Siapa yang sanggup menjalani sebuah hubungan tanpa cinta? Apalagi pasangan kalian masih belum usai dengan masa lalunya. Dua tahun Janice menjalani hubungan dengan seorang pria yang sangat ia cintai, dan hidup bersama dengan pria tersebut tanpa ikatan pernikahan. Selama dua tahun itu Stendy tidak pernah membalas cinta Janice. Bahkan Stendy sering bersikap dingin dan acuh pada Janice. Sampai akhirnya wanita di masa lalu Stendy kembali, hingga membuat Janice terpaksa mengakhiri hubungannya dan melepaskan pria yang selama ini sangat ia cintai. Semua Janice lakukan, hanya untuk membuat Stendy bahagia bersama wanita yang dicintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Hyungsik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memorable 18
Owen menunggu Janice di depan kampus, sambil memegang bunga mawar merah. Banyak mata wanita yang memandang ke arah Owen. Akan tetapi tetap diabaikan oleh pria itu. Karena fokusnya saat ini adalah wanita yang berjalan bersama seorang wanita yang baru dilihatnya. Dia tersenyum ketika melihat Janice keluar dari gerbang kampus, dengan senyum yang manis.
"Hai, Janice," kata Owen, sambil memberikan bunga mawar merah.
Janice tersenyum kikuk, "Hai, Owen. Ini untukku?"
Owen tersenyum, "Iya, aku hanya ingin membuatmu senang.”
“Uuuhhh, ternyata pacarmu selain tampan juga sangat romantis, Janice.”
Janice tersenyum malu, sementara Owen hanya diam tak menanggapi.
“Oh, iya, kenalkan ini Cassie. Dia teman satu jurusan denganku,” kata Janice, sambil memperkenalkan Cassie.
Owen hanya mengangguk, dan tidak menunjukkan senyumnya. Seketika wajahnya berubah dingin. “Owen,” katanya singkat.
Membuat Janice tercengang sekaligus tidak enak pada Cassie atas sikap owen yang tiba-tiba berubah dingin seperti itu. Janice dan Cassie saling lirik, kemudian Cassie tersenyum dan mengangguk.
“Aku Cassie,”
Tidak ada jabat tangan di antara keduanya. Sampai akhirnya Cassie undur diri karena jemputannya sudah datang.
Janice menatap tidak suka pada Owen. Membuat pria itu mengerutkan dahinya.
“Ada apa? Mengapa kau menatapku seperti itu?”
Janice memutar bola matanya malas. “Kau yang kenapa. Mengapa tiba-tiba saja sikapmu berubah seperti itu? Apa sebelumnya kau mengenal Cessie?”
Owen menggeleng. “Tidak. Aku tidak mengenalnya.”
“Sudahlah. Sebaiknya kita jalan nanti keburu kemaleman,” ajak Owen, dia sengaja mengalihkan pembicaraan mereka.
Janice mendesah pelan, "Ke mana kita pergi?" tanya Janice.
Owen tersenyum, "Aku punya kejutan untukmu. Percayalah, kamu akan suka."
Janice tersenyum tipis, dan mereka berdua pergi ke mobil Owen. Mereka berkendara ke sebuah bukit yang terletak di luar kota, dengan pemandangan kota yang indah di bawahnya.
Ketika mereka tiba di bukit, Janice tersenyum, "Wah, ini sangat indah!"
“Tidak ada yang seindah kamu, Janice.”
Janice langsung menoleh dengan pipi yang bersemu merah. “Kau ini bicara apa? Aku sedang mengagumi pemandangan ini,” keluh Janice, padahal jantungnya sudah merasakan debaran aneh.
Owen tersenyum, sambil mengangguk-angguk pelan. "Aku tahu kamu akan suka. Aku ingin berbicara denganmu tentang sesuatu."
Janice mendongak, "Apa itu?"
“Sebaiknya kita duduk di sana saja,” kata Owen, sambil menunjuk ke arah sebuah bangku dengan meja kecil tidak jauh dari pohon besar.
