Rio Mahadipa adalah Korban bully di sekolahnya semasa dia Berada di sekolah menengah, tetapi saat dia tidur dirinya mendapati ada yang aneh dengan tubuh nya berupa sebuah berkat lalu dia berusaha membalas dendam nya kepada orang yang membully nya sejak kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xdit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memburu Rivaldo - 4
Di lorong lantai tiga, Riko berdiri sendirian menghadapi tujuh orang sekaligus. Ruang panjang di depan kelas yang sepi kini berubah menjadi tempat penyiksaan.
Serangan datang dari segala arah tanpa pola, membuatnya nyaris tak punya waktu bernapas.
Satu pukulan menghantam pipinya, diikuti tendangan ke perut sebelum tubuhnya sempat kembali tegak.
Riko terhuyung ke samping, punggungnya membentur pintu kelas. Dentuman terdengar nyaring, namun ia tetap berdiri, meski napasnya mulai berat.
Tinju lain menghantam rahangnya. Kepalanya terlempar ke samping, pandangannya bergetar sesaat. Dunia terasa berputar, tapi kakinya masih menapak.
Ia mengangkat kedua lengannya, bukan untuk menyerang, untuk bertahan, menerima semua pukulan seperti tembok yang dipaksa runtuh.
Tendangan bertubi-tubi mengenai rusuk dan paha. Tubuh besarnya tergoyang ke kanan dan kiri, dipukul mundur beberapa langkah. Riko benar-benar terlihat seperti samsak tinju, dihajar tanpa belas kasihan. Namun setiap kali hampir jatuh, ia memaksa kakinya tetap menopang tubuhnya.
Lututnya sempat menyentuh lantai. Satu detik yang terasa sangat panjang. Beberapa orang bersiap menyerang lagi, mengira ia sudah tidak sanggup bangkit. Tapi Riko menggertakkan gigi dan menahan rasa nyeri yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Ia berdiri kembali, napasnya terengah, dada naik turun dengan cepat. Darah mulai terasa di sudut mulutnya, rasa logam yang pahit memenuhi lidahnya. Tangannya gemetar, tapi tidak turun. Pandangannya tetap ke depan, menolak untuk menyerah.
"Apa dia ini benar-benar seorang manusia?!."
"Ini adalah sebuah tembok!!?"
Bahkan orang yang memukuli nya hampir tidak percaya dengan apa yang telah dia lihat.
Setiap pukulan berikutnya terasa lebih berat dari sebelumnya. Otot-ototnya menjerit, keseimbangannya nyaris hilang. Namun di dalam kepalanya hanya ada satu hal, ia tidak boleh tumbang di sini. Tidak sekarang.
Riko menerima semua itu dengan tubuhnya sendiri. Ia tidak menang, tidak unggul, bahkan hampir tidak melawan.
“Aku tidak boleh menyerah di sini!.” Riko menggertakkan giginya. Otot-ototnya bergetar, napasnya tercekik di dada.
Ia mencoba mengangkat tubuhnya, tapi kakinya seperti bukan miliknya lagi. Tubuh besar yang selama ini jadi kekuatannya kini terasa seperti beban mati.
“Apa yang terjadi!!?.” pikirannya panik.
Ia mencoba menggerakkan jari, lengan, bahkan hanya berdiri tegak, tapi semuanya gagal.
“Bergerak lahh!!!.” teriaknya di dalam hati, namun tubuhnya tetap terdiam, seolah dipaku oleh rasa sakit dan kelelahan yang menumpuk.
Pandangan Riko mulai kabur.
Suara di sekitarnya memudar, digantikan oleh dentingan samar yang menyerupai gema masa lalu. Saat itulah dunia di sekelilingnya runtuh, dan ingatannya terseret mundur, jauh sebelum lorong sekolah ini ada dalam hidupnya.
"Kenapa aku malah memikirkan tentang masa lalu?,apa ini karena kekalahan ku?." Riko hanya menunduk,dia tidak bisa melakukan apapun pada tubuhnya.
......................
Di sekolah dasar, suara jeritan anak-anak menggema.
“Jangan dekati kami, kau menyeramkan!!!.”
Mata-mata kecil penuh ketakutan menatapnya, seolah Riko kecil saat itu bukan manusia, melainkan sesuatu yang salah dari dunia.
“Tetapi aku adalah manusia biasa seperti kalian..”
Suara itu lirih, hampir tidak terdengar. Tubuhnya yang terlalu besar membuat kata-kata itu terasa sia-sia.
