NovelToon NovelToon
MALA & DERREN IKATAN TANPA RENCANA

MALA & DERREN IKATAN TANPA RENCANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / One Night Stand / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia
Popularitas:346
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

---


Nirmala hampir saja dijual oleh ibu tirinya sendiri, Melisa, yang terkenal kejam dan hanya memikirkan keuntungan. Di saat Mala tidak punya tempat lari, seorang pria asing bernama Daren muncul dan menyelamatkannya. membuat mereka terjerat dalam hubungan semalam yang tidak direncanakan. Dari kejadian itu, mala meminta daren menikahi nya karena mala sedikit tau siapa daren mala butuh seseorang untuk perlindungan dari kejahatan ibu tiri nya melisa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

Aurelia Sundari tidak pernah menyangka hidupnya akan sampai pada titik ini.

Selama bertahun-tahun ia tumbuh di bawah bayang-bayang ibunya, Melisa Sundari—wanita yang dikenal anggun dari luar, namun menyimpan ambisi gelap yang nyaris tak terduga.

Aurelia memang tidak sempurna, sering mengikuti arahan ibunya karena takut… tapi ia tidak pernah membayangkan bahwa garis batas moral mereka akan sejauh ini.

Sejak rencana pembunuhan Mala gagal, Melisa semakin kehilangan kendali. Suaranya meninggi setiap saat, matanya berubah seperti binatang yang terpojok.

Aurelia beberapa kali melihat ibunya mengobrak-abrik kamar, mengancam orang-orang bayaran, bahkan berbicara sendiri sambil memaki.

Dan malam itu, ketika Aurelia mendengar ibunya berkata,

"Kalau bukan Mala yang mati, maka kita yang hancur. Lebih baik aku singkirkan dia dan juga Wira sekalian!"

Aurelia merasa ada tali terakhir dalam hatinya yang putus.

Ia tidak bisa tinggal diam lagi.

Dengan langkah gemetar, Aurelia keluar dari rumah saat subuh, membawa tas kecil berisi pakaian seadanya dan keberanian yang ia kumpulkan dari sisa-sisa nurani yang belum mati. Ia tidak tahu apa yang menunggunya… tapi ia tahu harus pergi.

Hanya ada satu tempat yang ia yakin bisa memberi jawaban.

Rumah Bapak Wira.

---

Pagi itu masih lengang, cahaya matahari baru merayap menyentuh kebun teh di belakang rumah. Para bodyguard Daren sudah bersiaga sejak dini hari, bergantian berpatroli.

Saat Aurelia muncul di depan pagar dengan wajah pucat dan mata sembab, para penjaga langsung mengangkat kewaspadaan.

“Siapa?” tanya salah satu bodyguard dengan nada tegas.

“Aku… aku Aurelia,” jawabnya terbata. “Ingin bertemu Pak Wira. Ini penting…”

Bodyguard itu saling pandang, lalu memberi isyarat pada yang lain untuk menahan posisi. Mereka jelas sudah mengenal nama “Aurelia” sebagai salah satu ancaman potensial yang mungkin bekerja sama dengan Melisa.

Di teras, Bapak Wira muncul, wajahnya langsung mengeras begitu mengenali sosok di depan pagar.

“Apa maksud kedatanganmu?” suaranya dingin sedingin es

Aurelia menelan ludah keras-keras. “Aku… aku tidak ingin terlibat dengan Mama lagi. Aku… aku takut.”

Wira tidak menunjukkan simpati apa pun. “Atau ini cuma pancingan? Kau mata-mata yang dikirim ibumu?”

Aurelia menggeleng cepat, air mata menetes tanpa bisa ia tahan. “Tidak, Pak… tidak. Aku tidak mau ikut dalam rencana Mama. Malam tadi… aku dengar dia ingin membunuh Mala… dan Bapak juga.”

Para bodyguard menegang. Salah seorang langsung meraih earpiece dan memberi informasi pada Daren yang kebetulan baru selesai sarapan bersama Tuan Armand dan Mala.

Daren segera keluar. Tuan Armand menyusul. Mala berdiri di belakang mereka, terlihat was-was.

