Takamiya Nia, wanita berusia 42 tahun yang bekerja di Perusahaan Fasde tiba-tiba meninggal dalam kondisi tidur di apartemennya tanpa diketahui oleh siapapun.
Begitu Nia terbangun, ia mendapati dirinya menjadi bayi sepasang kekasih di keluarga kerajaan sebagai pewaris tahta kerajaan berikutnya, Kerajaan Thijam.
Dengan pengetahuan ala otaku di masa lalunya dan beberapa pengalaman yang ia miliki bersama kedua orangtuanya, Nia memutuskan untuk memperoleh kesempatan kedua untuk menjalani hidup sesuai dengan keinginannya tanpa ada paksaan maupun umpatan yang memenuhi hati dan pikirannya.
(Peringatan: Karya ini mengandung Dark Shoujo jadi siapkan mental kalian, oke?)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanken, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 17: Usulan Gerald
Setelah kembali ke kamarnya, Alice yang selesai menutup pintu merosot kebawah dalam posisi duduk dengan kedua lututnya tertekuk, ia meletakkan tangannya memeluk lututnya dengan air mata membasahi wajahnya.
"Kenapa seseorang berniat membunuhku? Salah apa aku hingga aku ditargetkan oleh orang itu? Apa tujuannya? Apa yang diinginkannya dariku?"
Semua pertanyaan memenuhi benak Alice.
Ia tidak mungkin mengadukan ini pada ayah dan ibunya karena bisa saja mereka mengadukan ini pada kakeknya, Arga, membuat suasana semakin kacau diantara ketiga fraksi tanpa tahu siapa yang ingin ia mati.
Tapi disisi lain, ia khawatir atas keselamatannya. Jika ia tidak mengadu maka ia akan mengulangi kesalahan sama seperti yang terjadi pada dirinya di kehidupan sebelumnya sebagai Nia.
"Siapapun, tolong aku! Aku tidak ingin mati!"
Tidak ada siapapun yang mendengar jeritan hati Alice yang dipenuhi keputusasaan dalam kesedihan.
Saat membayangkan dirinya hendak mati, ia tahu pasti akan ada rasa sakit yang ditinggalkan oleh orang-orang disekitarnya, seperti keluarganya maupun teman dekatnya, mereka pasti akan terpuruk dalam kesedihan mendalam.
"Apakah aku bisa berubah? Akankah ini mudah untukku untuk melaluinya?"
Saat pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi benaknya, ia tidak yakin dengan apa yang dilakukannya saat ini akan membawanya perubahan sedikitpun.
Memang, Alice akui kalau fisiknya sedikit meningkat. Tapi untuk menghadapi orang lain yang jauh lebih berpengalaman, ada kemungkinan ia akan langsung mati tanpa sempat memberikan perlawanan sepadan sesuai keinginan mereka.
•••••
Saat pagi terlihat melalui sela-sela jendela, suara pintu terbuka memperlihatkan wanita dewasa butterfly haircut berwarna pirang, sepasang mata berwarna crimson, memiliki paras cantik yang terlihat ceria saat pintu terbuka sepenuhnya.
"Sayang, sudah waktunya untuk sarapan pa–huh?"
Wanita itu tidak lain adalah Luna, ibu dari Alice.
Alasan mengapa ia terkejut saat memasuki kamar putrinya karena tidak ada keberadaan putrinya, membuatnya bertanya-tanya kemana perginya ia. Saat membayangkan hal buruk terjadi padanya, kekhawatiran dan ketakutan memenuhi hatinya.
Dalam kondisi panik, ia memeriksa kamarnya untuk memastikan bahwa Alice tidak ada di kamarnya. Setelah tahu, Luna dengan segera pergi ke kamar Ren, suaminya.
"Sayang, ini gawat! Alice, putri kita hilang!"
"Huh?"
