Sejak kecil, Luna hidup terkutuk dengan kemampuan melihat hantu. Hidupnya melelahkan, sepi, dan penuh ketakutan. Hingga suatu hari, roh Nando, pengusaha muda angkuh yang koma akibat kecelakaan misterius, tiba-tiba muncul dan bersikeras tinggal di kosannya. Keanehan terjadi: saat Nando di dekatnya, roh-roh jahat menghilang. Bersama, mereka menyelidiki kecelakaan Nando yang ternyata percobaan pembunuhan. Namun, perjalanan ini justru membuka tabir kematian mengerikan orang tua Luna. Di antara teror mistis dan bahaya fisik, benih cinta tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Pagi Pertama, Mi Instan
Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah ventilasi di atas pintu kamar kos Luna, membawa partikel debu yang menari-nari di udara. Udara Jakarta sudah mulai terasa hangat, diiringi suara deru mesin motor dari jalanan gang dan sayup-sayup teriakan tukang sayur keliling yang menawarkan dagangannya.
Luna membuka matanya perlahan. Ia berkedip beberapa kali, menatap langit-langit kamarnya yang retak-retak. Selama beberapa detik, otaknya mencoba memproses anomali yang baru saja ia alami.
Ia baru saja bangun tidur. Dan ia merasa... segar.
Tidak ada keringat dingin yang membasahi piyamanya. Tidak ada rasa sesak di dada seolah ada batu besar atau makhluk astral yang menindih tulang rusuknya sepanjang malam. Tidak ada suara bisikan melengking di telinganya, tidak ada bau anyir darah, dan tidak ada sosok berwajah hancur yang menunggunya di sudut ruangan. Untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun terakhir, Luna tidur nyenyak tanpa gangguan. Kegelapan pekat yang biasanya menggerogoti kewarasannya saat ia menutup mata, tadi malam lenyap tak berbekas.
Luna perlahan bangkit dan duduk di atas kasur busanya yang tipis. Ia meregangkan otot-otot lengannya, merasakan aliran darah yang hangat dan normal. Senyum tipis, sangat tipis hingga hampir tidak terlihat, perlahan mengembang di bibirnya. Ia merasa seperti manusia sungguhan.
Namun, senyum itu seketika pudar saat pandangannya jatuh ke sudut ruangan, di dekat lemari plastik tiga susun miliknya.
Berdiri di sana, dengan postur tegak sempurna, kedua tangan dilipat di depan dada, dan wajah tertekuk menahan amarah yang meledak-ledak, adalah Nando. Pria itu masih mengenakan setelan jas navy yang sama, rambutnya masih tertata rapi oleh pomade gaib, dan tubuhnya masih memancarkan pendar biru pucat yang kini terlihat sedikit lebih transparan di bawah cahaya matahari pagi. Matanya yang tajam menatap tajam ke arah Luna.
"Akhirnya Putri Tidur kita memutuskan untuk kembali ke dunia fana," sindir Nando dengan suara beratnya yang bergema aneh di dalam ruangan sempit itu. Nada suaranya dipenuhi oleh sarkasme dan frustrasi yang menumpuk. "Apakah kau tahu, Nona Luna, bahwa aku menghabiskan waktu tujuh jam, dua puluh tiga menit berdiri di sudut ruangan berdebu ini tanpa bisa menyentuh apa pun, sementara kau mendengkur halus seolah tidak ada krisis eksistensial yang sedang terjadi dua meter darimu?"
Luna menghela napas panjang, mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ah, benar. Pembayaran untuk tidur nyenyaknya semalam adalah menjadi inang bagi sesosok arwah CEO yang luar biasa cerewet dan narsis.
"Aku tidak mendengkur," bantah Luna datar, menyingkap selimutnya dan berdiri. Ia berjalan menuju meja kecil tempat ia menyimpan teko listrik. "Dan lagipula, apa yang kau harapkan? Kau tidak butuh tidur. Kau hantu. Fisikmu sedang terbaring entah di mana, jadi secara teknis kau tidak merasakan lelah fisik."
