NovelToon NovelToon
THE SILENCE OF ADORING YOU

THE SILENCE OF ADORING YOU

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Idola sekolah / Cintapertama
Popularitas:666
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Di bawah rindangnya pohon sakura yang menghiasi jalan setapak kampus, Alana menyimpan sebuah rahasia besar. Dari kejauhan, ia menyaksikan Raka, sosok pria yang selalu sibuk dengan sketsa-sketsa arsitekturnya. Kekaguman Alana tumbuh dalam diam, seperti bunga yang mekar di sudut perpustakaan yang paling sunyi. Setiap langkah Raka adalah sebuah melodi bagi hati Alana yang pemalu, sebuah lagu yang tak pernah ia berani nyanyikan dengan suara keras.
Namun, segalanya berubah saat Alana dan Raka terpaksa berada dalam satu kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN). Jarak yang selama ini memisahkan mereka tiba-tiba menghilang. Kini, Alana tidak hanya mengamati dari jauh, tapi harus bekerja bahu-membahu dengan pria yang ia kagumi. Setiap interaksi minimal-seperti sentuhan jari saat bertukar nomor telepon atau nama Alana yang terucap dari bibir Raka-menjadi ledakan listrik yang menyesakkan dada Alana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PRASASTI CAHAYA

Tiga hari setelah kelahiran Arka Aksara, bangsal perawatan di Yogyakarta terasa seperti sebuah gelembung waktu yang kedap suara. Di dalam ruangan itu, waktu tidak diukur dengan detik atau menit, melainkan dengan ritme napas bayi yang teratur dan jadwal menyusui yang melelahkan namun membahagiakan. Namun, di luar jendela rumah sakit yang menampilkan siluet Merapi di kejauhan, dunia Raka yang lain sedang bergetar hebat.

Ponsel Raka yang diletakkan dalam mode getar di atas nakas kayu terus berputar, seolah-olah memiliki nyawanya sendiri. Raka, yang sedang berusaha membantu Alana menyesuaikan posisi bantalnya, melirik sekilas. Nama *Pak Surya* berkedip-kedip dengan intensitas yang mengancam.

"Jawablah, Raka," bisik Alana. Wajahnya masih pucat, tetapi matanya sudah kembali memancarkan binar cerdas yang biasanya. "Kamu tidak bisa terus-menerus mengabaikan 'bayi' raksasamu di Jakarta hanya karena ada Arka di sini."

Raka tersenyum tipis, mengecup puncak kepala Alana sebelum melangkah keluar ke koridor rumah sakit yang sepi. Begitu ia menempelkan ponsel ke telinga, suara menggelegar Pak Surya langsung menyambar tanpa basa-basi.

"Raka! Kamu gila atau terlalu berani? Meninggalkan lokasi saat panel kaca seberat dua ton masih menggantung di udara? Saya bisa saja menuntutmu atas kelalaian profesional!"

Raka menarik napas panjang, bersandar pada dinding koridor yang dingin. "Panel itu sudah diamankan oleh tim teknis sebelum saya berangkat, Pak. Saya sudah memberikan instruksi untuk menggunakan sistem *secondary locking*. Jika saya tetap di sana, saya hanya akan berdiri menatap derek, sementara di sini, nyawa istri dan anak saya sedang dipertaruhkan."

"Proyek ini adalah simbol negara, Raka! Jika kubah itu retak sedikit saja karena kesalahan prosedur saat kamu tidak ada, namamu di dunia arsitektur akan tamat," suara Pak Surya merendah, penuh ancaman yang terukur.

"Kubah itu tidak akan retak, Pak. Saya membangunnya dengan perhitungan yang lebih kuat dari sekadar keberadaan fisik saya di sana. Tapi terima kasih atas kekhawatirannya. Saya akan kembali dalam dua hari setelah memastikan Alana bisa pulang ke rumah."