Mendengar perkataan dari luar yang suaranya mirip seperti istrinya, Luna, Ren yang selesai berganti pakaian dari piyama ke pakaian formal ala bangsawan, dengan lengan panjang berwarna hitam menutupi kemeja putih didalamnya dengan kancing hitam berkilau, dengan celana bahan berwarna hitam panjang, dan sepatu hitam saat ia berjalan untuk membuka pintu untuk melihat istrinya yang panik.
"Bukankah ia sudah biasa menghilang?" Tanya Ren, jelas ia sudah terbiasa dengan putrinya yang selalu menghilang disaat lengan di usianya dulu sewaktu masih merangkak hingga 6 tahun.
Tapi, tidak untuk Luna yang tidak terbiasa dengan kehilangan putrinya. Insting keibuannya membuatnya khawatir, takut hal buruk terjadi pada putrinya.
"Ini bukan waktunya untuk tenang, Sayang! Kita harus mencarinya!"
Sebelum dapat berlari berkeliaran ke segala tempat, Ren mencegah Luna dengan menggenggam erat tangan kirinya saat ia akan lari dari pandangannya dalam kondisi panik.
"Tidak perlu panik, aku akan mencari keberadaan putri kita."
"Baik."
Lega mengetahui kalau suaminya berniat untuk mencari keberadaan sendiri, Luna berharap Ren dapat segera menemukan putri mereka sebelum sarapan pagi berlangsung.
"Jangan beritahu pada Ayah Mertua karena aku takut ia akan memerintahkan para maid dan ksatria untuk mencari putri kita."
"Baik."
Melihat kepergian suaminya untuk mencari putrinya, Luna tahu betul kalau ia mengadukan ini pada ayahnya, Arga maka akan menyebabkan kegemparan yang membuat para maid dan ksatria segera mencari keberadaan putri mereka.
Padahal kenyataannya, putri mereka tidak mungkin kenapa-kenapa melainkan hanya menghilang. Tapi, kehebohannya dapat membuat bangsawan lain bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi dalam benak mereka menyebabkan kegaduhan diantara para bangsawan lain dengan rumor bahwa Arga terlalu protektif melindungi Alice, cucunya sendiri.
Sepanjang lorong ditelusuri oleh Ren di lantai dua, mulai dari; area penginapan, aula makan, gudang artefak, gudang peralatan medis, ruangan operasi hingga ruangan pertemuan, ia tidak menemukan keberadaan putrinya sama sekali.
Dirasa tidak ada di lantai dua, Ren dengan tenang tanpa perlu membiarkan rasa takut, panik, dan khawatir memenuhi hatinya segera mencarinya di lantai ketiga karena lantai tersebut mungkin saja tidak ada siapapun yang berjaga tidak seperti lantai dasar atau pertama yang memiliki ksatria dan para maid di penginapan yang tengah sibuk menyiapkan sarapan pagi di dapur sana.
Besar kemungkinan, putrinya mungkin bermain di lorong tersebut jadi tanpa berlama-lama ia segera menaiki tangga menuju ke lantai tiga yang tembus ke aula umum yang kosong tanpa ada apapun.
"Tidak ada disini."
Segera berpindah ke tempat lain, dimana area tersebut merupakan kantor pribadi yang berada di lorong dari arah utara aula umum.
Matanya memandang dengan seksama setiap pintu, tidak ada tanda-tanda pintu terbuka sedikit maupun suara dari dalam di setiap ruangan kantor pribadi dengan nama masing-masing di papan didepan pintu membuat Ren yakin kalau semua para bangsawan belum sibuk melakukan aktivitas pagi.
"Mungkinkah Putriku di ruangan pribadi Ayah Mertua?"
Tidak jauh dari area kantor pribadi milik bangsawan, Ren segera berhenti didepan pintu masuk ganda terukir dengan ukiran indah berwarna keemasan tua di bagian ukiran yang membentuk huruf s dan s terbalik, dengan warna pintu dasar berwarna coklat metalik yang tingginya sekitar 3 meter.
"Kuharap Ayah Mertua tidak ada didalam."