Di antara anak-anak seusianya, Riko sudah setinggi pelajar SMA, bahkan saat itu dia masih di sekolah menengah pertama. bahunya lebar, bayangannya menelan cahaya sore.
"Ah benar saja ,ini adalah kejadian saat aku kecil.." Riko hanya bisa berpikir, Dia malah teringat dengan masa kecilnya.
Ia berjalan pulang sendirian di pinggir taman Naraya. Daun-daun berguguran, angin berhembus pelan, tapi tidak ada satu pun yang menemaninya.
Jalan itu sunyi, seperti hidupnya saat itu. Tidak ada tawa, tidak ada teman, hanya langkah kaki yang berat.
...“Kenapa aku di lahirkan seperti ini, bahkan seluruh keluarga ku ketakutan, Ayah ku memang besar, tetapi aku tidak normal, mereka menganggap ku kelainan atau lebih tepatnya....sebuah Kegagalan.”...
Kata-kata itu terucap dari mulut Riko dengan suara bergetar. Ia menunduk, menatap bayangannya sendiri di tanah, bayangan yang selalu membuat orang menjauh.
Riko terlahir di tengah keluarga kaya yang namanya terpampang di papan-papan perusahaan besar. Seluruh saudara ibunya, baik kakak maupun adik, adalah orang-orang tinggi di sebuah perusahaan kosmetik ternama. Dia juga memiliki Satu Adik , Satu satunya orang yang menganggap bahwa Riko itu ada.
Dunia mereka penuh rapat, senyum palsu, dan citra sempurna. Di tengah semua itu, Riko kecil hadir sebagai sesuatu yang dianggap cacat dari lukisan indah keluarga mereka.
Tubuhnya terlalu besar, suaranya terlalu berat untuk ukuran anak kecil. Setiap dia berjalan di depan seluruh saudara langkahnya selalu mengundang tatapan aneh. Bukan kagum, melainkan jijik dan takut.
"Apa kah akan ada orang yang kelainan di keluarga ini?."
"Jika dia terlihat di depan publik,itu akan menghancurkan reputasi keluarga kita."
Mereka berbisik Seolah kehadirannya merusak keseimbangan yang sudah susah payah dijaga keluarga itu.
...----------------...
“Kenapa Kamu harus terlahir!!!, Karena mu keluar kita di pandang rendah oleh orang lain.”
Perempuan di hadapannya adalah ibunya sendiri.
Wajahnya basah oleh air mata, tapi nada suaranya tajam seperti pisau. Riko hanya duduk menunduk di depan ibunya, tangan kecilnya mengepal di atas lutut.
“Seharusnya kamu tidak terlahir saja..."
ucapan itu jatuh begitu saja, tanpa ragu, tanpa penyesalan. Seperti menjatuhkan sampah yang tak diinginkan.
"Kenapa aku harus memiliki anak yang kelainan seperti mu!." Bagi Riko kecil, kalimat itu terasa lebih sakit daripada pukulan mana pun.
Riko perlahan mengangkat kepalanya. Matanya menatap wajah ibunya yang sedang menangis, bukan dengan takut, melainkan dengan kemarahan yang tertahan.
Tangis itu tidak terasa seperti penyesalan, lebih mirip kekecewaan karena dunia tidak berjalan sesuai keinginannya.
“kalau begitu.. kenapa kau melahirkan ku!!.”
Suara Riko kecil bergetar. Ada amarah di sana. Ada luka yang akhirnya berani berbicara.
“Kau bisa membunuhku saat itu,maka kau dan aku tidak akan jadi seperti ini.” Ruangan itu mendadak sunyi.
Tangisan sang ibu terhenti sesaat, seperti tidak menyangka anak yang selalu ia tekan akhirnya melawan. Riko sendiri gemetar setelah mengucapkannya.
“Kau bahkan tidak memanggil ku ibu saat kau berbicara,Aku ingin kau memutuskan hubungan dengan keluarga ini.”
Kalimat itu jatuh begitu saja, dingin, tanpa ragu, seolah yang berdiri di hadapannya bukan anak kandung, melainkan kesalahan yang ingin dihapus.
“Kau hanyalah benalu bagi keluarga Hanggara.”
Kata benalu itu menancap lebih dalam dari tamparan mana pun.
Riko membeku di tempat, bahunya menegang, napasnya tercekat di dada. Ruangan terasa menyempit, seolah udara sendiri menolaknya untuk bernapas lebih lama di sana.
