Mantan Tapi Menikah? begitulah yang dirasakan oleh Aditya dan Syahira. Mantan terindah semasa SMA dulu bertemu kembali dalam sebuah perjodohan yang diatur oleh kedua orang tua mereka.
Namun, sialnya Aditya yang menyandang status pria playboy memiliki seorang kekasih saat sebelum dia menerima perjodohan dari orang tuanya. Kekasih yang Aditya pacari baru sebulan itu tak ingin melepaskan Aditya begitu saja.
Bagaimana Aditya menghadapi mantannya itu yang selalu mencoba merusak dan menganggu hubungannya dengan Syahira, setelah keduanya menikah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MTM 18
Tiba di dalam rumah. Bi Minah juga mengantar minuman untuk Syahira. Tetapi, wanita ini terlihat tak enak badan hingga meminta izin kepada Tuan Bastian untuk istirahat di kamar sebelum dia kembali ke rumah orang tuanya.
"Baiklah, Sayang. Kamu boleh istirahat di kamar kamu!"
"Iya, Pa."
Syahira berlalu ke kamar untuk istirahat. Tuan Bastian senang melihat keadaan Syahira yang baik-baik saja. Tetapi, melihat kondisi Syahira yang lain Tuan Bastian langsung mengajukan pertanyaan kepada Bi Minah.
"Apa Syahira mengandung, Bi?"
Bi Minah terkejut. Tuan Bastian terlalu peka sama kondisi anaknya.
"Mungkin, Tuan. Apa perlu kita tanyakan sama Nona Syahira Tuan?"
"Tidak perlu. Nanti kalau sudah pas waktunya Syahira akan memberitahu kita,"
Bi Minah hanya mengangguk saja dan melenggang pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
Malam ini tiba....
Syahira belum kembali ke rumah orang tuanya sehingga membuat Aditya cemas. Handphone Syahira mati dan Aditya tak bisa menghubungi istrinya.
Aditya berulang kali menatap jam yang ada di dinding kamar. Hingga kini sudah jam 21.25, malam. Syahira belum juga kembali ke rumah.
Pintu kamar terbuka, Aditya menoleh dan melihat Syahira telah pulang. Bukan menanyakan kabar dan kondisi Syahira justru Aditya memarahi wanita itu.
"Dari mana saja kamu?!"Aditya menarik lengan Syahira dengan kasar yang membuat Syahira mengerutkan keningnya.
"Aku dari rumah papa,"jawab Syahira pelan. Terlihat bintik-bintik merah yang masih belum hilang sepenuh nya dari raut wajah Syahira. Aditya tahu itu efek alergi yang Syahira alami tadi siang.
"Bukannya kamu pergi dengan Dokter Bara?"
"Heh?! Apa hubungannya dengan Dokter Bara. Sudahlah aku mau mandi dulu,"Syahira berlalu ke kamar mandi dan mengabaikan Aditya yang membuat pria itu semakin geram melihat Syahira yang mengabaikan dirinya.
"Kenapa kau menelpon?!"Aditya bertanya dengan nada kesal ketika mengetahui Sinta yang menelponnya.
[Kamu nggak kangen aku? Kita sebulan tak bertemu lho?]goda Sinta dari seberang sana.
"Najis! Apa mau mu? Kenapa kau menghubungi aku malam-malam?"
Sinta mengatakan jika Syahira menikah dengan Aditya karena keluarga Aditya membantu perusahaan ayahnya bukan karena Syahira mencintai Aditya tentu saja hal itu membuat pria ini kebakaran jenggot dan mengepalkan tangannya. Aditya langsung mematikan panggilan nya dengan Sinta dan menunggu Syahira yang sedang mandi.
Hasutan Sinta mudah sekali diterima oleh Aditya dengan tempramen yang begitu buruk. Pria itu mudah terpancing emosinya sehingga tak segan-segan akan memarahi Syahira nanti ketika wanita itu selesai mandi.
Pintu kamar terbuka yang membuat Aditya mendekat dan langsung menarik lengan Syahira yang saat itu sedang membenarkan handuk di rambutnya yang basah.
"Kenapa kamu melakukan ini? Kalau kamu tidak cinta tidak perlu untuk kembali dan menikah denganku. Kamu demi menyelamatkan perusahaan orang tua mu malah menggadaikan cinta kita?"
Syahira terkejut dengan ucapan Aditya. Di mana semua tuduhan Aditya tepat pada sasaran. Memang awalnya Syahira menikah dengan Aditya karena perjodohan bisnis. Tetapi, Syahira tak pernah tahu jika orang yang dijodohin oleh Tuan Bastian adalah Aditya mantan Syahira waktu SMA dulu.