Kedua tangan Ren diletakkan di pintu hendak membukanya dengan harapan tidak ada ayah mertuanya didalam, Arga. Karena jikalau Arga ada didalam, ada kemungkinan ia penasaran atas kedatangan mantunya kemari untuk mencari sesuatu yang tidak seharusnya ada disini menimbulkan kecurigaan padanya.
"Tenanglah, Ren. Kau pasti bisa."
Setelah meyakinkan dirinya, ia mau tidak mau memaksa untuk membuka pintu meskipun terdapat resiko akan dicurigai oleh ayah mertuanya nanti.
"Apakah anda memiliki keperluan, Tuan Ren?"
"Whoa!"
Melompat kaget saat mendengar suara dari belakangnya, Ren segera menoleh untuk mengetahui siapa yang ada dibelakangnya saat ini.
Dibelakangnya, terlihat pria berambut mohawk berwarna hijau tua, sepasang mata berwarna azure yang sipit yang selalu tertutup, memiliki paras tampan dengan postur tubuh yang ideal mulai dari; tinggi sekitar 174 cm, bertubuh sedang dengan postur tubuh yang tegap dibalik jubah berwarna biru gelap panjang, terbuat dari kain mewah berupa beludru dan dilapisi dengan bulu mahal seperti sable menatap penuh senyum pada Ren.
Orang tersebut tidak lain adalah Gerald, penasihat dari Raja Arga.
"Ternyata kau rupanya," ada rasa lega dari wajah Ren begitu mengetahui kalau itu tidak lain adalah Gerald.
"Aku kemari ingin mencari putriku. Dia tidak ada di kamarnya sejak tadi pagi."
"Mungkin sedang menghirup udara segar diluar di halaman depan istana?"
"Apakah kau yakin dia ada di sana?"
"Entahlah. Tapi, aku melihatnya tadi pagi saat matahari terbit dimana ia duduk didekat air mancur di halaman depan."
Tidak ingin memberitahu apa yang dilihatnya tadi pagi, Gerald hanya memberitahu seadanya meskipun dengan kebohongan berharap Ren tidak menanyakan lebih jauh.
Sesuai dugaan Gerald, Ren yang mengangguk menepuk pundaknya dan tersenyum selagi berlari menuju ke tangga di lantai tiga yang mengarah ke lantai dua.
"Terimakasih banyak, Gerald."
"Tidak masalah. Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan."
Begitu melihat sosok Ren yang menghilang di kejauhan, ekspresi senyum dengan sikap santai dari Gerald berubah drastis menjadi serius, mata sipitnya terbuka memperlihatkan sepasang mata berwarna azure.
"Yah, aku memang tidak membantunya dari depan seperti Nona Lisa. Tapi tetap saja, aku membantunya melalui caraku."
Kembali berjalan menjauh dari kantor pribadi raja yang berada diluar, bagi Gerald keputusan ini sangat pas untuk dirinya yang bekerja tanpa diketahui oleh orang lain sesuai dengan kinerjanya.
Lagipula, ini bukan pertama kalinya Gerald melakukan ini melainkan sudah sering jadi ia tidak ragu untuk mengulurkan tangan pada Alice demi masa depan kerajaan ini, demi keingintahuannya untuk mengetahui apakah ia bisa menjadi pemimpin berikutnya atau tidak.
Di halaman depan istana, Ren melihat sekeliling tidak menemukan keberadaan putrinya sama sekali. Bingung, Ren segera bertanya pada kedua penjaga diluar pintu istana ketimbang didalam.
"Apakah kalian melihat putriku?"
Kedua ksatria bertukar pandang lalu menatap ke Ren setelah keduanya mengangguk.
"Kami tadi melihat Alice-sama kembali ke kamarnya pagi hari setelah melakukan joging di waktu fajar."
"Joging?"
"Ya. Sudah seminggu beliau melakukan ini tanpa henti. Katanya, itu berguna untuk meningkatkan fisiknya menjadi lebih baik demi memimpin kerajaan di masa mendatang."
