidak hari ini,” potong ayahnya pelan namun tegas, tanpa mengangkat kepala. “Kau yang akan mengantarnya sendiri.” Landerik terdiam, bingung. Noa pun menatap Riana, meminta penjelasan, tapi Riana hanya tersenyum besar, terlalu besar untuk disebut normal.

“Kalian berdua kan sudah menikah,” lanjut Riana sambil menahan tawa. “Sesekali kalian harus terlihat bersama, agar terbiasa.”

Mata Noa membesar. Pipi memerah. Ayah mertua ikut tersenyum kecil, senyum langka yang jelas-jelas menyimpan niat tertentu. “Benar, suami harus mengantar istrinya.” Nada suaranya begitu mantap, seperti keputusan final yang tidak bisa dibantah. Landerik memijat pelan pangkal alisnya, ia terlihat tidak nyaman, tapi tidak bisa melawan.

“Baiklah,” akhirnya ia mengalah. “Aku akan antar.” Noa menunduk malu, jantungnya berdegup tak karuan. Riana menahan tawa hingga matanya menyipit.

“Mereka benar-benar kikuk,” bisik Riana pelan pada ayahnya.

“Biarkan saja,” jawab sang ayah dengan suara rendah namun penuh canda. “Butuh sedikit paksaan agar keduanya mulai terbiasa.”

...♡...

Setelah sarapan selesai, suasana tetap canggung. Landerik berdiri di depan pintu, menunggu Noa dengan tangan di saku, tampak bingung harus mengatakan apa. Noa berjalan mendekat dengan langkah pelan, sama bingungnya. Di belakang mereka, Riana dan ayah mertua berdiri berdampingan, memandang adegan itu seperti dua sutradara yang puas melihat skenario berjalan sesuai rencana.

“Semoga mereka tidak mati gaya di mobil nanti,” bisik Riana sambil tersenyum jahil. Ayah mertuanya mengangguk. Riana dan ayahnya hanya menatap mereka berdua, sama-sama tersenyum, sama-sama berharap kedua anak itu perlahan menemukan jalannya sendiri.

“Noa, hati-hati ya,” ujar Riana, sambil melambai kecil.

Noa mengangguk gugup. Landerik sudah berdiri di sisi mobil hitamnya, bukan mobil keluarga, tetapi mobil pribadinya. Ia membukakan pintu mobil untuk Noa tanpa banyak bicara.

“Masuklah,” katanya datar namun sopan. Noa masuk, duduk pelan. Landerik menutup pintu lalu berjalan ke sisi kemudi. Ia masuk, menyalakan mesin, dan mobil pun mulai bergerak keluar dari halaman rumah.

...♡...

Suasana di dalam mobil sangat hening. Tidak ada supir, tidak ada orang lain, hanya mereka berdua. Noa duduk dengan tangan saling menggenggam di pangkuan, menatap lurus ke depan. Landerik fokus mengemudi, namun rahangnya tampak sedikit mengeras, tanda bahwa ia sama gugupnya.

Setelah beberapa menit, Landerik mengusap tengkuknya dan berkata, “Ayahku dan Riana, sengaja melakukan ini.”

Noa langsung menoleh. “I-iya. Aku juga bisa menebaknya.”

Landerik tersenyum kecil, samar. “Mereka pikir dengan membuat kita sering bersama, semuanya akan lebih mudah. Padahal aku sudah cukup jelas mengatakan pada semua orang bahwa aku tidak ingin kau merasa tertekan.”

“Aku tidak merasa tertekan,” jawab Noa cepat, meski suaranya sedikit ragu. Landerik melirik sekilas, alisnya terangkat tipis. “Kau tidak perlu berbohong untuk membuatku tenang.” Noa tersipu, menunduk. “Aku hanya.. belum terbiasa, itu saja.”

“Mmm.” Landerik kembali fokus pada jalan. Namun nadanya melembut. “Itu wajar. Aku jugabelum terbiasa.” Kata-kata itu membuat jantung Noa berdetak aneh, bukan karena romantis, tapi karena kejujuran seorang lelaki yang biasanya tenang dan dingin. Setelah beberapa saat, Landerik bertanya, “Hari pertamamu di Le Serein kemarin, apa kau menikmatinya?”

Wajah Noa langsung cerah. “Iya! Aku belajar banyak hal. Dan semuanya terasa menantang, tapi menyenangkan.” Landerik menahan senyum tipis yang hampir tidak terlihat.

