NovelToon NovelToon
Lingsir Wengi

Lingsir Wengi

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Supernatural / Spiritual / Horor / Tamat
Popularitas:3.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Laila Al Hasany

Ana kidung rumeksa ing wengi
Teguh hayu, luputa ing lara
Luputa bilahi kabeh
Jim setan datan purun
Paneluhan tan ana wani
Niwah panggawe ala
Gunaning wong luput
Geni atemahan tirta
Maling adoh tan ana ngarah ing mami
Guna duduk pan sirno ....

Ya, itu!
Lingsir Wengi, Rumeksa ing Wengi. Tembang yang selalu disenandungkan simbah putri setiap menidurkanku. Ketika simbah Putri meninggalkanku di kamar sendirian, lamat-lamat kulihat sesosok wanita ayu yang duduk dan tersenyum. Aroma bunga Mawar, menyeruak memenuhi ruangan kamar tidurku.

Aroma itu akan selalu muncul ketika simbah putri mulai bersenandung. Tapi malam ini, siapa? Siapa yang bersenandung? Aku juga belum sempat bertanya kepada simbah putri, tentang siapa sebenarnya sosok wanita berkebaya dan berkerudung itu ....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila Al Hasany, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Aku masih mengotak ngatik handphone-ku. Banyak panggilan tak terjawab dari ibu. Duh, lupa lagi mau telepon ibu. Aku menepuk jidatku. Begitu banyak pesan masuk di whatsapp-ku, aku tidak memperdulikannya. Paling-paling dari grup grup organisasi dan teman-teman kampus. Aku hanya membalas pesan mas Lingga dan Aripin,

"Sudah gak apa-apa mas, makasih ya. Nanti aku tetap datang kok, gak enak sama Aripin, kalo aku abstain."

Mas Lingga membalas lagi,

" oh, alhamdulillah, nanti aku jemput?"

"gak usah mas, udah janjian sama Aripin."

"ya dek, sampai bertemu nanti malam."

Aku pun membalas pesan Aripin,

"iya pin, tapi aku udah gak apa apa kok, ntar malem nebeng lagi ya, hehehe."

"owalah, gitu to. ya ya mbak, oke, siaaappp".

Aku bangun lagi dari ranjangku untuk menunaikan kewajibanku, dan sekalian mengisi perutku, ah lapar sekali rasanya.

Setelah menyelesaikan segala urusanku, aku meraih handphoneku lagi untuk menelpon ibu. Seperti biasa ibu bertanya macam-macam kepadaku dengan nada khawatir. Tapi aku tidak mau menceritakan kejadian yang menimpaku pagi tadi. Aku tidak mau ibu semakin khawatir. Tapi aku masih penasaran, makhluk apa yang dimaksudkan simbok. Apakah laki-laki yang menyerangku tadi pagi itu bukan manusia juga? Apa tujuannya? kenapa simbok malah menceritakan tentang Nyai Sekar, apakah ada hubungannya?

Aku lupa bahwa aku masih di sambungan telpon dengan ibuku.

"Dyah, Nduk? kenapa diam?"

Perkataan ibu di seberang sana membuyarkanku.

"Eh, oh, gak apa-apa Bu, cuma agak ngantuk." duh, aku malah berbohong.

"Yasudah, ibu tutup teleponnya, kamu baik-baik di situ ya. Jangan terlalu merepotkan mbok Minten. Assalamualaikum"

"Waalaikumsalam."

Aku meletakkan lagi handphoneku di meja.

"kruyuuuukkkkk,,," perutku kali ini sudah meronta-ronta, tanpa pikir panjang lagi, aku menuju ke dapur.

Sesampainya di dapur, simbok kulihat sedang beberes. Simbok ini seperti tidak ada istirahat nya. Simbok melihatku,

"Lapar nduk?"

Aku mengangguk. Dengan sigap simbok mulai menyiapkan makanan.

"Makan di sini aja Mbok." kataku sambil mendarat kan pant*tku, duduk di dipan bambu.

Simbok terhenti, sesaat kemudian mulai menata makanan di sampingku.

Aku mulai mengambil nasi, sayur dan lauk pauknya, dan makan dengan lahap seperti orang yang berhari-hari tidak menyentuh makanan. Simbol menatapku khawatir.

"Gak tau kenapa mbok, laper berat aku," kataku sambil meringis.

"Iya nduk, pelan-pelan saja, nanti keselek lho." kata simbol masih dengan nada khawatir.

Aku mengangguk.

Simbok duduk di kursi kayu, menemaniku makan. Ini kesempatan ku untuk bertanya lagi.

"Mbok, simbok tadi simbok belum bercerita, siapa sebenarnya laki-laki yang menyerangku?"

Simbok agak terkejut mendengar pertanyaanku.

"Pada saatnya, Genduk akan tau." jawab simbok singkat.

"Mbok, aku pengen ngobrol dengan nyai Sekar?bolehkah mbok?"

"Boleh nduk, simbok sudah pernah bilang to gimana caranya."

"Iya mbok,"

*******

Seingatku, simbok bilang, aku harus memfokuskan diri agar bisa bertemu dengan Nyai Sekar.

