Reality Bender – Sang Penguasa Kehampaan
"Di dunia di mana cahaya matahari adalah hukum, mampukah ketiadaan menjadi penyelamat?"
Dikhianati oleh kekaisaran yang ia bela dan diburu oleh takdir yang haus darah, Fang Han terbangun dengan kutukan yang mustahil: Inti Kehampaan. Kekuatan ini tidak hanya menghapus musuhnya, tetapi perlahan mengikis ingatan, emosi, dan kemanusiaannya sendiri. Setiap langkah menuju puncak kekuasaan adalah langkah menuju kegelapan abadi di mana ia terancam melupakan wajah orang-orang yang ia cintai.
Dari pelarian maut di Puncak Kun-Lun hingga menjadi tawanan di Benteng Obsidian yang mengerikan, Fang Han harus memilih: menjadi senjata pemusnah massal bagi musuhnya, atau menguasai Pedang Shatter-Fate untuk memutus rantai takdir dunia.
Ikuti perjalanan epik penuh pengorbanan, pengkhianatan politik, dan cinta yang melampaui dimensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rendy_Tbr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SANG PENJERAT JIWA DALAM BOTOL
Lembah Seribu Racun terbentang di depan mata Fang Han bagaikan rahang raksasa yang siap mengunyah siapa pun yang berani melangkah masuk. Kabut ungu yang tadinya hanya setinggi mata kaki, kini mulai merayap naik hingga ke pinggang, membawa partikel-partikel mikroskopis yang mampu melumpuhkan indra peraba.
Setiap langkah yang diambil Fang Han terasa seperti menginjak bara api. Di belakangnya, Si Penelan Cahaya—pria tua misterius yang kini menjadi bayangan setianya—berjalan tanpa suara, seolah kakinya tidak menyentuh tanah yang terkontaminasi.
"Jangan menahan napasmu terlalu lama, Han-er," ucap Si Penelan Cahaya dengan suara yang berat.
"Jika kau menahan napas, racun ini akan meresap melalui pori-pori kulitmu dan membekukan aliran darahmu dalam hitungan menit. Bernapaslah dengan ritme kehampaan. Biarkan racun itu masuk, dan biarkan ia menemukan bahwa tidak ada apa pun di dalam dirimu untuk dirusak."
Fang Han mencoba mengikuti instruksi itu, meski dadanya terasa sesak. "Mudah bagimu untuk mengatakannya, Tetua. Tubuhku masih terbuat dari daging, bukan kabut seperti jiwamu."
Tiba-tiba, kabut di depan mereka bergulung-gulung, membentuk pusaran yang aneh. Dari balik pohon-pohon yang membusuk, muncul sesosok wanita mungil dengan pakaian yang dipenuhi kantong-kantong kecil berisi cairan bercahaya. Di lehernya tergantung sebuah botol kaca kristal yang kosong namun memancarkan aura kegelapan yang pekat.
Wanita itu tertawa, suara tawa yang melengking tinggi dan pecah di udara.
"Oh, lihatlah! Seorang pemuda tampan dengan energi yang begitu lezat... dan seorang tua bangka yang berbau tanah makam," ucap wanita itu sambil memutar-mutar botol kristalnya.
"Namaku adalah Yue si Apoteker Racun. Tapi orang-orang lebih mengenalku sebagai Sang Penjerat Jiwa. Kau membawa sesuatu yang sangat langka di dalam dirimu, Nak. Sebuah kekosongan yang ingin sekali aku masukkan ke dalam koleksiku."
Fang Han mengerutkan kening, merasakan getaran aneh dari botol yang dibawa wanita itu. "Aku tidak punya urusan dengan koleksimu. Aku mencari Bunga Hati Langit. Minggirlah, atau kau akan berakhir seperti pembunuh suara kemarin."
Yue tertawa lebih keras, matanya yang berwarna hijau neon berkilat jahat.
"Bunga Hati Langit? Kau tidak akan pernah mencapainya! Karena sebelum kau sampai di sana, jiwamu akan menjadi milikku! Jurus Rahasia: Vakum Pemisah Sukma!"
Yue membuka tutup botol kristalnya. Seketika, sebuah gaya tarik yang luar biasa kuat muncul dari botol tersebut. Gaya tarik ini tidak menarik tubuh fisik Fang Han, melainkan menarik Qi dan kesadarannya. Fang Han merasa dunianya menjadi gelap, seolah-olah rohnya sedang ditarik paksa keluar melalui mulutnya.
"Apa... apa ini?!" teriak Fang Han, ia berlutut, mencoba menancapkan jari-jarinya ke tanah untuk bertahan.
Si Penelan Cahaya hanya berdiri menonton, suaranya terdengar jauh di telinga Fang Han.
"Dia menggunakan hukum Vakum Efek. Dia menciptakan ruang kosong buatan di dalam botol itu untuk menarik energimu yang tidak stabil. Jika kau melawannya dengan kekuatan, kau hanya akan memberinya lebih banyak energi untuk ditarik. Menjadi kosonglah, Han-er! Jangan berikan dia apa pun untuk ditarik!"