Owen mengambil napas dalam-dalam, setelah mereka duduk. "Janice, aku tahu kita sudah dijodohkan, dan hari pertunangan kita pun sebentar lagi akan dilaksanakan. Aku tahu kamu masih belum siap untuk pernikahan ini. Tapi aku ingin tahu, apakah kamu siap untuk menjadi istriku?"
Janice terhenyak mendengar ucapan Owen. Sebenarnya ia juga sudah memikirkan hal ini. Beberapa minggu dekat dengan Owen, membuat hatinya terasa nyaman.
"Owen, aku..."
Owen memotongnya, "Tidak perlu menjawab sekarang. Aku hanya ingin kamu tahu, aku siap untuk menikahimu, kapan pun kamu siap,” kata Owen, sambil tersenyum lembut.
Janice terdiam, lidahnya sedikit kelu. Hati dan pikirannya saat ini masih bertarung. Namun, dirinya harus segera menyelesaikan semuanya. Janice menggeleng cepat. "Aku harus menjawabnya sekarang. Aku tidak ingin menggantungkan keputusan ini,” ucap Janice, sedikit menjeda sebelum kembali melanjutkannya lagi.
“Owen, aku bersedia. Tapi…” kata Janice, sambil membasahi bibirnya dengan lidahnya.
“Kamu tahu masa laluku seperti apa. Kamu juga tahu aku pernah gagal dalam percintaan. Bahkan itu semua seperti baru saja terjadi kemarin sore. Aku…” Janice mencoba menetralkan perasaannya dengan menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar.
Janice menatap mata Owen dengan lekat. “Aku tidak mau merasakan sakit hati lagi. Jujur aku masih trauma dengan kejadian kemarin. Tapi, aku juga ingin bahagia. Aku ingin dihargai layaknya seorang wanita yang dicintai dengan tulus.”
Pernyataan yang terlontar dari bibir Janice, membuat Owen terdiam. Owen menatap mata Janice yang sudah mulai berkaca-kaca, dia tahu rasanya mencintai tanpa dicintai. Dengan penuh tekad yang bulat, Owen tetap akan menikahi janice dan dia juga sudah berjanji pada dirinya untuk membahagiakan wanita itu.
Owen menghela nafasnya sambil menundukkan wajahnya, dan kembali menatap Janice. “Aku tahu kamu memiliki luka-luka di masa lalu, tapi aku ingin menjadi orang yang membantu menyembuhkannya. Aku ingin membuatmu bahagia. Aku juga sadar tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi, tapi aku bisa membuatmu bahagia di masa depan. Aku ingin menjadi orang yang membuatmu tersenyum setiap hari,” jawab Owen, sambil tersenyum tenang.
Janice terhenyak kembali dengan ucapan Owen. Terdengar tulus dan jujur. Dia juga merasa terharu mendengarnya. Janice tersenyum, dengan air mata yang sudah jatuh. “Tapi, aku masih kuliah, Owen. Apa kita menikah setelah aku lulus, atau…”
Owen menyentuh pipi Janice dan mengusap air mata wanita itu. “Aku berjanji pernikahan kita tidak akan mengganggu kuliahmu, Janice.” kata Owen yang langsung memotong ucapan Janice.
Owen meraih tangan Janice dengan lembut. Janice menatap tangannya dan hendak melepaskan, namun entah mengapa genggaman tangan Owen terasa nyaman, dan hangat. Membuat Janice enggan melepaskan genggaman tangan Owen.
“Aku akan menunggu kamu, kapan pun kamu siap. Aku janji, akan tetap menjagamu dan membuatmu bahagia,” kata Owen, sambil tersenyum.
Mereka berdua berdiam diri sejenak, dengan tatapan mata yang saling mengunci. Janice dapat melihat keseriusan dalam mata Owen. Dia pun, tertegun melihatnya. Dalam hati Janice bertanya-tanya, mengapa sikap Owen sangat berbeda saat dulu dirinya masih bersama Stendy. Tapi saat ini, ketika hubungannya kandas dan pria itu tahu kalau dirinya akan menjadi istrinya, sikap pria itu berubah. Owen yang dikenalnya dulu sangatlah dingin, seperti saat pria itu berkenalan dengan Cassie. Ah, mengingat Cassie, Janice kembali menatap tajam pada Owen.
