Cinta pertama seharusnya indah.
Tapi milik Lay Amelty Ranza berubah jadi neraka.
Ahber Mazchar, ketua OSIS paling dingin, bilang dia cinta Lay.
Andkay, si badboy posesif, berteriak "LO HANYA MILIK GUE!"
Eskay, sahabat terbaik Ahber, tiba-tiba mendekati Lay diam-diam.
Tapi di balik senyum mereka... ada darah.
15 tahun lalu, keluarga Ahber membantai satu keluarga di Gudang B-09.
Sekarang balas dendam itu datang. Melalui cincin perak bergambar burung.
Cincin pertama: Milik Burung, si pembunuh.
Cincin kedua: Milik Nayla, adik yang pura-pura mati.
Cincin ketiga: Sekarang ada di tangan Ahber.
Di dalamnya tersimpan 3 Triliun dan rahasia yang bisa menghancurkan 2 keluarga besar.
Keluarga Mahesa dan Keluarga Dirga mengincar mereka.
Dan ada "A"... dalang yang mempermainkan semuanya dari awal.
Lay diculik. Dikhianati. Dipaksa memilih.
Sampai pesan terakhir itu masuk ke HP Ahber:
"Maaf gue salah."
Salah mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 : PERGI?
Suasana rumah masih sunyi ketika Lay mengakhiri panggilan teleponnya. Ia menghela napas panjang sambil menatap layar ponselnya. Teman kuliahnya baru saja menangis karena rumah tangganya sedang berada di ambang perceraian.
"Aku benar-benar bingung... apa aku harus menyerah?" suara temannya masih terngiang di telinganya.
Lay hanya bisa memberi semangat. Ia tahu setiap rumah tangga memiliki ujian yang berbeda.
Tanpa disadarinya, seseorang berdiri di balik dinding ruang tamu.
Arkanza.
Ia hanya sempat mendengar satu kalimat.
"...kalau memang harus berpisah, mungkin itu jalan terbaik."
Kalimat itu membuat dada Arkanza terasa sesak.
Pikirannya langsung dipenuhi berbagai kemungkinan.
Apa Lay sudah menyesal menikah dengannya?
Apa selama ini Lay hanya bertahan karena terpaksa?
Tanpa berpikir panjang, Arkanza melangkah cepat.
"Lay!"
Lay menoleh kaget.
"Ada apa?"
Arkanza berhenti tepat di depannya. Wajah pria itu terlihat pucat, sesuatu yang sangat jarang terjadi.
"Kamu... ingin meninggalkanku?"
Lay mengerutkan kening.
"Hah?"
"Aku dengar pembicaraanmu."
Lay baru menyadari kesalahpahaman itu.
Belum sempat menjelaskan, Arkanza lebih dulu memeluknya erat.
Pelukan itu begitu kuat hingga Lay bisa merasakan tubuh Arkanza sedikit gemetar.
"Aku tidak ingin kehilanganmu," bisik Arkanza pelan.
Lay terdiam.
Selama ini Arkanza selalu terlihat dingin dan sulit ditebak. Baru kali ini ia melihat sisi rapuh pria itu.
Lay mengusap pelan punggungnya.
"Itu bukan tentang kita."
Arkanza perlahan melepaskan pelukan.
"Bukan?"
Lay mengangguk sambil memperlihatkan riwayat panggilan.
"Temanku yang sedang bertengkar dengan suaminya. Aku hanya mendengarkan keluhannya."
Arkanza memandang layar ponsel itu beberapa saat.
Lalu ia menghela napas panjang.
"Jadi... kamu tidak ingin bercerai?"
Lay tersenyum lembut.
"Kita bahkan baru mulai belajar menjadi pasangan. Kenapa aku harus pergi?"
Mendengar jawaban itu, beban di hati Arkanza seolah lenyap.
Ia tersenyum tipis.
"Syukurlah."
Lay tertawa kecil.
"Kamu ternyata bisa panik juga."
"Aku hanya takut."
"Tidak menyangka seorang CEO bisa takut."
"Aku takut kehilangan orang yang mulai memenuhi pikiranku."
Ucapan itu membuat pipi Lay memerah.
Malam itu mereka menghabiskan waktu dengan makan malam sederhana. Tidak banyak percakapan, tetapi suasana terasa jauh lebih hangat dibanding sebelumnya.
