Xavero Ravindra—pria yang pernah diremehkan oleh keluarga mantan istrinya. Dipandang rendah karena status, diabaikan seolah tak punya nilai.
Namun di balik diamnya, ia menyimpan keteguhan yang tak mudah dipatahkan. ia tidak membalas dengan kata-kata. Ia memilih bangkit... dan membuktikan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Doa
“Gue harus beritahu istri gue.”
Nico langsung menggeleng pelan. “Belum saatnya… Xavira mengetahuinya.”
“Tapi, Nic… mungkin dengan berita ini Xavira akan kembali seperti dulu lagi,” ucap Xander.
“Gue tahu itu, Xan. Gue paham lo, sangat paham,” balas Nico tenang namun tegas. “Tapi kita harus melakukan tes DNA terlebih dahulu agar lebih akurat.” Ia menatap Xander dalam. “Lo mau? Setelah lo mengatakan ini pada istri lo, dan hasilnya tidak sesuai ekspektasi kita… lo mau istri lo jadi lebih rapuh lagi?”
Xander terdiam. Rahangnya mengeras, namun ia tak bisa membantah. Ucapan Nico masuk akal.
“Tapi, Nic… gue kali ini yakin.”
“Kita tes DNA, Xan,” potong Nico, tidak memberi celah. Ia langsung meraih ponselnya dan menelepon seseorang. “Datang ke sini.”
Panggilan itu terputus singkat.
Nico kembali menatap Xander, yang masih terpaku pada foto di tangannya, seolah enggan melepaskan harapan.
Tak selang lama—
Krek!
Pintu terbuka.
Jakob—asisten Nico—masuk dengan langkah teratur, lalu mendekat dengan sikap hormat.
“Ambil rambut Xander,” perintah Nico tanpa basa-basi.
Jakob menatap Xander sejenak, ragu.
“Ambil saja,” ucap Xander pelan.
Jakob akhirnya mengangguk. “Baik, Tuan.” Ia mendekat, mengeluarkan gunting kecil, lalu dengan hati-hati menggunting sedikit rambut Xander dan memasukkannya ke dalam plastik bening.
“Lakukan sekarang, Jak,” lanjut Nico.
“Baik, Tuan. Saya permisi.” Setelah itu, Jakob segera meninggalkan ruangan.
Ruangan kembali hening.
“Xan, hapus air mata lo. Lo gak malu? Pemimpin Adiwangsa Holding sekaligus ketua mafia kok menangis,” ucap Nico, sengaja mencairkan suasana.
Xander menatapnya malas, lalu melemparkan bantal sofa ke arah Nico. “Sialan lo,” kesalnya.
Ia beranjak dari duduknya.
“Mau ke mana lo?” tanya Nico.
“Balik!” jawab Xander singkat.
Deru mesin mobil menggema di sepanjang jalan malam.
Lampu-lampu kota hanya menjadi garis samar di sisi kiri dan kanan, seolah tidak berarti apa-apa di tengah pikiran Xander yang kacau.
Tangannya mencengkeram setir lebih kuat.
Rahannya mengeras.
Pikirannya kembali berputar—
Ucapan Erik.
“Dia sangat mirip dengan Anda saat berusia dua puluh tahunan.”
Dan…
Ucapan Nico.
“Tanpa kita sadari… yang kita cari sudah semakin dekat.”
Xander menginjak pedal gas lebih dalam.
Mobil melaju semakin cepat.
“Jika benar dia…” Xander menjeda ucapannya, suaranya tertahan oleh harapan yang perlahan tumbuh. “Setelah sekian lama, Tuhan menjawab doa kami.”
Tak lama kemudian, mobilnya memasuki area mansion.
Bangunan megah itu berdiri kokoh dengan arsitektur elegan, dikelilingi taman luas yang tertata rapi. Lampu-lampu taman menyala hangat, menciptakan suasana tenang namun berkelas.
Pintu pagar terbuka otomatis. Para pengawal yang berjaga segera menunduk hormat saat mobilnya melintas masuk.
Mobil Xander berhenti di depan pintu utama. Ia turun dengan langkah cepat namun tetap berwibawa, lalu masuk ke dalam mansion.