Raka mematikan sambungan telepon sebelum Pak Surya sempat membalas. Ia merasakan sebuah kebebasan baru. Selama bertahun-tahun, validasi dari tokoh-tokoh seperti Pak Surya adalah napas bagi kariernya. Namun, melihat Arka kecil menggeliat di dalam boks bayi tadi pagi telah menggeser poros dunianya secara permanen.

Kepulangan Alana ke rumah mereka di Yogyakarta disambut oleh aroma melati dan buku-buku tua. Rumah itu, sebuah bangunan bergaya indische yang direnovasi Raka dengan sentuhan modern minimalis, terasa jauh lebih hidup sekarang. Dinda sudah menyiapkan segalanya dari stok makanan hingga kamar bayi yang dindingnya dihiasi kutipan-kutipan sastra dunia hasil tulisan tangan Alana.

"Selamat datang di dunia nyata, Arka," gumam Alana saat mereka meletakkan bayi itu di ranjang kayu jati yang dirancang khusus oleh Raka.

Malam itu, mereka duduk di beranda belakang. Udara Yogyakarta yang sejuk merayap masuk melalui celah-celah ventilasi. Raka membuka laptopnya, bukan untuk bekerja, melainkan untuk menunjukkan rekaman kamera pengawas (CCTV) dari lokasi proyek di Jakarta yang dikirimkan oleh asistennya.

"Lihat ini, Lan," kata Raka sambil memutar video *time-lapse*.

Di layar, terlihat kerangka baja raksasa yang kini telah tertutup sempurna oleh panel-panel kaca. Cahaya lampu kota Jakarta menembus kaca-kaca itu, menciptakan pola geometris yang rumit di lantai dasar perpustakaan.

"Indah sekali," gumam Alana, jemarinya menyentuh layar. "Kubah itu terlihat seperti mata yang menatap ke langit."

"Itu memang konsepnya. *The Eye of Knowledge*. Tapi ada satu hal yang belum sempat aku beri tahu," Raka terdiam sejenak. "Pak Surya ingin meresmikan gedung itu bulan depan. Dia ingin ada sebuah prasasti di pintu masuk utama. Dia memintaku menuliskan kalimat formal tentang 'pembangunan bangsa' dan 'kemegahan arsitektur'."

Alana menoleh, menatap suaminya dengan alis terangkat. "Dan kamu keberatan?"

"Aku merasa itu terlalu dingin. Gedung itu adalah rumah bagi kata-kata, Lan. Seharusnya ia bicara tentang jiwa, bukan hanya tentang semen dan baja. Aku ingin kamu yang menuliskan kalimat untuk prasasti itu."

Alana tertawa kecil, sebuah suara yang terdengar seperti denting lonceng bagi Raka. "Raka, aku baru saja melahirkan. Otakku sekarang isinya cuma jadwal ganti popok dan kadar bilirubin."

"Justru itu. Kamu sedang berada di titik paling jujur dalam hidup manusia. Tulislah sesuatu yang membuat orang yang masuk ke perpustakaan itu merasa... pulang."

Ketenangan mereka terganggu keesokan harinya ketika sebuah email masuk ke kotak masuk Raka. Itu bukan dari Pak Surya, melainkan dari seorang jurnalis investigasi yang selama ini mengikuti perkembangan proyek Perpustakaan Nasional. **Subjek: Dugaan Ketidakteraturan Material pada Sub-kontraktor Kubah Utama**

*Selamat pagi, Pak Raka. Kami mendapatkan laporan bahwa beberapa panel kaca yang terpasang pada tahap akhir tidak sesuai dengan spesifikasi ketahanan beban yang Anda rancang. Ada indikasi penggantian material oleh pihak ketiga tanpa sepengetahuan arsitek utama demi menekan biaya. Bagaimana tanggapan Anda?*

Darah Raka terasa berdesir dingin. Ia segera membuka dokumen spesifikasi teknis dan mencocokkannya dengan laporan pengiriman barang yang dikirimkan oleh logistik lapangan. Selama ia berada di Yogyakarta, tampaknya ada tangan-tangan gelap yang bermain di balik punggungnya.

