CINTA ITU MANIS
CINTA ITU PAHIT
CINTA ITU HAMBAR
CINTA ITU INGIN TERUS BERJUANG
CINTA ITU TIDAK EGOIS
CINTA ITU INGIN DI MENGERTI
CINTA ITU PENGORBANAN
CINTA ITU HASRAT UNTUK MEMILIKI DAN MENGIKAT
CINTA ITU MELELAHKAN TAPI PENUH CANDU
CINTA ITU SELALU INGIN BAHAGIA
APAKAH SEMUA BISA MAYA DAPATKAN DARI SEORANG PLAYBOY BERNAMA REYNALDI
SIMAK NOVEL INI SAMPAI END
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah yang belum pas
"Tio hari ini Saya tidak ke kantor, cancel semua jadwal Saya dan minta Sobri siapkan mobil," perintah Darmawan kepada Tio asistennya .
"Baik Tuan," jawab Tio menerima instruksi Tuannya walaupun tampak jelas di kerut wajahnya ada tanda tanya.
Hal yang sama juga ada dalam pikiran Aldo, Aldo ingin tahu kenapa hari ini Papanya tidak ke kantor.
"Kenapa nggak ke kantor, Papa kurang sehat?" tanya Aldo dengan nada khawatir sambil memperhatikan wajah Papanya.
Takut kejadian semalam berimbas pada kesehatan Papanya.
"Tidak Al, Papa baik - baik saja. Hari ini Papa mau menemani Maya ziarah ke makam Mamamu," jawab Darmawan.
"Ke makan Mama?" tanya Aldo sambil mengerutkan dahi.
Sementara Rey menyimak pembicaraan mereka sambil menikmati secangkir kopi di tangannya. Entah kenapa setiap nama Maya disebut atau melihat orangnya, ada sesuatu yang membuatnya terus ingin tahu.
Tapi Dia tetap memasang wajah cuek. Belum sempat Darmawan menjawab pertanyaan Aldo, orang yang menjadi perbincangan datang.
"Assalamualaikum, selamat pagi semua," sapa Maya sopan dengan seulas senyum tersungging di bibirnya.
Jika melihat ekspresinya pagi ini sepertinya kejadian semalam tidak berpengaruh.
"Waalaikumsalam," jawab semua orang yang ada di teras itu termasuk Bi Atik yang sedang melayani sarapan pagi.
"Duduklah May," kata Darmawan.
Belum sempat Maya duduk Aldo memberinya pertanyaan yang tadi belum mendapat jawaban dari Darmawan.
"Kenapa Kau mau ke makam Mamaku?" tanya Aldo dengan wajah penasaran.
Aldo ingin tahu alasan Maya ingin mengunjungi makam mamahnya. Reynaldi melirik ke arah Maya penasaran.
Sejenak setelah Maya mengatur posisi duduknya Mata Maya berkeliling menatap satu persatu semua yang ada di meja sepertinya dia bisa menangkap tanda tanya dalam pikiran ketiganya. Pandangannya berakhir kearah Aldo.
"Kak Al," Panggil Maya.
Aldo menatap Maya mata mereka saling bertemu Aldo merasa tatapan Maya begitu tulus dan polos. Aldo terkesima hatinya merasa tenang.
"Untuk berterima kasih kepada beliau karena bagaimanapun keinginan beliau adalah bagian dari takdir Maya," Jawab Maya .
"Bolehkan, Maya mengunjungi Mama Eliza?" tanya Maya .
Kedua bibirnya di angkat ke atas sedikit membentuk senyum tipis di sertai tatapan memohon. Seperti anak kecil yang meminta sesuatu yang di inginkan harus di turuti. mulut Aldo sedikit terbuka wajahnya Luluh .
"Boleh, kenapa nggak," jawab Aldo.
Darmawan melirik Aldo dengan seulas senyum.
"Persis seperti Aku, jika berhadapan dengan Eliza" batin Darmawan.
Reynaldi sedikit terkejut dengan sikap dan reaksi Aldo yang tadinya penuh tanda tanya berubah jadi pasrah.
"Terima kasih Kak," kata Maya dengan senyum manis.
"May, Kakak punya sesuatu untukmu," kata Aldo sambil memberikan kantong tas hitam pada Maya.
Maya menerima bungkusan dan membukanya lalu mengeluarkan isinya yang tidak lain sebuah Hp edisi terbaru merek terkenal. wajah Maya terlihat bingung.
"Pakai Hp ini May, punyamu sudah terlalu jadul," kata Aldo.
Dia ingin melihat reaksi Maya, dalam bayangannya Maya akan senang kegirangan dan.... wajahnya tampak serius menunggu.
Maya mengamati Hp di tangannya sesaat Dia seperti sedang berpikir.
"Hp nya bagus tapi .....May gak bisa terima, Maaf," ucap Maya sambil memberikan Hp di tangannya ke Aldo.