Owen tersentak mendapat tatapan memicing seperti itu dari Janice. “Ada apa?” tanya Owen, ada rasa takut dalam dirinya.
Dia takut tiba-tiba saja Janice berubah pikiran dan memutuskan untuk menghentikan perjodohan mereka.
Janice melepaskan genggaman tangan Owen, dan melipat kedua tangannya di atas meja.
“Owen, mengapa tadi saat berkenalan dengan Cassie sikapmu seperti itu?”
Pertanyaan Janice sukses membuat kerutan di kening Owen. Owen pun, tersenyum kecil. Dia pikir apa? Dia sudah takut saja Janice berubah pikiran.
Owen mencondongkan tubuhnya. “Memangnya sikapku kenapa?” tanya Owen yang masih bingung.
Janice berdecak kesal. “Dingin. Sama seperti saat kau melihatku bersama Stendy,” kata Janice.
Dahi Owen yang sejak tadi berkerut, kini semakin berkerut. Namun, akhirnya dia pun tertawa.
“Oh, jadi kau bisa menilai perubahan sikapku ini. Wah, ternyata kau sudah begitu memperhatikan diriku. Terima kasih, Cantik.” Owen mengedipkan satu matanya, sambil masih tertawa kecil.
Janice merasa kesal dengan tanggapan Owen. Dia kembali mendesah kasar. “Ternyata kepercayaan dirimu itu sangat tinggi, ya?” kata Janice, dengan wajah sinisnya.
“Hahaha… Sejak dahulu aku memang seperti ini, Nyonya Wister.” Owen tersenyum pada Janice, dan membuat wanita itu merasakan getaran aneh itu lagi.
Janice juga merasa sedikit gugup saat Owen memanggilnya ‘Nyonya Wister’. “T-tapi tidak seharusnya kau bersikap seperti itu pada temanku,” ucap Janice, sedikit protes atas sikap Owen.
Owen mendesah pelan. “Oke, baiklah.” Owen memilih mengalah, agar perbincangan tidak penting baginya itu selesai.
Owen mengajak Janice untuk berkeliling di area tersebut. Ternyata malam ini sangat ramai pengunjung. Beruntung malam ini tidak hujan, banyak pengunjung datang untuk sekedar jalan-y, dan ada oula yang memang sengaja datang untuk menikmati momen romantis bersama pasangan. Seperti Owen dan Janice. Di tengah-tengah terdapat lahan luas berumput, terlihat banyak sekali anak-anak bermain bersama keluarga mereka.
Jalan yang dilalui Owen dan Janice terlihat cukup ramai, sampai-sampai Janice hampir terjatuh saat seseorang tidak sengaja menabraknya. Beruntung Owen sigap memegang pinggang Janice dan memeluk wanita itu.
“Tolong hati-hati saat berjalan.” Terdengar tegas dan dingin, membuat orang tersebut sedikit takut pada Owen.
“M-maaf, Tuan, Nona.” Orang itu pun, berjalan cepat karena tidak ingin berurusan panjang.
Janice masih berada dalam pelukan Owen. Dia cukup terkejut tiba-tiba sudah berada dalam pelukan pria itu. Janice mendongakkan wajahnya, menatap Owen saat berbicara pada orang yang menabraknya. Janice dapat melihat ekspresi tegas dan tatapan dingin yang Owen tunjukkan pada orang itu. Janice sibuk memandangi wajah Owen, dan ia baru menyadari bahwa Owen begitu tampan. Tiba-tiba Janice merasakan jantungnya kembali berdebar aneh.
“Kamu tidak apa-apa?”
Janice tersadar dan matanya pun, bertemu dengan tatapan Owen yang kembali lembut. Dia terhenyak, sebab tatapan itu benar-benar berubah. Tidak terlihat dingin.
Janice mengangguk. “I-iya, a-aku baik-baik saja,” jawab Janice, terlihat gugup.
Owen tersenyum, “Ayo! Sebaiknya kita cari restoran dekat sini. Ini sudah waktunya makan malam,” ajak Owen, tangannya tidak lepas dari pinggang Janice.