Tidak disangka kalau putrinya benar-benar serius melakukannya, Ren tidak tahu apakah ia harus senang atau tidak karena putrinya mengemban tugas hal yang tidak seharusnya ia emban melainkan tugas orang dewasa.
"Terimakasih banyak atas informasinya."
Tidak ingin para ksatria tahu, Ren kembali memasuki pintu ganda kayu yang memperlihatkan lobby didalamnya.
Tidak ada siapapun, kecuali para ksatria yang berjumlah tiga orang didalam. Mereka semua menatap penuh kebingungan atas sikap Ren yang terlihat tidak seperti biasanya.
"Dimana putriku?"
"Kami melihatnya kembali ke kamarnya."
"Benarkah?"
"Ya," salah satu prajurit senior mengangguk pada Ren, berkata jujur tanpa ada kebohongan.
Tapi, Ren merasa tidak bertemu dengan putrinya tadi. Kalaupun ketemu, mungkin ia sudah masuk kamar. Hanya itu pemikiran positif darinya.
"Mungkin kucoba periksa lagi."
Mengangguk sekali, Ren kembali ke lantai kedua dari salah satu sisi lobby yang melingkar. Ia sekali lagi kembali lagi ke area penginapan.
"Sayang, bagaimana? Apakah kau sudah menemukan keberadaan putri kita?"
Saat mendekati kamar putrinya, ia dikejutkan melihat Luna, istrinya yang mendekatinya dengan wajah khawatir tanpa mempedulikan kedua maid yang menemaninya guna untuk menghiburnya.
Tapi, bukannya mereka menghiburnya, Luna malah semakin khawatir atas kondisi putrinya yang hilang. Takut kalau hal buruk terjadi padanya.
"Tenanglah, Sayang. Aku yakin ia baik-baik saja."
"Benarkah?"
"Ya," meskipun Ren tidak tega melihat istrinya seperti ini, ia entah bagaimana harus meyakinkan istrinya bahwa semuanya baik-baik saja.
Kalau tidak, istrinya akan pingsan bila ia asal menjawab pertanyaannya. Apalagi jika ia tahu kalau putri mereka melakukan latihan fisik tanpa sepengetahuan mereka diam-diam menyebabkan ia marah pada Ren.
Sementara disaat Ren bingung kemana Alice pergi sedangkan Luna khawatir atas ketidakadaan Alice di kamar, di suatu tempat di lantai ketiga di kedalaman ruangan perpustakaan.
Terlihat seorang gadis kecil berusia 6 tahun yang sedang menatap bangga atas ruangan yang telah bersih setelah ia membersihkannya cukup lama tanpa sadar kalau ibu dan ayahnya sedang mencari keberadaannya.
Orang itu tidak lain adalah Alice.
Mari kilas balik beberapa saat lalu.
Setelah Alice selesai melakukan joging sebanyak 20 putaran mengitari kastil usai melakukan latihan selama beberapa minggu, ia yang beristirahat sejenak di kursi dekat taman bunga di kedua sisi diluar istana terlihat ragu akan hal ini.
"Apakah aku benar-benar bisa bertahan hidup di dunia ini?"
Ada keraguan yang menggerogoti hatinya.
Dirinya tidak yakin apakah ia bisa menghadapi mereka, musuh terkuat yang tidak diketahui siapa mereka. Mereka bisa saja menikamnya dari belakang disaat Alice lengah.
Kalaupun ia berhati-hati, ada kemungkinan orang yang ingin melenyapkannya akan tahu kalau sikapnya seperti berjaga-jaga terhadap orang lain jadi mereka mengubah rencana.
Sesuatu seperti itu membuatnya tidak yakin harus berbuat apa nanti.
Jika ia dihadapkan dengan sesuatu yang lebih kuat, misalnya orang yang berniat untuk membunuhnya memiliki afinitas sihir dan mana yang luar biasa kuat, ada kemungkinan kalau latihan yang dijalaninya olehnya akan sia-sia menyebabkan ia mati.
