Kirana, Executive Chef bintang lima di Jakarta, mati konyol karena ledakan gas. Sialnya, dia malah terbangun di tubuh Putri Tantri—tokoh antagonis dalam novel sejarah yang baru saja meracuni adik angkat suaminya!
Di hadapannya, Jenderal Arga sang "Iblis Perang Utara" sudah menghunus pedang, siap memenggal kepalanya.
Tak mau mati dua kali, Kirana mengajukan penawaran gila: "Jangan bunuh aku dulu! Izinkan aku masak makanan terakhir!"
Bermodalkan bawang merah, kecap manis buatan sendiri, dan teknik masak modern, Kirana bertekad mengubah takdir kematiannya. Siapa sangka, masakan lezatnya tak hanya menyelamatkan lehernya, tapi juga menyembuhkan maag kronis sang Jenderal dan mengguncang lidah satu kerajaan?
Tapi hati-hati, Kirana! Musuhmu bukan cuma panci gosong, tapi juga pelakor bermuka dua dan intrik politik yang mematikan. Sanggupkah Kirana bertahan hidup di zaman kuno tanpa rice cooker dan kulkas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Murid Ilegal, Cemburu Buta, dan Es Dawet Perdamaian
[Halaman Depan Kediaman Jenderal - Pagi Hari]
Suasana pagi yang tenang hancur ketika rombongan kereta kuda mewah berwarna emas berhenti di depan gerbang. Bukan kereta biasa, tapi kereta dengan lambang naga kecil—lambang Pangeran.
Pangeran Panji turun dengan gaya flamboyan, mengenakan jubah sutra ungu cerah, dikawal enam dayang yang membawa berbagai bungkusan hadiah.
"Selamat pagi, Kediaman Jenderal!" sapa Panji ceria pada penjaga gerbang yang melongo.
Arga, yang sedang latihan pedang di halaman (telanjang dada, berkeringat, sangat maskulin), langsung berhenti. Wajahnya mengerut masam.
Dia berjalan menghampiri Panji sambil menyeka keringat dengan handuk.
"Mau apa kau ke sini pagi-pagi, Panji? Minta makan lagi?" tanya Arga ketus.
"Kasar sekali, Kakanda," Panji mengibaskan kipasnya. "Aku datang membawa mandat resmi dari Raja."
"Mandat apa?"
"Raja masih terbayang-bayang rasa Terang Bulan semalam. Beliau memerintahkanku untuk mempelajari resepnya langsung dari 'Maestro'-nya. Jadi, mulai hari ini, aku adalah murid resmi Nyonya Tantri."
Panji menyeringai, matanya mencari-cari sosok Tantri. "Mana Guru Cantik-ku?"
Arga mengepalkan tangan pada gagang pedangnya. "Dia sibuk. Pulanglah."
"Eits, menolak perintah Raja itu makar lho, Jenderal," goda Panji.
Tepat saat itu, aku (Kirana/Tantri) keluar ke teras karena mendengar keributan. Aku memakai kebaya sederhana untuk aktivitas rumah.
"Ada apa sih ribut-rib... eh, Pangeran Panji?"
Panji langsung melewati Arga dan menghampiriku, meraih tanganku, dan mencium punggung tanganku ala bangsawan Eropa.
"Selamat pagi, Tantri... eh, maksudku, Kakak Ipar Tantri. Muridmu yang paling tampan siap menerima ilmu."
Di belakang Panji, aku bisa melihat aura hitam pekat menguar dari tubuh Arga. Kalau tatapan bisa membunuh, Panji sudah jadi perkedel sekarang.
[Dapur Utama - Medan Perang Segitiga]
Satu jam kemudian, dapurku yang damai berubah menjadi zona perang dingin.
Aku berdiri di meja tengah, menyiapkan bahan.
Di sebelah kiriku: Pangeran Panji, memakai celemek yang kekecilan, tersenyum-senyum genit.
Di sebelah kananku: Jenderal Arga, yang bersikeras ikut "mengawasi" (padahal cuma duduk diam sambil mengasah pisau Damaskus dengan tatapan mengintimidasi).