"Itu bukan masalah fisik, itu masalah mental!" Nando melangkah maju, atau lebih tepatnya melayang tipis di atas lantai keramik, mendekati Luna. "Sebagai seorang Chief Executive Officer, waktuku dihitung dalam satuan dolar! Aku terbiasa mengoptimalkan setiap detik hidupku. Berdiam diri selama tujuh jam mengamati retakan di dindingmu yang berjamur itu adalah sebuah penyiksaan psikologis! Aku bahkan mencoba duduk di kursi plastikmu yang murahan itu, dan coba tebak? Pantatku tembus ke lantai!"
Luna menahan tawa yang hampir meledak di tenggorokannya. Membayangkan seorang pria tampan berjas mahal mencoba duduk dengan elegan hanya untuk merosot menembus kursi plastik biru seharga lima puluh ribu rupiah benar-benar pemandangan komedi yang ironis.
"Selamat datang di dunia roh, Tuan Nando," ucap Luna tenang sambil menuangkan air ke dalam teko listrik dan menekan tombol on. "Di sini gelar CEO-mu, saldo rekeningmu, dan jas mahalmu itu sama sekali tidak berguna. Di sini, kau hanyalah frekuensi energi yang terjebak."
Nando mendengus kasar. Ia mengalihkan pandangannya, menatap sekeliling kamar kos Luna dengan ekspresi jijik yang tidak ditutup-tutupi. Matanya yang jeli mulai menganalisis setiap barang di ruangan itu seolah sedang mengaudit keuangan perusahaan yang bangkrut.
"Dan coba lihat tempat ini," lanjut Nando, menggelengkan kepalanya. Ia menunjuk ke arah deretan botol skincare minimarket milik Luna yang tersusun di atas nakas. "Apa ini? Sabun cuci muka dengan ekstrak pepaya buatan pabrik antah berantah? Pantas saja kulit wajahmu terlihat kusam, dehidrasi, dan kurang elastisitas. Sebagai pendiri NaturaGlow, mataku sakit melihat produk yang bahan dasar utamanya hanya alkohol dan pewangi sintetis murahan menyentuh epidermis manusia."
Luna yang sedang mengambil sebungkus mi instan dari dalam kardus, seketika menghentikan gerakannya. Ia menoleh perlahan, menatap Nando dengan tatapan membunuh yang biasanya ia simpan untuk roh-roh jahat.
"Dengar ya, Tuan Direktur Utama yang sedang koma," ucap Luna dengan nada rendah dan mengancam, melangkah mendekati Nando hingga jarak mereka hanya tersisa satu jengkal. Nando sedikit terkejut dengan keberanian gadis itu. "Aku adalah karyawan minimarket dengan gaji UMR Jakarta. Uangku habis untuk membayar sewa kamar 'kardus sepatu' ini, makan sehari-hari, dan mencoba bertahan hidup di kota yang mencoba membunuhku setiap malam. Aku tidak punya sisa anggaran untuk membeli serum anti-aging seharga jutaan rupiah milik perusahaanmu."
Luna mengangkat bungkus mi instan rasa soto ayam itu tepat di depan wajah Nando. "Dan ini adalah sarapanku. Kau mungkin menganggap ini racun MSG, tapi bagiku ini adalah bahan bakar untuk bekerja sif pagi. Jadi, jika kau masih ingin tinggal di bawah perlindunganku, dan jika kau masih ingin bantuanku untuk menemukan tubuhmu yang entah ada di mana... tutup mulutmu soal gaya hidupku."
Nando terdiam. Mulutnya sedikit terbuka, siap untuk mendebat, namun ia menelan kembali kata-katanya. Untuk ukuran seorang gadis yang semalam meringkuk ketakutan di tengah gang, Luna memiliki nyali yang luar biasa saat egonya disentil. Lebih dari itu, Nando tahu Luna benar. Saat ini, pria berkuasa itu sepenuhnya bergantung pada kebaikan hati seorang gadis pelayan minimarket. Kasta mereka telah dibalik secara paksa oleh takdir.