Pria itu tetap ingin membuat Janice nyaman dan aman saat jalan dengannya. Owen menjaga Janice, seolah wanita itu adalah benda berharga miliknya yang harus dijaga dengan baik. Tapi, itu hanyalah perumpamaan saja. Janice tetaplah Janice, wanita yang selama ini Owen cintai dalam diam. Janice terus memperhatikan hal-hal kecil seperti ini yang dilakukan Owen pada dirinya. Perlakuan kecil yang tidak bisa Stendy lakukan padanya. Sebab pria itu hanya sibuk dengan hatinya untuk wanita lain.
Mereka tiba di restoran, dan Owen juga sudah memesankan makanan untuk mereka berdua. Selang beberapa menit berlalu, pesanan mereka pun telah datang.
“Selamat makan,” ucap keduanya, sambil tersenyum malu-malu.
Saat hendak memasukkan makanan ke dalam mulut, tiba-tiba saja Owen menyodorkan makanan pada Janice.
“Buka mulutmu, kau suka tumis daging lada hitam ‘kan?” kata Owen dengan tangan yang masih memegang sumpit dengan daging lada hitamnya.
Janice baru tersadar, bahwa hampir semua menu adalah makanan kesukaannya. Janice kembali tersentuh dengan perhatian kecil yang diberikan Owen. Dia pun membuka mulutnya, dan menerima suapan dari Owen. Owen tersenyum melihat Janice yang mau menerima suapan darinya.
“Bagaimana menurutmu, apakah makanannya enak?” tanya Owen.
Janice mengangguk, “Enak. Tapi, tidak mirip dengan masakan Ayah,” jawab Janice jujur, ya memang Jason sangat mahir dalam memasak.
Owen tergelak mendengar ucapan jujur dari Janice. “Kamu benar, masakan Paman memang tidak ada duanya,” kata Owen yang disambut tawa kembali dari Janice.
Tidak terasa waktu cepat berputar, Owen mengantarkan Janice sampai ke rumahnya. Ternyata Jason juga baru saja tiba di rumah. Owen dan Janice keluar dari dalam mobil bersamaan dengan Jason dan asistennya yang juga ikut keluar dari mobilnya.
“Kalian baru sampai?” tanya Jason, sambil menghampiri keduanya dengan senyum merekah.
Owen dan Janice tersenyum. “Iya, Paman. Maaf aku sedikit terlambat mengantarkan Janice. Tadi jalan sedikit ada kemacetan,” kawab Owen, sambil membungkukkan sedikit tubuhnya.
Jason mengibaskan tangannya. “Hei, sudah jangan tidak enak seperti itu. Selagi Janice bersamamu, Paman dan Bibi sudah tenang,” jawab Jason.
Mata Janice melotot, dan hendak protes. “Ayah,”
Jason menaikkan satu alisnya. “Ada apa? Memang seperti itu. Ayah dan Ibu kamu ini sudah meminta Owen untuk menjagamu. Jadi selama kamu bersama Owen, Ayah dan Ibu akan merasa tenang. Karena kami tahu, Owen itu adalah orang yang sangat bertanggung jawab,” kata Jason.
Owen tersenyum mendengar ucapan Jason, dia juga melirik sekilas ke arah Janice. Sementara Janice seperti orang yang tidak tahu apa-apa. Banyak pertanyaan yang sepertinya dia tidak ketahui tentang ayah dan Owen. Sudah sedekat apakah mereka berdua, bahkan tadi sang ayah pun mengatakan kalau ibunya juga minta Owen untuk menjaga dirinya.
*
Stendy kembali mencoba mendatangi rumah keluarga Arkana. Dari jarak yang tidak jauh, ia masih dapat melihat rumah itu dijaga oleh beberapa orang yang sering menghadangnya dahulu. Stendy yang masih sangat penasaran pun segera keluar dari dalam mobil. Dengan langkah mantap dia berjalan ke rumah Janice, dirinya masih sangat yakin kalau Janice sudah mau menemui dirinya. Stendy tidak percaya, kalau Janice sudah pergi ke luar negeri.
