Pernikahan adalah sebuah moment paling bahagia dalam setiap pasangan, tetapi berbeda dengan Alena yang menikah karena terpaksa.
Saat bersama keluarga datang kepernikahan Daffin yang adalah mantan kekasihnya. Tiba-tiba, masalah datang karena calon istri Daffin tidak hadir dipernikahannya sendiri. Orangtua Daffin pun langsung menjodohkan Alena agar menikah dengannya. Dengan niat ingin balas dendam, Alena pun terpaksa menikahi Daffin.
Namun, semuanya tidak seperti yang diharapkan. Jangankan untuk balas dendam, Alena malah terjebak dengan semua masalah yang dialami Daffin. Calon istrinya yang dulu ingin ia nikahi datang membawa seorang anak. Banyak masalah yang terjadi hingga tak berujung.
Masalah apa yang sebenarnya terjadi??
Apakah Alena akan membantu menyelesaikan masalah Daffin, atau akan langsung meminta cerai??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lulun Eerlyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS. 18 Salah Paham, Daffin Marah
Sontak Alena dan Faisal pun langsung memisahkan diri mereka sedikit berjauhan. Ketika Alena dan Faisal melihat ke sumber suara langsung terlihat wajah seorang wanita yang penuh amarah dan kecemburuan. Siapa wanita itu??
Alena bertanya-tanya siapa wanita itu? Kenapa dia terlihat sangat marah?
"Ratna?? Kamu ngapain disini??" tanya Faisal sedikit terkejut dengan kehadiran kekasihnya yang tiba-tiba datang.
"Faisal, kamu bilang kamu sibuk kerja, jadi ini yang kamu bilang sibuk. Sibuk berduaan dengan wanita lain dan bahkan kamu izinkan dia buat cium kamu di tempat yang ramai seperti ini??" teriak Ratna sambil menunjuk-nunjuk Alena dengan kasar.
Faisal dengan sigap langsung berdiri diantara Alena dan Ratna. Dia paham betul bahwa sifat Ratna sangat pemarah dan tidak kenal takut untuk membuat masalah.
"Ratna, ini di tempat kerjaku. Jaga sikap kamu! Ini cuman kesalahpahaman tidak seperti yang kamu pikirkan!" tegas Faisal memberi penjelasan.
Alena yang sedikit bingung dan terkejutpun masih berdiri diam seribu bahasa. Dia tidak menyangka akan menjadi orang ketiga di antara teman barunya itu.
"Tidak!! Bukan salah paham jelas-jelas wanita ini tadi mau mencium kamu,"
Ratna langsung mengambil air di atas meja dan menyiramkannya ke wajah Alena. Alena tambah terkejut dengan perlakuan Ratna terhadapnya. Dia benar-benar dibuat emosi olehnya.
"Wanita bodoh beraninya kamu menyiramku,"
Byurrrr..
Alena membalas perlakuan Ratna terhadapnya, dia juga langsung menyiram Ratna dengan air kopi yang belum sempat ia habiskan. Wajah Ratna pun menjadi hitam dan sedikit kepanasan. Semua orang di dalam kantin menyaksikan pertengkaran itu, bahkan di antara mereka ada yang merekam kejadian itu.
"Kalian berdua stop jangan berkelahi lagi," tegas Faisal sambil memisahkan Alena dan Ratna.
"Ratna kamu pergi sekarang juga," sambung Faisal sambil menunjuk kearah pintu keluar.
"Oohh, jadi sekarang kamu ngusir aku dan lebih memilih dia dari pada aku, kalau begitu wanita pelac*r ini harus diberi pelajaran," ucap Ratna langsung mendorong Faisal dan mendekati Alena.
Ratna langsung menjambak rambut Alena begitu pun Alena yang langsung reflek membela diri menjambak rambut lawannya. Semua orang kini merekam kejadian yang menurut mereka sangat seru dan wajib di upload di Sosial Media mereka.
Daffin yang sedang mencari Alena sampai ke kantin pun merasa heran. Saat ini masih jam kerja kenapa kantin bisa seramai itu, pikirnya dalam hati.
Daffin langsung menghampiri keramaian itu. Dia menepuk bahu salah satu karyawan yang juga sedang bergabung didalamnya.
"Sedang apa kalian, ini masih jam kerja!" tegas Daffin membuat beberapa karyawan yang mendengarnya langsung ketakutan.
"Ma-maaf Pak, kami akan kembali bekerja," jawab salah satu karyawan lalu pergi dari kantin.
Daffin masih heran dengan kelakuan para karyawannya yang semakin tidak disiplin itu. Dia juga penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Daffin pun menerobos masuk kedalam kerumunan karena karyawannya tidak juga menyadari kehadirannya. Hingga akhirnya Daffin tidak sengaja melihat kedalam ponsel yang sedang merekam vidio dan didalamnya ternyata ada Alena wanita yang sedang ia cari.
"Astaga, Alena!!" pekik Daffin langsung mendorong semua orang yang menghalanginya.
"Apa yang sedang kalian lakukan??" teriak Daffin sambil memisahkan Alena dan Ratna.
Mereka berdua terlihat sangat mengkhawatirkan dengan pakaian yang menjadi kusut dan rambut yang berantakan. Belum lagi pipi mereka yang menjadi lebam akibat saling cakar dan pukul.
"Alena apa kamu sudah tidak waras??" tanya Daffin sambil memgang kedua pipi Alena.