“Itu bagus. Riana akan senang mendengarnya.” Keheningan beberapa detik. Lalu Noa bertanya pelan, “Bagaimana keadaan Riana saat kemo kemarin?” Wajah Landerik sedikit menegang, wajah seorang lelaki yang memendam banyak rasa.

“Dia baik,” jawabnya. Namun suaranya mengandung kekhawatiran. “Hari ini ada jadwal pemeriksaan lagi. Setelah aku mengantarmu, aku akan kembali untuk menemaninya.”

Noa mengangguk, suaranya lembut. “Terima kasih, sudah selalu di sisinya.” Landerik menghela napas, terdengar berat. “Itu bukan sesuatu yang harus kau ucapkan terima kasih. Dia istriku, dan aku sangatmencintainya.”

Ada hening lain yang terasa berbeda, lebih dalam, lebih berat. Mobil akhirnya berhenti di depan gedung restoran Le Serein. Landerik turun terlebih dahulu, lalu mengitari mobil untuk membuka pintu Noa. Noa turun, berdiri memegang tas kecilnya. Landerik menatapnya sejenak sebelum berkata

  “Noa.”

Noa menoleh. “Jika ada masalah di dalam atau kau tidak nyaman, hubungi aku. Riana juga pasti ingin kau melakukannya.” Noa terkejut. Ia tidak menduga Landerik akan menawarkan hal seperti itu.

“A-aku baik-baik saja. Tapi terima kasih.”

Landerik mengangguk singkat, memasukkan tangan ke saku celananya. “Aku akan menjemputmu sore nanti. Riana memintanya.” Mata Noa membesar sedikit. Landerik memalingkan wajah, seperti tidak mau terlihat canggung. “Ya. Dia berbisik tadi dan mengancam tidak mau makan kalau aku menolak.” Noa tertawa kecil—pertama kalinya ia tertawa bebas di depan Landerik. Landerik menahannya untuk tidak ikut tersenyum, namun sudut bibirnya tetap terangkat sedikit.

Ia melangkah mundur. “Pergilah. Chef Marcel menunggu.”

Noa mengangguk, memberi salam kecil, lalu masuk ke restoran. Landerik baru berbalik menuju mobil setelah pintu kaca restoran tertutup di belakang Noa. Ia menghela napas panjang, seperti menyadari sesuatu. Hidupnya perlahan berubah, entah ia siap atau tidak.

To Be Countinue...

1
Kam1la
hati2 Laderick bisa tergoda Mora
Kam1la
💪💪💪 lanjut , Noa
Kam1la
Tidak... Noa!!🤭
Deii Haqil
ow.. no, Noa..🙈💪💪
Miu Nuha.
rasany nyesek ya, harus menahan diri demi mewujudkan keinginan orla 🤧
Miu Nuha.
paham banget kalo mau nentuin kapan meninggoynya 😩😩😩
Deii Haqil
lanjut lagi..hemhemhem🤭
Kam1la
makin seru nnih ....! semangat up. dan jangan lupa mampir di Terlambat Mencintaiku...😍
Deii Haqil
makin seru😊 lanjut kak💪
Afriyeni
setidaknya kamu punya hak untuk itu saat ini noa. sebab landerik juga tidak punya kuasa untuk menekan mu.
Afriyeni
Riana, noa dan landerik adalah orang orang yg tengah bermain di atas luka masing masing
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): ouh suka bnget kata-kata nya kak😭
total 1 replies
Deii Haqil
keren kak, mantap! semagat nulisnya😁
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): makasih dh mampir kak🤗
total 1 replies
Kam1la
lanjutkan...
Deii Haqil
jangan lupa ngopi. kak. semangat😁
Kam1la
alur yang bikin nyesek..... semangat berkarya Kak !!
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): makasih kak🤗
total 1 replies
Kam1la
semangat 2.....up😍
Deii Haqil
lanjut baca, kasian juga Riana😭
ss
Kak semangat yahh...
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): makasih dh mampir kak🤗
total 1 replies
Kam1la
sedih....
PURPLEDEE ( ig: _deepurple ): wah... makasih dh mampir kak🤗
total 1 replies
Miu Nuha.
kekny si ibu gk dpt perlakuan baik dari keluarga Landerik 🤔 ,, jadi nikah gk nih...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!