Begitupun jika musuhnya menggunakan fisik yang lebih kuat darinya, jangankan untuk melawan, berteriak saja tidak bisa dapat membuatnya mati dengan mudah secara langsung oleh musuhnya.
Membayangkan hal tersebut membuat keringat dingin di punggungnya, bulu kuduk Alice berdiri menegang seolah-olah ia tidak menginginkan kematian untuk kedua kalinya. Takut kalau kehidupan ketiga tidak mungkin ada untuk kedua kalinya.
"Andaikan aku tidak terlihat seperti ini," keluhnya yang merasa kalau dunia ini tidak adil.
Dilahirkan dari keluarga bangsawan, terutama keluarga kerajaan cukup bagus menurut Alice. Tak hanya terdapat beberapa pria ikemen, ada juga makanan dan minuman enak, kasih sayang dan perhatian dari kedua orangtuanya, serta teman dekatnya. Itu merupakan suatu kelebihan.
Sedangkan kekurangannya cukup dua, ia lemah fisik dan sihir. Jangankan fisik yang lemah, mana yang dimilikinya sangat kecil layaknya lilin yang hendak padam saat akan lenyap.
Tahu kalau mengeluh tidak ada gunanya, Alice menggelengkan kepalanya berkali-kali lalu menampar keras kedua pipinya untuk menyadarkan dirinya dari mengeluh yang akan menyebabkan ia sama seperti dirinya dulu.
"Aku tidak boleh mengeluh. Kalaupun aku tidak bisa hidup untuk ketiga kalinya nanti atau tidak memiliki perubahan sedikitpun, setidaknya aku sudah berusaha keras," meyakinkan dirinya akan hal tersebut, pandangannya dipenuhi tekad yang menyala tidak seperti sebelumnya yang diliputi oleh rasa takut, khawatir, dan ragu yang menjadi satu.
"Sip. Aku harus tetap melakukannya."
Tidak ingin berlama-lama diluar, Alice pergi setelah mentari hangat menerpa tubuhnya yang kira-kira sekitar pukul 06:00 pagi untuk kembali ke kamarnya.
Begitu memasuki lobby lalu menaiki tangga menuju ke area penginapan, ia tidak sengaja melihat Gerald berada ditengah-tengah lorong yang sedang diam tampak menunggu kehadiran seseorang yang akan melewati tempat itu.
"Apa yang dilakukannya di sana?"
Instingnya memberikan sinyal. Ada sesuatu yang tidak biasa dari sikap Gerald yang Alice tidak tahu seperti apa pria tersebut, tapi dari pengalaman lamanya sebagai otaku, kebanyakan pria dengan mata sipit memiliki masa lalu misterius jadi ia takut bila ia mendekatinya tanpa sikap waspada maka ada kemungkinan ia akan dibunuh olehnya.
"Apa yang kamu inginkan disini? Apakah kamu menungguku?"
"Ah, Alice-sama. Kebetulan saya ingin membicarakan sesuatu dengan anda," saat melangkah mendekati Alice, Gerald melihat jarak yang dilebarkan olehnya dengan sikap waspada saat mengatakannya dengan ramah dan penuh senyum di wajahnya dengan mata sipitnya yang tertutup.
"Apa yang kamu ingin bicarakan denganku? Katakan saja!" Desak Alice,. tidak peduli apa yang Gerald inginkan, ia tetap berhati-hati dan berwaspada dengan jarak sekitar 20 meter.
Tahu kalau sikap waspada Alice terlihat jelas, pikiran Gerald sangat yakin kalau mungkin saja Lisa sudah memberitahu ini padanya. Kalau tidak, mana mungkin Alice bersikap hati-hati seperti itu tanpa menjaga jarak dengan orang lain.
"Saya hanya ingin menyampaikan sesuatu padamu." Alice mengangguk. Ia tetap diam selagi menatap Gerald dengan wajah serius ingin tahu apa yang akan dikatakannya berikutnya.