"Hiks,, Mas Daffin dia yang mulai duluan, masa iya aku dibilang pelac*r," rintih Alena sambil menunjuk Ratna.
Semua orang melihat bahwa Daffin sangat perhatian terhadap Alena dan bahkan mereka mendengar bahwa Alena memanggil direktur mereka dengan panggilan 'Mas'.
"Pak... Pak Daffin??"...
"Al, kamu gak salah manggil dia dengan panggilan 'Mas'??" tanya Faisal bingung dan sangat terkejut.
Daffin benar-benar marah karena melihat Alena sudah seperti gembel. Dia langsung melepaskan jasnya dan memakaikannya ketubuh Alena. Kemudian Daffin langsung menggendong Alena didepan semua orang.
Sebelum pergi, Daffin menatap semua orang dengan tatapan tajam dan mengancam. Dia mengingat satu persatu wajah-wajah orang yang sudah menyakiti Alena dan berencana membuatnya malu.
"Kalian berdua dan semua orang yang merekam kejadian tadi, jika kalian berani beranjak, melangkah dan pergi dari sini maka kalian jangan harap bisa hidup dengan tenang!!" ancam Daffin lalu pergi sambil membawa Alena.
Semua yang mendengar kata-kata Daffin ketakutan bukan main, apa lagi Ratna dan Faisal dan orang-orang yang merekam. Mereka semua akan habis riwayatnya.
"Siapa sebenarnya Alena itu, kenapa pak Daffin sangat marah?" tanya seorang karyawan kepada temannya.
"Mampuslah kita, ini pertama kalinya aku melihat pak Daffin marah, kita semua pasti akan mamp*s." ucap karyawan lainnya yang sama-sama merasa terancam.
Faisal menatap kepergian Daffin dan Alena dengan tatapan sayu. Dia terkejut karena Alena yang dia anggap karyawan baru ternyata malah orang dekatnya Direktur mereka.
"Tuh lihat! Wanita yang kamu belain ternyata sudah menggoda atasan kamu," ketus Ratna.
"Jaga ucapan kamu, memangnya kamu belum mengerti keadaan kita sekarang. Gara-gara kamu aku pasti akan kehilangan pekerjaanku," bentak Faisal sangat geram.
Faisal dan karyawan lainnya hanya dapat menghela napas. Mereka semua tidak ada yang berani pergi dari tempat mereka saat ini. Tinggal menunggu siapa nanti yang akan datang membereskan mereka semua.
Disisi lain, Alena yang masih dalam pelukan Daffin hanya terdiam sambil menundukan wajahnya. Dia tidak menyangka bahwa ditengah kesibukannya, Daffin malah mencarinya hingga kekantin karyawan.
"Kenapa diam?" tanya Daffin sambil membaringkan Alena di sofa ruangannya.
"Memangnya aku harus teriak-teriak?" jawab Alena dengan memasang wajah tidak bersalahnya.
Daffin hanya dapat menggertakan giginya karena merasa geram melihat sikap Alena yang berwajah tanpa dosa itu. Dia langsung mengambil kotak obat lalu melemparkannya ke atas meja.
"Obati sendiri luka di wajahmu!" ucap Daffin cuek.
Alena hanya cemberut melihat sikap Daffin. Dia pikir Daffin akan mengobatinya,tapi ternyata malah sebaliknya.
"Mas, aku mau pulang." rengek Alena sambil mengoleskan salep di pipinya yang lebam.
"Pulang tinggal pulang," jawab Daffin masih cuek.
Alena tidak membalas kata-kata Daffin, melainkan dia langsung menghampiri Daffin dan langsung menengadahkan tangan kanannya didepan Daffin.
"Kenapa??" tanya Daffin heran sambil melihat tangan Alena yang seperti orang meminta.
"Mas, kamu bodoh atau gimana sih, anak kecil umur 2 tahun saja tau kalau ini tandanya minta duit, memangnya kamu mau aku pulang jalan kaki,Mas?" jelas Alena dengan nada yang sangat geram.
Daffin hanya menahan senyumnya, dimatanya saat ini Alena memang seperti anak kecil yang sedang meminta duit untuk jajan.
"Atau... Aku bawa mobil kamu aja ya,Mas?" ucap Alena lagi dengan khas senyumnya.
"Tidak!" jawab Daffin cepat.
Daffin langsung merogoh saku celananya dan mengeluarkan dompet. Dia lalu mengeluarkan kartu ATM dan memberikannya kepada Alena.
"Nih, simpan kartu ini. Ingat jangan boros dan membeli yang tidak penting." jelas Daffin sambil menahan kartu ATM ditangannya.
"Siap," balas Alena dengan cepat langsung menyambar kartu ATM dari tangan Daffin.
"Yes aku bebas," pikir Alena sangat girang.
Alena dengan penuh semangat langsung keluar dari ruangan Daffin. Sedangkan Daffin terlihat langsung menelepon seseorang melalu telepon kantor.
"Mey, atur seseorang untuk mengantar Alena pulang, dan satu lagi urus orang-orang yang berada di kantin karyawan." pinta Daffin kepada sekretarisnya.
"Baik, Pak." balas Mey dari dalam telepon.
BERSAMBUNG
Jangan lupa Like,Comment,dan Rate ya.!!!😊😊
kamu tuh oon nya Alena
sekolah di luar negeri juga lho 🤣🤣🤣
alena Alena
kamu yg bloonya .... 😡😠🙁☹️