Hati Lilian hancur seketika setelah sang suami, "Alen" kembali dari dinas di luar kota membawa seorang perempuan hamil bersama nya.
"Siapa wanita itu mas? Kenapa kau membawanya pulang ke rumah kita?"
Tiga tahun pernikahan Lilian tidak memiliki anak, karena itu ia memiliki untuk mengabdi sebagai menantu, ipar serta istri yang baik di keluarga "Bayron" ia tidak pernah membocorkan tentang siapa dirinya dan siapa keluarganya, sehingga mereka semua menganggap Lilian sebagai yatim piatu yang tunduk dan patuh.
"Dia istri asisten ku, sesuatu terjadi di luar kota, asisten ku meninggal karena menyelamatkan ku dan sekarang istrinya hanya punya aku dan keluarga ini untuk melanjutkan hidup, atas wasiat asisiteku dia meminta ku untuk menjaga anak dan istrinya,"
Dilanda keputusan suami yang begitu menyakitkan, akan kah Lilian tetap bertahan? Apalagi setelah kedatangan wanita itu, Alen selalu mengabaikan nya.
Penasaran? Ayo baca kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 08
"Lilian, kau tidak lihat kak Tasya sedang hamil? Bisa-bisanya kau berbuat demikian kepada ibu hamil hanya karena kursi," marah Raya.
"Benar-benar memalukan sekali sikap mu ini Lilian," lanjut Sinta.
Tak ada yang mengerti apa yang dirasakan Lilian, semua perhatian selalu tertuju kepada Tasya saat ini.
"Tahan Lilian, dua hari lagi, semuanya akan segera berakhir," batin Lilian menguatkan dirinya sendiri. Ia pun mengalah dan mengambil tempat duduk lain lalu ruang makan tersebut segera dipenuhi dengan keheningan dalam sekejap.
Yang terdengar kini hanya suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring.
Beberapa menit kemudian.
"Ah, sakit" leguh Tasya sambil memegang perutnya.
Semua mata kini tertuju ke arahnya termasuk Lilian.
"Akting apa lagi yang akan dilakukan wanita itu?" Batin Lilian.
"Kak Tasya kau kenapa?"
"Tasya, apa yang terjadi?"
"Apa yang barusan kau makan?"
Begitulah ucapan khawatir Alen, Raya dan Sinta.
"Perutku, perutku tiba-tiba sakit," ucap Tasya sambil memegang perutnya.
"Alen tunggu apa lagi? Gendong Tasya dan bawa dia ke rumah sakit," ucap Sinta berdiri dari duduknya.
"Iya kak, biar aku yang mengemudi mobil," lanjut Raya.
"Tunggu!" ucap Lilian segera berdiri dari duduknya dan kemudian menghampiri mereka bertiga lebih dekat.
"Lilian masa di saat seperti ini kau masih mementingkan rasa cemburu mu?" tanya Alen yang sudah bersiap sedia menggendong Tasya.
"Tapi mas! Kau benar-benar tidak memikirkan perasaan ku sama sekali? Bukan kah ..."
"Cukup Lilian! Jangan bicara lagi, aku sudah muak dengan keegoisan mu," ungkap Alen yang kemudian menggendong Tasya dan meninggalkan ruang makan diikuti Raya serta Bu Sinta.
Lilian terduduk kembali ke kursi yang ada di sampingnya, meskipun sudah memutuskan untuk pergi namun dia saat ini masih berstatus sebagai istri sah Alen, bohong kalau rasa cemburu dan sakit hati itu tidak hadir menerpa hatinya.
Jangan hujat Lilian karena ini, tapi sekuat apapun seorang perempuan dia tetaplah perempuan.
Sehari pun berlalu begitu saja, baik Alen, Raya ataupun Bu Sinta, mereka sama sekali tidak kembali ke rumah.
Di rumah sakit ...
"Dokter, bagaimana keadaan Tasya sekarang? Apakah dia dan anaknya baik-baik saja?" tanya Alen terlihat sangat khawatir.
"Pasien baik-baik saja, namun kondisi kehamilannya cukup lemah usahakan jangan biarkan dia makan makanan yang terlalu pedas," ucap sang dokter kepada mereka bertiga.
"Ini pasti Lilian, dia sengaja memasak makanan pedas untuk kak Tasya," ucap Raya.
"Aku tidak menyangka Lilian akan setega ini, bahkan anak yang tidak bersalah pun mau dia sakiti" ucap Alen.
"Setelah kembali kau harus memberinya hukuman Alen, jika tidak kedepannya dia pasti akan menyakiti Tasya lagi," ucap Sinta sang ibu.
"Itu pasti," jawab Alen yang kemudian menerobos masuk ke dalam kamar rawat inap Tasya. Diikuti Raya dan Sinta.
"Mas Alen, dokter bilang apa? Anaku baik-baik saja kan?" tanya Tasya kepada Alen.
