Aqilla Pramesti begitu putus asa dan merasa hidupnya sudah benar-benar hancur. Dikhianati dan diceraikan oleh suami yang ia temani dari nol, saat sang suami baru saja diangkat menjadi pegawai tetap di sebuah perusahaan besar. Ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Namun, takdir berkehendak lain, siapa sangka nyawanya diselamatkan oleh seorang pria yang sedang berjuang melawan penyakitnya dan ingin hidup lebih lama.
"Apa kamu tau seberapa besar perjuangan saya untuk tetap hidup, hah? Kalau kamu mau mati, nanti setelah kamu membalas dendam kepada mereka yang telah membuat hidup kamu menderita. Saya akan membantu kamu balas dendam. Saya punya harta yang melimpah, kamu bisa menggunakan harta saya untuk menghancurkan mereka, tapi sebagai imbalannya, berikan hidup kamu buat saya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Dion memejamkan mata sejenak seraya menghela napas panjang, duduk di kursi tunggu dengan perasaan bersalah. Akhirnya, wanita bernama Aqilla tahu mengenai kondisi majikannya. Ia sadar betul bahwa, serapat-rapatnya menyembunyikan bangkai, pasti akan tercium juga. Satu pertanyaannya sekarang, apakah Aqilla akan membatalkan pernikahan mereka dan mengurungkan niatnya untuk balas dendam? Rasanya tidak ada manusia yang rela menyerahkan nyawanya untuk orang lain. Terlebih, meninggalkan dua orang anak yang membutuhkan kasih sayang seorang ibu.
"Saya sudah menduga, cepat atau lambat Anda pasti akan tahu yang sebenarnya, Mbak Aqilla," ucapnya penuh penyesalan. "Maaf karena kami tak bicara jujur sama Anda. Selama ini, Pak Bos sudah sangat menderita, Mbak. Beliau berjuang sendirian melawan penyakit yang mematikan itu. Saya sudah mencari pendonor buat beliau, tapi hasilnya selalu gagal, Mbak."
Aqilla terdiam, duduk di kursi yang sama dengan Dion. Tatapan matanya nampak kosong menatap lurus ke depan, wajahnya dipenuhi kesedihan dan rasa kecewa yang mendalam. Mengingat penderitaan Radit membuatnya iba. Dengan semangat hidup yang luar biasa besar, pria itu masih bertahan, mengelola perusahaan dan hidup dalam kesepian. Namun, ia benar-benar kecewa karena Radit tidak bicara jujur sejak awal. Aqilla larut dalam lamunan panjang.
"Sekarang keputusan ada di tangan Anda, Mbak. Kalau Anda mau lari, lebih baik lari dari sekarang. Jangan memberi harapan palsu sama Pak Radit, beliau sudah cukup menderita selama ini," ucap Dion seketika membuyarkan lamunan panjang seorang Aqilla.
Aqilla menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan dengan mata terpejam. "Aku tak tau, Mas Dion. Aku gak tau harus bagaimana," ucap Aqilla, benar-benar merasa bingung. "Mas Radit sudah menyelamatkan hidupku, tapi pada akhirnya aku harus menyerahkan hidupku sama dia. Apakah itu adil?" Aqilla menoleh dan menatap wajah Dion.
"Entahlah, saya tak berhak menghakimi seseorang."
Keheningan seketika tercipta, baik Dion maupun Aqilla kembali larut dalam lamunan panjang. Bagi Dion, Radit bukan sekedar atasan, tapi sudah ia anggap seperti keluarga sendiri. Bosnya itu bahkan sangat mempercayainya lebih dari apapun. Ia akan sangat terpukul apabila pria bernama lengkap Raditya Nathan Wijaya itu kalah dalam peperangan melawan penyakit mematikan yang menggerogoti tubuhnya.
"Ibu!" seru Kaila dari kejauhan, seketika membuyarkan lamunan panjang seorang Aqilla.
Keduanya sontak berdiri tegak, menatap ke arah samping di mana Radit, Kaila dan Keano tengah berjalan menghampiri mereka.
"Mas Radit," gumam Aqilla, seraya mengusap kedua matanya yang sempat berair.
"Ikh, Ibu lagi ngapain sih di sini? Kami nungguin Ibu di kamar, eh ... Ibu malah lagi duduk santai sama Om Dion," celetuk Kaila seraya memutar bola matanya kesal.
