Lilis adalah seorang gadis desa yang tingal bersama kedua orangtuanya dengan kehidupan yang sederhana.
Tekatnya sangat kuat untuk berhasil menghargai cita-cita menjadi seorang dokter gigi.
Banyak perjuangan yang dilakukan dan perlu kesabaran ekstra ketika di sekolah selalu dibully sama temannya.
Akhirnya dengan
Kedua orangtuanyalah yang selalu menghiburnya.
Lilis mencoba melupakan kejadian-kejadian yang membuat lilis trauma, seperti teman-teman sekelasnya sering membully lilis pada saat di sekolah dan lainnya. Dengan terus semangat belajar.
Akhirnya dengan kegigihannya Lilis berhasil masuk di sekolah sma Negeri ternama.
Tapi cobaan lagi-lagi menghampirinya.
Lilis sudah tidak punya siapa-siapa lagi.
Lilis hampir putus asa. Tapi hidup terus berjalan. Lilis harus tetap melangkah. Dia berangkat ke kota menuju tempat sekolahnya.
Berbekal tabungan yang dia kumpulkan ketika berjualan dan kerja paruh waktu selama sekolah SMP.
Lilis didesa tidak punya kendaraan di rumah dan rumahnya jauh dari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilis Suryaningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LILIS DAN ALDI PERGI KE RUMAH TANTE NITA
Minggu pagi Lilis sudah berdandan rapi. Memakai baju Tunik berwarna merah dengan jilbab berwarna merah serta celana panjang berwarna hitam, membuat penampilannya tampak sopan. Dia terbiasa mengunakan pakaian tertutup sejak kelas 1 SMP. Ibunya yang selalu mengajarkan ya begitu.
Lalu dia memeriksa handphonenya yang sejak tadi malam dia charge. Dia memang tidur cepat karena kelelahan belajar naik motor dengan Lina.
Betapa terkejutnya Lilis karena ada tiga pesan dari Aldi yang belum di baca. Lalu dia membalas pesan itu dan mengatakan bahwa dia siap berangkat. Dia sudah janji akan pergi ke rumah tantenya Aldi dan bertemu di depan sekolah.
Setelah sarapan bersama ibunya, Lilis bersiap menyalakan sepeda motornya.
"Lilis berangkat ya buk" Lilis sambil bersalaman mencium tangan ibunya.
"Hati-hati ya" Ibu yati mengusap kepala Lilis.
Lilis mengangguk kemudian berjalan menaiki sepedah motornya. Ibu yati melambaikan tangan ketika Lilis mulai mengendarai motornya dengan pelan.
Sebenarnya Lilis khawatir juga membawa motor di jalan raya karena dia belum mempunyai SIM, takut kena razia polisi lalu lintas. Tapi kata Lina biasanya hari minggu aman saja. Tidak ada polisi yang berjaga tapi tetap juga sambil di lihat-lihat. Dan dia berjanji akan menemani Lilis membuat SIM.
Sekitar lima belas menit saja dia saja dia sudah tiba di depan sekolah di mana Aldi sudah menunggunya.
"Maaf kak, sudah lama ya" Kata Lilis"
"Tidak juga" Kata Aldi dengan Senyum.
Duh, senyumnya itu membuat Lilis berdebar-debar.
"Wah sepedah motor baru nih" Kata Aldi".
"Cuma motor bekas, kak. " Kata Lilis"
"Baru juga kan. Baru beli maksudnya. " Kata Aldi"
"Ayo, kita pergi ke rumah tanteku kak.
Kata Lilis.
" Ayo Lilis. Kata Aldi"
Mereka pun beriringan menuju rumah tantenya Aldi. Tidak lama mereka tiba di depan sebuah rumah mewah yang terletak di tengah kota. Rumah bercat putih itu tampak Asri dengan pohon dan bunga-bunga yang tertata rapi.
Ketika memasuki halaman rumah, mereka disambut oleh Tante Nita dan Arinda.
"Assalamu'alaikum tante" Sambil bersalaman. "Kata Aldi"
"Waalaikumsalam" Kata tante Nita dengan tersenyum. "
"Wah, kakaknya cantik, ma" Adinda membuat Lilis tersenyum.
Tante Nita mengiyakan. Lalu dia mempersilahkan mereka masuk.
"Adinda, kakak ini namanya kak Lilis, dia nanti yang mengajari Arinda Pelajaran Agama islam di rumah" Kata Nita.
"Kalau sama kak Lilis, aku mau ma" Kata Arinda" Dengan senang.
Entah mengapa, baru bertemu saja Arinda sudah merasa dekat dengan Lilis. Diapun berpindah duduk di samping Lilis. Lalu Lilis Mengandengnya.
"Lilis bersedia kan mengajari Arinda. Tante maunya empat kali dalam seminggu setiap sore dari jam tiga sore sampai jam lima sore. Nanti tante akan berikan upah yang sesuai" Kata Tante Nita".