Jika informasi ini benar, maka kubah yang ia anggap sebagai mahakarya itu bisa menjadi jebakan maut bagi ribuan pengunjung. Keindahan yang ia banggakan hanyalah kulit luar yang rapuh.

"Ada apa?" Alana muncul di ambang pintu, menggendong Arka yang sedang tertidur. Ia bisa melihat ketegangan di bahu Raka.

Raka menutup laptopnya dengan cepat, namun ia tahu ia tidak bisa berbohong pada Alana. "Ada kemungkinan... kubah itu tidak aman, Lan. Seseorang bermain dengan materialnya."

Alana terdiam sejenak, menatap bayi dalam pelukannya, lalu menatap suaminya. "Apa yang akan kamu lakukan? Jika kamu membongkar ini sekarang, proyek akan dihentikan. Pak Surya akan menghancurkan kariermu. Dan kita baru saja memulai hidup bertiga."

Raka berdiri, berjalan menuju jendela yang menghadap ke arah selatan. "Aku membangun gedung itu untuk melindungi buku-buku dan orang-orang yang membacanya. Jika aku membiarkan ini, aku bukan sedang membangun perpustakaan, aku sedang membangun makam megah."

"Pergilah ke Jakarta," kata Alana tegas. "Selesaikan apa yang harus diselesaikan. Jangan biarkan Arka tumbuh dewasa dan tahu bahwa ayahnya membangun sesuatu di atas kebohongan."

Dua belas jam kemudian, Raka sudah berdiri di lantai teratas Perpustakaan Nasional di Jakarta. Angin malam bertiup kencang, membuat kabel-kabel baja berdesing. Di hadapannya berdiri Pak Surya, merokok cerutu dengan santai sambil menatap pemandangan kota.

"Saya tahu kamu akan kembali secepat ini, Raka. Kamu terlalu mencintai kaca-kaca ini," ujar Pak Surya tanpa menoleh.

"Kaca-kaca ini palsu, Pak," suara Raka terdengar datar namun tajam. "Seri *Tempered-Laminated 12mm* yang saya minta diganti dengan material kelas dua yang tidak punya sertifikasi ketahanan angin di ketinggian ini. Siapa yang memerintahkannya?"

Pak Surya berbalik, matanya menyipit. "Jangan jadi idealis yang bodoh, Raka. Biayanya membengkak karena keterlambatan akibat cuaca. Kita butuh efisiensi. Secara visual, tidak ada bedanya. Gedung ini akan bertahan setidaknya lima puluh tahun sebelum ada masalah kecil. Pada saat itu, kita semua sudah tidak ada."

"Tapi Arka akan ada di sini," potong Raka. "Anak saya, dan anak-anak dari jutaan orang di luar sana. Saya tidak akan menandatangani berita acara serah terima gedung ini kecuali semua panel kaca yang tidak sesuai standar dicopot dan diganti."

"Kamu berani mengancam saya? Saya bisa menghapus namamu dari prasasti itu!"

"Hapus saja," tantang Raka. "Nama saya tidak penting. Yang penting adalah apa yang ada di balik nama itu."

Raka mengeluarkan sebuah amplop dari saku jaketnya. Di dalamnya terdapat draf tulisan yang ditulis Alana di rumah sakit.

"Istri saya menulis ini untuk prasasti itu. Bacalah. Mungkin Anda akan ingat mengapa Anda ingin membangun perpustakaan ini sejak awal."

Pak Surya mengambil kertas itu dengan enggan. Di bawah cahaya lampu kerja yang temaram, ia membaca tulisan tangan Alana yang rapi:

"Di bawah naungan cahaya ini, setiap lembar kertas adalah jendela, dan setiap kata adalah langkah menuju kebenaran. Jangan bangun gedung ini hanya dengan batu dan kaca, tapi bangunlah ia dengan kejujuran, karena hanya di atas fondasi itulah, mimpi anak cucu kita tidak akan pernah runtuh."