Fang Han berjuang melawan rasa kantuk yang luar biasa saat jiwanya mulai tersedot. Ia melihat Yue mendekat dengan seringai kemenangan.
"Tunduklah, manis... jadilah bagian dari keabadian di dalam botolku," bisik Yue.
Dalam kondisi kritis itu, Fang Han teringat latihan hari keenam. Ia berhenti melawan tarikan botol tersebut. Ia justru mendorong seluruh energinya ke arah botol itu, namun bukan sebagai serangan, melainkan sebagai "kepasrahan total". Ia menyatukan frekuensi Nirwana Sunya miliknya dengan kevakuman di dalam botol tersebut.
"Kau ingin kekosongan?" desis Fang Han dengan mata yang berubah menjadi abu-abu pucat. "Maka ambillah seluruh kehampaan dari dua kehidupanku!"
Seketika, aura abu-abu yang sangat masif melesat masuk ke dalam botol kristal milik Yue. Namun, alih-alih terisi, botol itu mulai bergetar hebat. Retakan-retakan mulai muncul di permukaannya. Kekosongan sejati dari Nirwana Sunya jauh lebih besar dan lebih dalam daripada vakum buatan milik Yue.
PRANG!
Botol kristal itu meledak menjadi jutaan kepingan halus. Yue terlempar ke belakang, memekik kesakitan saat energi yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun berbalik menyerang saraf-sarafnya sendiri.
"TIDAK! KOLEKSIKU! JIWAKU!" teriak Yue sebelum ia jatuh pingsan, seluruh jalur energinya hancur total akibat mencoba menampung kehampaan Nirwana Sunya.
Setelah Yue dikalahkan, kabut di area itu sedikit menipis. Fang Han berjalan mendekati sebuah sangkar besar yang terbuat dari tulang-tulang binatang raksasa yang terletak di belakang tempat Yue tadi berdiri. Di dalam sangkar itu, duduk seorang pria muda dengan rambut perak panjang yang berantakan. Tangannya terikat oleh rantai energi berwarna ungu.
Pria muda itu mendongak, matanya yang cerdas namun lelah menatap Fang Han.
"Kau... kau menghancurkan botol Yue? Luar biasa. Kekuatan apa yang kau gunakan tadi? Itu bukan Qi biasa," tanya pria muda itu dengan nada penasaran yang tinggi, seolah ia tidak sedang dalam bahaya.
Fang Han mendekat, mencoba memotong rantai tulang itu dengan jarinya yang dilapisi energi abu-abu. "Aku Fang Han. Siapa kau? Dan kenapa wanita gila itu mengurungmu?"
Pria muda itu berdiri setelah rantainya hancur menjadi debu di bawah sentuhan Nirwana Sunya.
"Namaku adalah Mu Chen. Aku adalah seorang apoteker alkemis. Yue menculikku karena dia butuh pengetahuanku untuk menciptakan racun yang bisa membunuh praktisi tingkat Pondasi Dasar. Terima kasih telah membebaskanku, meskipun caramu tadi hampir saja menghapus keberadaanku juga."
Si Penelan Cahaya mendekat, menatap Mu Chen dengan penuh selidik.
"Seorang alkemis dari klan Mu? Menarik. Han-er, dia mungkin orang yang kau butuhkan. Dia tahu cara mengolah Bunga Hati Langit agar tidak menjadi racun mematikan saat diberikan pada pamanmu."
Mu Chen menatap Si Penelan Cahaya dengan kaget. "Kau... kau tahu tentang klan Mu? Dan kau tahu tentang bahaya Bunga Hati Langit? Siapa kau sebenarnya, orang tua?"
Si Penelan Cahaya hanya tertawa kecil.
"Hanya seorang pengembara yang sudah terlalu banyak melihat kematian. Mu Chen, jika kau ingin hidup, ikutlah dengan pemuda ini. Dia sedang menuju Puncak Menangis."
Mu Chen tampak ragu sejenak, namun ia melihat ke arah Fang Han yang kini tampak begitu rapuh namun mematikan.
"Puncak Menangis? Itu adalah bunuh diri. Tapi... melihat apa yang kau lakukan pada Yue tadi, mungkin ada peluang satu banding sejuta. Aku akan ikut. Tapi kita punya masalah besar."
Fang Han menoleh tajam. "Masalah apa lagi?"
"Penjaga wilayah tengah lembah ini," bisik Mu Chen. "Yue hanyalah pelayan di depan dia. Sang Raja Cermin, musuh yang tidak bisa kau sentuh dan tidak bisa kau lukai."
Mereka bertiga melanjutkan perjalanan menembus jantung Lembah Seribu Racun. Lingkungan di sekitar mereka mulai berubah. Pohon-pohon dan tanah perlahan menghilang, digantikan oleh struktur-struktur kristal yang memantulkan bayangan mereka dari segala arah.
Tiba-tiba, jalan di depan mereka tertutup oleh dinding kaca raksasa yang muncul dari bawah tanah. Di mana pun mereka menoleh, mereka hanya melihat pantulan diri mereka sendiri.
"Selamat datang di istanaku, para pencari maut," sebuah suara yang dingin dan bergema terdengar dari segala arah.