"Bukan begitu Adi. Aku tak tahu jika kamu adalah orang yang dijodohkan papa. Lagian, kenapa kamu marah kepadaku? Aku mencintai mu dan tak pernah memiliki orang lain dalam hidup ku. Kecuali, kamu!"Syahira berkata dengan lantang yang mendadak menjadi emosi saat mendengar ucapan Aditya yang selalu menuduhnya.
"Kamu mencintai Dokter Bara. Hari ini kamu dua kali bertemu dengan pria itu. Apa kamu benar-benar ingin menguji kesabaranku, Syahira?!"Melihat Syahira yang meninggikan suaranya. Aditya pun tak kalah dan tak diam saja. Syahira menyempitkan kedua matanya menatap Aditya suami yang saat ini sedang membentak-bentaknya karena cemburu.
"Dari mana kamu tahu aku bertemu dengan Dokter Bara? Adi jangan bilang kamu menguntitku karena kamu tak percaya sama aku?! Adi kamu tahu aku berulang kali mengatakan jika aku benar-benar mencintaimu. Aku dan Dokter Bara hanya salah paham saja. Kamu yang terlalu cemburu, Adi!"
Syahira menarik paksa tangannya dari cengkraman Aditya. Yang membuat Aditya ikut tersentak. Hal itu membuat Aditya menaikan alisnya.
"Mau percaya silakan nggak percaya nggak masalah. Satu lagi, hari ini seseorang mengantar makanan ke kantor atas nama mu. Bagaimana kamu akan menjelaskan hal itu?" Syahira berjalan ke arah lemari dan mengeluarkan pakaian yang ingin dipakai olehnya. Piyama yang Aditya hadiahkan waktu Syahira masih SMA dan itu masih muat hingga saat ini.
"Kamu sengaja ingin menggodaku dengan memakai piyama yang aku berikan?"tanya Aditya dengan suara yang pelan.
"Siapa yang mau menggoda kamu. Ayo, jelaskan tentang makan tadi!"titah Syahira menatap Aditya dengan lekat.
"Sudah ku katakan aku tak mengirim makanan untukmu. Apa seseorang baru saja bermain-main dengan kita?"Aditya duduk di tepi ranjang sembari memperhatikan Syahira yang sedang berganti pakaian. Hingga penampilan Syahira yang sedikit berisi tak luput dari pandangan Aditya.
"Atau...."
Aditya menggantungkan ucapannya ketika Syahira menatapnya.
"Atau apa? Apa kamu tahu sesuatu?"tanya Syahira. Keduanya mulai berbicara dengan lembut. Padahal jelas-jelas tadi berantem hebat karena Aditya begitu cemburu saat mengetahui Dokter Bara bertemu dengan Syahira.
"Ini hanya tebakanku sa...."
Ting...
Keduanya sama-sama menoleh ke arah nakas di mana handphone Syahira sedang di cas. Terlihat Aditya mengerutkan keningnya dan penasaran dengan isi pesan yang masuk.
Syahira beranjak dari tempat duduk untuk melihat siapa yang mengirim pesan. Tetapi, keduluan sama Aditya. Syahira memutar bola matanya malas dia tahu suaminya ini sangat pencemburu.
"Dokter Bara?"Aditya menatap Syahira saat wanita ini terkejut ketika Aditya menyebut namanya. Syahira tahu Dokter Bara pasti ingin mengatakan hasil lab dari makanan yang diperiksa oleh teman Dokter Bara tadi.
"Aku ingin bertemu dengan mu sebentar. Apa kamu di rumah mertuamu atau di rumah sendiri? "
Aditya membacakan pesan itu dan memperlihatkan layar handphone kepada Syahira.
[Hallo, Syahira. Aku tak menyangka kamu menelpon,]Seru Dokter Bara ketika panggilan itu terhubung.
"Aku Aditya. Dia ada di rumah. Kalau mau bertemu ke rumah saja!"
Panggilan itu terputus. Syahira terlihat menghela napasnya ketika mendengar Aditya berbicara dengan Dokter Bara.
"Cepat pakai blazer mu! Sebentar lagi Dokter Bara akan datang ke sini!"Aditya bangkit dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan kamar. Lalu, disusul oleh Syahira.
Begitu mereka tiba di anak tangga terakhir Nyonya Daniah melihat Aditya dan Syahira yang belum tidur lalu menegurnya.