Saat melihat banyak orang keluar, Aurelia semakin panik. “Aku tidak bohong! Aku benar-benar ingin pergi dari semua ini. Aku hanya ingin hidup normal… jauh dari Mama.”

Bapak Wira masih terlihat ragu. “Bagaimana aku tahu kau tidak sedang menjalankan rencana lain?”

Tuan Armand maju perlahan, menatap Aurelia dengan mata setajam pisau. Tatapan seorang pria yang sudah kenyang pengalaman menghadapi pembohong, pengkhianat, bahkan kriminal berbahaya.

“Aurelia,” suaranya dalam tapi tenang. “Lihat saya.”

Aurelia mendongak pelan.

Tuan Armand menatap tanpa berkedip, mempelajari gerakan mata, napas, hingga getaran suara gadis itu. Beberapa detik terasa seperti menit.

Di belakangnya, Daren berbisik pada Reyhan, “Ayah sedang mode detektor kebohongan.”

Reyhan mengangguk pelan. “Serem banget kalau udah begini…”

Setelah menatap cukup lama, Tuan Armand akhirnya bicara.

“Wira… dia tidak bohong. Yang ada hanya ketakutan murni.”

Aurelia akhirnya jatuh berlutut, menangis keras.

“Aku… aku hanya ingin bebas… aku tidak ingin mati karena ambisi Mama. Tolong… jangan seret aku dalam masalah ini…”

Suara tangisnya pecah di halaman rumah yang dingin.

Wira menghela napas panjang. Ada amarah, ada curiga, tapi juga rasa kasihan pada gadis yang sebenarnya juga korban.

Akhirnya ia berkata pelan, “Bangun, Aurelia.”

Aurelia mengangkat wajah, mata bengkaknya memohon.

“Aku akan percaya padamu… sementara. Tapi ingat, satu langkah keliru, dan aku akan anggap kau memihak ibumu.”

Aurelia mengangguk berkali-kali. “T-terima kasih…”

Sampai saat itu, Mala belum mengeluarkan sepatah kata pun. Ia hanya menatap Aurelia dengan campuran rasa iba dan hati-hati.

Saat mereka masuk ke ruang tamu, Aurelia tiba-tiba berdiri dan menunduk dalam-dalam pada Mala.

“Saya… saya minta maaf sebesar-besarnya, Mala,” suaranya bergetar. “Saya… saya tahu Mama bersalah, dan saya juga salah karena diam selama ini. Tapi… bolehkah saya minta perlindungan? Saya tidak berani pulang…”

Mala terkejut.

Daren menatap Mala seolah menunggu keputusan. Wira juga membiarkan putrinya menilai sendiri.

Akhirnya Mala maju sedikit mendekati Aurelia.

“Lia… aku tidak pernah menganggapmu musuh… hanya saja situasinya rumit. Kalau Lia benar-benar ingin keluar dari semua ini… aku akan bantu.”

Aurelia kembali menangis. “T-terima kasih… Mala…”

Mala mengangguk. “Tapi tolong satu hal… jangan sakiti Ayah lagi. Jangan sakiti aku.”

“Sumpah…” Aurelia memegang dadanya. “Aku tidak akan memihak Mama lagi. Bahkan… aku takut Mama bisa membunuhku kalau tahu aku kesini.”

Daren akhirnya bersuara. “Jadi… kita punya satu masalah tambahan.”

Tuan Armand menepuk pundak putranya. “Terkadang sekutu paling jujur adalah orang yang paling takut.”

Wira duduk perlahan, napasnya berat. “Baiklah… mulai hari ini, Aurelia tetap di rumah ini. Dia akan dijaga, tapi tidak diberi akses apa pun pada informasi rencana kita.”

Para bodyguard mengangguk.

Aurelia menunduk hormat, berusaha menahan tangis bahagia sekaligus takut.

Di pojok ruangan, Mala memandang gadis itu dengan perasaan campur aduk. Bagaimanapun juga, Aurelia adalah saudara tirinya. Meski hubungan mereka jauh dari baik, Mala tidak tega melihat seseorang ketakutan seperti itu.

Di sisi lain, Daren tahu…

Keberadaan Aurelia bisa jadi berkah, bisa juga petaka.

Tapi satu hal jelas:

Melisa kini ...semakin hilang kendali ....

Assalamualaikum selamat siang...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!