"Arinda ini agak lambat menyerap pelajaran Agama Islam, jadi pelan-pelan saja ya. Dan dia gampang menangis kalau di bentak. Jadi tolong di bawa santai saja Anaknya" Kata Tante Nita"
"Saya bersedia tante" Kata Lilis. "
Arinda tampak senang bersama Lilis. Dia bahkan mengajak Lilis pergi ke kamarnya. Lilis melihat tante Nita meminta persetujuan, untuk dia mengiyakan.
Di kamarnya, Arinda berbicara ke Lilis dengan Manja, banyak yang dia ceritakan. Lilis menanggapi nya dengan senang. Baru kali ini dia berinteraksi sedekat ini dengan anak kecil. Biasanya dia hanya menyapa saja anak-anak tetangganya.
"Jadi dia namanya Lilis. Cantik, Aldi. " Kata Tante Nita. "
Aldi yang lagi meminum minumannya tersedak.
Tante Nita terdiam, "pacar kamu ya" Katanya. Membuat Aldi mengeleng cepat. "Bukan tante. Dia teman aku! Kata Aldi, karena memang antara dia dan Lilis tidak pernah mengungkapkan perasaan masing-masing.
" Kata Aldi"
Hari sudah menjelang siang. Lalu tante Nita meminta asisten rumah tangganya untuk menyiapkan makanan. Dia pun mengajak Lilis makan bersama, kebetulan suami tante Nita juga ada di Rumah.
Sambil makan mereka berbicara ringan. Bertanya-tanya tentang Lilis.
Lilis pun menjawab dengan sejujurnya tentang kehidupannya. Dia tidak malu. Justru itu membuat tante Nita dan suaminya salut akan perjuangannya Lilis.
Walaupun tante Nita orang kaya dan suaminya adalah orang yang bergelar tapi mereka sangat b menghargai orang lain.
Mereka tidak pernah membedakan dengan siapa mau berteman. Tidak pernah memandang rendah orang-orang yang berada di bawah mereka karena mereka sadar kehidupan mereka yang sekarang juga berasal dari bawah.
Mereka juga ringan tangan membantu orang yang membutuhkan. Walaupun kehidupan punya banyak harta tapi tante Nita tetap menunjukkan kesederhanaan. Berbeda sekali dengan ibu Fatimah, kakak kandungnya yang suka sekali bergaya hidup mewah, ikut arisan ibu-ibu, dan membeli barang-barang branded.
Kadang Aldi Heran melihat perbedaan yang kelihatan anatar ibu dan tantenya.
Setelah makan siang selesai, Lilis dan Aldi pamit pulang. Ada raut sedih di wajah Arinda. Melihat kejadian itu, Lilis mendekatinya.
"Arinda, mulai besok kita belajar bersama ya" Lilis berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Arinda.
"Asyiik" Dia gembira. Dia pun memeluk Lilis.
Arinda melambaikan tangan ketika Lilis dan Aldi perlahan menjalankan sepedah motornya.
Di depan penjual Bakso, Aldi berhenti. Lilis juga ikut berhenti. Lilis juga ikut menepikan motornya.
"Kenapa, kak? " Tanya Lilis
"Sebentar ya" Aldi menghampiri penjual itu dan memesan bakmi dua porsi untuk di bungkus dan satu porsi untuk di makan di tempat.
Sambil menunggu penjual itu membuatkan pesanannya, Aldi mengajak Lilis duduk di sebuah bangku kecil yang terletak di bawah pohon yang rindang tempat gerobak mangkal.
Sebuah mangkok berisi bakmi diberikan si penjual. Aldi menerimanya.
"Kita makan yuk, aku pengen makan bakmi
satu mangkok saja. Takut tidak habis perut ku masih kenyang tadi saat makan di rumahnya tante Nita. Kata Aldi"
"Kalau masih kenyang kenapa beli bakmi.
"Kata Lilis"
Dia menusuk bakso yang ada di mangkoknya. Dan mengunyahnya dengan nikmat.
"Kan kamu suka makan bakmi" Walaupun kamu masih kenyang tetap aja suka kan.
"Kata Lilis"
"Kok kakak tahu" Kata Lilis "
"Ya iyalah, aku kan sering perhatikan kamu makan bakmi di kantin. Kadang dengan Lelyta, kadang sendiri. Aku pengen temenin kamu, takut kamu tidak mau. " Kata Aldi"
Duh hati Lilis jadi berdebar-debar.
"Kalau mau ya temenin saja" Kata Lilis.
"Beneran? " Aldi melihat wajah Lilis yang menunduk. Lilis mengangkat wajahnya ada warna merah di pipinya, membuat Aldi gemas ingin mencubitnya tapi dia tidak selancang itu. Dia sangat menghargai Lilis. Dan tidak akan menyentuhnya. Dia selalu ingat pesan ayahnya untuk tidak merusak anak perempuan orang.
Kebetulan buang tidak di duga, Eni lewat dengan mobilnya. Dia berhenti sejenak tanpa di ketahui mereka. Hatinya panas melihat pemandangan itu. Dengan marah dia memukul stir kemudi. Ini yang kata Aldi sibuk? Sibuk bertemu dengan perempuan desa. Apa sih istimewanya dia. Lihat besok Lilis aku akan buat perhitungan dengan kamu. "Kata Eni"