NovelToon NovelToon
CINTA NARA

CINTA NARA

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Patahhati / Sudah Terbit / Tamat
Popularitas:3.8M
Nilai: 4.8
Nama Author: Aisha Bella

Musim 1 (1-103) Musim 2 (104-226) Musim 3 (227-310)

Kisah cinta yang telah terjalin sekian lama, tiba-tiba harus kandas di tengah jalan, setelah seorang lelaki lain merenggut kehormatan sang kekasih dan membuatnya mengandung benih dari lelaki tersebut.

Rencana pernikahan mereka terpaksa pupus begitu saja karena sang kekasih mau tidak mau harus dinikahi dan menjadi istri dari lelaki yang telah menodainya, demi masa depan anak dalam kandungannya.

Bagaimanakah akhir kisah mereka? Akankah takdir berpihak pada cinta keduanya ataukah sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisha Bella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18 MENJAUH DAN MENEPI

"Ra ...."

Terdengar suara Yoga yang cukup tenang. Tidak keras dan lantang seperti sebelumnya dulu.

"Ya?"

Nara menjawab lirih dengan sikap setenang mungkin. Ekor matanya bisa menangkap gerakan wajah Alan yang menoleh ke arahnya.

Alan memasang telinganya, berusaha ikut mendengarkan pembicaraan Nara dan Yoga dengan pengeras suara yang telanjur menyala tanpa sengaja.

"Kata Beno, kamu ingin menginap di villa air terjun?"

"Iya," jawab Nara singkat.

"Jangan lupa makan, obat dan vitaminmu, Ra. Di sana juga sangat dingin dan sering berkabut, kamu harus memakai baju hangatmu."

Yoga mengingatkan dengan penuh perhatian, membuat Alan yang mendengarnya merasakan sesuatu yang perih di hatinya.

"Ya. Aku sudah memakainya."

Karena Nara terus menjawab pertanyaannya, maka Yoga pun masih ingin terus berbicara dengan istrinya. Dia merasa senang karena Nara memberikan respon yang baik terhadapnya.

"Bagaimana kandunganmu? Apa kamu merasakan atau menginginkan sesuatu? Jika ada apa-apa katakan saja pada Beno atau Ardi."

"Kami baik-baik saja."

Alan memperhatikan Nara, saat wanita itu menjawab pertanyaan Yoga sembari menunduk dan tersenyum menatap perut yang terus diusapinya.

"Sepertinya kamu mulai merasa nyaman dengannya, Ra."

Terdengar lagi suara Yoga di seberang, memberikan pesan sederhana namun mengena di hati Nara.

"Jangan terlalu lama berada di luar agar kamu tidak kedinginan, Ra."

Nara mengangguk meskipun Yoga tidak akan melihatnya.

"Setelah ini aku akan masuk."

"Baiklah, aku tutup dulu teleponnya. Jaga dirimu dan calon anak kita. Aku mencintai kalian berdua."

Dada Alan terasa sesak dan bergemuruh hebat mendengar ucapan Yoga yang penuh perhatian pada Nara dan kehamilannya. Dan yang lebih menyakitkan lagi adalah jawaban yang diucapkan Nara pada Yoga.

"Jaga dirimu di sana, Ga."

Nara sendiri pun sebenarnya terkejut dengan ucapannya, tapi dia menjaga sikapnya tetap tenang agar Alan tidak mengetahuinya.

"Akan selalu aku ingat, Ra. I love you ...!"

Deggg ...!!! Getaran itu terasa lagi di hati Nara. Dia mulai salah tingkah karena Alan juga masih terus memperhatikan dirinya.

Yoga sudah menutup panggilan. Nara ingin segera masuk tetapi dia melihat secangkir teh yang belum diminumnya. Dia urung berdiri dan menikmati teh buatan Bibi Asih.

"Sepertinya kamu mulai menyimpan perasaan padanya, Ra." Alan berucap dengan hati-hati.

"Mungkin memang benar dugaanku, kenyamanan yang terus-menerus kamu rasakan, lambat-laun akan menggeser perasaanmu padaku menjadi berpindah kepadanya."

Nara menatap tajam ke arah Alan.

"Jangan lagi berbicara tentang perasaan, tentang hati dan cinta kita. Pastikan saja pada diri kita sendiri bahwa kita berdua akan selalu bahagia, Lan. Aku bahagia, kamu bahagia, meskipun di jalan kita masing-masing. Jalan yang sudah tidak sama lagi arahnya."

