Apa jadinya kalau mantan preman pasar yang paling ditakuti justru berakhir jadi pengawal pribadi seorang CEO cantik yang super dingin? Alih-alih merasa aman, sang CEO malah dibuat naik darah sekaligus baper tiap hari karena tingkah bodyguard-nya yang sengklek dan nggak masuk akal. Ikuti kisah komedi romantis penuh aksi antara si garang dan si cantik!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Kebangkitan Sang Arjuna
.. Suasana di koridor rumah sakit mendadak membeku. Clarissa masih berdiri terpaku, napasnya tersengal melihat Genta yang tadinya kritis, kini berdiri tegak di hadapannya dengan aura yang sangat berbeda.
.. "Genta... bagaimana mungkin? Bukankah dokter bilang kondisi kamu sangat parah?" tanya Clarissa dengan suara bergetar. Ia hampir tidak percaya, karena Genta seharusnya baru saja kehilangan banyak darah.
.. Genta tidak segera menjawab. Ia justru menoleh ke arah pria tua bertato naga kecil di lehernya itu. "Kakek... lama tidak bertemu. Ternyata Anda masih bersedia keluar dari tempat persembunyian," ucap Genta dengan suara berat yang penuh wibawa.
.. Pria tua itu hanya tersenyum tipis, tangannya masih mencengkeram kuat tengkuk perawat palsu yang mencoba mencelakai Clarissa. "Arjuna, tugasmu belum selesai. Darah yang mengalir di nadimu adalah darah seorang penjaga kasta tertinggi, bukan darah orang yang mudah menyerah," sahut kakek itu sebelum menjatuhkan sang perawat hingga pingsan.
.. Clarissa semakin bingung dan tertekan. "Arjuna? Siapa Arjuna?! Genta, jelaskan padaku, sebenarnya apa yang sedang terjadi?!" teriak Clarissa di tengah rasa takut dan emosi yang meluap.
.. Genta melangkah mendekati Clarissa. Setiap langkahnya terasa sangat berat dan berwibawa di lantai rumah sakit. Ia berhenti tepat di depan sang CEO, lalu dengan lembut mengusap air mata di pipi Clarissa yang masih basah.
.. "Mbak Bos, jangan takut. Genta yang konyol mungkin sedang tidur, tapi Genta yang merupakan tamengmu kini telah bangun," ucap Genta lirih, namun kata-katanya terasa sangat menghunjam ke dalam hati Clarissa.
.. Tiba-tiba, monitor jantung di dalam ruang ICU berbunyi beep panjang kembali. Para dokter berlarian keluar dengan wajah pucat pasi. "Pasien! Pasien Genta Arjuna menghilang dari ranjang! Dan luka-lukanya... luka-lukanya menutup dengan sendirinya!" teriak salah satu dokter dengan nada tidak percaya.
.. Clarissa menatap bahu Genta yang tadi terkena tembakan. Ajaib, meski pakaiannya masih sobek dan berlumuran darah, kulit di baliknya tampak mulus kembali, hanya menyisakan bekas luka tipis yang menunjukkan ia bukan manusia biasa.
.. "Siapa pun yang mengirim badai malam ini, mereka telah salah memilih lawan," desis Genta sambil mengepalkan tangannya hingga terdengar suara gemertak tulang yang mengerikan.
.. Pria tua bertato naga itu mengangguk tegas. "Nona Muda Clarissa, segera bawa Genta keluar dari sini. Rumah sakit ini sudah tidak aman lagi. Musuh sudah menunggu di area parkir bawah."
.. Clarissa langsung menggandeng tangan Genta yang terasa sangat panas, seolah dialiri energi murni yang meluap. Ia sadar, bodyguard-nya ini bukan sekadar mantan preman pasar, melainkan ada rahasia besar yang baru saja terbuka tabirnya.
.. Genta Arjuna menarik napas panjang, kilatan emas di matanya kini meredup kembali menjadi warna hitam yang tajam. "Ayo, Mbak Bos. Sekarang saatnya kita yang berburu, bukan lagi yang diburu!"
.. Clarissa menarik tangan Genta menuju lift darurat, mengikuti instruksi pria tua bertato naga tadi. Jantungnya berdegup kencang, bukan hanya karena takut, tapi karena aura yang dipancarkan Genta terasa sangat asing baginya.
.. "Genta, tanganmu... sangat panas," gumam Clarissa spontan. Genta hanya melirik sedikit, tatapannya masih tajam mengawasi setiap sudut lorong yang mulai terasa mencekam.
.. "Energi ini... sudah terlalu lama terpendam, Mbak Bos. Luka tadi hanyalah pemicu untuk membangunkannya kembali," jawab Genta singkat dengan nada bicara yang sangat tenang, jauh dari gaya "sengklek"-nya yang biasa.
.. Lift berdenting terbuka di area parkir bawah tanah yang luas dan remang-remang. Suasana di sana sangat sunyi, hanya terdengar suara tetesan air dari pipa AC yang bocor di kejauhan.
.. Tiba-tiba, suara deru mesin mobil yang sangat keras memecah kesunyian. Tiga mobil SUV hitam dengan kaca gelap langsung mengepung posisi Genta dan Clarissa, menutup semua jalan keluar.
.. Belasan pria berjas hitam turun dari mobil-mobil tersebut. Masing-masing dari mereka memegang senjata pemukul dan senjata api. Pemimpin mereka, seorang pria dengan luka parut di wajahnya, melangkah maju sambil menyeringai.
.. "Ternyata nyawamu sangat keras, Arjuna. Tapi malam ini, keberuntunganmu sudah habis di pintu rumah sakit tadi," ucap pria berparut itu sambil memberi aba-aba pada anak buahnya untuk mengepung.
