Sean, seorang Casanova yang mencintai kebebasan. Sean memiliki standar tinggi untuk setiap wanita yang ditidurinya. Namun, ia harus terikat pernikahan untuk sebuah warisan dari orang tuanya. Nanda Ayunda seorang gadis yatim piatu, berkulit hitam manis, dan menutup tubuhnya dengan jilbab, terpaksa menyanggupi tuntutan Sean karena ulah licik dari sang Casanova.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21
"Nanda!"
"Mas Irham," ucap Nanda tertegun melihat Irham masih berada area perusahaan meski jam kerjanya sudah habis beberapa waktu yang lalu.
Irham berlari kecil mendekat, dari motornya yang terparkir di samping pos satpam.
"Pulang bareng yuk," ajak lelaki berambut cepak itu.
"Maaf, Mas. Aku udah pesan ojek online."
"Nggak papa, biar aja nanti bang ojolnya muter sesuai rute. Kamu Mas antar ya?"
Sejenak Nanda menatap wajah pria dihadapan, terdiam berpikir. Baru saja ia mengalami hal karena kesalahanpahaman wanita lain. Ia tak ingin mengalami hal yang sama lagi. Bohong jika Nanda tidak menyimpan secuil perasaan pada lelaki ini. Setelah sempat beberapa waktu menghabiskan waktu bersama, ditambah semua kebaikan yang dia punya. Tetapi, Nanda sadar diri, selalu memandang dirinya tak pantas bersanding. Benar apa yang dua wanita itu lontarkan padanya. Dia tak sebanding.
"Maaf, Mas," tolak Nanda.
"Ada yang ingin aku bicarakan padamu, Nda."
"Kita lagi bicara sekarang mas," tukas Nanda menjaga jarak."Bicara di sini saja."
Irham menatap lekat gadis manis berkulit gelap itu. Menggeleng pelan dan tanpa aba-aba menarik tangan Nanda. Membuat gadis berjilbab biru itu kaget.
"Mas! Mas Irham."
Irham tak mengindahkan panggilan Nanda, terus membawanya hingga ke tempat motornya terparkir. Mengambil helm dan memasangkan ke kepala Nanda.
"Ayo, naik," perintah Irham dengan nada paksaan.
Dari luar gerbang perusahaan, seorang ojek online berjaket hijau berhenti.
"Ojekku udah datang Mas," ucap Nanda melepas helmnya.
Irham menatap kecewa pada Nanda. Dengan wajah setengah marah, lelaki itu menarik tuas gas motornya sampai ke dekat tukang ojek.
"Mau apa Mas Irham?" Nanda bertanya dalam hati. Berjalan menghampiri.
"Muter sesuai rute aja ya, Mas. Itu yang pesen mau pulang bareng saya. Ini ada tips."
Terdengar suara Irham berbicara pada tukang ojek sembari tangannya menyerahkan uang berwarna biru. Nanda mempercepat langkahnya karena merasa keberatan.
"Mas! Apa-apaan sih?" protesnya. Sang ojol beralih pandang padanya.
"Maaf ya, Mas. Dia lagi ngambek sama saya. Jadi, pesan ojol tadi." Lagi, Irham membuat alasan sembari tangannya menangkup di dada, membuat Mas ojol beralih pandang lagi pada Irham.
"Enggak kok, Mas."
Mas ojol terlihat bingung dan ragu,"Jadi gimana ini Mas, Mbak? Yang bener yang mana? Saya harus gimana?"
"Lanjut muterin angin aja, Mas!" Seru Irham mengusir, Nanda melayangkan tatapan protes padanya.
"Ya udah, jangan nanti kasih rating buruk ya. Saya jalan nih."
"Mas, tunggu!" Nanda menahan, tetapi sang ojol yang sepertinya kesal itu sudah berlalu. Hingga Nanda hanya bisa menghela nafasnya.
"Mau Mas apa, sih?"
"Ayo kita bicara, tapi nggak di sini," ucap Irham bernada perintah tak ingin dibantah."Pake helm nya, dan naik."
Mau tak mau, Nanda ikuti, walau tak lantas menurut. Ia hanya ingin urusan ini selesai, ia tau Irham tak akan berhenti sebelum apa yang dia mau didapat. Lelaki itu hanya ingin bicara, dan ia hanya perlu mendengar.
