Novel ini berpisah tentang Aulia, seorang desainer muda berbakat yang bercita-cita tinggi. Setelah berjuang keras, ia akhirnya mendapatkan pekerjaan impian di perusahaan arsitektur terkemuka, dipimpin oleh CEO yang karismatik dan terkenal dingin, Ryan Aditama.
Sejak hari pertama, Aulia sudah berhadapan dengan Ryan yang kaku, menuntut kesempurnaan, dan sangat menjaga jarak. Bagi Ryan pekerjaan adalah segalanya, dan tidak ada ruang untuk emosi, terutama untuk romansa di kantor. Ia hanya melihat Aulia sebagai karyawan, meskipun kecantikan dan profesionalitas Aulia seringkali mengusik fokusnya.
Hubungan profesionalitas mereka yang tegang tiba-tiba berubah drastis setelah insiden di luar kantor. Untuk menghindari tuntutan dari keluarga besar dan menjaga citra perusahaannya, Ryan membuat keputusan mengejutkan: menawarkan kontrak pernikahan palsu kepada Aulia. Aulia, yang terdesak kebutuhan finansial untuk keluarganya, terpaksa menerima tawaran tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachel Imelda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemenangan Mutlak
Malam itu penthouse kembali sunyi, namun dengan suasana yang jauh lebih ringan.
Ryan pulang dan menemukan Aulia sedang menidurkan Arka.
"Sudah selesai?" tanya Aulia pelan.
Ryan memeluk Aulia dari belakang, mencium pundaknya. "Sudah, Sayang. Clarissa tidak akan pernah punya kekuatan untuk kembali lagi. Dan Rendra... dia memutuskan untuk menggunakan haknya untuk membangun yayasan pendidikan atas nama kakaknya."
Aulia berbalik dan menangkup wajah Ryan. "Sekarang, nggak ada rahasia lagi, kan?"
"Nggak ada, Sayang," jawab Ryan tulus.
Tiba-tiba suara tangisan bayi yang kencang memecah suasana romantis itu. Ryan menghela napas, tapi kali ini sambil tertawa. "Oke, musuh terbesar kita saat ini bukan lagi Clarissa, tapi popok Arka yang harus diganti."
Aulia tertawa dan memberikan popok bersih pada Ryan. "Ayo, Bapak Direktur Utama. Waktunya bekerja."
Ryan menghela napas panjang, lalu menyingsingkan lengan kemeja mahalnya hingga ke siku. Ia menatap Arka yang sedang menendang-nendang udara dengan ekspresi "puas" setelah membuat keributan kecil di popoknya.
"Oke, jagoan. Ini negosiasi kota terakhir malam ini," gumam Ryan sambil membuka perekat popok yang kini jauh lebih ahli daripada saat ia pingsan di rumah sakit dulu.
Aulia bersandar di pintu kamar bayi, melipat tangan di dada sambil tersenyum geli. "Jangan lupa pakai krim anti ruamnya, Mas. Dan ingat, serangan air mancur bisa terjadi kapan saja."
"Tenang, Sayang. Aku sudah menggunakan teknik cover and swipe," jawab Ryan bangga. Benar saja dengan kecepatan kilat, ia mengganti popok Arka sebelum si kecil sempat meluncurkan 'serangan balasan'. Begitu selesai, Ryan mengangkat Arka, mencium perut buncit bayinya hingga terdengar suara tawa kecil yang menggemaskan, lalu meletakkannya kembali ke dalam box bayi.
Ajaibnya, setelah kenyang dan bersih, Arka segera memiringkan badannya. memeluk guling kecilnya, dan tertidur lelap dalam hitungan detik.
Ryan perlahan menutup pintu kamar bayi, dan mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur yang temaram. Ia berbalik dan menemukan Aulia masih menatapnya dengan pandangan kagum.
"Ternyata CEO Aditama & Partners benar-benar sudah naik pangkat jadi Senior Diaper Manager," goda Aulia.
Ryan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah maju, meraih pinggang Aulia, dan menariknya lembut ke dalam pelukannya. Ia menenggelamkan wajahnya di leher Aulia, menghirup aroma vanila yang selalu menjadi candunya.
"Akhirnya," bisik Ryan parau. "Hanya ada aku dan kamu."
Mereka berjalan menuju balkon penthouse. Udara malam Jakarta yang sejuk menyambut mereka. Di bawah sana lampu-lampu kota berkelap kelip seperti berlian yang tersebar, namun bagi Ryan, pemandangan terindah tetaplah wanita yang kini ada di dadanya.
Ryan memutar tubuh Aulia agar menghadapnya. Di dalam keremangan cahaya bulan, mata Aulia tampak berbinar. Ryan mengusap pipi istrinya dengan ibu jari, menyingkirkan anak rambut yang tertiup angin.
"Terima kasih Aulia," ucap Ryan bersungguh-sungguh. "Bukan hanya karena Arka, tapi karena kamu tetap berdiri di sampingku saat masa laluku hampir menghancurkan segalanya. Kamu adalah fondasi terkuat dalam hidupku."
Aulia tersenyum manis, melingkarkan lengannya di leher Ryan. "Kita arsiteknya, Mas. Kita yang merancang hidup ini bersama. Sesulit apapun Strukturnya, kalau kita kerjakan berdua nggak akan.pernah roboh.
Ryan mendekatkan wajahnya, hidung mereka bersentuhan. "Aku mencintaimu, Nyonya Aditama."
"Aku lebih mencintaimu, Pak Bos," balas Aulia lembut.