.. Clarissa refleks bersembunyi di balik punggung Genta yang lebar. Ia bisa merasakan otot-otot di lengan Genta mengeras sekeras baja. "Genta... mereka terlalu banyak," bisik Clarissa penuh kekhawatiran.
.. Genta Arjuna hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat mengerikan bagi siapa pun yang melihatnya. Ia melonggarkan otot lehernya hingga terdengar suara gemertak yang keras.
.. "Mbak Bos, tutup mata sebentar ya? Jangan sampai pakaian indahmu ini terkena noda darah yang kotor lagi," ucap Genta dengan nada yang sangat lembut namun dingin di saat yang sama.
.. Tanpa menunggu jawaban, Genta melesat maju dengan kecepatan yang nyaris tidak masuk akal. Gerakannya bukan lagi seperti preman pasar yang berkelahi asal-asalan, melainkan seperti seorang ahli bela diri tingkat tinggi.
.. Pukulan pertama Genta mendarat tepat di ulu hati salah satu penyerang, membuatnya terpental sejauh lima meter dan langsung jatuh pingsan tanpa sempat berteriak sedikit pun.
.. Belasan pria itu serentak menyerbu, namun Genta bergerak lincah di antara kepungan mereka seolah-olah ia bisa membaca setiap arah serangan sebelum serangan itu dilancarkan.
.. Kilatan emas samar kembali muncul di mata Genta setiap kali ia melepaskan serangan mematikan. Ini bukan lagi perkelahian, ini adalah sebuah pembantaian satu lawan banyak yang dilakukan dengan sangat efisien.
.. Suasana parkir bawah tanah yang remang-remang itu seketika berubah menjadi medan tempur yang mengerikan. Suara hantaman tulang yang beradu dan teriakan kesakitan menggema di setiap sudut tembok beton.
.. Genta Arjuna bergerak seperti bayangan di antara kepungan belasan pria berjas hitam. Setiap pukulannya melepaskan hawa panas yang sanggup merobek pertahanan lawan sekeras apa pun.
.. Pemimpin penyerang yang memiliki luka parut di wajahnya mulai panik. Ia segera mencabut pistol dari balik pinggangnya dan membidik tepat ke arah jantung Genta. "Mati kau, keparat!" teriaknya sambil menarik pelatuk.
.. Dorr! Suara tembakan itu memecah kesunyian malam. Clarissa menjerit histeris, menutup matanya rapat-rapat karena ketakutan yang luar biasa.
.. Namun, apa yang terjadi selanjutnya benar-benar di luar logika manusia. Genta tidak tumbang. Ia justru berdiri tegak, dan dengan santai ia membuka kepalan tangan kanannya. Sebuah proyektil peluru panas jatuh berdenting di lantai semen.
.. Genta baru saja menangkap peluru itu dengan tangan kosong. Kilatan cahaya keemasan di matanya kini menyala lebih terang dari sebelumnya, memancarkan aura kegelapan yang sangat menekan jiwa siapa pun di depannya.
.. "Hanya ini kemampuanmu? Kalian berani mengusik ketenangan Mbak Bos-ku hanya dengan mainan seperti ini?" ucap Genta dengan suara yang sangat rendah, merambat di lantai seperti bisikan maut.
.. Sang pemimpin penyerang gemetar hebat. Senjata di tangannya jatuh begitu saja. Ia melihat Genta bukan lagi sebagai manusia, melainkan sesosok naga yang sedang murka dan siap menelan segalanya.
.. Dengan satu gerakan kilat, Genta sudah berada tepat di depan pria berparut itu. Ia mencekik leher pria itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara seolah pria itu tidak berbobot sama sekali.
.. "Katakan padaku... siapa yang memerintahkanmu? Apakah si Tua Wijaya yang ambisius itu, atau musuh dari masa lalu ayah Clarissa?" tanya Genta sambil memberikan tekanan yang membuat pria itu sulit bernapas.
.. Pria itu hanya bisa menggapai-gapai udara, wajahnya membiru karena kehabisan oksigen. Belasan anak buahnya yang lain sudah terkapar tak berdaya di lantai, mengerang kesakitan dengan tulang yang patah.
.. Clarissa perlahan membuka matanya. Ia terbelalak melihat pemandangan di depannya. Genta yang biasanya sering ia panggil "sengklek" kini berdiri gagah di tengah tumpukan lawan yang tumbang, seperti seorang jenderal perang yang tak terkalahkan.
.. Tiba-tiba, suara sirine polisi terdengar dari kejauhan, semakin mendekat ke arah rumah sakit. Genta melempar tubuh pria berparut itu ke kap mobil hingga penyok, lalu menoleh ke arah Clarissa dengan tatapan yang kembali melembut.
.. "Ayo, Mbak Bos. Kita harus pergi sekarang. Masalah ini jauh lebih besar dari sekadar percobaan pembunuhan. Ada pengkhianat di dalam lingkaran terdekatmu," ucap Genta sambil membukakan pintu mobil mewah milik Clarissa.
.. Clarissa hanya bisa mengangguk patuh. Ia masuk ke dalam mobil, menyadari bahwa hidupnya mulai malam ini tidak akan pernah sama lagi. Dan pria yang duduk di kursi pengemudi di sampingnya adalah kunci dari semua misteri yang menyelimuti keluarganya.
.. Genta Arjuna menginjak pedal gas dalam-dalam, meninggalkan area parkir yang berserakan tubuh lawan. Di balik kemudi, senyum tipis yang penuh rahasia muncul di wajahnya. Sang Arjuna sudah benar-benar bangun.