"Pertama, saya bukanlah musuh anda. Kedua, saya datang sebagai orang yang akan membantu anda dari masalah ini. Ketiga, orang yang berencana untuk membunuh anda adalah Tuan Edi."
Sekilas, keterkejutannya sempat terlihat di wajahnya namun dengan cepat tergantikan dengan wajah jengkel selagi Alice tetap menatap Gerald.
"Omong kosong apa yang kamu katakan?! Mana mungkin Ayah dari temanku tega melakukan itu?!"
Mendengar kata-katanya yang dingin dan ekspresinya yang penuh kebencian dari wajah Alice padanya, Gerald bisa memaklumi kalau gadis kecil dihadapannya di kejauhan tidak mungkin mempercayainya jadi ia tidak marah melainkan tetap tenang.
Tapi, tiba-tiba mata sipitnya terbuka memperlihatkan sepasang mata azure yang menatap tajam pada Alice dengan wajah serius yang berbanding terbalik dari sikap ramah dan santai dari dirinya.
"Tidak, anda salah dalam hal tersebut."
Ekspresinya semakin kesal seolah-olah berkata "mana mungkin aku percaya begitu saja?!" Lalu terlihat ekspresi lainnya "jelaskan padaku!" Agar membuktikan bahwa Gerald benar-benar teman, bukan musuh yang ingin melenyapkannya dengan menikamnya dari belakang.
Menanggapi ekspresi kesal dari wajahnya yang tersirat jelas untuknya, Gerald mengangguk tanpa keberatan untuk menjelaskan apa yang diketahuinya pada Alice meskipun itu akan berakhir menjadi kenyataan pahit yang harus ditelan oleh Alice sendirian.
"Alasan Tuan Edi mengincar anda untuk dilenyapkan adalah kekuasaan. Beliau berencana untuk memanfaatkan putranya untuk menikahi anda, tapi sepertinya Tuan Ken tidak menginginkan itu."
"Tidak menginginkan itu?"
"Ya," angguk Gerald. Ia kembali ke mode santai dan ramah dengan senyum kecil di wajahnya, mata sipitnya kembali tertutup rapat selagi ia berjalan mendekati Alice.
Meskipun Alice berjaga jarak dengannya. Jarak diantara mereka sekarang 10 meter lalu 5 meter hingga akhirnya Gerald berhasil mendekatinya.
"Tuan Ken mengatakan bahwa ia tidak ingin menjadi suami anda, ia berencana untuk menjadi ksatria yang melindungi anda dari bahaya."
"Tapi, kenapa ia berniat untuk membunuhku? Apa yang didapat dari itu?"
Memang, Gerald tidak memahami apa yang dipikirkan oleh Edi. Tapi melihat dari situasi yang ada, ia memahami sesuatu melalui pembicaraan rahasia yang dilakukan oleh Edi dengan ketiga bawahannya di kamarnya saat tengah malam.
"Apakah anda yakin ingin mendengarnya meskipun ini akan sangat menyakitkan dan pahit?" Tidak peduli atas apa yang dirasakannya, Alice mengangguk siap untuk menerima jawaban dari Gerald meskipun terasa sakit dan pahit nanti.
"Beliau ingin menyingkirkan anda bukan hanya secara mudah, tapi juga berencana untuk menjadikan putranya sebagai raja untuk memimpin Kerajaan Thijam."
"Tapi, kenapa harus menggunakan kekera—"
"Karena jikalau anda tidak dilenyapkan, ada kemungkinan anda akan melaporkan ini pada siapapun."
"....."
Terdiam karena tidak bisa menanggapi apapun, apa yang dikatakan oleh Gerald ada benarnya.
Melenyapkan orang lebih mudah ketimbang berbicara dengan baik-baik. Hal itu tidak pernah terpikirkan oleh Alice, yang mungkin memiliki pemikiran sama seperti ibunya, Luna.