"Kalian berdua baik-baik saja, hanya saja kandungan mu cukup lemah, Tasya, aku minta maaf karena semua ini perbuatan Lilian, dia pasti sengaja masak makanan pedas untuk mu," lirih Alen dengan bodohnya.
"Oh, jadi mereka pikir semua ini karena Lilian? Keuntungan kembali berpihak padaku, padahal sebelumnya saat bangun tadi pagi aku memakan beberapa cemilan pedas yang ku bawa di dalam koper ku kemarin tidak ku sangka itu malah sangat berguna," batin Tasya senang bukan main.
"Kak Tasya, mulai sekarang kau harus berhati-hati, Lilian itu orang jahat," ucap Raya.
"Aku benar-benar tidak menyangka, dia boleh saja marah dan benci padaku, tapi kenapa harus anaku? Anak ini sama sekali tidak bersalah," ucap Tasya sambil menangis.
"Cup ... Cup ... Cup ... Tasya kau ini perempuan kuat, jangan menangis aku janji akan menjaga mu dan memberikan hukuman kepada Lilian atas kejahatannya itu," ucap Alen berusaha membujuk Tasya.
Namun mereka tidak tau semua yang mereka lakukan di dalam sana terdengar sampai ke kuping sang mata-mata, tak hanya itu, dia juga mengirimkan rekaman video kepada Lilian.
Sementara itu di rumah kediaman keluarga Bayron
Terlihat api yang menyala besar di taman belakang rumah, tepat di tempat biasanya Lilian membakar sampah.
"Semua ini adalah sampah, iya, benar-benar sampah," ucap Lilian dengan mata berkaca-kaca, satu persatu baju, tas bermerek, sepatu, bahkan foto pernikahan serta semua foto yang bersangkutan dengan Alen dia lempar ke dalam api yang berkobar itu.
Tidak butuh waktu lama untuk api besar itu melahap semuanya, Lilian benar-benar membakar segala hal yang menjadi kenang-kenangan mereka selama tiga tahun terakhir.
Matanya sembab, ia menangis untuk melepaskan semua itu dari relung hatinya.
Ting ... (Suara pesan masuk ke WhatsApp milik Lilian)
"Nomer asing ini lagi," gumam Lilian, kelihatannya ini bukan kali pertama Lilian menerima pesan dari nomer tersebut.
Ia membuka isi pesan tersebut, "Rekaman video?" ucapnya lirih sambil menekan berkas tersebut yang akhirnya langsung terbuka dan menampilkan sebuah rekaman ruang rawat inap Tasya di rumah sakit.
"Makanan pedas apa? Hari ini aku bahkan tidak menaruh sebutir cabai pun ke dalam masakan ku, apa lidah mereka semua sudah mati rasa? Jika Tasya memfitnah ku seharusnya mereka juga merasakan rasa dari makanan itu," ucap Lilian sambil menahan rasa geramnya terhadap tuduhan tersebut.
Ia tak lagi mempedulikan siapa orang asing yang selalu mengirimnya pesan, pikirannya kini tertuju pada isi rekaman tersebut.
"Aku mau lihat apa yang akan dilakukan Alen padaku karena tuduhan wanita itu," ucap Lilian pada dirinya sendiri.
Keesokan harinya.
Ini adalah hari kedua, tersisa satu hari lagi untuk Lilian meninggalkan rumah yang seperti neraka itu.
Alen dan yang lainnya baru saja kembali dari rumah sakit, dia terlihat sangat perhatian kepada Tasya, bahkan setelah turun dari mobil ia terus memegangi lengan Tasya untuk membawanya masuk dengan selamat sampai ke dalam rumah, begitu juga dengan Sinta dan Raya, mereka terlihat sangat sibuk memperhatikan Tasya.
"Cih, mereka bahkan tampak seperti keluarga bahagia sesungguhnya, salah sekali aku mengacaukan hal itu," lirih Lilian dengan tatapan geli.
Ia sudah bersiap-siap untuk menghadapi Alen, ia ingin melihat apakah suaminya itu akan benar-benar menghukumnya hanya karena kesalahpahaman tersebut.
Tap ... Tap ... Tap ...
Suara langkah kaki mulai terdengar dan kemudian berhenti tepat di hadapan pintu kamar Lilian.
Tok ... Tok ... "Lilian, apa kau ada di dalam? Buka pintunya aku ingin bicara," suara yang tak lain adalah Alen terdengar jelas setelah dua kali ketukan di pintu tersebut.
Lilian tidak menjawab, ia berjalan mendekati pintu dan memegang gagangnya, dengan cepat ia membuka pintu tersebut.
Bersambung ....
rasa rasa enakan kan ketika ada Lilian,,,uang lancar dapur ngebul rumah bersih,,,tapi kalian jahat lupa semua itu sumbernya dari mana dan merdeka' Lilian kalian kelaparan kapokkk Modarrrr,,,Karin tinggal di mana kalau di Jawa Surabaya ,,,naik saja kereta exekutif gubeng gambir,,,jawa tengah naik argo lawu ,,,
👍👍👍👍