Ryan menunduk, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang dalam dan penuh kerinduan. Ciuman yang tidak lagi terburu-buru oleh kontrak pernikahan atau ketakutan akan rahasia. Melainkan ciuman yang murni tentang rasa syukur dan cinta yang telah teruji badai.
Dibalik pintu kaca, Arka tertidur pulas, bermimpi tentang masa depan yang cerah. Sementara di balkon itu, di tengah kemegahan Jakarta, Ryan dan Aulia sudah memiliki dunia milik mereka sendiri.
******
Delapan belas tahun telah berlalu sejak malam penuh drama di penthouse Aditama. Sosok bayi mungil yang dulu membuat Ryan pingsan di ruang persalinan, kini telah bertransformasi menjadi seorang pemuda yang nyaris sempurna.
Di lapangan basket Universitas Internasional Jakarta, suara decitan sepatu kets dan pantulan bola memenuhi udara. Seorang pemuda dengan tinggi 188 cm, mengenakan Jersey bernomor punggung 01, melakukan slam dunk yang begitu bertenaga hingga ring basket bergetar.
Begitu ia mendarat, sorakan histeris dari tribun penonton yang didominasi mahasiswi, pecah. Arka hanya menyugar rambutnya yang basah oleh keringat dengan tangan, sebuah gerakan sederhana yang sukses membuat beberapa mahasiswi di barisan depan lupa bernapas.
"Arka! Minumnya!" teriak beberapa orang gadis menyodorkan botol air mineral.
Arka hanya memberikan senyum tipis - senyum yang diwarisi dari papanya, Ryan- namun dengan tatapan mata yang teduh milik mamanya, Aulia. "Terima kasih, tapi saya sudah bawa sendiri," jawabnya sopan, namun menjaga jarak. Dingin namun mempesona, persis seperti julukannya di kampus: The Ice Prince.
Arka tidak hanya menjual tampang, di fakultas Arsitektur, ia adalah legenda hidup. Ia bisa begadang mengerjakan maket struktur bangunan yang rumit, namun, keesokan paginya tetap tampil segar di kelas Matematika Struktur dengan nilai A mutlak.
"Arka, kamu benar-benar titisan Pak Ryan dan Bu Aulia, ya," ujar Bima - yang kini sudah menjadi dosen tamu sekaligus Direktur Desain di perusahaan Papanya - Saat ia memeriksa tugas Arka. "Struktur bangunanmu seberang Papamu, tetapi estetika desainnya sehalus Mamamu."
"Terima kasih, Om Bima. Saya masih harus banyak belajar," jawab Arka rendah hati. Ia tidak pernah mau menggunakan nama besar Aditama untuk mendapatkan kemudahan. Di kampus, ia dikenal sebagai mahasiswa beasiswa prestasi, meski semua orang tahu siapa ayahnya.
Sore harinya, Arka pulang ke rumah. Penthouse itu masih semegah dulu, namun kini terasa lebih hangat. Begitu masuk ia langsung disambut oleh suara tawa yang ia kenali.
Ryan yang kini memiliki sedikit uban di pelipsnya, namun tetap terlihat sangat fit, sedang duduk di sofa sambil memijat kaki Aulia yang tampak sedang bersantai.
'Wah, pahlawan basket kita sudah pulang," goda Ryan saat melihat Arka. "Gimana pertandingannya? menang?"
"Menang, Pa. Seperti biasa," jawab Arka sambil mencium tangan kedua orang tuanya. Ia lalu duduk di samping mereka. "Tadi ada tiga mahasiswi lagi yang mencoba menitipkan surat di tas basketku."
Aulia tertawa kecil, mengelus rambut putra tunggalnya. "Dih persis banget sama Papanya dulu. Dulu Papa kamu itu sombongnya minta ampun, sampai Mama hampir nggak mau menoleh."
"Tapi akhirnya Mama jatuh cinta juga kan karena aku pingsan saat kamu lahiran?" Sahut Ryan yang langsung di sambut lemparan bantal sofa oleh Aulia. Arka tertawa melihat kelakuan orang tuanya yang masih saja sama seperti remaja dimabuk cinta.
Namun kedamaian itu sedikit terusik ketika ponsel Arka bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak di kenal:
Arka Lavana Aditama. Matahari yang menyinari. Mari kita lihat apakah cahayamu akan tetap terang saat bayangan masa lalu kembali muncul. Selamat datang di dunia nyata, Anak Muda."
Arka mengerutkan kening. Ia menatap Papanya yang masih bercanda dengan Mamanya. Sejak kecil, Arka tahu bahwa menjadi seorang Aditama berarti memiliki target di punggungnya. Ia menyimpan ponselnya kembali ke saku, sorot matanya yang tadinya lembut mendadak berubah tajam dan waspada.
"Ada apa, Arka?" tanya Ryan yang menyadari perubahan ekspresi anaknya. Insting pelindung Ryan tidak pernah tumpul.
"Nggak ada apa-apa, Pa. Cuma tugas kuliah yang menumpuk." Jawab Arka tenang. Ia tidak ingin merusak momen bahagia orang tuanya. Namun di dalam hati, Arka berjanji: Siapapun yang mencoba mengusik kebahagiaan Papa dan Mamanya, mereka harus berhadapan dengannya lebih dahulu.
Malam itu di balkon yang sama tempat Ryan dan Aulia berdiri menatap kota. Ia bukan lagi bayi yang perlu dilindungi. Dia adalah matahari baru Aditama. Dan ia siap terbakar untuk melindungi keluarganya.
Bersambung.....