Tapi tetap saja, rasanya menyakitkan mengetahui kalau ayah dari teman dekatnya berencana untuk melenyapkannya demi kekuasaan untuk menjadikannya putranya sebagai raja di kerajaan ini, Kerajaan Thijam.
"Alasan mengapa anda tahu tentang ini dari Nona Lisa, saya yang memberitahu ini padanya untuk membuatnya bekerjasama denganku untuk membantumu."
"Tapi, apa yang kamu dapatkan dari membantuku?"
Tidak ada yang bisa didapat oleh Gerald untuk membantu Alice, setidaknya itu yang dipikirkan oleh Alice. Namun, Gerald tidak menanggapi itu melainkan terkekeh, tetap tersenyum dibalik topeng penuh ramah padanya.
"Saya melakukannya untuk melindungi anda dari bahaya. Terlebih, saya ingin tahu seperti apa masa depan yang anda pimpin nanti sebagai ratu di masa depan."
Tersentak mendengarnya dari Gerald, Alice tidak menyangka kalau pria didepannya membantunya hanya karena rasa penasaran, tidak lebih dari itu.
"Tapi, apa yang kamu harapkan dariku?" Kata-katanya terdengar penuh putus asa saat merendahkan dirinya dihadapan Gerald. "Aku tidak memiliki mana yang banyak, bahkan fisikku lemah."
Memeluk tubuhnya, air mata mengalir membasahi wajahnya dengan deras, takut dan khawatir bila ia benar-benar mati membiaya Gerald terkejut melihat sikap dari gadis tersebut yang terpuruk dalam ketakutan dan kesedihan.
"Mana mungkin aku bisa memimpin Kerajaan Thijam disaat aku lemah."
Apa yang didengar oleh Gerald berikutnya merupakan kalimat keputusasaan dengan penuh keraguan, ia melihat ekspresi Alice yang kesakitan saat menangis memahami apa yang diderita oleh gadis berusia 6 tahun didepannya.
Sekilas, Gerald ingin maju untuk memeluknya dan menenangkannya namun itu bukanlah pilihan terbaik yang dilakukannya. Malahan, dia hanya bisa melakukan satu-satunya untuk membuat Alice terhindar dari keterpurukan yang menyedihkan ini.
"Abaikan pemikiran orang lain! Mereka ingin menjatuhkan dirimu untuk membuatmu hancur, termasuk untuk melenyapkan mu!"
Kata-kata Gerald tegas tanpa bersikap formal, menatap tajam dengan mata azure terbuka dari mata sipitnya menatap langsung ke mata crimson milik Alice.
Alice yang dikejutkan dengan sikap Gerald yang berbeda, ia kembali menunduk ke bawah dengan wajah semakin sedih saat membayangkannya, tetap menangis selagi memeluk tubuhnya untuk menghilangkan ketakutannya sedikit.
Tahu kalau kata-kata tersebut tidak bisa meyakinkan Alice, Gerald terpaksa untuk memberikan saran lain.
"Kalaupun anda tidak kuat maka gunakan ini untuk keselamatan anda!"
Tiba-tiba Gerald melemparkan sesuatu pada Alice, Alice yang dikejutkan dengan gerakan tak terduga hampir kelabakan menangkap benda yang dilemparkan padanya.
Untungnya, benda itu tidak jatuh dan berhasil ditangkap meskipun ia sempat kelabakan sebentar.
"Ini...." ditatapnya Gerald dengan wajah bingung, ada keingintahuan dari sikap Alice seolah-olah ingin tahu kunci apa ini.
Memahami kebingungannya, Gerald menjelaskan padanya dengan sikap yang lebih santai namun tidak ada senyuman kecil dibalik topeng wajahnya melainkan keseriusan meskipun matanya kembali tertutup.
"Itu adalah kunci dari Gudang Artefak. Disana anda bisa mendapatkan artefak yang anda ingin gunakan untuk bertahan hidup. Untuk mengaktifkannya mudah, anda bisa meminta tolong pada Nona Lisa untuk memberikan mana kedalam artefak supaya bisa disesuaikan dengan ukuran anda sekaligus digunakan."