“Di mana Xavira?” ucapnya pada asisten rumah tangga.
“Nyonya ada di ruangan pribadinya, Tuan,” jawab asisten tersebut dengan sopan.
Xander mengangguk singkat, lalu melangkah menuju ruangan pribadi istrinya.
Tanpa mengetuk, ia membuka pintu itu perlahan.
Di dalam ruangan, Xavira tengah berlutut dengan khusyuk, kedua tangannya terlipat di depan dada, kepalanya sedikit menunduk. Suasana hening, hanya terdengar lirih doa yang ia panjatkan, penuh harap dan keyakinan.
Xander terdiam sejenak di ambang pintu, memperhatikan istrinya dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
Menyadari pintu terbuka, Xavira perlahan menghentikan doanya. Ia menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Xander berdiri di sana dengan senyum hangat, senyum yang hanya ia tunjukkan pada wanita itu.
“Sayang,” ucap Xavira lembut.
Xander melangkah mendekat tanpa ragu. Ia langsung merebahkan kepalanya di paha sang istri, wajahnya menghadap ke atas dengan senyum yang jarang terlihat oleh orang lain.
“Istri aku sangat cantik.”
“Jadi selama ini aku jelek?” balas Xavira dengan nada cemberut, meski ada senyum tipis yang tertahan.
Xander menggeleng pelan. Tangannya terangkat, menyentuh wajah Xavira dengan lembut, penuh rasa sayang.
“Kamu tidak pernah jelek, sayang. Puluhan tahun aku bersamamu… aku tidak akan pernah bosan memandangmu.”
Xavira terkekeh kecil, matanya memancarkan kehangatan.
“Lebay kamu,” ucapnya pelan. “Ingat, kita sudah berumur.”
Namun, tangannya tetap mengusap lembut rambut Xander, seolah menikmati momen sederhana itu.
Xander tersenyum tipis.
“Biarpun kita sudah berumur,” ucapnya pelan, “di mataku… kamu tetap sama.”
Tangannya masih menyentuh wajah Xavira, ibu jarinya mengusap lembut pipinya.
Tatapan itu, hangat.
Namun, ada sesuatu yang berbeda malam ini.
Lebih dalam, lebih penuh.
Xavira menyadarinya.
Ia mengernyit tipis.
“Kenapa?” tanyanya pelan. “Kamu terlihat… berbeda.”
Xander tak langsung menjawab.
Ia bangkit perlahan dari sisi Xavira, lalu melangkah beberapa langkah ke depan.
Tatapannya tertuju pada patung salib di sudut ruangan, tempat yang selama ini menjadi saksi diam setiap doa mereka.
Ia berdiri di sana.
Diam.
Lama.
Tangannya perlahan saling menggenggam, jemarinya menguat, seolah menahan sesuatu yang terlalu besar untuk diucapkan.
“Tuhan…” suaranya lirih, hampir seperti bisikan,
“jika dia benar yang kami cari selama ini…”
Napasnya tertahan sejenak.
“Yang selalu kami doakan… setiap saat…”
Matanya terpejam.
Ada getaran halus di suaranya yang biasanya begitu kokoh.
“Kalau itu dia… jangan biarkan aku kehilangan lagi.”
Xander menutup matanya perlahan.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
ia takut berharap terlalu tinggi.
Xavira yang sejak tadi duduk, menatap punggung suaminya.
Sorot matanya melembut, namun kini terselip kebingungan.
Perlahan, ia berdiri, mendekat tanpa suara.
Tangannya terangkat, lalu menyentuh lengan Xander dengan lembut.
“Sayang…” ucapnya pelan.
Xander membuka matanya, namun ia tidak langsung menoleh.
Seolah masih menahan sesuatu.
Xavira kini berdiri di sampingnya.
Tatapannya sempat beralih ke arah salib itu, lalu kembali pada Xander.
Alisnya mengernyit tipis.
“Apa yang kamu doakan?” tanyanya pelan, penuh kehati-hatian.
Ada jeda sesaat.
Ia menatap wajah suaminya, mencoba mencari jawaban dari ekspresinya.
“Kamu… terdengar berbeda,” lanjutnya lirih.