"Jadi, Guru," Panji memulainya, "Apa rahasia tangan halusmu ini bisa membuat adonan yang begitu lembut?"
Panji mencoba menyentuh tanganku yang sedang memegang tepung.
TAK!
Sebuah pisau menancap di talenan, tepat satu inci dari jari Panji.
Arga baru saja melempar pisau itu dengan santai.
"Maaf. Meleset," kata Arga datar. "Ada lalat tadi."
Panji menelan ludah, menarik tangannya cepat. "Ganas sekali lalat di sini."
Aku memutar bola mata. "Bisa tolong fokus? Kalau kalian berantem, aku usir dua-duanya."
"Baik, Guru," jawab Panji patuh.
"Hari ini kita tidak bikin Martabak. Terlalu ribet buat pemula manja sepertimu," kataku. "Kita bikin yang segar karena suasana di sini... panas."
Aku melirik Arga yang masih melotot.
"Kita bikin Es Cendol Dawet."
Minuman ini cocok untuk mendinginkan kepala yang kepanasan karena cemburu dan politik.
Aku menginstruksikan Panji untuk membuat adonan cendol dari tepung beras dan air pandan suji.
"Aduk di atas api sampai mengental dan meletup-letup. Jangan berhenti, Pangeran. Kalau gosong, kau yang kuhukum cuci kuali," perintahku.
Panji mengaduk dengan susah payah. Keringat mulai menetes di pelipis bangsawannya.
"Berat juga ya..." keluhnya.
"Masak itu olahraga, bukan cuma makan," sindir Arga dari pojokan. "Kalau ngaduk bubur saja nggak kuat, gimana mau angkat pedang?"
"Aku mengangkat pena dan sumpit, Jenderal. Itu lebih beradab," balas Panji.
Setelah adonan matang, aku menyuruh Panji mencetaknya menggunakan saringan di atas baskom air es.
Plung. Plung. Cendol hijau panjang terbentuk.
"Wah! Seperti ulat! Lucu!" seru Panji norak.
Sementara itu, aku merebus santan dengan sedikit garam dan daun pandan. Dan mencairkan gula merah dengan nangka.
Saat penyajian, aku mengambil gelas bambu.
Es batu (diambil dari ruang penyimpanan es bawah tanah milik Arga), Cendol hijau, Santan gurih, dan Gula Merah cair.
"Minum," aku menyodorkan dua gelas. Satu untuk Panji, satu untuk Arga.
Panji meminumnya.
"Wow... Kenyal! Manis! Segar!" Panji merem melek. "Tantri... kau memang penyihir rasa. Kalau kau belum nikah, sudah kulamar kau jadi Istri ke-10."
SRENG.
Arga berdiri, kursi kayunya bergeser kasar.
Dia meminum Cendolnya dalam sekali teguk (padahal itu ada es batunya, nggak ngilu apa?).
Arga berjalan mendekati Panji, menepuk bahu adiknya itu dengan keras—terlalu keras.
"Pelajaran selesai. Pangeran sibuk, kan? Silakan pulang."
"Tapi aku belum coba bikin santannya..."
"Pulang," Arga menyeret kerah baju Panji. "Atau kulaporkan pada Raja kalau kau menggoda istri Jenderal."
Panji tertawa, tapi dia tahu batasnya. Dia melepaskan celemeknya.
"Baiklah, baiklah. Terima kasih resepnya, Kakak Ipar. Sampai jumpa lagi!"
Panji mengedipkan sebelah mata padaku, lalu pergi diantar Arga (lebih tepatnya diusir) sampai gerbang.
[Teras Belakang - Setelah Panji Pergi]
Aku sedang membereskan gelas kotor ketika Arga kembali. Wajahnya masih masam.
Dia duduk di kursi, menatapku lekat.
"Kenapa?" tanyaku.
"Kau terlalu ramah padanya," gerutu Arga.
"Dia Pangeran, Arga. Adik Raja. Masa aku harus judes?"
"Dia buaya," kata Arga tegas. "Dia punya sembilan selir. Jangan sampai kau jadi yang kesepuluh."
Aku tertawa, meletakkan nampan. Aku berjalan mendekatinya, lalu duduk di kursi sebelahnya.