Merasa bingung atas hal ini, ada satu hal yang Alice tidak mengerti mengenai cara untuk menggunakan artefak.
Apakah itu menggunakan sihir atau hanya sebatas mana yang dituangkan pada artefak agar bisa mengaktifkannya, ia tidak ragu untuk bertanya pada Gerald.
"Apakah mereka diaktifkan melalui sihir atau mana?"
"Mereka aktif bila dituangkan mana kedalamnya. Dengan anda menggunakannya, mana tersebut tergantung dari seberapa besar kapasitas mana. Bila dituangkan dalam jumlah banyak, bisa bertahan selama 10 kali penggunaan untuk pemakaian. Jika mana-nya sedikit maka hanya bisa digunakan satu kali."
Tiba-tiba Gerald tidak ingin Alice merasa bangga bisa menggunakannya, terpaksa untuk melanjutkan penjelasan meskipun ini akan menyinggung perasaannya.
"Tapi, anda tidak bisa menggunakannya dengan kapasitas mana anda karena itu lemah."
"Ya, aku paham," tidak membenci kata-kata Gerald yang tidak memiliki maksud menghina dan merendahkannya, Alice tahu betul kalau mana miliknya mustahil untuk bisa menggunakan artefak tersebut.
"Dengan kata lain, aku hanya perlu meminta bantuan pada Tante Lisa?"
"Ya."
Sekarang Alice memahami garis besar yang diusulkan oleh Gerald padanya.
Apa yang dikatakan oleh Gerald sebagai teman adalah apa adanya. Buktinya ia rela membantu dirinya untuk menjadi ratu di masa depan, Alice yakin kalau ia memiliki orang yang berniat untuk melindunginya dari bahaya. Tapi tetap saja, ini tidak sepadan untuk melakukan ini karena masih ada rasa curiga dari balik motif tujuan Gerald membantunya sejauh ini.
Tapi, Alice tidak mengatakan apapun melainkan menampilkan senyum tulus dibalik topeng wajahnya.
"Baik, aku akan menerima usulan darimu. Terimakasih telah mengusulkan ini padaku."
"Sama-sama." Kata-kata Gerald terdengar tulus, wajahnya terlihat tenang dengan sikap santai pada Alice. "Asalkan anda selamat dan bahagia, saya rasa itu sudah cukup untuk saya bisa membuat anda jauh dari masalah."
Memang, kata-kata Gerald terdengar biasa. Tapi biar bagaimanapun, Alice tetap gadis biasa yang belum mengenal cinta selama hidupnya sebagai Nia di kehidupan lamanya, bunga bermekaran di hatinya dengan pipi sedikit merah merona.
"Tidak, tidak.... aku tidak boleh jatuh cinta padanya."
Tahu kalau jatuh cinta padanya akan sangat merepotkan, Alice yakin kalau Gerald mana mungkin tidak memiliki pasangan.
Secara keseluruhan, ia adalah pria ikemen selain dari ayahnya sendiri. Mustahil bila Gerald tidak memiliki pasangan sama sekali maupun sudah bertunangan sebagai suami-istri.
"Kalau begitu, aku permisi dulu."
"Baik."
Dipersilahkan untuk lewat oleh Gerald, Alice segera berlari karena tidak ingin ia tetap merasakan detak jantungnya yang semakin kuat. Takut jikalau ia tetap disini maka ia akan semakin jatuh cinta pada Gerald.
Gerald yang kebingungan tidak memahami kenapa Alice berlari, berpikir kalau ia berencana untuk melakukan persiapan untuk melatih fisiknya lagi. Harapannya adalah kunci itu berguna di tangan yang tepat untuk gadis kecil seperti Alice supaya masa depan Kerajaan Thijam tidak menuju kearah buruk melainkan ke arah yang baik.