NovelToon NovelToon
Titisan Darah Biru

Titisan Darah Biru

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan / Dendam Kesumat / Ilmu Kanuragan
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Ebez

Mahesa Sura yang telah menunggu puluhan tahun untuk membalas dendam, dengan cepat mengayunkan pedang nya ke leher Kebo Panoleh. Dendam kesumat puluhan tahun yang ia simpan puluhan tahun akhirnya terselesaikan dengan terpenggalnya kepala Kebo Panoleh, kepala gerombolan perampok yang sangat meresahkan wilayah Keling.


Sebagai pendekar yang dibesarkan oleh beberapa dedengkot golongan hitam, Mahesa Sura menguasai kemampuan beladiri tinggi. Karena hal itu pula, perangai Mahesa Sura benar-benar buas dan sadis. Ia tak segan-segan menghabisi musuh yang ia anggap membahayakan keselamatan orang banyak.


Berbekal sepucuk nawala dan secarik kain merah bersulam benang emas, Mahesa Sura berpetualang mencari keberadaan orang tuanya ditemani oleh Tunggak yang setia mengikutinya. Berbagai permasalahan menghadang langkah Mahesa Sura, termasuk masalah cinta Rara Larasati putri dari Bhre Lodaya.


Bagaimana kisah Mahesa Sura menemukan keberadaan orang tuanya sekaligus membalas dendamnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perang Lodaya ( bagian 1 )

*****

"Jadi Pendekar Mahesa Sura sudah berhasil membuat kemelut dalam tubuh pasukan pemberontak, Larasati?"

Wajah Bhre Lodaya sumringah mendengar kabar yang diberikan oleh putrinya ini. Hal sebesar ini jelas merupakan angin segar bagi perjuangannya melawan para pemberontak yang mengepung Kotaraja Lodaya dari arah barat.

"Benar sekali, Kanjeng Romo. Dia sudah membunuh para perwira tinggi Singhakerta dan mengacak-acak keharmonisan hubungan antara kelompok-kelompok dalam pasukan itu. Jika kita menyerang saat ini, besar kemungkinan mereka tidak akan bisa bertahan lagi", balas Rara Larasati dengan senyuman lebar.

"Bagus bagus sekali hahahaha...

Dengan begini, Singhakerta dan pasukan nya akan berhasil kita kalahkan. Lantas apa kita bisa menyerang sekarang ini, putri ku? ", tanya Bhre Lodaya Singhawardhana segera.

" Kakang Mahesa Sura meminta kita untuk bersiap-siap untuk menyerang tetapi menunggu tanda-tanda yang akan ia berikan", jawab Rara Larasati yang membuat semua hadirin yang menghadiri pertemuan sore hari itu.

"Tanda? Tanda apa yang akan diberikan oleh Pendekar Mahesa Sura, Gusti Putri? ", tanya Senopati Banyak Kulawu, pimpinan tertinggi dari semua pasukan Lodaya.

" Kakang Mahesa Sura tidak mengatakan nya dengan jelas, Paman Senopati. Hanya mengatakan bahwa tanda itu akan bisa kita lihat dari kejauhan "

Semua orang terdiam sejenak mendengar jawaban Putri Rara Larasati. Mereka sibuk menerka-nerka apa sebenarnya tanda tanda yang akan menjadi pemicu serangan mereka ke pertahanan pasukan pemberontak Singhakerta.

"Kita tidak perlu memusingkan apa yang akan menjadi tanda serangan kita. Lebih baik, siapkan pasukan kita untuk menyerang pasukan musuh kapanpun itu dilakukan.

Senopati Banyak Kulawu, Tumenggung Dandang Pengaron!.. "

Kedua orang perwira tinggi prajurit Lodaya yang disebut segera menghormat pada sang penguasa Kerajaan Lodaya yang memanggil nama mereka sembari berkata, "Hamba Gusti Bhre.. "

"Persiapkan pasukan kalian sebaik mungkin. Atur mereka agar dapat bergerak cepat begitu tanda yang diberikan oleh Pendekar Mahesa Sura muncul. Ini mungkin adalah kesempatan kita satu-satunya untuk mengalahkan pasukan pemberontak itu! ", titah Bhre Lodaya Singhawardhana.

" Sendiko dawuh Gusti Bhre.. ", ucap Senopati Banyak Kulawu dan Tumenggung Dandang Pengaron bersama-sama.

Usai pertemuan itu di gelar, keduanya lekas bergerak ke arah pertahanan pasukan Lodaya di barat Alas Gunung Betet. Dengan cepat, keduanya mengatur pasukan di sepanjang garis pertahanan yang sudah di tata sebelumnya. Malam itu menjadi malam panjang bagi para prajurit Lodaya yang bersiaga penuh untuk berperang.