"Jenderal Arga yang terhormat... Kamu cemburu?"
Arga memalingkan wajah. Telinganya merah. "Tidak. Aku cuma menjaga martabat keluarga."
"Dengar ya," kataku lembut. "Mau Panji, mau Raja, mau Dewa sekalipun... yang makan masakan spesialku tiap hari cuma kamu. Yang tidur di sebelahku tiap malam cuma kamu. Jadi, nggak usah khawatir."
Arga menoleh. Tatapan matanya melembut.
Ada kerentanan di sana. Pria yang biasa menghadapi ribuan musuh ini ternyata takut kehilangan istrinya.
"Janji?" tanyanya pelan.
"Janji. Asal uang belanjanya lancar," candaku.
Arga mendengus, tapi bibirnya tersenyum. Dia meraih tanganku, menggenggamnya erat. Kapalan di tangannya terasa kasar di kulitku, tapi hangat.
"Aku akan menaikkan uang belanjamu tiga kali lipat. Tapi dengan satu syarat."
"Apa?"
"Jangan pernah senyum seperti itu pada Panji lagi."
"Siap, Ndan!"
[Di Tempat Lain - Ruang Rahasia Rumah Teh]
Sementara suasana di rumah Jenderal mulai romantis, di sebuah ruang tertutup di pusat kota, pertemuan jahat sedang berlangsung.
Laras duduk dengan gelisah. Di hadapannya, duduk seorang pria tua dengan janggut putih panjang dan mata licik.
Perdana Menteri Sengkuni.
"Jadi, Nona Laras," suara Sengkuni serak dan lambat. "Saya dengar posisimu di rumah Jenderal sedang... terancam?"
Laras menggigit bibir. "Bukan urusanmu, Perdana Menteri."
"Tentu saja urusanku. Jenderal Arga adalah musuh politikku. Dan istri barunya—si Tantri itu—mulai mempengaruhi Raja lewat perutnya. Itu berbahaya."
Sengkuni menuangkan teh.
"Aku punya tawaran. Kita punya musuh yang sama. Kau ingin Tantri hancur dan Arga kembali padamu. Aku ingin Arga hancur dan kekuasaannya hilang."
"Apa rencanamu?" tanya Laras tertarik.
Sengkuni mengeluarkan sebuah bungkusan kecil berisi bubuk kristal.
"Beberapa hari lagi, Raja akan meminta Tantri memasak untuk jamuan diplomatik tamu asing. Masukkan ini ke dalam bumbu masakan Tantri."
"Racun?" Laras ragu. "Kalau Raja mati, aku juga kena hukuman mati!"
"Bukan racun mematikan. Ini cuma Pencahar Kuda dosis tinggi," Sengkuni terkekeh jahat. "Bayangkan jika Raja dan para tamu asing mencret di tengah rapat penting setelah makan masakan Tantri. Reputasi Arga akan hancur. Tantri akan dihukum pancung karena mempermalukan negara."
Mata Laras berbinar. Rencana yang sempurna. Tidak ada yang mati, tapi karir Tantri tamat. Dan Arga akan kembali padanya.
"Aku setuju," Laras mengambil bungkusan itu. "Anggap saja ini bumbu tambahan untuk Kak Tantri tersayang."
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
Kasih di mana tak dapat bersatu di masa itu ,kembali bereinkarnasi menemui cinta abadi nya.
tak berjodoh di masa lalu
berjodoh di masa depan
Tantri akan bahagia bersma jenderal dan putra nya
kalau Tantri kembali ke masa depan
apa tantrii sebenarnya yg telah meninggal
siapa tahu "SUARA" itu akan tersentuh oleh ketulusan cinta kalian.
Hingga nanti semua akan berakhir bahagia
Ahh ...kirana jangan kau kacaukan dulu perjalanan mereka, biar berdiri dulu sekolah tata boga tantri dan sukses mencetak lulusan terbaik baru kau kembali ke asalmu😄
musuh baru akan segera datang
🤣
besok masakin bebek bengil yaa kirana, dengan lawar sayuran pedas🤤
sampai segala cara di pake buat merebut arga
seperti apa kisah cinta mu jenderal