***
Bagi Raka, Naya adalah candunya ...
Berbeda dengan Naya yang menganggap Raka sebagai masa lalu yang menyakitkan..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apri Ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Naya keluar dari ruang pemeriksaan dengan pikiran yang tak karuan.
Selamat Bu, anda hamil.
Kata kata dokter itu terus berputar dipikiran nya. Bagaimana ini? dia benar benar hamil sekarang? apa dia harus merasa senang disaat hamil dengan pria beristri yang sekarang sedang mengkhawatirkan putrinya atau dia harus merasa sedih disaat pria yang ia cintai menginginkan anak dari rahimnya.
Tes... satu air mata menetes, disaat seperti ini Raka malah tak ada disampingnya menemaninya.
Mana mungkin Raka mementingkan dirinya, tentu Raka lebih mementingkan keluarganya, bodoh sekali. Naya tersenyum miris.
"Selamat Nona." suara Nathan yang ternyata ada dibelakangnya.
Naya hanya memandang Nathan heran, Selamat untuk apa? apa Nathan sudah tau kehamilannya, bagaimana Ia bisa tahu sedangkan Nathan saja tidak ikut masuk kedalam, batin Naya.
"Tuan Raka pasti senang sekali jika mengetahui ini." kata Nathan.
"Jangan memberitahunya." kata Naya membuat Nathan terkejut.
"Tapi Nona.."
"Aku mohon jangan memberitahunya, aku tak ingin menganggu pikiran nya, bukankah Raka disana sedang sedih karena Anaknya tengah sakit? jadi biarkan dia fokus dengan putrinya.'' kata Naya.
"Baiklah Nona." Nathan menjawab dengan lesu.
Naya mengelus perutnya sebentar lalu Ia berjalan memasuki mobil diikuti oleh Nathan.
"Jangan beritahu anak anak panti dan juga Anna tentang kehamilanku." kata Naya lagi setelah Nathan memasuki mobil.
"Baiklah Nona." kata Nathan yang melihat raut kecewa diwajah Naya.
Mobil pun melaju menuju panti.
Sesampainya dipanti semua orang terlihat binggung melihat Naya turun sendiri tanpa Raka.
"Dimana Om Raka? kok Bunda sendirian?" tanya Rio sesaat Naya masuk kerumah.
"Om Raka pulang ke jakarta karena ada kerjaan disana sayang." jelas Naya terpaksa membohongi anak anaknya.
"Yah, padahal adek adek pada mau nunjukin gambar buat Om Raka." kata Rio.
"Ya udah besok aja, kalau Om Raka kesini lagi, sekarang kalian minggir dulu biar Bunda istirahat." kata Anna yang melihat ada yang tak beres dengan raut wajah Naya.
"Oke deh." anak anak pun kembali bermain diluar. Sementara Naya memasuki kamar diikuti oleh Anna.
"Mbak Naya sakit apa?" tanya Anna saat Naya sudah berbaring.
"Cuma masuk angin biasa kok An." kata Naya santai.
"Trus Raka mana?" tanya Anna.
"Dia harus kembali ke jakarta karena ada urusan mendadak." kata Naya.
"Benarkah? mbak Naya nggak bohong kan?" tanya Anna.
"Enggaklah An, ngapain juga mbak harus bohong." kata Naya sedikit gugup.
"ya nggak sih mbak, cuma ngerasa mbak Naya kayak nyembunyiin sesuatu aja." kata Anna.
"Enggak An, ya udah kamu keluar dulu, mbak mau istirahat." kata Naya.
"Iya udah mbak, aku keluar dulu." kata Anna berajak keluar menutup pintunya.
Setelah Anna keluar Naya berbaring, ingin rasanya Naya menangis tapi entah mengapa rasanya tidak sanggup mengeluarkan air matanya, Naya sudah lelah menangis, lelah menangisi hidupnya yang penuh dengan luka.
....
Raka berlari memasuki rumah sakit, setelah 5 jam perjalanan melalui darat dan udara akhirnya Ia sampai dirumah sakit.
Didepan ruangannya terlihat ada Rena, Rita ibunya dan Sarah ibu Clara,
"Ya ampun Raka, mama seneng kamu pulang.'' kata Rita saat melihat Raka datang, Rita tau jika anaknya sedang perjalanan bisnis di jogja.