Di sebuah warung pecel lele di pinggir jalan dengan tema lesehan. Nanda dan Irham duduk bersila, dua porsi pecel lele lengkap dengan lalapan dan es teh.
"Mas Irham mau bicara apa?"
"Makan dulu, Nda," ucap Irham lembut mencubit nasi dan lele lalu mencocol pada sambal bawang yang gurih dan pedas.
Di suruh makan, Nanda pun ikut menyantap pecel lelenya. Lagi pula, perutnya juga sudah melilit karena ia tak sempat makan siang tadi.
"Aku sudah dengar semuanya. Maaf, Nda. Semua karena Mas," ucap Irham tiba-tiba setelah nasinya tandas.
"Aku nggak papa, Mas. Lagian, semua udah selesai. Kami berakhir damai."
"Mas merasa sangat bersalah padamu," ucap Irham dengan raut bersalah. "Maaf."
"Nggak usah di bahas lagi, Mas."
"Aku janji, ini nggak akan terjadi lagi. Aku sudah menegur mereka, aku juga sudah memutuskan untuk tak berteman lagi dengan mereka."
Nanda tersentak mengangkat kepala,"kenapa sampai begitu?"
"Mereka sudah sangat keterlaluan, Nda."
"Tapi, tidak harus memutus pertemanan kan?"
"Mereka sudah menyiram orang yang aku cintai dengan air kotor." Irham tak main-main, memang terpancar kemarahan di wajahnya. Tangan lelaki itu bahkan terkepal kuat diatas pahanya.
Mendengar pengakuan Irham sendiri Nanda membeku. Lelaki itu bahkan terang-terangan mengatakan cinta. Ada hati yang membunga, meski tak merekah sempurna.
Irham menatapnya dalam, meraih tangan Nanda dalam genggaman.
"Aku akan menjagamu, Nda."
Menatap lekat gadis berkulit gelap dihadapannya.
"Mereka tidak berprasangka. Aku memang terpikat padamu, tanpa kamu perlu menggoda. Aku sudah jatuh," sambung Irham semakin menunjukkan keseriusannya."Ayo kita wujudkan perasaan dan hubungan ini, Nda."
Genggaman tangan Irham semakin erat,"Aku tidak mengajakmu menikah cepat, kita bisa berpacaran lebih dulu. Saling mengenal lebih jauh satu sama lain. Jika kamu siap nanti, kita bisa membicarakan pernikahan. Bagaimana?"
Tatapan penuh harap dan serius terpancar diwajah Irham. Walau Nanda ada secuil rasa yang ia simpan untuk lelaki dihadapan ini. Ia cukup sadar, kejadian serupa mungkin masih akan ia alami.
Meski secuil rasa itu bersambut, ia tetap ragu. Lidahnya mendadak kelu hanya untuk mengeluarkan sepatah jawaban.
"Apa yang membuatmu ragu," tanya Irham yang menangkap keraguan di wajah Nanda.
"Apa kamu takut akan ada yang mengganggumu lagi nantinya?" Sambung Irham lagi terus mengunci pandangan mata Nanda.
"Atau kamu masih memiliki ketakutan lain?"
Irham terus mengunci pandangan mata Nanda. Mencari-cari di iris mata coklat milik gadis yang masih bungkam itu.
"Atau...
Irham tercekat, matanya beralih, dengan sendu berucap sesuatu yang sangat ingin ia sangkal.
"Kamu tidak memiliki rasa apapun padaku?"
Kini ia mengunci lagi tatapan Nanda, menggenggam lebih erat jemari wanita itu.
"Apa kita tidak memiliki rasa yang sama? Apa hanya aku saja yang mencinta? Katakan Nda," lanjut Irham lirih.
"Mas, aku..." Nanda tercekat, dalam situasinya sekarang bagaimana ia bisa menjalin hubungan baru, saat ia masih dalam hubungan kontrak dengan Sean.
Irham masih sangat sabar menanti jawaban dari gadis yang mulai membuka suara itu. Nanda yang bimbang, kala hati membunga secuil cintanya bersambut, dan perjanjiannya dengan Sean.