Menjelang pagi tiba, saat matahari mulai menampakkan diri di ufuk timur, tiba-tiba seorang lelaki berpakaian seperti rakyat jelata tergesa-gesa untuk memasuki tempat tinggal Senopati Banyak Kulawu. Semua orang tahu bahwa ia adalah telik sandi yang ditugaskan untuk memata-matai kegiatan pasukan pemberontak Singhakerta. Kebetulan saja, Senopati Banyak Kulawu juga baru saja bangun tidur meskipun semalam suntuk ia mengatur strategi untuk mengalahkan pasukan pemberontak Singhakerta bersama dengan Tumenggung Dandang Pengaron.

"Hayam Angin, kenapa kau seperti dikejar setan begitu? Ada berita penting apa?! ", tanya Senopati Banyak Kulawu begitu melihat orang itu masuk ke tenda nya.

" Hooosshhh hooosshhh, mohon ampun Gusti Senopati..

Hamba melihat asap hitam tebal membumbung tinggi dari arah belakang garis pertahanan pasukan pemberontak. Jika tidak keliru, itu adalah tempat penyimpanan bahan pangan mereka ", jawab Hayam Angin sang telik sandi dengan nafas tersengal-sengal. Maklum saja, ia setengah mati berusaha untuk sampai di tempat ini secepat mungkin.

Heemmmmmmmmm...

" Sepertinya ini adalah tanda-tanda yang dimaksud oleh Gusti Putri Rara Larasati. Prajurit! Persiapkan diri kalian! Kita menyerang pasukan pemberontak Singhakerta saat ini juga!! ", perintah Senopati Banyak Kulawu lantang.

Mendengar perintah itu, prajurit jaga langsung memukul bende dengan cepat. Ini adalah tanda situasi mendesak bagi mereka.

Dalam waktu singkat, seluruh prajurit Lodaya yang berjumlah sekitar 10 ribu orang prajurit sudah berkumpul di depan garis pertahanan pasukan Lodaya. Lalu dengan diawali oleh tiupan terompet tanduk kerbau yang melengking tinggi, pasukan Lodaya di bawah perintah dari Senopati Banyak Kulawu dan Tumenggung Dandang Pengaron dengan semangat berapi-api menyerbu ke arah garis pertahanan pasukan pemberontak pimpinan Singhakerta.

Tak butuh waktu lama, perang pun pecah di timur wilayah Simping.

Mendapatkan serangan cepat ini, pasukan pemberontak Singhakerta yang sedang terpecah belah karena pertikaian antara kelompok bekas anak buah Demung Macan Wilis dan Demung Walang Kadung juga karena kebakaran yang menghancurkan sebagian besar perbekalan pangan mereka, seketika kacau balau seperti anak ayam kehilangan induk. Dengan cepat mereka terdesak oleh pasukan Lodaya yang siap dalam segala hal.

Denting suara senjata tajam beradu sesekali disertai dengan suara ledakan meriam cetbang menggelegar terdengar di tempat pertahanan pasukan pemberontak. Jerit jerit kesakitan disertai dengan muncrat nya darah prajurit yang gugur, mewarnai setiap sudut tempat itu.

Meskipun Singhakerta dan Dipati Kalang berusaha sekuat tenaga untuk bertahan menghadapi gempuran pasukan Lodaya dibawah pimpinan Senopati Banyak Kulawu dan Tumenggung Dandang Pengaron, pasukan nya tetap terdesak sangat hebat.

Chhrraaaaassshhhh!!!

Darah segar muncrat di muka Dipati Kalang setelah leher prajurit Lodaya berhasil ia tebas dengan pedang nya. Musuhnya langsung terkapar bersimbah darah. Lelaki tua bertubuh gempal penguasa daerah Kalang ini memang ahli dalam bertarung jarak pendek. Dipati Kalang terus mengamuk, membantai setiap prajurit Lodaya yang berusaha untuk mendekati nya.

Tumenggung Dandang Pengaron yang melihat sepak terjang Dipati Kalang menggeram murka. Dia segera memacu kuda tunggangan nya ke arah Dipati Kalang. Begitu mendekat, dengan menggunakan pelana kuda sebagai tumpuan, perwira Lodaya ini langsung melompat ke arah orang tua itu sambil mengayunkan pedangnya.

Shhrrreeeeeeeeettttttt!!!

Melihat serangan datang dari arah samping kiri, Dipati Kalang dengan cepat menjatuhkan tubuhnya untuk menyelamatkan diri. Begitu lolos dari maut, dia memutar tubuhnya dan menghadapi Tumenggung Dandang Pengaron.

Pertarungan sengit pun tak terelakkan lagi. Keduanya sama-sama memiliki kemampuan bertarung yang handal dengan jurus jurus mematikan. Bahkan tingkat tenaga dalam mereka pun bisa dikatakan berimbang hingga membuat pertarungan antara kedua belah pihak berlangsung seru dan menegangkan.

