Seorang dokter muda yang sedang meneruskan pedidikannya di S2, dipaksa untuk segera menikah...
ternyata salah satu pasiennya membuatnya jatuh hati pada pandangan pertama
berhasilkah Dokter tersebut mendapatkan gadis pujaannya.
jangan lupa comen dan likenya ya..🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Friska Nanda Raisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
akhirnya
Setelah beberapa saat ngobrol dengan Adit, Nuripun terbangun.
“Nur, maaf. Kita udah ganggu kamu tidur ya?” tanya Adit
“Ga kok mas. Ga apa-apa. Santai aja lagi.” Sahut Nuri sambil tersenyum
“Oh ya dit, aku titip tolong jagain Nuri ya. Aku mau mandi dulu. Dari tadi pulang kerja, aku langsung di sini masalahnya.” Ucapku dan Aditpun mengangguk
Sementara aku pergi, Adit dan juga Nuri ngobrol di dalam.
“Mas, gimana kuliahnya?” tanya Nuri
“Klo ga ada halangan, mungkin dalam waktu dekat, mas akan lulus.” Sahut Adit
“Wow.. Ga terasa ya mas.” Ucap Nuri
“Iya dek.” Ucap Adit
“Mas, aku kangen sama mba Aisyah.” Ucap Nuri
“Kamu kangen mba Aisyah?” tanya Adit memastikan
“Ya udah, nanti setelah kamu sembuh, kita akan ke makamnya. Gimana?” ucap Adit dan Nuripun mengangguk
“Oh ya Nur, mas boleh tanya sesuatu ga?” ucap Adit
“Boleh. Mau tanya apa mas?” ucap Nuri
“Kamu udah punya pacar belum Nur?” tanya Adit
“Hmm.. Emang kenapa mas?” tanya Nuri
“Ga. Mas Cuma pingin tahu aja. Masa’ mas ga boleh tanya.” Ucap Adit
“Iya ga apa-apa mas.” Sahut Nuri
“Jadi gimana? Kamu udah punya pacar?” tanya Adit
“Belum mas.” Sahut Nuri
“Oh syukurlah.” Ucap Adit
“Kok? Kenapa emangnya mas?” tanya Nuri heran dan bingung
“Ga.. Ga kenapa-kenapa kok dek.” Ucap Adit
“Oh..” sahut Nuri singkat
“Nur..” panggil Adit kemudian
“Ya mas. Ada apa mas?” Sahut Nuri
“Jika kamu suatu hari nanti kamu di suruh menikah dengan lelaki yang tidak kamu cintai gimana?” tanya Adit
“Gimana apanya mas?” tanya Nuri pura-pura ga paham
“Ya kamu bersedia ga menikah dengannya?” tanya Adit
“Entahlah.” Sahut Nuri singkat
“Kok entahlah?! Emang ga bisa kasih jawaban yang pasti gitu.” Protes Adit
“Lha mas. Mau ngasih jawaban pasti kaya gimana. Kan aku sendiri ga tahu maksud arah pembicaraan mas.” Sahut Nuri
“Hadeuh... Ya udahlah. Ya udah. Nyerah aku klo ngomong sama kamu.” Ucap Adit dan Nuripun tersenyum
“Mas, sebenarnya aku tahu maksud pembicaraanmu tadi. Tapi maaf klo aku pura-pura ga tahu. Aku hanya ingin membiarkan mas Yusuf berfikir dengan tenang.” Gumam Nuri dalam hati
Tak selang berapa lama, akupun datang.
“Kalian kenapa? Kok wajah kalian terlihat tegang?” tanyaku bingung ketika masuk kedalam kamar Nuri
“Ah.. Ga ada apa-apa mas.” Ucap Adit
“Beneran ga ada apa-apa?” tanyaku memastikan
“Iya bener kok. Ga ada apa-apa.” Sahut Adit meyakinkan
“Ya udah sana dit, kamu istirahat. Biar aku yang ngegantiin kamu jagain Nuri.” Ucapku
“Ya udah deh. Klo gitu aku keluar dulu ya.” Ucap Adit
“Iya.” Sahutku dan Aditpun langsung keluar
Setelah Adit keluar, tinggallah aku dan Nuri berdua.
“Nur, tadi sebenernya kamu ma Adit lagi ngobrolin apa?” tanyaku lagi yang masih penasaran
“Hmm... Mas masih penasaran ya?” tanya Nuri dan akupun mengangguk
“Sebenernya tadi mas Adit tanya aku masalah jika aku harus menikah dengan cowo’ yang ga aku suka gimana?” jelas Nuri
“Trus gimana?” tanyaku
“Trus aku jawab aja ga tahu.” Sahut Nuri
“Kok jawabnya ga tahu sih?” protesku dan Nuripun tersenyum
“Kok senyum?” tanyaku
“Emang mas mau jawaban apa?” tanya Nuri
“Hmm...” ucapku bingung mau minta jawaban apa
“Mas... Mas kenapa? Bingung ya? Klo mas bingung, aku sendiri lebih bingung mas. Ga mungkin kan klo aku jawab aku bakalan mau nikah sama cowo itu. Secara kan mas Adit ga ngerti klo aku sebenernya udah tahu masalah surat mba Aisyah. Jadi ya... Aku pura-pura ga tahu aja jawabnya.” Jelas Nuri panjang lebar
“Oh begitu?!” sahutku
“Kenapa mas?” tanya Nuri
“Nur, sudahlah nur, mas sudah putusin setelah kamu sembuh dari sakit, mas mau nikahin kamu.” Ucapku
“Apa mas? Secepat itu?” tanya nuri dan akupun mengangguk
“Tapi kenapa secepat itu mas?” tanya Nuri
“Ada banyak pertimbangan Nur, sebelum akhirnya mas bisa putusin ini.” Jelasku
“Gimana? Kamu bersedia ga menikah dengan duda seperti aku?” tanyaku
“Hmm... Gimana ya mas? Coba mas kasih tahu 1 alasan dulu kenapa akhirnya mas bisa putusin masalah ini?” ucap Nuri
“Harus ya?!” tanyaku dan diapun mengangguk
“Ini lebih karena mas ga pingin merasa kehilangan lagi. Mas juga ga ingin melihat kamu berhubungan dengan cowo lain.” Jelasku
“Oh.. Mas cemburu?” tanya Nuri dan akupun mengangguk
“Baiklah mas, jika itu yang sudah jadi keputusan mas. Aku ikut aja.” Sahut Nuri
“Lalu bagaimana dengan perasaanmu sendiri?” tanyaku yang sedikit ragu
“Mas, ga usah khawatir. Kita kan bisa pura-pura pacaran walo status kita suami istri?” ucap Nuri
“Kamu yakin?” tanyaku
“Yakin seyakin-yakinnya mas.” Sahutnya mantab
“Terimakasih Nur.” Ucapku yang langsung memeluknya
.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa like dan coment nya ya...🙏
singkat padat dan jelas
harus nya judul nya turun ranjang😀
jd gk trima rasanya kl judulnya"cinta karna ibadah"..
" Cinta Dalam Doa ".
terima kasih kak
.aq suka