Kisah Shen Xiao Han dan Colly Shen adalah kelanjutan dari Luka dari Suami, Cinta dari Mafia, yang menyoroti perjalanan orang tua mereka, Holdes Shen dan Janetta Lee.
***
Shen Xiao Han dan Colly Shen, putra-putri Holdes Shen dan Janetta Lee, mewarisi dunia penuh kekuasaan dan bahaya dari orang tua mereka, Holdes dan Janetta.
Shen Xiao Han, alias Little Tiger, menjadi mafia termuda yang memimpin kelompok ayahnya yang sudah pensiun—keberanian dan kekejamannya melebihi siapa pun. Colly Shen, mahasiswi tangguh, terus menghadapi rintangan dengan keteguhan hati yang tak tergoyahkan.
Di dunia di mana kekuasaan, pengkhianatan, dan ancaman mengintai setiap langkah, apakah mereka akan bertahan atau terperangkap oleh bayangan keluarga mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Colly pergi bersama para pengawal menuju mansion tempat ia dan Xiao Han tinggal. Mobil hitam itu melaju menembus malam, meninggalkan bangunan sekolah tua yang kini kembali sunyi—seolah tak pernah menjadi saksi kekejaman.
Di dalam kamar mandi pribadi mansion, Colly berdiri di depan cermin. Air mengalir membasahi tangannya, menghapus sisa darah dan debu yang menempel di kulitnya.
Setiap sentuhan air pada luka cambukan membuat alisnya berkerut, napasnya tertahan sesaat. Rasa perih itu nyata—tajam dan membakar.
Namun yang lebih menyakitkan bukan luka di tubuhnya, melainkan ingatan akan tawa mereka.
“Sakit sekali… dan aku harus menahannya di depan mereka,” gumam Colly lirih. Jemarinya mengepal di bawah aliran air.
“Untuk pertama kalinya aku menggunakan tanganku sendiri untuk menyiksa orang lain. Rasanya… sangat berbeda.”
Ada getaran halus dalam suaranya—bukan penyesalan, melainkan kesadaran bahwa ia baru saja melangkah ke sisi yang lebih gelap.
Ketukan pelan terdengar dari luar kamar, disusul suara yang begitu dikenalnya.
“Colly.”
Colly menoleh.
“Kakak.”
Pintu terbuka. Xiao Han melangkah masuk, sorot matanya langsung tertuju pada tangan adiknya yang masih basah, kulitnya memerah dan penuh goresan. Wajahnya menegang.
“Kau terluka?” tanyanya, suaranya rendah namun sarat tekanan.
“Hanya luka ringan. Tidak masalah,” jawab Colly cepat, seolah ingin menenangkan kakaknya
Xiao Han mendekat. Tangannya terangkat, nyaris menyentuh luka itu, lalu berhenti di udara.
“Ini salahku,” ucapnya dingin. “Aku tidak melindungimu dengan baik.”
Colly menggeleng pelan. Ia mengeringkan tangannya, lalu menatap kakaknya dengan tatapan tegas.
“Kakak, aku yang mengikuti permainan mereka,” katanya. “Kalau aku tidak berkorban, mana mungkin kita bisa menangkap seluruh komplotannya?”
Ia terdiam sesaat, lalu melanjutkan dengan suara lebih pelan.
“Kali ini… keluarga mereka juga akan dihancurkan, bukan?”
Tatapan Xiao Han menggelap. Ia menarik Colly ke dalam pelukannya,erat, protektif, seolah ingin menutup seluruh dunia dari adiknya.
“Tenang saja,” ucapnya datar, penuh kepastian.
“Siapa pun yang berani menyentuhmu… akan kakak hancurkan.”
Nada suaranya dingin, tak menyisakan ruang untuk belas kasihan.
“Tidak akan ada satu pun yang bisa lolos.”
Keesokan harinya
Universitas tempat Colly belajar.
Suasana kampus berubah drastis sejak pagi.
Rekaman video penyiksaan yang dilakukan oleh Jenny dan teman-temannya tersebar luas. Dari ponsel ke ponsel, dari grup mahasiswa ke dosen, rekaman itu menjadi bukti kekejaman yang tak terbantahkan.
Cemoohan, kecaman, dan tatapan jijik memenuhi setiap sudut universitas.
Nama Jenny, Juna, Eco, dan Alan menjadi bahan bisik-bisik. Tak ada lagi tawa arogan—yang tersisa hanya ketakutan.
Keempatnya dipanggil ke kantor dosen.
Di dalam ruangan itu, suasana tegang terasa menyesakkan.
Xiao Han duduk tenang di salah satu kursi, sikapnya dingin dan berwibawa. Di sampingnya berdiri seorang wanita profesional dengan setelan rapi—Monica, asistennya.
Xiao Han hadir sebagai wali Colly, korban dari tindakan keji mereka.
Dosen yang duduk di balik meja menatap keempat mahasiswa itu dengan ekspresi serius.
“Kalian resmi dikeluarkan dari universitas ini,” ucapnya tegas.
“Bukan hanya dari universitas dalam negeri, tetapi juga luar negeri. Nama kalian telah masuk ke dalam catatan hitam akademik.”
Jenny membelalak. Amarah langsung meledak di wajahnya.
“Kenapa?! Lalu bagaimana dengan lukaku?!” bantahnya kesal.
“Colly yang melukaiku! Wanita sialan itu ... aku tidak akan diam saja!”
Udara di ruangan itu mendadak membeku.
Kursi Xiao Han bergeser pelan. Ia berdiri.
Langkahnya perlahan, namun setiap tapaknya membuat jantung Jenny berdegup tak karuan.
Tatapan Xiao Han setajam pisau, lurus menembus wajah Jenny.
“Ulangi sekali lagi,” titahnya dingin.
Jenny menelan ludah, tapi gengsinya lebih besar dari rasa takut.
“Aku bilang Colly adalah wanita pembawa sial!” bentaknya.
Plak!
Tamparan keras mendarat tanpa ragu.
Tubuh Jenny terhuyung, wajahnya memerah, telinganya berdenging.
Sapu tangan putih muncul di tangan Xiao Han, mengelap tangannya dengan tenang, lalu dilemparkan ke wajah Jenny yang terpaku.
“Selama ini aku tidak suka memukul wanita,” ucap Xiao Han datar.
“Tapi karena mulutmu busuk, kau pantas mendapat pelajaran.”
Ruangan itu sunyi senyap.
Juna, Eco, dan Alan pucat pasi. Lutut mereka hampir lemas melihat apa yang baru saja terjadi.
“Kalian salah besar telah menyinggung orang,” lanjut Xiao Han, suaranya rendah namun mematikan.
“Colly adalah adikku. Sejak kecil, aku bahkan tidak pernah meninggikan suaraku di hadapannya.”
Matanya menyapu keempatnya satu per satu.
“Dan kalian… justru menyakitinya.”
Xiao Han lalu menoleh ke arah dosen.
“Aku harap universitas ini memahami maksudku,” katanya dingin.
“Jika keempat anak ini masih bisa melanjutkan pendidikan di luar negeri, atau bahkan diterima bekerja di perusahaan mana pun…”
Ia berhenti sejenak.
“…maka kalianlah yang akan aku cari.”
Dosen itu membeku. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.
Tak satu pun di ruangan itu meragukan keseriusan Xiao Han.