Aqilla menoleh dan menatap wajah Dion lalu berbisik pelan, "Aku mohon, jangan bilang sama Mas Radit kalau aku udah tau semuanya."
Dion mengangguk samar seraya menghela napas panjang.
Sementara Radit, seketika dilanda rasa kesal, melihat kebersamaan Dion dengan Aqilla membuat hatinya terbakar. Rasa yang baru pertama kali ia rasakan, antara dongkol dan tidak suka melihat calon istrinya hanya berdua saja dengan laki-laki lain. Apa mungkin Radit cemburu? Sepertinya begitu, ingin rasanya ia menyeret tubuh Dion menjauh dari Aqilla. Radit menatap sinis wajah Dion, menghentikan langkah tepat di depannya, bersama anak-anak.
"Kamu ini, disuruh nyari Aqilla malah enak-anakan berduaan di sini," decaknya dengan sinis. "Kamu tau, kita bertiga nungguin kayak orang bego di kamar."
Dion menggaruk kepala sendiri seraya tersenyum cengengesan. "Maaf, Pak Bos, kami hanya ngobrol sebentar. Eu ... apa Anda cemburu ngeliat kami berduaan kayak gini?"
Wajah Radit seketika memerah, merasa malu. "Cemburu? Hahaha ... ka-kata siapa saya cemburu? Ngaco kamu."
"Cie ... cie ... Om Radit cemburu, ya," ledek Kaila seraya tersenyum lebar.
"Udah bilang aja kalau Om cemburu," timpal Keano dengan senyuman yang sama seperti sang kakak.
"Hus, kalian apaan sih? Gak baik tau ngeledek orang dewasa tua kayak gitu," tegur Aqilla, wajahnya seketika memerah, tersipu malu, seraya memandang wajah Radit dengan salah tingkah.
Radit menghela napas panjang seraya memandang lekat wajah Aqilla. "Tunggu saya dan Dion di lobi, Qilla, bawa anak-anak sekalian. Saya mau mengurus administrasi dulu sebentar," titahnya.
"Baik, Mas. Eu ... aku nunggu di depan, ya," jawab Aqilla, meraih telapak tangan kedua anak-anaknya.
"Kami nunggu di depan ya, Om," ucap Keano dan hanya dijawab dengan anggukan oleh Radit disertai senyuman kecil.
Radit menatap kepergian Aqilla dan anak-anaknya dengan wajah datar hingga mereka benar-benar menghilang dibalik tembok kemudian mengalihkan pandangan mata kepada Dion, menatapnya dengan tajam.
"Sebenarnya apa yang kamu bicarakan sama Aqilla, Dion? Bisa-bisanya kalian berduaan di sini. Padahal, saya dan anak-anak nungguin kalian di kamar," tanya Radit dengan dingin.
"Apa yang harus saya lakukan sekarang? Mbak Aqilla meminta saya gak bicara apapun sama Pak Bos, tapi saya gak rela kalau Pak Bos diberi harapan palsu. Tuhan, saya harus gimana?" batin Dion, seketika dilanda rasa dilema.
"Kenapa kamu diem aja, Dion? Kamu habis ngobrol apa sama Aqilla?" Radit mengulangi pertanyaan, dengan tegas dan penuh penekanan.
"Maaf, Pak Bos, apa Anda benar-benar cemburu ngeliat saya sama Mbak Aqilla berduaan kayak tadi?" Dion balik bertanya.
"Kalau iya, kenapa? Bukannya wajar kalau saya cemburu ngeliat calon istri saya berduaan dengan laki-laki lain?"
"Sebelumnya saya mohon maaf, Pak Bos, bukan maksud saya untuk ikut campur sama urusan pribadi Anda. Sungguh, saya benar-benar peduli sama Anda, saya--"
"Kamu mau ngomong apa sih? To the point aja, gak usah muter-muter pake kata maaf dan peduli segala," sela Radit, bahkan sebelum asisten pribadinya itu menyelesaikan apa yang hendak diucapkan.
"Jangan lupa kalau Anda terikat kontrak sama Mbak Aqilla. Jangan terlalu memakai perasaan Anda, Pak Bos. Saya takut Anda kecewa, karena pada akhirnya, Anda akan berpisah sama Mbak Aqilla, entah dipisahkan oleh kematian atau mungkin dipisahkan oleh hal lain yang tidak bisa Anda bayangkan. Saya gak mau Anda semakin menderita nantinya."
Bersambung ....