“Hei, aku ingin bertemu dengan Nona kalian!”
Tidak ada rasa sopan atau berbasa-basi saat berbicara pada orang suruhan Jason itu.
Beberapa pengawal yang sedang duduk santai pun, berdiri dan mendekati pagar. Di sana juga ada Romeo, dialah yang berdiri terlebih dahulu. Lalu membuka pintu pagar.
“Bocah tengik ini lagi. Mau apa kau datang ke sini lagi, hah?”
“Dimana Janice? Aku mau bertemu dengannya,” jawab Stendy yang tidak pernah gentar sedikitpun.
Romeo tersenyum sinis. “Sudah kukatakan padamu, jangan kau buang-buang waktumu untuk datang ke sini lagi,” kata Romeo, sambil mendorong pelan bahu Stendy dengan jarinya.
Stendy merasa kesal, "Apa maksudmu? Aku hanya ingin berbicara dengan Janice."
Romeo tidak menjawab, tapi malah memanggil beberapa anak buahnya. Mereka semua mengelilingi Stendy, dengan ekspresi yang keras.
Stendy merasa terancam, "Apa yang kalian lakukan? Aku hanya ingin menemui Janice!"
Pengawal itu tidak menjawab, tapi malah mendorong Stendy ke arah mobilnya. Stendy mencoba untuk melawan, tapi preman itu terlalu kuat.
Tiba-tiba, terdengar suara dari dalam rumah, "Apa yang terjadi di sini?"
Semua orang menoleh ke arah suara itu, dan Stendy melihat Calvin berdiri di depan pintu rumah, dengan ekspresi yang marah.
"Calvin, aku hanya ingin berbicara dengan Janice," kata Stendy, dengan nada yang agak kencang.
Calvin berjalan ke arah Stendy, dengan pengawal yang masih mengelilinginya. "Untuk apa kau datang menemuinya? Janice sudah tidak ingin berbicara denganmu, Stendy. Tolong, pergi dari sini."
Stendy merasa kesal atas ucapan Calvin. “Atas alasan apa kau berkata begitu? Aku tidak percaya dengan apa yang kau katakan sebelum aku bertemu dengan Janice.”
“Janice!” teriak Stendy memanggil nama sang mantan.
“Diam, Stendy!” pekik Calvin, sambil menatap marah pada Stendy. Rahangnya pun, sudah mengeras.
“Sebaiknya kau pergi atau kau akan tahu akibatnya karena sudah membuat keributan di rumah ini!” Calvin kembali mengusir Stendy dengan nada berteriak.
“Aku tidak akan pergi sebelum bertemu Janice.” Stendy tetap kekeh pada posisinya.
Calvin menyeringai. “Baiklah. Kau yang minta,”
Calvin memberi kode melalui jarinya, dan Romeo pun segera bergerak bersama anak buahnya. Stendy tahu dirinya sedang dalam bahaya.
“Apa yang ingin kalian lakukan?” tanya Stendy dengan wajah paniknya.
“Beri dia pelajaran,” kata Romeo.
Bug… Bug …
“Aakkhhh…” pekik Stendy.
Sebuah pukulan dilayangkan ke wajah Stendy, dan pelukannya adalah Romeo. Stendy yang belum siap pun merasakan sakit, saat sebuah tendangan kembali dirasakan.
“Cukup!”
Romeo hendak memukul Stendy, akan tetapi Calvin segera mencegahnya. Calvin mendekati Stendy yang masih terkapar di bawah. Dia pun berjongkok, dan menatap nyalang pada Stendy. Begitupun juga dengan Stendy.
“Ini peringatan pertama untukmu, Stendy. Jangan pernah kembali ke rumah ini untuk menemui Janice. Menjauhlah dari keluarga Arkana.” Calvin kembali memberi peringatan pada Stendy.
Kemudian Calvin berdiri dan memberi perintah pada Romeo untuk meninggalkan Stendy yang terluka begitu saja. Sementara Stendy sendiri menatap marah pada Calvin, Romeo dan beberapa pengawal lainnya.
Stendy mengepalkan tangannya. “Brengsek!” katanya, sambil memekik kesal.