Alan menghela nafas panjang dengan dada yang terasa begitu sesak. Perubahan sikap Nara membuat dirinya lemah, tak lagi mempunyai harapan untuk menyatukan kembali cinta mereka.

"Aku tidak akan memaksamu untuk bersikap seperti dulu padaku, Ra. Aku memahami kondisi dan situasi kamu sekarang."

"Tapi yang harus selalu kamu ingat dan selalu aku katakan padamu, aku hanya ingin melihatmu bahagia. Dan jika aku masih bisa memberimu kebahagiaan, maka aku akan melakukannya untukmu, sekalipun itu tidak akan membuatmu kembali kepadaku, Ra."

"Termasuk dengan melepaskan begitu saja pekerjaan yang sudah kamu tekuni dari awal bertahun-tahun yang lalu ...??" tanya Nara.

"Kamu tahu, Ra?" Alan tidak menduga kalau Nara sudah mengetahuinya.

"Aku tahu dan sayangnya apa yang kamu lakukan itu tidak membuatku bahagia. Justru aku merasa semakin bersalah kepadamu," jawab Nara.

"Aku tidak bisa bekerja sama lagi dengan orang yang sudah merampas impianku begitu saja. Impian terbesarku, impian terindahku, impian cintaku bersamamu, Ra."

"Aku tidak akan pernah mengorbankan perasaanku hanya demi karir bagus yang sudah aku peroleh. Aku tidak akan pernah menjual cintaku hanya demi kemapanan yang menjanjikan, di tempat di mana cintaku telah direnggut paksa."

Nara terdiam. Dulu, dia yang menemani Alan dari nol, dari bawah sekali, dari saat mereka sama-sama belum bekerja dan belum memiliki apa-apa. Hingga akhirnya Alan bisa berpindah kerja ke perusahaan milik Yoga, perusahaan yang diminatinya sejak lama dan menjanjikan masa depan yang lebih mapan.

Dan sekarang, dia pula yang telah menyebabkan Alan kehilangan semuanya. Kehilangan karirnya, pekerjaannya dan juga cintanya.

"Maafkan aku untuk semua yang telah terjadi. Karena aku, kamu menjadi seperti ini ...."

Hanya itu yang bisa Nara lakukan. Meminta maaf dan menjauh dari kehidupan lelaki yang dicintainya itu, agar dia tidak lagi membuat kehidupan Alan semakin buruk dan terpuruk.

Alan masih terus memaku pandangannya pada Nara. Wanita itu tidak membalasnya, hanya terus menatap ke arah halaman yang kabutnya mulai menebal.

Melihat sikap Nara yang demikian, Alan semakin sadar bahwa semuanya tidak akan bisa kembali lagi seperti dulu. Perubahan Nara, sangat jelas di matanya.

Dia tidak ingin menyalahkan Nara. Bagaimanapun juga, Nara adalah pihak yang paling besar menanggung akibat dari semua kejadian ini. Kejadian di antara dirinya, Nara dan Yoga.

"Bolehkah aku bertanya satu hal padamu, Ra?"

"Sebelum aku pergi, sebelum aku memenuhi permintaanmu untuk saling menjauh dan menjalani kehidupan kita masing-masing, aku ingin memastikan satu hal lagi darimu."

Nara menjawab tanpa suara, hanya anggukan kepala dan sekilas tatapan mata ke arah Alan, yang membuat hati Alan semakin berat untuk melepaskan perasaannya.

"Aku akan selalu merindukan tatapan matamu itu, Ra. Tatapan mata penuh cinta yang dulu hanya tertuju untukku."

Alan bisa melihat, tatapan mata Nara tak lagi sama seperti dulu. Mungkin masih ada rasa cinta di sana, tetapi sudah tak seindah dulu, tak sehangat dulu, tak sepenuh dulu lagi.

"Ke mana perginya perasaanmu yang dulu, Ra? Benarkah sekarang, hatimu sudah kau buka untuk dirinya? Benarkah kini, bukan aku lagi yang menggetarkan hatimu ...?"

"Jika suatu hari nanti, Allah memberi kita kesempatan untuk bersama lagi, apakah kamu mau menerimaku kembali, Ra? Apakah kamu bersedia berbagi hidup denganku dan menjalani kesempatan itu bersamaku?"