Matanya bergetar, penuh kemarahan yang menekan dari dalam. Tangannya mengepal tanpa sadar, tubuhnya condong sedikit ke depan, seperti binatang yang terpojok.
Ada dorongan untuk memukul, untuk menghancurkan, untuk melampiaskan semua luka yang selama ini dia simpan sendirian.
...“memanggil mu ibu?,kau bahkan tidak menganggap bahwa aku ini adalah anak mu.Kau Bahkan tidak pernah mengakui keberadaan ku.., Padahal kau yang melahirkan ku, Memangnya bagimu keberadaan ku ini kau anggap apa?.”...
Suara itu pecah di tengah kalimat. Air mata mengalir tanpa izin, jatuh satu per satu, bercampur dengan amarah yang membuat dadanya terasa sesak.
Riko menangis, tapi bukan tangis lemah. Itu tangis seseorang yang hatinya akhirnya runtuh setelah terlalu lama dipaksa kuat.
Tidak ada jawaban.
Tidak ada bantahan. Tidak ada pelukan. Hanya keheningan yang terasa lebih kejam daripada hinaan. Dan di sanalah Riko menyadari, dia tidak pernah benar-benar punya rumah.
Riko berbalik tanpa menunggu apa pun lagi. Langkahnya berat, tapi keputusannya sudah bulat.
...“Aku akan memutuskan hubungan kita, tetapi aku akan membawa nama ini sebagai ‘Riko Hanggara’, untuk memberi tahu kepada dunia Bahwa aku layak, Dan membuktikan bahwa keluarga ini hanyalah batu pijakan untuk ku.”...
Pintu tertutup di belakangnya dengan suara pelan, tapi bagi Riko, itu seperti suara masa kecilnya yang diputus paksa. Di luar, dunia terasa luas dan dingin. Dia berjalan sendirian, air mata terus jatuh tanpa dia pedulikan, bahunya bergetar di setiap langkah.
Tidak ada yang memanggilnya. Tidak ada yang mengejarnya. Riko menangis di jalanan, sendirian, tanpa saksi.
Riko berjalan tanpa tujuan di antara deretan rumah yang sepi. Langkahnya berat, pundaknya turun, dan kepalan tangannya masih gemetar sisa amarah yang belum padam. Air mata terus jatuh, menetes ke aspal yang dingin, sementara napasnya terdengar tidak teratur. Hingga akhirnya langkah itu berhenti di sebuah perempatan jalan yang sunyi, tempat lampu jalan berdiri seperti saksi bisu.
Dari salah satu arah, sebuah suara dewasa memecah kesunyian.
“Apa kau butuh bantuan?.”
Riko tersentak. Dia berhenti total, bahunya menegang. Perlahan, dia mengangkat tangan untuk mengusap wajahnya yang basah oleh air mata, mencoba menghapus jejak kelemahan. Pandangannya beralih ke arah suara itu.
“Siapa?.”
Sosok itu berjalan mendekat dari salah satu cabang perempatan. Langkahnya tenang. Ia mengenakan pakaian formal seperti orang kantoran, jas rapi dengan postur tubuh besar yang membuat kehadirannya terasa menekan. Bayangan tubuhnya menutupi sebagian cahaya lampu jalan saat ia berhenti beberapa langkah dari Riko.
“Sepertinya kamu sedang bersedih, Bagaimana jika kamu ikut Dengan ku?.”
Nada suaranya berat dan dewasa, cukup untuk membuat Riko secara refleks mundur setengah langkah. Tubuhnya kecil, tapi sorot matanya waspada. Dia menatap pria itu dari atas ke bawah, mencoba membaca niat di balik wajah yang terlalu tenang itu.
Riko akhirnya angkat bicara, suaranya masih serak karena tangis, tapi tidak sepenuhnya rapuh.
“Untuk apa ?,aku hanyalah anak SMP , tidak ada untungnya jika kau membawaku.”
Pria itu tidak langsung menjawab. Dia justru tersenyum tipis, senyum yang sulit ditebak artinya. Tatapannya menajam sesaat, seolah menemukan sesuatu yang menarik di dalam diri Riko.
“Bagus sekali.” gumam nya.
Ia melangkah mendekat hingga berdiri di samping Riko, tidak menyentuhnya, tapi cukup dekat untuk membuat keberadaannya terasa nyata. Dengan satu tangan dimasukkan ke saku jasnya, pria itu sedikit menundukkan kepala.
“Ah aku lupa memperkenalkan diriku,Aku Alexander.”