Keheningan yang panjang menyelimuti puncak gedung itu. Hanya suara angin yang terdengar, berebut ruang dengan detak jantung Raka yang tak beraturan. Pak Surya menatap kertas itu lama, lalu beralih menatap kubah raksasa di atas mereka.

Proses penggantian panel kaca memakan waktu tambahan tiga minggu. Itu adalah masa-masa tersulit dalam karier Raka. Ia bekerja siang malam, sering kali tidur di barak pekerja, sementara hatinya tertinggal di Yogyakarta. Ia melewatkan momen-momen kecil Arka senyum pertama yang tak sengaja, atau cara bayi itu mengenali suara ibunya.

Namun, setiap kali ia merasa lelah, ia akan menyentuh permukaan kaca yang baru saja terpasang kaca yang asli, yang kuat, yang jujur.

Hari peresmian akhirnya tiba. Jakarta sedang cerah. Sinar matahari pukul sepuluh pagi jatuh tepat di tengah-tengah aula utama, menembus kubah kaca dan menciptakan pilar cahaya yang seolah-olah menghubungkan bumi dengan langit.

Alana datang ke Jakarta, menggendong Arka yang dibalut kain batik. Mereka berdiri di kerumunan, menyaksikan Pak Surya memberikan pidato. Anehnya, Pak Surya tidak terlihat marah. Sebaliknya, ia tampak lebih tenang, seolah-olah beban berat telah diangkat dari pundaknya.

Saat kain penutup prasasti ditarik, Raka terkejut. Di sana, di atas batu granit hitam, tidak ada nama Pak Surya dalam huruf besar. Tidak ada pula daftar pejabat yang biasanya memenuhi ruang. Hanya ada kalimat yang ditulis Alana, dan di bawahnya terukir sebuah dedikasi kecil:

"Dirancang dengan Cinta oleh Raka. Dihidupkan dengan Makna oleh Alana. Untuk Arka Aksara dan Masa Depan."

Raka merasakan sebuah tangan kecil menggenggam jarinya. Ia menoleh dan melihat Arka yang terbangun, matanya yang bulat besar menatap ke atas, ke arah pendaran cahaya yang menari-nari di langit-langit kubah.

"Dia melihat karyamu, Raka," bisik Alana.

"Tidak," sahut Raka sambil merangkul bahu istrinya. "Dia melihat rumahnya. Tempat di mana kata-kata dan cahaya tidak pernah saling mengkhianati."

Di tengah kemegahan gedung yang menjulang itu, Raka menyadari bahwa arsitektur bukanlah tentang seberapa tinggi sebuah bangunan bisa mencapai langit, melainkan tentang seberapa dalam ia bisa menanamkan rasa aman di hati manusia. Kubah kaca di Jakarta telah selesai, kokoh dan abadi. Namun bagi Raka, konstruksi yang sesungguhnya baru saja dimulai: membangun masa depan bagi tangan kecil yang sedang menggenggam jemarinya itu.

Malam itu, saat mereka terbang kembali ke Yogyakarta, Raka menatap lampu-lampu Jakarta dari jendela pesawat. Ia mengambil buku catatan Alana dan menuliskan satu baris terakhir di bawah catatan sebelumnya:

"Ternyata, mahakarya terbaik bukanlah yang bisa dilihat dari kejauhan, melainkan yang bisa kita peluk saat kita menutup mata."

Pesawat itu menembus awan, membawa mereka pulang menuju akar, menuju sunyi yang penuh dengan makna. Bab baru dalam hidup mereka bukan lagi tentang membangun dinding, melainkan tentang membuka pintu. Dan Arka Aksara adalah kunci yang selama ini mereka cari.

1
Bunga
penggambaran keadaan n hati Alana seperti aku di masa kuliah
jadi nostalgia😍
Bunga
lanjut Thor
cerita yang bagus
🌷tinull💞
semangat terus Thor, terus berkarya 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!