Aku duduk di ranjangku, memejamkan mata, berharap Nyai Sekar muncul. Aku bahkan mulai meminta dengan berbisik, agar Nyai Sekar datang. Seketika aroma mawar tercium, semakin pekat harumnya. Dan sosok yang kutunggu, akhirnya muncul, duduk di hadapanku. Dengan senyum khasnya.

"Akhirnya, kamu memanggilku, Nduk cah ayu,,," katanya dengan lembut.

Aku tersenyum.

"Iya Nyai, simbok sudah menceritakan semua tentang Nyai kepadaku."

Wanita itu tersenyum lagi.

"Tapi ada yang masih mengganjal di pikiranku, Nyai."

"Tentang apa Nduk?"

"Laki-laki yang menyerangku Nyai, siapa dia?"

Dia tersenyum lagi.

"Aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Apakah kamu bersedia Nduk?"

Aku mengangguk, Nyai Sekar mengulurkan tangannya, menggenggam tanganku.

Secepat kilat. Aku sudah berdiri di depan rumpun mawar di pojok rumah Simbah Putri. Nyai Sekar mengangkat tangannya seperti membuka sesuatu. Dalam sekejap, di balik rumpun mawar itu ada sebuah gerbang seperti nya muncul dari dalam tanah. Aku memandang takjub. Bagaimana bisa di antara sela-sela rumpun mawar sesempit itu muncul gerbang yang besar dan lebar?

Belum hilang rasa takjubku, gerbang itu terbuka. Dan aku tiba-tiba sudah berdiri di depan sebuah bangunan istana yang megah. Beberapa orang kulihat lalu lalang di depanku. Tapi mereka semua berpakaian seperti orang-orang jaman dulu, persis seperti yang kulihat dalam film-film jaman kerajaan. Mereka menundukkan kepala ketika melewati Nyai Sekar dan aku. Nyai Sekar menjentikkan jarinya. Dan cliiiing!!!

Kami sudah sampai di ruangan yang luas, banyak dekorasi dan ornamen khas jawa kuno di sini. Aroma mawar di mana-mana. Aku masih memandang sekeliling dengan takjub. Nyai Sekar tersenyum melihat ekspresi yang tergambar di mukaku.

"Duduk dulu, Nduk ...."

Nyai Sekar menunjukkan sebuah kursi panjang berukir, lengkap dengan bantal-bantal yang menghiasinya. Aku duduk, kursi ini begitu empuk dan nyaman.

Nyai Sekar tersenyum lagi.

"jangan sungkan nduk, anggap seperti rumah sendiri."

"Iya iya Nyai ...."

Nyai Sekar bertepuk tangan dua kali, kemudian ada beberapa orang masuk membawa minuman dan berbagai makanan ringan tradisional. Pakaian mereka pun benar-benar seperti pakaian dayang. Semua makanan dan minuman sudah tertata rapi di meja. Tapi aku masih memandangi nya.

"Itu bisa dimakan manusia kok Nduk," nyai Sekar seperti tahu apa yang ada di dalam pikiranku. Aku tersipu malu,

"Tapi aku baru saja makan tadi Nyai."

"Baik lah ...."

Nyai Sekar berdiri.

"Aku akan menceritakan, siapa sebenarnya laki-laki itu."

Bersambung ....

1
Nur Bahagia
Ripin 🤣
Nur Bahagia
jangan2 Sada jadi jin pendamping nya Garvi 🤩
Nur Bahagia
kubah gaib warna perak🤔
Nur Bahagia
siapa nih? 🤔
Nur Bahagia
kannn bener murni sama Rian.. 🤩
Nur Bahagia
ai mbok ga diajak kah? 🤔🥺
Nur Bahagia
sama Rian aja.. yg ketua karang taruna itu 🤗
Nur Bahagia
bisaa aja thaliaa 🤣
Nur Bahagia
Alhamdulillah pak samijan yg terpilih jadi kades nya 🤩
Nur Bahagia
wahh Pin.. Aripiinn... awakmu di senengi wong kutho ki lhoo.. wehhh bejomu lee 😅
Nur Bahagia
🥰
Nur Bahagia
🤩
Nur Bahagia
😍
Nur Bahagia
Alhamdulillah si mbok baik2 aja.. diantara semua tokoh yg ada di novel ini, cuma si mbok idolaku 🔥🥰
Nur Bahagia
ehhh begini doang
Nur Bahagia
malah ngomongin mau nikah.. iki piyee thoo.. mikir selamat aja duluu.. si mbok gimana ini si mbookkk 😭
Nur Bahagia
heettt malah ngobrol.. buruan tuh tolongin mbok Minten 🤦‍♀️
Nur Bahagia
ini lagi si kenanga.. suruh jagain 24 jam, malah ngendon aja di dalam kotak.. duhh 🤦‍♀️
Nur Bahagia
ya elaaahhh Thor aku kecewaaa.. kenapa harus mbok Minten 😭
Nur Bahagia
yesss akhirnya terbongkar semua kebusukan mu Senen 🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!