Pertanyaan Alan sangat dalam dan penuh makna. Ada sebuah harapan yang tersirat jelas di dalamnya. Ada asa yang masih dia gantungkan pada cintanya yang tak sedikit pun berubah apa lagi berkurang untuk Nara.

Untuk sesaat Nara terdiam. Kalau saja Alan tahu, cintanya pun masih untuk lelaki itu seutuhnya. Dan perasaannya pada Yoga ... entahlah, dia sendiri belum bisa memahami dan mengartikannya sama sekali.

Semua terjadi dengan cepat, saat getaran di hatinya muncul begitu saja ketika dia berhadapan dengan Yoga kemarin sore. Secangkir kopi, makan malam dan kepergian mendadak lelaki itu, mengawali perubahan di hatinya yang masih terus dirasakannya sampai detik ini.

"Aku hanya akan menjalani apa yang sudah menjadi ketetapan Allah, apa pun itu. Terlepas dari bagaimana perasaanku dan keinginanku, aku akan tetap menerima semua takdir yang telah digariskan untuk hidupku."

Nara tidak menjawab dengan pasti pertanyaan dari Alan, dan itu membuat Alan semakin yakin bahwa wanita itu telah mulai berubah hingga tak lagi bisa menetapkan hatinya kepada satu pilihan.

"Baiklah, Ra. Aku mengerti sekarang. Aku akan mengikuti kemauanmu. Aku akan menjauh dan menepi, agar kamu bisa tenang menjalani kehidupanmu saat ini."

Alan memuaskan diri menatap wajah cantik Nara, yang kini tak lagi menjadi satu-satunya miliknya.

"Aku mencintaimu, Ra. Selalu dan selamanya mencintaimu!"

"Ra ..., dengarkan aku sekali lagi dan ingatlah baik-baik apa yang akan aku katakan ini."

Nara mengalihkan pandangannya ke arah Alan dan untuk sesaat kedua pasang mata mereka beradu dalam diam.

"Jika kamu masih mencintaiku, akuilah itu walau hanya di dalam hatimu. Dan bila kamu telah mulai mencintainya, jangan pula kau ingkari itu dengan ucapanmu. Jujurlah pada dirimu sendiri dan jalani hidupmu dalam ketenangan dan kebahagiaan."

.

.

.

Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami  dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.

Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.

Salam cinta dari kami.

💜Author💜

.

1
Bun cie
cerita yg bagus keren mengahu biru👍😍 ..kisah kasih yg disampaikan dengan indah penuh dengan berbagai rasa.. cinta benci suka duka pengorbanan kesetiaan keikhlasan ... yg membawa pembacanya terhanyut masuk dalam ceritanya menembus relung hati❤ terimaksih kak author u ceritanya🙏💐😍
Citraleka Dhami
Hay kak aku mampir nih
Devi Amelia
kenapa cerita ini sangat menyentuh hatiku ? mengapa ?
Ai Hodijah
sekarang tarik napas dulu huh
nyeseknya gak kuat
Ai Hodijah
betul ra,apapun yang terjadi kita harus bisa melanjutkan hidup dan berbahagia
Ai Hodijah
😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
sampai bab ini aku bacanya nangis terus,cinta segitiga yang menyayat hati
Ai Hodijah
seorang wanita pendiam,lemah lembut kalau harga dirinya terusik pasti marah juga
Ai Hodijah
sebenarnya jodoh itu gak ada yang tau,tapi kalau caranya seperti itu ya salah juga,semoga nantinya mereka ada cinta meskipun di awalnya salah
Ardhiya Adhia
kisahnya merasuk di jiwa ... merasa ikut sakit bacanya ... ad rasa yg gk rela ...yoga smoga gak di bkin meninggal sma kk otornya ...
Iva Mama'e Shakila
tp knp aq lbh sng alan sama nara yaa....soal nya gk sreg aja awal nya yoga sama nara kek gitu ..
Fachry Virendra
karya yg bagus
Nyoman Kusumayani
semangat
Herlina Sukawati
siapa perempuan yg dipukul sm mantan suamix
Herlina Sukawati
ceritakan pada Alan apa sebenarx yg disembunyikan yoga
Mutiara
bagus sekali
Ida Jubaida
😭😭😭
Kasmaran Nasma
sedih banget ceritanya 😭
Novi Handayani
bwt saya saja mas Rendy ,,Saya janda loh
Ida Jubaida
antara nyaman dan cinta..
Lusi Oktaria
gak sanguppp thorr nyesekkk 😭😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!