Perlahan genggaman tangan Irham melonggar. "Apa kamu butuh waktu berpikir?"
Mata beradu dan saling mengunci cukup lama.
"Tidak apa jika kamu butuh waktu, aku tidak kan memaksa. Jika kamu sudah yakin, katakan padaku. Huumm?"
Irham tersenyum melihat raut lega di wajah Nanda. Melepaskan genggaman tangan gadis berkulit hitam itu. Ia tak ingin karena terlalu berharap dan memaksa, malah membuat Nanda menjauh.
"Tapi apapun jawaban mu nanti, tolong jangan berubah," sambungnya tanpa bisa menyembunyikan wajah sendu. Memikirkan kemungkinan Nanda menolaknya. Lalu memaksakan senyuman.
Tanpa mendapatkan jawaban pasti dari Nanda, mereka pulang karena hari semakin merangkak malam. Irham memaksa Nanda untuk mengantar pulang, dan lagi-lagi gadis itu terpaksa membawa Irham ke panti.
"Panti lagi? Kamu tinggal di sini?"
"Malam ini ada acara di panti, Bu Zara memintaku datang," ucap Nanda beralasan seraya melepas helmnya.
Setitik kecewa menyelinap di dada pria berkulit sawo matang itu, meski begitu ia tetap terlihat lebih putih dibanding Nanda. Selama beberapa bulan mengenal gadis itu, ia tak pernah tau dimana Nanda tinggal.
Alih-alih menunjukan rasa kecewanya, Irham justru tersenyum. Mengusap kepala Nanda dan menyimpan helm dari gadis itu.
"Kalau gitu mas pulang dulu, ya?"
Nanda membalas senyuman, mengangguk.
"Hati-hati di jalan, jika sudah sampai, kabarin," ucap gadis itu seraya melambaikan tangan.
Motor Irham menjauh dan tak terlihat lagi, gegas Nanda menghubungi ojek online untuk pulang ke rumah Sean.
.
.
"Jam sepuluh, harusnya dia sudah pulang dua jam yang lalu," gumam lelaki berkaus hitam yang sedari tadi hanya mondar-mandir tak jelas dari dapur ke ruang tamu. "Kemana dia?"
Sean melihat sekali lagi arlojinya, memastikan benda itu tidak rusak.
"Apa jangan-jangan, ada yang mengurungnya di kamar mandi?"
Tiba-tiba itu terlintas begitu saja dibenak Sean, membuat pria itu cemas saja.
"Astaga, bagaimana jika benar dan sekarang ia sedang ketakutan menungguku menyelamatkannya?"
"Tunggu! Kenapa menungguku?"
Sean terkekeh kecil sambil menggeleng, "tentu saja, lihat siapa yang sudah menghukum wanita-wanita sialan itu jika bukan aku?"
Sean mengambil jaket sport, menyaut kunci mobil dari kamarnya. Melangkah lebar, namun terhenti di ruang tengah. Suara pintu depan dibuka menyapa pendengarannya.
Gadis manis yang baru saja melangkah masuk itu terlonjak.
"Astaghfirullah!" Memegangi dada.
"Kau membuatku kaget saja!" ucapnya setelah sempat mengatur detak jantung yang tak beraturan."Kak Sean mau pergi?" tanya gadis itu mencoba beralih topik.
"Kenapa baru pulang? Ini sudah jam sepuluh lebih?" Bukannya menjawab, Sean justru balik bertanya.
Nanda menggaruk lehernya yang tertutup jilbab, bingung mau menjawab apa, haruskah jujur?
"Uummm.. tadi..."
kok bisa ada dtempat yg sma yaaa??
apa yg akan terjadi??
lanjut thor 🙏🌹❤👍🤔🤭
sampai bikin malika kaget
🤔👍❤🌹🙏
hayooh nti terlambat loh keburu diambil irham
🤣🤣🙏🌹❤👍
mending kamu terus aja hubungan sama Irham 👍👍👍😁
🤣🙏🌹❤👍
heheee... pasti kaget lou tau 🤭🙏🌹❤👍
dah tau sean udah muak sama kamu udah dblokir pula ehhh PD bgt sok nlpon2
🤭👍🌹❤🙏