Hari-hari berikutnya berlalu dengan damai.
Arkanza tetap sibuk mengurus perusahaan.
Sementara Lay mulai mengurus rumah dan sesekali membaca buku di taman belakang.
Setiap pagi Arkanza selalu memastikan Lay sudah sarapan sebelum berangkat bekerja.
"Jangan lupa makan."
"Iya."
"Kalau ada apa-apa langsung telepon."
Lay mengangguk sambil tersenyum.
Semakin hari perhatian Arkanza semakin terlihat, meski pria itu tidak pandai mengungkapkan perasaannya.
Dua hari kemudian...
Lay sedang berada di dapur.
Ia ingin mengambil segelas air setelah selesai membersihkan meja makan.
Namun baru beberapa langkah berjalan, kepalanya mendadak terasa berat.
"Aneh..."
Pandangannya mulai berkunang-kunang.
Tangannya yang memegang gelas ikut bergetar.
Prang!
Gelas kaca terjatuh dan pecah di lantai.
Lay mencoba berpegangan pada meja, tetapi tubuhnya semakin lemas.
Saat itulah pintu rumah terbuka.
Arkanza baru saja pulang lebih cepat dari biasanya.
Begitu mendengar suara pecahan kaca, ia langsung berlari ke dapur.
"Lay!"
Tubuh Lay hampir ambruk.
Untung Arkanza berhasil menangkapnya tepat waktu.
Wajah Lay terlihat pucat.
"Badanmu panas sekali."
"Aku... pusing..."
Tanpa membuang waktu, Arkanza menggendong Lay menuju mobil.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Arkanza terus menggenggam tangan Lay.
"Jangan tidur."
"Aku cuma lelah..."
"Tetap buka matamu."
Nada suara Arkanza terdengar tenang, tetapi di balik itu ia sedang diliputi kecemasan.
Sesampainya di rumah sakit, Lay langsung dibawa ke ruang pemeriksaan.
Arkanza hanya bisa menunggu di luar.
Jam dinding seolah bergerak sangat lambat.
Setiap detik terasa menyiksa.
Ia terus mondar-mandir sambil mengepalkan tangan.
Untuk pertama kalinya, ia merasa begitu takut kehilangan seseorang.
Beberapa saat kemudian pintu ruang pemeriksaan terbuka.
Seorang dokter keluar sambil tersenyum.
"Tuan Arkanza?"
"Bagaimana keadaan istri saya?"
"Tenang saja. Kondisinya baik."
Arkanza mengembuskan napas lega.
Namun dokter kembali tersenyum.
"Ada kabar baik."
"Kabar baik?"
"Selamat. Istri Anda sedang mengandung."
Arkanza terdiam.
Seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Hamil?"
"Ya. Usia kehamilannya masih sangat muda, jadi beliau hanya perlu lebih banyak istirahat."
Perlahan senyum lebar muncul di wajah Arkanza.
Matanya bahkan mulai berkaca-kaca.
Ia mengucapkan terima kasih kepada dokter sebelum segera masuk ke ruang rawat.
Lay sudah membuka mata.
Melihat Arkanza datang, ia tersenyum pelan.
"Maaf membuatmu khawatir."
Arkanza duduk di samping tempat tidur lalu menggenggam tangan Lay dengan sangat hati-hati.
"Kamu tahu?"
Lay menggeleng.
Arkanza menatapnya penuh haru.
"Kita akan menjadi orang tua."
Mata Lay membulat.
"Apa?"
"Kamu sedang mengandung."
Beberapa detik Lay hanya bisa terdiam.
Lalu tanpa sadar air matanya jatuh.
"Aku... benar-benar hamil?"
Arkanza mengangguk.
"Iya."
Lay menutup mulutnya sambil menangis bahagia.
Arkanza mengusap air mata itu dengan lembut.
"Mulai sekarang, kamu tidak sendirian lagi."
Lay tersenyum di sela tangisnya.
"Kita bertiga."
Arkanza mengangguk pelan.
"Ya... kita bertiga."
Di dalam hati, Arkanza berjanji akan menjaga Lay dan calon buah hati mereka apa pun yang terjadi.
Karena sejak hari itu, keluarga kecil mereka benar-benar telah dimulai.
like + bunga biar semangat deh/Smile/