Dhhaaaaaassshh dhhaaaaaassshh..

Uuuugghhhh..!!!!!

Tubuh Dipati Kalang jatuh terjengkang setelah dua tendangan beruntun Tumenggung Dandang Pengaron menghajar dada dan perut nya. Bahkan pedangnya pun lepas dari genggaman tangan.

Darah segar meleleh keluar dari mulut Dipati Kalang. Melihat itu, mata penguasa daerah Kalang ini mendelik kereng.

Dengan cepat ia merentangkan kedua tangannya ke samping tubuhnya. Lalu dengan cepat, ia menangkupkan kedua telapak tangan nya ke depan dada. Sedangkan mulut lelaki tua itu komat-kamit membaca mantra.

Cahaya kuning berhawa panas menyengat bergulung-gulung di kedua lengan lelaki tua ini. Yang dengan cepat berkumpul di telapak tangannya yang sedang tertangkup di depan dada.

Melihat itu, Tumenggung Dandang Pengaron mendengus keras sembari berkata,

"Ajian Gagar Mayang!

Kau ingin mengalahkan ku dengan ilmu itu, Dipati Kalang?!! "

1
Idrus Salam
Masih menunggu kelanjutan ceritanya

Bukan lagi menunggu waktu berbuka 🤭
Kurniawan Sudrajat
mantap kang ebez
Windy Veriyanti
keberhasilan menumpas pemberontak 👊👊👊
Tarun Tarun
up
pendekar angin barat
selamat hari raya idul Fitri...maaf lahir dan batin
Batsa Pamungkas Surya
menang menang menaaaa@ng
saniscara patriawuha.
gasssssd polllllll maningggg manggg eebbEEzzzzzz....
🗣🇮🇩Joe Handoyo🦅
Nah gitu baru pejantan namanya Singhakerta klo berani duel satu lawan satu 👍
𝒯ℳ: kalo sultan pejantann apa nih
total 1 replies
Ali Khadafy
penasaran ama tawaran Larasati
Ali Khadafy
sekali-kai bikin cerita yg MC nya kocak to kang ebez biar ga tegang trs
🦋⃟ℛ⭐Wangky Tirtakusumah⭐🦋ᴬ∙ᴴ
Kapayunan ka Kang Ebez sareng para wargi sobat penggemar karya-karya Kang Ebez, abdi ngahaturan wilujeung boboran Iedul Fitri 1446H.
Mugi urang sadaya dipaparin kasalametan dunya sareng akherat, kabarokahan rizki sareng yuswana.
Aamiin. Yaa Robbal Aalamiin.. 🤲🏽🙏🌹💐
🦋⃟ℛ⭐Wangky Tirtakusumah⭐🦋ᴬ∙ᴴ: Sami-sami Kang Ebez. 🙏
Ebez: aamiin ya rabbal alamin Kang Wangky 🙏🙏
Nuhun nya 😁😁
total 2 replies
Windy Veriyanti
tinggal dua racun lagi yang ditumpas...
Ebez: hehehe assiiiaaaappp kak Windy 🙏🙏😁😁
total 1 replies
pendekar angin barat
selamat hari raya idul Fitri Thor dan semua pembaca
Ebez: hehehe terimakasih bang Pendekar 😁😁🙏🙏
total 1 replies
🗣🇮🇩Joe Handoyo🦅
Yang jelas bukan Dewi Sambi yang ngajarin Ajian Tapak Wisa 😁
Ebez: hehehe itu jelas bang Joe 🙏🙏😁😁
total 1 replies
saniscara patriawuha.
dengannnn tulisan yangg samaaa manggg eeBbezzzzz,,,
Ebez: apa itu kang Saniscara? 🙏🙏😁😁
total 1 replies
Tarun Tarun
slmt idul Fitri jg kg ebez minal aidin wal fa idzin jg.
SMG upnya jgn di tunda trs
Ebez: hehehe iya bang Tarun 🙏🙏😁😁
total 1 replies
Batsa Pamungkas Surya
rasakan pendeitaamu sisa murid dewi upas
Ebez: hehehe assiiiaaaappp bang Batsa 😁😁🙏🙏
total 1 replies
Windy Veriyanti
Dipati Kalang...kabut...musnah dari peredaran
Ebez: hehehe iya tuh kak Windy 🙏🙏😁😁
total 1 replies
pendekar angin barat
makasi kang
Ebez: sama-sama kang Pendekar 🙏🙏😁😁
total 1 replies
Ali Khadafy
penasaran ama gunung pegat,,,apa bener gunung pegat tu nama aslinya sejak dulu..ato nama baru karena di belah di jadikan jalan.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!