"Baik," gumam Nando akhirnya, mengalihkan pandangan dengan sedikit canggung. Ia merapikan ujung jasnya yang tembus pandang. "Aku... minta maaf atas komentarku. Aku hanya stres. Jadwalku hari ini sangat padat. Aku ada meeting dengan investor jam delapan, lalu makan siang dengan distributor jam satu. Tubuhku di rumah sakit pasti sudah dikerubungi wartawan karena absennya aku."
Mendengar nada suara Nando yang tiba-tiba melunak dan terdengar frustrasi, amarah Luna sedikit mereda. Ia menghela napas dan kembali ke meja, mulai merobek bungkus mi instan.
"Kita akan mencarinya," kata Luna pelan, memecahkan keheningan. "Kau bilang tubuhmu dirawat di Rumah Sakit Medika Utama, kan? Kita akan pergi ke sana hari ini."
Mata Nando langsung berbinar. Pendar biru di sekitar tubuhnya tampak sedikit lebih terang. "Benarkah? Kapan? Sekarang? Berapa lama jarak dari tempat kumuh ini ke Medika Utama menggunakan taksi?"
"Kita tidak akan naik taksi," jawab Luna santai sambil menuangkan bumbu mi ke dalam mangkuk. "Dan kita tidak pergi sekarang. Aku harus bekerja sif pagi jam tujuh sampai jam tiga sore. Setelah sifku selesai, baru kita pergi naik TransJakarta."
"Apa?!" Nando nyaris menjerit, suaranya melengking tinggi. "Kau menyuruhku menunggu sampai jam tiga sore?! Perusahaanku bisa hancur jika aku tidak segera memberikan instruksi pada Bara! Dan apa itu TransJakarta? Bus panjang yang sesak itu? Tidak, tidak. Aku menolak. Kita ke rumah sakit sekarang, atau setidaknya pinjamkan aku ponselmu agar aku bisa menelepon Bara!"
Luna memutar bola matanya malas. "Tuan Nando yang jenius. Mari kita gunakan logika dasar manusia hidup. Pertama, kau adalah roh. Kau tidak bisa menyentuh layar ponselku. Kedua, anggaplah aku yang menelepon temanmu yang bernama Bara itu. Apa yang harus kukatakan? Halo, saya Luna, hantu bos Anda yang sedang koma ada di kamar kos saya dan menyuruh Anda menahan saham perusahaan? Bara akan memblokir nomorku atau melaporkanku ke polisi sebagai penipu."
Nando terbungkam. Rahangnya mengeras menyadari kebenaran absolut dari perkataan Luna. Ia benar-benar tidak berdaya. Semua kekuasaan, uang, dan koneksinya sama sekali tidak memiliki arti di dimensi ini.
"Jadi," Luna menuangkan air mendidih ke dalam mangkuk mi instannya, membiarkan uap panas yang mengepul menutupi wajahnya sejenak. "Kau akan ikut aku ke minimarket. Kau akan diam, tidak mengeluh tentang panasnya jalanan Jakarta, dan membiarkan aku bekerja dengan tenang sampai jam tiga sore. Mengerti?"
Nando membuang muka, menatap ke arah jendela yang kotor dengan ekspresi cemberut layaknya anak kecil yang dilarang membeli mainan. "Terserah. Asalkan jam tiga teng kita berangkat. Dan pastikan kau jalan lebih cepat hari ini."
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖......
...Jangan lupa bantu like komen share dan Rate ya ❣️...
...****************...
Smoga di pertemuan mereka nanti ada benih2 cinta yang tumbuh diantara mereka. 😄😃😍😍
Tp kynya Lupa bakal minder deh sm Nando, krena Nando kan CEO ky raya sementara dia hnya bekerja di minimarket.😟😞😞
Smangat buat author nya ya, smoga ceritanya smakin seru dn penuh kejutan ya. ☺
Smoga Nando akn mengingat perjuangan mreka ber 2 ya😭😭😫, smoga pas siuman orang pertama diingat adalah Luna.
Apa kh masalah mereka terhubung 1 sm lain ya? 🤔
Ayo Luna semangat, bakar aja buhul itu lun.
Suka skli baca yg horor tp ada juga komedi nya,karena Nando yg narsis dan arogan ini. 🤣🤣