"Gimana bisa terjadi?" tanya Raka pada Rena, Raka tak mengubris Mamanya. semenjak perjodohan antara Clara dan Raka memang membuat Raka marah pada orang tuanya hingga kini.
"Tadi saya mau ngambil sandal Non Raisa yang jatuh tapi mendadak ada mobil yang melaju didepan dan Non Raisa tertabrak." kata Rena takut.
"Putrimu kritis Nak." kata Rita terlihat menangis.
"Lalu dimana Clara?" tanya Raka emosi tak melihat batang hidung Clara.
"Mama udah telpon dari tadi tapi nomernya nggak aktif." kata Sarah Mamah Clara.
"Arrghh... wanita sialan itu!" kata Raka emosi.
"Apa maksudmu mengatakan itu pada istrimu Raka!" tanya Rita terlihat geram pada Raka.
Raka tidak mengubris, malah mengambil ponselnya dan menelepon seseorang "Seret wanita sialan itu ke alamat yang kuberikan." kata Raka lalu menutup panggilan nya.
Sarah membegap mulutnya tak percaya putri kesayangnya diperlakukan seperti itu pada suaminya begitu juga dengan Rita yang terlihat malu dengan kelakuan putranya yang tak diketahuinya selama ini.
"Maaf keluarga Raisa?" tanya seorang perawat.
"Saya Papahnya, bagaimana kondisi anak saya?" tanya Raka.
" Nona Raisa harus segera mendapatkan transfusi darah karena Ia kehabisan banyak darah pak." kata Perawat itu.
"Apa golongan darahnya?" tanya Raka.
"A pak, jadi siapa yang akan mendonorkan darahnya untuk Nona Raisa?" tanya perawat itu.
"Kamu nggak mau donorin darah kamu buat Raisa?" tanya Rita melihat Raka hanya diam saja.
Raka yang kesal akhirnya membongkar semuanya "Apa Mama nggak denger perawat bilang golongan darah Raisa A sedangkan punya Raka B." kata Raka yang membuat Sarah dan Rita terkejut.
"Apa maksudmu? kenapa golongan darah kalian nggak sama?" tanya Rita meminta penjelasan.
"Karena Raisa bukan putri aku Ma, dia bukan putri kandung aku!" kata Raka terlihat emosi.
"Apa maksud kamu Raka? jadi kamu nuduh Clara selingkuh?" tanya Sarah tak terima.
"Memang itu kenyataan nya, kalau Tante nggak percaya tanya saja sama anak tante sendiri gimana kelakuan dia diluar!" kata Raka yang masih saja menyebut Sarah Tante padahal Sarah adalah ibu mertuanya.
"Raka! jaga sikap kamu! kamu benar benar sudah keterlaluan!" kata Rita marah.
"Kita Tunggu aja Clara dateng dan aku bakal kasih Mama, kelakuan menantu kebanggan Mama itu." kata Raka yang hanya membuat Rita menggelengkan kepala tak percaya.
"Lepasin gue, gila ya kalian nyeret gue kayak gini," teriak Clara yang membuat gaduh seisi rumah sakit.
Saat melihat mama, mama mertuanya dan Raka barulah Clara berhenti berteriak.
"Mama, Raka.." Clara sedikit terkejut melihat semua orang berkumpul dirumah sakit, begitu juga dengan Sarah dan Rita yang terkejut melihat penampilan Clara yang terlampau seksi.
"Habis clubbing huh?" sindir Raka.
"Kamu itu darimana Clara? Mama telpon dari tadi tapi nomer kamu nggak aktif." kata Sarah.
"Ak-aku." Clara tidak bisa menjawab karena Ia sudah tertangkap basah sekarang.
"Kamu bilang sekarang siapa Papahnya Raisa? Raisa kritis, butuh donor darah jadi lebih baik kamu mengaku siapa papah Raisa." kata Raka membuat Clara terkejut.
"Apa maksudmu sayang? tentu kamu papahnya Raisa." kata Clara terlihat takut.
"Golongan darah kami tak sama, apa kamu masih mau membodohiku lagi?"tanya Raka terlihat marah.
"Tidak mungkin, dia itu putrimu, bagaimana bisa kau tidak mengakuinya?" kata Clara terlihat histeris.
"Apakah kita harus tes Dna sekarang agar semuanya jelas?" tanya Raka Yang membungkam mulut Clara sedangkan Rita menatap Clara tak percaya karena selama ini sudah membodohinya dan putranya.