"Memang kenapa May?" tanya Aldo dengan wajah heran begitu juga dengan Reynaldi dan Darmawan.
"Hp ini terlalu bagus buat Maya, kalau teman May lihat pasti nyangka May cewek apaan, kan gak mungkin SPG seperti May bisa membeli Hp semahal ini Kak," jawab Maya .
"Terus Hp nya gimana, kan udah Kakak beli?"
tanya Aldo kecewa.
Reynaldi melirik Maya menunggu jawaban apa yang bakal keluar dari mulutnya.
"May simpan aja dulu, tar kalau sudah saatnya May pakai. Makasih hadiahnya Kak Al," jawab Maya dengan senyum manisnya sehingga ke dua lesung pipinya jelas terlihat.
"Wow," batin Rey.
"Oh, ya May mau sarapan apa," tanya Papanya.
Maya melihat menu sarapan di atas meja roti lapis, telur setengah matang, jus buah dan kopi atau teh Hampir yang di suguhkan tidak ada yang menarik seleranya.
"Maaf Bi Atik, bisa tolong buatkan Maya mi seduh," pinta Maya tersenyum.
"Baiklah Non," jawab Bi Atik dan berlalu ke dapur.
"Oh ya Al, kamu mau ikut?" tanya Darmawan kepada putranya.
Aldo menatap Reynaldi seperti minta pendapatnya. Reynaldi menjawab dengan mengangkat kedua alisnya.
Terserah .
"Gak usah Pa, Al sudah ada janji sama Rey," jawab Aldo.
"Sampaikan salam ku sama Mama ya Adik kecil." kata Aldo sambil mencubit hidung Maya gemas.
"Aaah .... apaan sih," sungut Maya sambil cemberut. Aldo tersenyum puas melihat Maya cemberut.
Reynaldi tampak tersenyum tak nyaman ada perasaan iri melihat senyum di wajah sahabatnya.
"Kapan Gue bisa tersenyum lepas seperti Lu Al," bisiknya dalam hati .
...---------------...
"Al ke rumah dulu Gue mau ganti baju," kata Reynaldi mengarahkan laju mobil menuju rumahnya. Aldo yang sedang asyik dengan hp-nya menengok ke arah Reynaldi.
"Bokap Lu ada gak!" tanya Aldo dengan tatapan nakal.
"K**pr** Lu, dasar otak mesum," cetus Reynaldi seperti tahu apa yang ada di otak sahabatnya.
"Gue heran sama Lu, kenapa Lu gak pernah betah tinggal di rumah padahal di rumah Lu ada yang di pandang enak," gurau Aldo.
"Enak pala Lu" umpat Reynaldi.
Sejak Papanya menikah untuk ketiga kalinya dengan Miranda seorang artis terkenal yang usianya hanya berpaut empat tahun dengannya lebih tua membuat Reynaldi enggan untuk berlama-lama di rumah.
Dia lebih sering menghabiskan waktunya di rumah sahabatnya atau di apartemen miliknya, hanya sesekali dia datang ke rumah itupun sebisa mungkin tidak bertemu dengan Ibu tirinya.
Di mata banyak orang Miranda mungkin sosok yang baik, ramah dan juga setia tapi dimata Reynaldi Miranda adalah sosok yang perempuan munafik yang hanya mengejar uang Papanya.
Semua yang ditampilkan hanyalah sebuah pencitraan diri karena Dia seorang selebritis.
Tidak sampai tiga puluh menit mereka sampai. Mobil memasuki pintu gerbang sebuah rumah mewah yang di desain minimalis modern.
Sang pemiliknya Agung Prakoso adalah seorang pengusaha real estate dan properti terkenal di Jakarta juga beberapa kota besar di Indonesia beliau juga memiliki beberapa resort yang ada di kawasan ujung kulon pulau Jawa dan pulau L. Baru saja mereka berdua sampai.
"Hallo Al, lama gak pernah mampir," sapa Miranda menuruni tangga.
Mata Aldo melebar melihat penampilan Miranda yang serba minim. Selain cantik Miranda memiliki body yang aduhai.
"Siang Tante," sapa Aldo mendekati Miranda dan cipika-cipiki.
"Tambah cantik aja nih Tante," puji Aldo sambil matanya melirik ke arah dada Miranda
bagian atas yang terlihat jelas baju cutout dress warna maroon jarak mereka sangat dekat.
"kalau bukan Ibu tiri sobat gua udan gua embat nih cewek," batin Aldo.
"Kamu bisa aja deh Al, Kamu juga tambah keren Lu," kata Miranda .
melihat basa-basi ke dua orang di depannya membuat Reynaldi muak. Dia lalu berjalan menaiki tangga menuju kamarnya .
"Rey tunggu," teriak Aldo mengejar Renyaldi.
"Da....... Tante, atas dulu ya," kata Aldo sambil mengerlingkan sebelah matanya.
Uda mulai muncul benih " asmara nih 🤭
Rey datang buat nyelametin maya